"Bagaimana kamu berteman dengan Deni pemabuk itu bar?" tanya ibu Akbar pada anaknya itu
karena ia sudah bosan dengan omongan tetangga rumahnya, mengatakan bahwa anaknya itu seorang pemabuk.
"Ibu kita tidak boleh memilih untuk berteman dengan siapapun, karena di hadapan Allah kita sama, hanya amal yang kita bawa bukan berarti apa yang dilihat orang itu benar adanya
Ibu Akbar terdiam mendengar penuturan anaknya memang benar kita tidak bisa hanya dengan mendengar ucapan seseorang kita langsung dapat menilai seseorang itu seperti apa.
Bisa saja penilaian orang berbeda.
Malam dimana Akbar dan Deni pulang dari masjid seperti biasa Deni membawa minuman keras itu di tangannya.
"Sok sok an ke masjid, pulang nya mabuk-mabukan" ucap seseorang di pos ronda main kartu
"Iya sampai ke masjid pun bawa minuman haram itu"
"Astaghfirullah kalian saja tau minuman ini haram, tapi apakah kalian sudah mengerjakan kewajiban yang wajib? jika tidak maka sebaiknya kalian kerjakan, kalian mengingat kan, kami juga sama mengingatkan"
Orang yang ada di sana terdiam menunduk melanjutkan bermainnya.
Esoknya orang yang main kartu kemaren ke masjid, mungkin mereka menyadari bahwa ini kewajiban. Mereka menemukan banyak botol di depan masjid, mereka yakin itu milik Deni dan Akbar.
Setelah selesai sholat Akbar dan Deni keluar dari masjid untuk segera pulang, lalu orang yang ada di dalam masjid juga akan pulang.
Namun mereka terkejut ternyata bekas botol minuman yang ada di depan masjid itu hanya milik odgj (orang dengan gangguan jiwa) yang di kumpulkan di depan masjid, Deni dan Akbar hanya membawanya untuk di buang.
Deni dan Akbar tersenyum kepada mereka saat membawa botol-botol itu, selama ini mereka tidak tau ternyata di dalam botol tersebut isinya kosong.
Cerita sepenggal yang mungkin bisa kita ambil baiknya disini don't judge the book by it's cover, jangan hanya mendengar sesuatu yang tidak kita lihat secara langsung.