Selalu saja seperti ini, setiap kali aku masuk ke ruang guru teman sejawat berbisik-bisik menggunjingku.
Mereka menganggap aku dan dandananku tidak pantas untuk disebut sebagai guru.
Kerudung lebar dengan bawahan lebar memang kesukaanku. Bukan karena aku menganut aliran tertentu. Tapi karena kondisi kakiku yang berbentuk O membuatku memilih model bawahan lebar sebagai penutup.
"Bu Mur, mbok ya kalau dandan itu lebih rapi sedikit, biar terlihat lebih seksi."
"Sekolah kita ini sekolah favorit lo, Bu Mur. Masa iya ada gurunya yang ndesani seperti ibu."
"Nama kok ya Mursinah."
Itu adalah ocehan trio wek-wek—begitu aku memanggil mereka, setiap hari. Sekumpulan guru-guru sosialita di sekolah kami.
Yang lain memang tidak ikut nimbrung tapi juga tidak pernah membesarkan hatiku, membelaku apalagi mau berteman denganku. Mereka memilih di zona aman mereka sendiri.
Kali ini aku sedang berada di dalam kamar mandi. Di sekolahku kamar mandinya memiliki ruang tersendiri dengan beberapa bilik di dalamnya.
"Apa kita perlu lapor ke Pak Tua ya?" suara salah satu guru kelompok trio wek-wek terdengar.
Pak tua adalah julukan kelompok guru tertentu pada kepala sekolah.
Tanganku hampir menggerakkan gagang pintu, ketika yang lain menimpali.
"Iya, sepertinya perlu. Bu Mur itu menjatuhkan reputasi sekolah kita. Karena sekolah kita kan sekolah favorit."
Aku mengurungkan niatku, aku tarik lagi tanganku dan aku menunggu apa yang akan mereka diskusikan selanjutnya.
"Benar juga. Karena aku yakin ada yang disembunyikan sama Bu Mursinah."
"Masa iya, senam juga pakai rok lebar."
"Tapi kalian dengar sendiri kan kalau Pak Tua itu akan digantikan orang baru."
"Lebih baik kita tunggu saja, nanti kita akan bertindak jika kepala sekolah yang baru datang."
"Iya lebih baik begitu."
Aku menghela napas. Begitu jahat rencana mereka. Aku tahu meskipun yang lain nantinya tidak akan ikut menggangguku, tapi pasti tidak akan ada seorangpun yang akan berani membelaku.
Setelah mendengarkan semuanya, hatiku berkecamuk. Apakah aku harus mengundurkan diri dan mencari sekolah lain untuk bekerja?
Siang itu setelah sampai di rumah aku ceritakan semuanya pada ibu. Hanya ibu yang paham dengan kondisiku. Aku selalu berterus terang dan tak pernah menyembunyikan apapun yang ada dalam hatiku ini.
"Yang sabar nak. Dimanapun kamu bekerja nantinya, kamu pasti akan tetap bertemu dengan manusia-manusia dengki seperti mereka."
"Iya, Bu. Mursinah akan bertahan sebisanya."
"Oh, iya. Kamu masih ingat Miko?"
"Miko? Mas Jatmiko?"
"He'eh," ibu mengangguk.
Wajahku langsung sumringah. Lelaki yang lama kutunggu kabarnya dalam diam. Lelaki yang selalu aku tunggu kehadirannya. Tapi karena aku merasa diriku tidak sempurna, aku tak pernah berani mengungkapkan rasa.
"Ibunya tadi kemari, katanya Jatmiko ingin bertemu kamu."
Aku menunjuk diriku sendiri, "aku, Bu?"
Buat apa ingin bertemu denganku? Tidak...tidak, aku tidak sepercaya diri itu.
"Tidak Bu, aku terlalu malu."
Ibu menepuk bahuku pelan, "jangan mikir yang tidak-tidak. Jatmiko sudah mengenalmu sejak masih kanak-kanak. Dia tahu semua tentangmu."
"Ibu sering cerita padanya," bisik ibu.
"Sering bercerita tentang aku, Bu?" tanyaku tidak percaya.
"Iya, ibunya yang sering bertanya. Katanya Jatmiko ingin tahu kabarmu."
"Hari ini dia pulang dan katanya dia ingin ketemu kamu."
"Ya nak, mau ya..." lanjut ibu berusaha merayuku.
Aku mengangguk. Meskipun rasanya sulit dipercaya, bahkan aku merasa jantungku tak lagi berada di tempatnya. Aku tak sabar menunggu kehadirannya nanti sore.
"Bagaimana kabarmu, Mur?"
Lelaki ini sekarang duduk di hadapanku. Aku terus menunduk bukan hanya karena malu tapi juga untuk menjaga pandangan.
"Baik mas. Bagaimana kabarmu, mas?"
"Tidak begitu baik Mur."
Mas Miko memasang wajah sedih dan memegang dadanya sebelah kiri, "bagian dadaku yang sebelah sini sering terasa sakit."
