"Dania!", teriak Diani yang tiba-tiba saja mengagetkanku dari belakang.
"Panggil aku Kakak", kataku sambil melotot ke arahnya. Sudah sering adikku yang satu ini mengagetkanku. Sepertinya aku perlu memeriksakan kesehatan jantungku.
"Tak mau lah ya, cuma tua berapa menit doang", jawabnya sambil menjulurkan lidahnya.
"Ih, mirip guk guk", ejek ku.
"Siapa yang mirip guk guk, Diani kah?", tanya Diana yang melihat Diani menjulurkan lidahnya kearah ku.
"Panggil aku Kakak", kali ini Diani yang melotot ke arah Diana.
"Enak aja, sorry lah ya, cuma tua berapa menit ini", jawab Diana dengan santainya.
"Rasain, emang enak", kataku lagi sambil menarik turunkan alisku.
Diani dengan wajahnya yang cemberut menatap kami berdua.
Sekadar informasi, pasti para pembaca bingung kan?, ya, kami adalah kembar tiga identik. Banyak yang bingung membedakan kami bertiga.
Ketika kami bertiga sedang asik dengan kesibukan masing-masing, ibunda pulang dari pasar. Meletakkan belanjaan lalu menghilang masuk kamar tanpa berkata apa-apa, tidak berapa lama, beliau mengintip dari pintu kamar dan berkata," Dania hari ini kamu masak telor balado ya, untuk sayur Bunda serahkan pada Diani. Dan Diana tugasmu hari ini angkat jemuran dan setrika.
'Iya Bunda", jawab kami bertiga serentak. Kami bertiga saling melirik dengan senyuman yang artinya hanya kami sendiri yang tahu.
Diana memandangku, aku sudah mengerti apa maksudnya, kali ini ia ingin sekali mencoba membuat telor balado versinya sendiri, sedangkan aku menggantikan tugas Diana.
Bunda dan ayah memuji pekerjaan kami. Ketika kami membersihkan dapur, bunda mendekati Diana sambil memuji bahwa telor balado buatannya enak sekali. Seperti biasa bunda selalu bisa membedakan kami bertiga walau kadangkala kami selalu bertukar peran.
Kami berpikir punya saudara kembar itu paling menyenangkan, sampai pada suatu ketika kami mulai mengenal yang namanya jatuh cinta.
Beberapa hari ini Diana sering terlihat senyum-senyum sendiri sambil memandang layar hp. Begitu juga Diani, tapi anehnya setiap aku mendekati mereka, mereka selalu saja menjauh.
Kupikir ya sudahlah yang penting urusan pekerjaan rumah tidak terganggu.
Sampai suatu hari ketika aku disuruh bunda untuk berbelanja di supermarket, seseorang menepuk bahuku dan berkata," Diani, katanya hari ini kamu sibuk tidak bisa bertemu denganku, kenapa tidak bilang kalau mau pergi belanja, tau gitu aku jemput kamu di rumahmu".
Aku bengong dan tanpa sengaja berkata," maaf, kamu siapa ya?".
Gantian cowok itu yang bengong lalu menjawab pertanyaan ku dengan nada heran," lho, masak kamu lupa?, aku Henri".
Aku kebetulan saat itu telah selesai mengambil barang yang dibutuhkan aku membayar di kasir dan dengan cepat pergi, Henri menarik tanganku," tunggu sebentar ya, aku bayar belanjaan ku dulu, setelah itu baru aku antar kamu pulang.
Tanpa sepengetahuannya aku segera membawa motorku pergi dari supermarket itu.
Aku menarik nafas lega sesampainya di rumah. Di saat yang bersamaan Diana juga baru pulang dari beli pulsa masuk ke rumah dengan wajah yang cemberut.
"Pulang-pulang kok cemberut, ga enak liatnya", kataku sambil meletakkan barang belanjaan ku di dapur.
