Tap tap tap tap....
Suara langkah kaki pemilik perusahaan Biro Iklan yang berperawakan tinggi dan tampan itu kini seketika menghentikan semua obrolan para karyawan.
"Selamat pagi pakk!" sapa para karyawan.
"Hmm." balas Dito atau sang bos cuek.
"Iklan kita bulan ini yang ke 10 kenapa gagal lagii? Kenapa sepuluh perusahaan membatalkan kontraknya dengan kita?!" tanya Dito dengan suara tegasnya bahkan kedua alisnya bertaut menandakan kekesalannya.
"Maafkan kesalahan kami pak yang membuat pemesan tidak puas!" akhirnya setelah beberapa menit bungkam seorang karyawan menjawabnya.
"Awas saja kalau sampe iklan makanan instan dari pak Adit kali ini gagal juga! saya jepit hidung kalian satu persatu pakai jepitan baju!" sentak Dito dengan suara dinginnya namun bukannya takut para karyawan malah tertawa.
"Sudah kembali bekerja!" ucap Dito lalu berjalan cepat menuju ruangannya diikuti asisten pribadinya di belakangnya.
"Shitt!" umpat Dito seraya melempar beberapa lembar kertas ke lantai bahkan jasnya juga dilempar.
"Kenapa sih iklan yang dipesen di perusahaan kita bulan ini gagal sampe sepuluh kali? apa alasan klien yang udah batalin kontrak?!"" tanya Dito kesal.
"Klien mengatakan bahwa mereka kurang puas dengan hasil kinerja kita pak!" balas Riko selaku asisten pribadinya.
"Sialan kurang apa sih anak-anak tuh? udah dikasih kebebasan kalo kerja boleh makan sama main hp, sekarang kinerjanya malah gak maksimal kekgini?!" pekik Dito lalu melempar lagi kertas yang ada diatas mejanya.
"Sabar pak masalah bisa diselesaikan dengan kepala dingin." balas Riko seraya membereskan tumpukan kertas yang berserakan di lantai.
"Emang kalo gue sabar dan kepala udah dingin anak-anak bisa pada pinter gitu?!" tanya Dito ngegas dan asistennya hanya menghela nafas pasrah, sungguh berbicara dengan atasannya ini membutuhkan mental baja.
"Pasti mereka gak fokus kerja gara-gara seles panci kampret itu kan?" tanya Dito lagi.
"Mungkin pak." Riko hanya membalas seperlunya takut salah lagi.
"Batalin rapat hari ini! gue mau ketemu sama tuh seles panci, perlu diberi pelajaran tuh orang!" titah Dito seraya membenarkan dasi yang rasanya mencekik lehernya itu.
"Maaf pak tapi nyonya Sari baru saja mengirim pesan ke saya untuk menyuruh anda segera pulang! nona Linda ada di rumah." ucap Riko lalu mengambil jas yang telah dibiarkan di lantai itu kepada bosnya.
"Ck ganggu aja sih tukang tipu!" balas Dito lalu memakai jasnya dan keluar ruangannya.
****
"Ada apa?" tanya Dito saat sampai rumahnya tanpa basa basi.
"Salam dulu to! kaya anak tk aja sih musti diajarin biar ngarti!" balas Sari atau mamanya yang kini tengah duduk santai di ruang tamu bersama seorang perempuan di sebelahnya.
"Mulut Dito kaku buat basa basi sama tukang tipu investasi bodong!" balas Dito menyindir perempuan di samping mamanya itu.
"Bahas itu lagi, aku kan gak salah waktu itu duit aja yang emang mau kabur ke aku!" sahut Linda membalasnya.
"Gaada duit kabur ke elo! yang ada lo bawa kabur duit banyak orang setelah lo ketauan ternyata pengusaha investasi bodong!" balas Dito sinis.
"Udahlah to! itu kan kasus sebulan lalu, hargailah calon istrimu itu!" sahut Sari membuat Dito yang baru saja mengeruput kopi langsung menyemburkannya.
"Gakada! males amat nikah sama tukang tipu bisa suram masa depanku ma!" balas Dito menatap jijik perempuan di depannya itu.
"Umurmu udah 32 to, nunggu 50 dulu baru mau nikah?" tanya Sari kesal dengan kelakuan putra semata wayangnya itu.
"Entar juga nikah kalo udah ada jodohnya! tapi bukan tukang tipu juga kalik jodoh Dito!" balas Dito.