"Apa mas?" reflek aku mengangkat wajah dan memandang lurus padanya, "apa kamu sudah periksa, mas?"
"Jangan diremehkan mas, katanya kalau dada bagian kiri sering sakit, ada yang salah dengan jantungnya," ucapku panik.
"Peganglah Mur, sekarang ini jantungku berdebar keras."
Aku bergegas memegang dada Mas Miko. Aku pernah membaca kalau berdebar itu merupakan salah satu ciri-ciri adanya kelainan pada jantung.
Mas Miko tersenyum, "sekarang rasanya enakan."
"Maksudmu mas?"
"Karena yang membuat aku berdebar itu kamu, Mur,"
Begitulah pada akhirnya kami memutuskan untuk tidak terlalu lama menunda pernikahan. Mas Miko berhasil meyakinkan aku kalau kekuranganku bukanlah menjadi penghalang baginya untuk mencintaiku.
Dia bilang dia mencintai aku seutuhnya. Bukan sekedar fisik atau hanya sekedar sifatku yang katanya begitu baik dan sabar. Tetapi dia mencintai semua yang ada padaku. Terutama karena aku sabar menunggu meskipun tidak ada kata pengikat diantara kami.
Pernikahan kami diselenggarakan secara meriah. Wajarlah karena bagi keluargaku pernikahan ini adalah yang pertama. Sedangkan bagi keluarga mas Miko ini adalah pernikahan putra bungsu yang sudah dinanti.
Apakah aku mengundang teman-temanku? Ya tentu saja. Ketika naik ke panggung pelaminan untuk memberiku selamat trio wek-wek sempat-sempatnya melontarkan hinaan.
"Selamat ya Bu Mur. Akhirnya laku juga anda ya. Kamu kok mau sih mas ganteng sama dia. Bu Mursinah ini punya banyak rahasia lo," ucap wek pertama.
Sampai-sampai harus didorong dari belakang yang tentu saja adalah wek kedua.
"Selamat ya. Ih, ternyata ada yang mau juga ya sama orang udik seperti anda. Hati-hati, siap-siap untuk diceraikan," ujar wek kedua.
Disini Mas Miko mulai geram, aku bisa melihat wajahnya yang merah padam menahan amarah.
Lalu tibalah giliran wek ketiga, "Selamat ya Bu Mur," lalu dia beralih ke Mas Miko, "eh, mas memangnya kamu yakin menikahi Bu Mursinah karena cinta? palingan dijodohin ya, terpaksa gitu."
Mas Miko hampir membuka mulut ketika aku menahan tangannya. Aku memberi tanda dengan kedua mataku, 'jangan ladeni mereka', ucapku tanpa bersuara.
Dan yang aku lakukan adalah tersenyum sambil mengucapkan terimakasih.
Setelah acara selesai Mas Miko meluapkan kekesalannya, "kamu kok bisa diam saja diperlakukan seperti itu Mur?"
"Buat apa meladeni orang gila mas," jawabku sambil melepas semua atribut pakaian pengantin yang aku kenakan.
"Lihat saja mereka!" geram Mas Miko.
"Biarkan saja, toh kamu nggak akan pernah bertemu mereka lagi."
Mas Miko memelukku dari belakang, "kamu sabar sekali istriku, inilah yang membuatku tergila-gila padamu."
Seperti pengantin baru pada umumnya, Kami juga mendapatkan cuti dari tempat kami bekerja.
Dan ternyata Mas Miko baru dipindahkan oleh yayasan tempatnya bekerja di kota ini.
Hari ini hari pertama kami masuk kerja setelah cuti. Mas Miko memintaku untuk berangkat lebih dulu. Katanya dia ingin memberi kejutan.
Aku mengiyakan saja. Toh selama ini memang aku selalu berangkat sendiri. Jadi bagiku tidak ada bedanya dan aku memang tidak merasa keberatan.
Sampai di sekolah, trio wek-wek kulihat sudah berdiri di halaman. Ketiganya berkacak pinggang. Ekspresi mukanya begitu menyebalkan. Benar-benar tidak menggambarkan sikap seorang guru yang patut digugu dan ditiru.
"Maaf ibu-ibu kalian menghalangi jalan saya."
Ketiga orang berdiri berjajar tepat di pintu arah ke ruang guru.
"Sebentar, ada yang kami ingin tanyakan?" ucap wek pertama dengan tangan bersendekap.
"Iya, kami penasaran ke dukun mana kamu pergi?!" Wek kedua bertanya sambil melotot.
"Kami yakin kamu pasti pakai guna-guna. Mana ada lelaki tampan seperti suamimu itu mau sama wanita udik kalau tidak diguna-gunai," wek ketiga bicara sambil berjalan mendekat.
"Astaghfirullah, saya tidak memakai guna-guna ibu-ibu. Lagi pula kalian ini seperti anak yang masih baru gede senang sekali menggangguku."