"Aku sebal sama Jimmi, tadi aku bertemu dengannya tapi dia melewati aku tanpa menegur sama sekali", jawabnya tanpa melihatku.
Seketika ia tersadar dengan ucapannya kemudian menutup mulutnya seolah-olah dia salah mengucapkan sesuatu.
"Wow, hebat sekali, Diani dengan Henri dan kamu dengan Jimmi, pantas saja aku dari kemarin melihat bunga-bunga cinta bersinar disekitar kalian, kasih tau Bunda ah", ledekku sambil berjalan ke kamar Bunda.
"Dania, jangan!, aku mohon jangan beritahu Bunda, aku akan memberikan kepadamu sepertiga dari uang jajanku", Diana memegang tanganku dengan wajah memelas.
"Boleh", jawabku.
"Menyebalkan, kukira kamu akan menolaknya, ternyata..., dasar kembaran mata duitan", gerutu Diana.
" Huh, apa-apaan sih ini, sudah aku bilang, aku sedari tadi memang sibuk mengerjakan tugas, malah ga percaya dan bilang pembohong", Diani terdengar mengomel dari kamarnya.
Aku dan Diana saling bertukar pandang dan sama-sama mendatangi Diani.
Kami melihat Diani sedang tertunduk lesu sambil memegang hp.
"Pasti ini soal cowok lagi kan?", kataku sambil terkekeh geli," makanya ga usah pacaran, ribet kan jadinya, gini aja, gimana kalau kita bertiga ketemuan dan membahas masalah ini bersama-sama", aku memberikan solusi yang terbaik menurutku.
Kedua kembaran ku menganggukkan kepala. Setelah mencapai kata sepakat, kami akan bertemu dengan Henri dan juga Jimmi esok hari jam 9.00 pagi.
Jam 8.00 pagi kami sudah bersiap, dengan pakaian yang warnanya sama dan juga tatanan rambut yang sama. Sebelumnya kami minta izin dahulu kepada ayah dan bunda dengan alasan ada teman yang mau traktir kami makan. Keduanya mengizinkan kami pergi.
Jam 9.15 kami pergi, memang disengaja, supaya kami bisa melihat mereka dulu dari kejauhan. Di tempat yang telah disepakati ternyata sudah ada tiga cowok sedang menunggu kami. "Tiga?, satu lagi siapa?", begitulah yang ada dipikiran kami.
Kami lalu mendekati mereka, baik kami maupun mereka sama-sama terkejut dan secara bersamaan kami mengucapkan," kembar tiga?".
Kami berenam tertawa ngakak, semua orang yang
melihat menatap tidak percaya kepada kami berenam, mereka semua mengabadikan kami berenam di hp mereka, terdengar suara-suara mengatakan sungguh suatu kejadian yang langka.
Dania menyikut tanganku dan berkata," yeah, mendadak selebriti nih kita".
"Hush", aku merasa tidak nyaman dengan keadaan seperti ini dan ini juga dirasakan oleh salah satu cowok kembar tersebut. Akhirnya kami berenam memasuki sebuah cafe yang menyediakan menu breakfast. Untungnya cafe tersebut masih sepi.
Kami pun mengenalkan diri masing-masing, Henri memakai baju biru, Jimmi memakai baju putih sedangkan Tommi memakai jaket hitam dengan kaos biru di bagian dalamnya.
Untuk sesaat mereka bingung membedakan kami, kecuali Tommi, dia bisa membedakan kami bertiga.
Dia dengan tepat menebak kami sesuai nama.
Kami sarapan sambil bersenda gurau, pemilik cafe hanya tersenyum-senyum sendiri melihat kami berenam."Bingung bingung deh membedakannya", gumamnya sambil melihat kami.
Pulangnya kami berpisah. Dania dan Diana pulang dengan hati yang gembira, sedangkan aku menatap layar hp membaca pesan dari Tommi yang mengatakan bahwa dia menyukaiku.
Nah lho.
TAMAT
Happy Reading..💞