"Mama kasih waktu seminggu kalo kamu mau nolak saran mama! kalo gakada cewek yang mau sama kamu mama nikahin paksa sama Linda!" balas Sari seraya meninggikan suaranya.
"Papa juga gak bakalan mau punya mantu tukang tipu investasi bodong kaya Linda!" sahut Sandi Adiputra atau papa Dito yang baru saja memasuki kediamannya.
"Ih papa belain mama lah, anak dibelain mulu gak nikah nikah entar!" balas Sari tak terima.
"Mending punya mantu lebih lama daripada tukang tipu kayak Linda." balas Sandi lalu bertos ria dengan putra semata wayangnya.
"Halah sudah! pokoknya seminggu kalo Dito gak dapet calon istri bakalan mama nikahin sama Linda titik!" finish Sari lalu memasuki kamarnya dan Linda segera nyelonong keluar rumah mewah itu tanpa permisi.
"Gak pamit kalo keluar rumah kaya gitu mau jadiin mantu, cih kurang ajar!" ucap Sandi malas.
"Pokoknya papa dukung apapun maumu to! cari yang lebih baik dari Linda oke!" ucap Sandi ke anaknya.
"Oke pa!" balas Dito.
****
Keesokan paginya saat akan memasuki kantor Dito melihat tukang seles panci yang kerap mengganggu karyawannya saat bekerja, segera dihampirinya.
"Ehm lo seles panci yang gak pernah absen ke kantor gue kan?" tanya Dito pada perempuan di depannya itu. "Gila! cantik amat nih orang persetan udah mirip banget sama miss Indonesia, gimana karyawan gue mau konsen kerja dan gak beli panci tiap hari kalo selesnya cantik gini?" guman Dito dalam hatinya.
"Kalo iya kenapa?" tanya perempuan itu balik.
"Kenalin gue Dito Adiputra, umur 32 tahun pemilik usaha biro iklan yang tiap hari karyawannya lo tawarin panci." ucap Dito dengan suaranya yang kembali tegas.
"Oh saya Ferlin! eh mau beli panci gak? ada panci terbaru loh harganya cuma 300 ribu, kalo buat masak pancinya gak bakalan item karna angus loh, pasti kinclong! beli yah?" tanya Ferlin seraya mengedipkan kedua matanya.
"Gila! ini nyeles panci apa ngegoda orang kalo taktik jualannya kayak gini? gue juga ngapain kagum kan niatnya mau ngelabrak nih orang?!" guman Dito kembali mengumpulkan kesadarannya.
"Gimana mau gak?" tanya seles panci itu lagi.
"Enggak! gue pengen lo benerin genteng di kantor gue yang udah bocor meleber kemana-mana lagi!" balas Dito asal.
"Lah saya kan tukang nyeles! Napa disuruh benerin genteng sih?" tanya Ferlin mulai kesal dengan orang di depannya ini.
"Halah gak penting embel embelnya! Mau duit gak?" tanya Dito seraya menaik turunkan alisnya.
"Mau sih, tapi kalo panci saya utuh trus pulang bawa duit ntar dikira pesugihan!" balas Ferlin bingung.
"Tenang! entar gue yang pending kalo ada yang nanya, gajinya benerin aspal melepuh delapan ratus ribu perjengkal!" ucap Dito seraya menunjuk jalanan yang kini diinjaknya.
"Tadi katanya suruh benerin genteng sekarang kok ganti aspal?" tanya Ferlin heran.
"Polos banget dah ni orang gue kibulin!" guman Dito terkekeh.
"Lahiya sekalian! Kalo perlu benerin duit gue yang robek!" ucap Dito seraya menutup mulutnya yang tak henti tertawa.
"Eh situ gila? Mana ada benerin aspal perjengkal digaji delapan ratus ribu? Bisa mendadak sultan dong!" tanya Ferlin yang sudah dibuat pusing oleh orang di depannya ini.
"Asal duit dateng udah diem!" ucap Dito lagi.
"Ini saya dikibulin?" tanya Ferlin.
"Nah sadar juga lo gue kibulin!" balas Dito ngakak.
"Dih jahat banget! saya kira beneran, dasar bos kampret!" sarkas Ferlin kesal.
"Lo juga jahat bikin karyawan kantor gue gak fokus kerja!" balas Dito.
"Terserah mereka lah! situ bos doang kan? udah nggak usah ngatur karyawan mau fokus apa kagak pas kerja!" pekik Ferlin lalu meninggalkan kantor itu.
"Sialan gue bos disini malah diledek! untung sih dia pergi hari ini!" guman Dito seraya tertawa kecil.
