"Apa rencanamu selanjutnya deny untuk anak bodoh itu " ucap Melani dengan melipat tangannya didada dan menyenderkan punggungnya ke sandaran kursi yang tinggi hingga orang yang duduk dibelakang kursi dan sandaran yang sama tak terlihat.
" entahlah, aku belum memikirkannya." balas Deny sambil mengunyah makanan di mulutnya.
" singkirkan saja dia, lagipula seluruh aset sudah atas nama kamu ." Melani menyeringai tipis dan dibalik wajah putihnya.
'Sial ! ' ucapnya dalam hati, Cecil ingin tahu rencana apa yang akan mereka susun untuk menyingkirkannya. Ia tak menyangka jika suaminya sendiri akan tega melakukan ini padanya.
" Ada yang belum atas nama aku mel" jawab Deny
"Apa" teriaknya hingga mengundang perhatian orang lain untuk melihat mereka yang duduk dipojokan restoran tersebut.
"Sstt ..jangan keras-keras" Deny menempel kan telunjuk kebibirnya. "Surat kepemilikan perusahaan Hartono belum bisa aku rubah karena itu sudah menjadi wasiat ayah mertua ku, jadi sulit membujuk Notaris untuk merubah atas nama ku, harus Cecil sendiri yang memberikan nya padaku." ucap Deny dengan suara pelan setidaknya hanya mereka berdua yang mendengar nya.
Melani hanya mengangguk kan kepalanya dua kali "kami baik-baikin dianya, terus kamu sayang-sayang dia , sampai akhirnya ia mau menulis surat wasiat untuk mu".
"Tenang saja untuk itu" senyum Deny dan mencium puncak kepala Melani.
'Sial, bodoh! kenapa dengan mudahnya aku mengubah hartaku atas nama dia,sial! umpatnya dalam hati. ' Akan ku balas perbuatan mu'. Cecil membuka kamera hpnya dan mengarahkan disamping badannya untuk melihat apakah mereka sudah pergi dari restoran tempat pertemuan mereka. setelah membayar bill nya Cecil segera beranjak dari restoran dan pergi ke Notaris untuk membuat wasiat, dan mengubah seluruh asetnya menjadi miliknya kembali dan tak lupa untuk melakukan awal pembalasannya.
Sesampainya dirumah pukul 8 malam dan mengetahui jika Deny sudah berada dirumahnya.
" malam sayang, " Deny menyambut istrinya dengan pelukan mesra . Cecil tak habis pikir dengan tingkah suaminya ini. Cecil mengenal Deny dan Melani mulai dari SMP mereka teman satu kelas. Deny dulu seperti pahlawan bagi Cecil dan Melani adalah orang yang selalu membullynya sebab kecupannya. Ia masih ingat dengan tingkah Melani yang mendorongnya jatuh hingga ke got sekolah atau menguncinya di kamar mandi. Dan Deny selalu menolongnya dan membantunya untuk membalas perbuatan Melani . Namun kenyataannya Deny adalah gunting dalam selimut. Cecil membalas pelukan Deny yang tak kalah erat .
"Kamu dari mana saja sayang kok baru pulang, kamu habis treatment iya? tapi kok smpai malam?" Deny bertingkah manja dengan menyandarkan kepalanya di bahu Cecil dan memeluk pinggang Cecil dari belakang.
" Aku tadi pergi kenotaris sebentar buat bikin surat wasiat." ucap Cecil dengan santainya. walaupun dalam hati ia ingin sekali menonjok muka laki-laki dibelakang nya dengan keras.
" kenapa kamu lakukan itu ? kamu mau ninggalin aku" raut wajah Deny berubah menjadi sedih.
" aku pikir akan memberikan perusahaan ini untuk mu saja sayang, biarkan kamu aja yang ngurus" Deny tersenyum tipis mendengar ucapan istrinya. "aku mau fokus dirumah untuk ngurus anak dan kamu sayang. Aku pengen program hamil sama kamu. Mau iya ? "ucap Cecil. Sontak Deny melepas pelukannya dan membalikkan tubuh istrinya. Dipegang bahu Cecil dan menatap matanya.
" Untuk saat ini jangan dulu iya sayang, kamu tau sendiri kan ibu aku masih sakit dan banyak pengeluaran.Jika kamu hamil sekarang nanti makin besar pengeluaran kita." ucap Deny.