Aku mundur selangkah. Lah kok mereka juga ikut maju selangkah. Aku melihat ke belakang, tepat beberapa langkah di belakangku ada pembatas taman setinggi mata kaki.
"Kamu kan tahu kami tidak suka dengan caramu berdandan, karena memalukan."
Aku mulai membatin, "Ya Allah untung murid-murid sedang libur semester, kalau tidak, hal seperti ini akan sangat memalukan."
Aku mundur lagi, begitu pun mereka mengikuti langkahku maju selangkah, "saya mohon, hentikan semuanya. Kita ini adalah guru yang harus memberi contoh kebaikan."
"Yang membuat kami sebal dan jengkel itu kamu Bu Mur. Kenapa kamu bisa mengabaikan kami, padahal kami selalu mengingatkan setiap hari."
"Sebal? maaf, saya garis bawahi bahwa kalianlah yang membuat saya sebal. Apa yang salah dengan cara berdandan saya?"
"Saya bingung melihat kalian, kalau tidak suka, ya sudah anggap saya manusia bayangan yang tak terlihat. Toh, selama ini murid saya tidak pernah mengeluh. Saya berdandan rapi, kalaupun saya suka memakai baju dan kerudung lebar itu pilihan saya."
Aku mundur lagi selangkah. Sial kakiku tersandung pembatas taman dan aku jatuh terjerembab ke belakang.
"Ada apa ini?"
Aku yang sedang meringis kesakitan, terkejut dengan suara yang aku dengar. Itu kan suara...aku mendongak, benar saja...
"Mas?!" wajahku jelas menunjukkan kekagetan.
Trio wek-wek menengok ke belakang dimana suamiku berdiri.
Mas Miko mendekat mengulurkan tangan dan membantuku berdiri. Untung aku selalu memakai celana panjang sebagai dalaman.
"Eh, bala bantuan datang?" ketiganya tersenyum sinis.
"Hei, kalian perhatikan tidak, ternyata kakinya bengkok berbentuk O."
Ketiganya tertawa, "sekarang kita jadi tahu apa yang disembunyikan."
Suamiku menggelengkan kepala. Lalu menuntunku dan membelah ketiga orang yang berdiri memenuhi jalan.
Mas Miko menuntunku ke ruang kepala sekolah.
"Mas, ini kan?!"
"Iya, nanti waktu aku memperkenalkan diri, kamu mendampingi ya."
Wajahku memerah, "kamu kok tidak bilang, mas?"
"Aku malu, mereka tahu kekuranganku," aku berusaha menolak untuk mendampingi.
Mas Miko menggeram marah, "lihat saja nanti, aku akan buat tiga orang itu menyesal."
Aku kembali ke ruang guru setelah merayu suamiku. Aku merasa tidak enak dengan teman-teman sejawat. Mereka memang tahu kami ini suami istri, tapi mereka tidak tahu kalau Mas Miko adalah kepala sekolah yang baru.
"Heh Bu Mur ada apa masuk ke ruang kepala sekolah?" tanya Wek pertama.
"Suamimu ada hubungan saudara ya sama kepala sekolah?" wek kedua menyambar.
Waktu Wek ketiga akan membuka mulut Mas Miko masuk ke ruang guru.
"Saya bukan kerabat atau saudara dari bapak kepala sekolah yang baru Bu."
Mas Miko duduk di bangku terdepan menghadap ke arah kami semua.
"Assalamualaikum, selamat siang bapak ibu guru sekalian, perkenalkan nama saya Jatmiko, S.Pd, M.Pd saya adalah kepala sekolah yang baru. Tapi untuk lebih akrabnya panggil saja saya Mas Miko atau Pak Miko karena usia saya jauh dibawah panjenengan semua."
Aku melirik trio wek-wek, wajah ketiganya pias tidak memiliki ekspresi. Mereka saling pandang dengan tatapan nanar lalu menundukkan kepala.
"Dan untuk langkah pertama, saya akan melakukan rotasi beberapa guru dari sekolah ini ke sekolah milik yayasan di daerah. Guru-guru yang saya pilih adalah guru terbaik yang saya anggap mampu untuk mengembangkan sekolah baru."
Lalu Mas Miko menyebutkan nama trio wek-wek bergantian. Aku bisa melihat ketiganya duduk lemas. Mungkin saja ingin membantah tapi hal itu tentu saja akan menjadi bumerang bagi mereka sendiri.
"Saya juga ingin memperkenalkan istri saya, yang pasti bapak ibu sudah sangat mengenal."
"Dik," Mas Miko mengulurkan tangannya.
Eh, sejak kapan aku dipanggil dek?! Tapi demi wibawa suami, aku maju ke depan dan ikut menerima salam selamat datang dari semua teman sejawat. Dan tentu saja mengucapkan salam selamat tinggal pada trio wek-wek yang suka menggangguku.
Terimakasih suamiku...
***