"Eh kok gue jadi suka ya sama sifatnya dia, menarik banget dah!" guman Dito seraya tersenyum-senyum sendiri.
****
Empat hari kemudian, Dito makin sering menjahili seles panci bernama Ferlin itu tiap kali datang ke kantornya bahkan dirinya tak malu saat menggombali Ferlin di depan seluruh karyawannya. Layaknya hari ini.
"Halo karyawan terajin dan teramah! Ferlin dateng ya bawa panci model terbaru. Kali ini pancinya lebih hebat dari biasanya! gimana enggak? kalian ngerebus air sebanyak apapun satu menit langsung mateng hebat kan? kuy buruan sini kepoin panci model terbaru dari aku cuss dibeli!" teriak Ferlin membuat para karyawan langsung berekrumun menghampiri dirinya.
"Berapa lin?" tanya salah satu karyawan.
"Murah kok! cuma 450 ribu doang dapet cashback 20% juga loh buat pembelian panci berikutnya kalo kalian beli panci yang sekarang ini!" balas Ferlin seraya tersenyum manis dan mengedipkan kedua matanya yang langsung berhasil membuat empat panci ludes terjual.
"Semuanya kembali bekerja!" titah Dito yang baru memasuki kantornya membubarkan kerumunan para karyawannya.
"Bos kampret ganggu orang promosi aja dah!" sahut Ferlin tanpa tau malu pada pemilik perusahaan itu.
"Promosi apa ngegoda karyawan gue?" tanya Dito lebih tepatnya menyindir.
"Ih apaan si! itu namanya taktik penjualan ya!" balas Ferlin lantang.
"Lo boleh promosi dan ngegoda cuma ke gue! ke yang lain gak boleh!" ucap Dito yang sukses membuat para karyawan kaget.
"Emang situ siapa berani ngatur? saya anak kos ya butuh duit buat makan tiap hari!" pekik Ferlin menentang orang di depannya itu.
"Calon suami lo!" balas Dito enteng dan langsung bergegas menuju ruangannya. Tentu saja Ferlin lansung membeku di tempat mendengar perkataan itu.
****
kini Linda makin sering berkunjung ke rumahnya bahkan sehari bisa sampai sepuluh kali dan itu malah membuat Dito semakin muak. Termasuk hari ini Dito makin pusing saat waktu mencari istri tinggal sehari lagi, sungguh masa depannya sedang di ujung tanduk.
"Gak dapet sih pastinya calon istri dalam waktu seminggu!" sindir Linda yang sengaja lewat depan kamar Dito.
"Diem lo tukang tipu! gue gak butuh sindiran lo!" balas Dito malas.
"Selamat menikmati sehari sebelum jadi suamiku ya!!" ledek Linda lalu berlalu pergi sambil terus tertawa.
"Gaada ahlak! dasar tukang tipu!" sarkas Dito kesal.
"Belum nemu calon istri to? ajak balikan aja deh mantanmu kan banyak banget!" suruh Sandi seraya memasuki kamar anaknya.
"Enak aja mantan udah dibuang kok dibalikin!" balas Dito kesal.
"Lah terus mau sama siapa?" tanya Sandi malas.
"Sama Ferlin seles panci di kantorku pa!" balas Dito seraya bermain game di ponselnya.
"Usahamu nyeles apa ngiklan sih? makin gak jelas aja tiap hari! mending gantiin posisi papa di perusahaan Adijaya deh!" titah Sandi yang bosan dengan perlakuan anaknya itu.
"Usahaku ngiklan pa! tapi beg*nya aku malah kepincut sama seles panci itu!" balas Dito seraya menggelengkan kepala.
"Yaudah besok bawa ke rumah atau beneran ijab qabul kamu sama tukang tipu!" suruh Sandi lalu keluar kamar anaknya itu.
"Gawat! gimana caranya gue ngeyakini Ferlin dalam waktu sehari coba?" guman Dito frustasi.
****
"Lin terserah lo percaya apa kagak! gue suka sama lo dan gue mau bawa lo ke hadapan orang tua gue buat dilamar hari ini!" ucap Dito seraya mencekal tangan Ferlin yang akan masuk kantornya.
"Hah? becanda kelewatan amat si pak! situ aja gedek liat saya nyeles panci di kantor ini kok malah sekarang bilang suka!" balas Ferlin gugup bahkan pipinya juga sudah merona. Bagaimana tidak? orang di depannya ini sangat perfect! sudah tinggi, tampan, kece, meskipun mulutnya takbisa dikondisikan.