" uang aku masih banyak kok dan itu cukup untuk biaya aku hamil sampai anak kita kuliah bahkan berkeluarga." nada Cecil meninggi adu mulut pun tak terelakkan. Hingga Deny memutuskan untuk pergi tidur ke kamar tamu dan Cecil pergi kekamar utama. "lihat apa yang akan terjadi besok" ucap Cecil pelan dan senyum menyeringai muncul di bibirnya.
*****
" kamu sudah melakukan yang aku suruh kan Mel?" tanya Deny pada Melani melalui telpon pagi ini.
" Sudah lah sayang" jawab Melani dengan manjanya.
Deny langsung pergi ke kantor tanpa sarapan pagi yang sudah disiapkan oleh Art dirumah mereka.
Sesampainya dikantor ia menuju ruangan Cecil dan duduk di kursinya. Ia yakin bahwa sebentar lagi seluruh harta milik Hartono akan menjadi miliknya. Apalagi dengan rencananya pagi ini pada mobil Cecil. Senyumannya kian melebar dan berubah menjadi tawa atas kemenangan nya. Namun dia begitu terkejut saat melihat Cecil membuka pintu kantornya.
" Ada apa mas, kok kamu bahagia banget" ucap Cecil seperti biasa.
"Kamu kesini gak bawa mobil sendiri? " Pertanyaannya malah membuat nya masuk kedalam perangkap nya sendiri.
" kok mas tau aku kesini gak bawa mobil sendiri ?" Tebakan Cecil benar jika suruhan Deny lah yang menyabotase rem nya jam 1 subuh tadi.
"Aku fikir mungkin saatnya mobil kamu diservis" jawab Deny sekenanya.
"iya mungkin." jawaban Cecil menambah kegugupan Deny , kata-katanya seperti telah mengetahui apa rencananya.
" Rossa, kirim data pengeluaran perusahaan 3 tahun ini." ucap Cecil pada bagian keuangan diperusahaan nya melalui sambungan telepon.
" baik Bu" jawab Rossa singkat.
Deny mulai cemas mendengar bahwa Cecil melakukan pengecekan menyeluruh pengeluaran perusahaan.
" u..untuk apa kamu lakukan pengecekan? " tanya Deny dengan jantung berdegup kencang dan tangan gemetaran, sebab dia sering menggunakan uang perusahaan untuk menyenangkan hati pacarnya .
" untuk mencari bukti " ucap ketus Cecil.
" istriku,sepertinya aku kurang enak badan . " Deny mencari alasan supaya bisa segera kabur dari cecil dan segera mengajak Melani kabur keluar negeri. Karena sepertinya Cecil sudah mengetahui rencananya.
" pulanglah kerumah mas jika kamu sakit." jawab Cecil dingin. Membuat Deny semakin curiga padanya. Sebelum melangkah pergi ia menerima pesan dari Melani.
" Mas aku kangen ." bersamaan dengan emoticon ciuman jarak jauh dan bentuk hati merah.
Sesampainya dirumah ia dikejutkan sebuah paket yang tertuju untuknya. Ketika dibuka ia menemukan 3 surat beramplop coklat karena penasaran ia membuka 1 amplop pertama , berisi perceraian nya dengan Cecil. Ia tak begitu terkejut dan merasa biasa saja sebab Deny juga menginginkannya. Amplop yang ke-2 berisi surat panggilan kepolisian untuk melakukan pemeriksaan atas kasus tindakan korupsi dan percobaan pembunuhan, tubuh Deny langsung terkulai lemas, ia tak percaya jika selama ini tindakannya telah diketahui oleh Cecil. Dan amplop yang ketiga surat dari notaris yang mengatakan pengambilan seluruh aset Hartono . Mungkin ini mimpi dia mencubit lagi tangannya tapi tetap tak mengubah apa yang terjadi .
tok.. tok ..
Suara pintu diketuk oleh seseorang dari luar kamarnya Deny beranjak dari ranjangnya dan membuka pintu telah melihat 2 orang berseragam polisi siap menggelandangnya. Tanpa perlawanan Deny mengikuti polisi menuruni tangga rumahnya. dilihatnya Melani dengan tangan diborgol juga dan di gandeng oleh 2 polisi wanita sedangkan Cecil melihat dengan sinisnya.Polisi membawa kedua pasangan tersebut ke kantor polisi.
TAMAT
* Gak tau juga ini termasuk tema atau enggak.
Terima kasih sudah mampir untuk membaca *