"Ayolah lin gue tau lo juga suka sama gue! tuh pipi lo merah banget kayak darah!" ucap Dito berusaha meyakinkan.
"Merah tuh diibaratin kayak tomat, malah diibaratin kayak darah! mulut bisa nyerocos doang gak jago gombal!" cibir Ferlin.
"Gue beneran serius sama lo! meskipun omongan dari mulut gue selalu pedes dan nglantur tapi kali ini gue tulus omong dari lubuk hati yang paling dalam!" tegas Dito bahkan wajahnya kini nampak sangat serius.
"Saya musti ngapain?" tanya Ferlin bingung.
"Ck kampret! jawab lo suka gak sama gue? soalnya kalo iya setelah gue kenalin besok kita nikah!" tegas Dito membuat Ferlin langsung kaget bahkan kardus panci di tangannya langsung jatuh berserakan.
"Tenang! nanti masalah panci gue yang ganti rugi!" ucap Dito mencoba mencairkan suasana agar tidak tegang.
"Saya juga suka sama kamu meskipun pertemuan kita berdua sangat singkat dan meskipun anda sangat menyebalkan! saya terima lamaranmu dan saya bersedia dikenalkan ke orang tuamu!" jawaban Ferlin seketika membuat Dito berjingkrak kesenangan.
****
"Siapa yang kau bawa pulang jni to?" tanya Sari yang kini tengah makan di meja makan bersama Linda dan suaminya.
"Calon istri! seperti yang sudah Dito janjikan!" balas Dito membuat Sari dan Linda kaget namun tidak dengan Sandi yang sudah sangat gembira.
"Mama janji kan nepatin perkataan mama waktu itu?" tanya Dito.
"Seperti yang mama katakan jika kamu sudah bawa perempuan mama akan nikahkan kamu besok! mama juga tidak akan meminta syarat apapun untuk calon istrimu kali ini!" balas Sari dan tersenyum lembut.
"Loh tan aku gimana?" tanya Linda.
"Maaf Linda, sebenarnya tante lakukan ini supaya Dito cepat nikah. Maafkan tante yang sudah mempermainkan kamu!" balas Sari.
"Hah tante gimana sih? Linda gak terima!" balas Linda.
"Harus terima! atau saya kembalikan kamu ke penjara!" sahut Sandy ikut bersuara.
"Huh! yaudah Linda permisii!!" pekik Linda dengan raut wajah kesal meninggalkan rumah itu.
"Sayang kamu mau kan nikah sama Dito?" tanya Sari pada Ferlin.
"Mau tante." jawab Ferlin malu-malu.
"Baik besok kalian akan menikah, semuanya sudah siap!" ucap Sari lalu mengusap rambut Ferlin dan pergi berlalu.
"Siapa nih nama calon mantuku?" tanya Sandi.
"Ferlin om!" balas Ferlin.
"Oke welcome ke rumah ini!"
****
Seperti yang dilaksanakan kemarin, kini Dito dan Ferlin telah sah menjadi suami istri. Kini mereka berdua tengah menyalami tamu undangan yang begitu banyak baik dari teman saudara maupun para kolega bisnis.
"Samawa ya lin! semoga di umurmu yang udah 28 ini kamu bisa jadi istri yang baik!" ucap Nesya teman kerjanya.
"Makasih sya! semoga cepet nyusul ya!" balas Ferlin.
"Selamat to! akhirnya lo nikah juga setelah gue udah punya anak tiga!" pekik Riko, ya sebenarnya Riko adalah teman sekaligus asisten pribadinya.
"Makasih ko! Nanti gue nyusul deh punya anaknya kalo perlu sepuluh sekalian!" balas Dito seraya terkekeh.
"Emang aku kucing ngelairin anak banyak banget gitu?" tanya Ferlin.
"Iya kamu kan yang kucingta di dunia inii!" balas Dito.
"Ihh ada aja sih gombalannya!" balas Ferlin tersipu malu.
"Semoga kamu bahagia selalu nikah sama aku seles panci!" ucap Dito seraya menggenggam tangan istrinya.
"Semoga kamu bahagia selalu nikah sama aku bos kampret!" balas Ferlin dan mereka berpelukan dengan sangat bahagia di depan seluruh tamu undangan.
📌Yuk mampir ke novelku siapa tau suka😅
📌Maaf yah ceritanya gak nyambung banget😅
📌Maaf juga kalau ada kesalahan penulisan maupun tanda baca😅