Aku Aira seorang istri yang tercampakkan, seorang ibu yang memendam kepahitan dan seorang wanita yang tersakiti.
Kehancuran rumah tanggaku adalah sebuah bencana yang mampu memporak porandakan segalanya. Aku bagaikan tebu yang habis manis sepah di buang. Yah pepatah itu pantas untuk ku.
Setelah suamiku menikahi selingkuhannya, sebut saja nama wanita itu Sinta wanita yang menjadi madu ku. Tak kusangka sekarang aku memiliki rival, ingin aku tertawa dengan semua ini.
Suamiku semakin hari semakin berubah, dia tidak lagi peduli dengan kami yang dia pedulikan hanya istri mudanya. Aku iri, aku juga ingin diperlakukan manis seperti itu. Tiap malam aku menunggunya datang berharap dia untuk menemuiku namun, semua tinggal harapan semu, suamiku tidak pulang-pulang.
Suatu hari suamiku pulang ke rumah, entah ada angin apa sehingga dia pulang kerumah. Apa untuk menengok aku dan anak-anak apakah ia merindukan kami entahlah. Mulutku gatal ingin bertanya walau kulihat mukanya kurang bersahabat,kuberanikan diri untuk bertanya. "Pak, gimana kabarnya?"
Aku basa-basi menanyakan kabarnya, meskipun aku lihat dia tampak baik-baik saja. "Aku baik Bu". Alhamdulillah dia menjawab dengan agak lembut, aku bersyukur itu.
"Kok lama bapak tidak pulang?". Aku berharap dia menjawab bahwa dia merindukan ku, meskipun aku tau itu mustahil namun apa salahnya berharap.
"Kenapa kalau bapak pulang? Gak suka?"
Jawabannya jauh dari harapanku, kuelus dadaku sambil beristifar.
"Bukan begitu pak, ibu kan cuma nanya saja"
Aku malas untuk melanjutkan percakapanku dengan dia, biarkan saja apa tujuan di pulang aku sudah malas. Kutinggalkan ia sendirian di ruang keluarga.
Sejak saat itu ak bertekad untuk memperjuangkan hak ku dan anak-anak. Bukan hanya hak lahiriyah namun juga batiniyah. Entah bagaimana akhirnya yang terpenting aku harus berjuang dulu.
Tak ada tempatku berbagi selain kepada sang pencipta, kutumpahkan segala rasaku dalam setiap sujudku. Kuceritan segala rasa yang ada dalam hatiku, aku meminta petunjuk jalan yang terbaik buat keluargaku. Aku dan anak-anakku bagaimana nasib kami selanjutnya itu yang aku fikirkan.
Sejak kepulang suamiku waktu itu, ia tidak datang lagi aku tau dia tinggal di rumah istri keduanya. Ingin rasanya aku kesana dan bicara langsung dengan maduku, aku ingin ia membagi suamiku karena kami juga membutuhkannya, meskipun aku adalah istri pertamanya. Namun semua aku urungkan karena pasti nanti di tanggapi berbeda.
Hari demi hari kami lewati walau kadang suamiku pulang namun itu hanya sebentar, kulihat anak-anakku tidak seperti biasanya apalagi anakku yang bontot. Aku tau ia sangat merindukan ayahnya. Suami hari anakku yang terakhir yaitu Andi wajahnya murung, kudekati dia dan kutanyak. "Nak, Andi kenapa murung nak?" Kuperhatikan mimik wajahnya. "Bu, kapan ayah pulang? Aku sangat merindukannya". Sungguh hatiku sakit mendengar dia berucap seperti itu namun aku harus kuat. "Nak, bapak mungkin masih ada urusan, nanti kalau pulang ibu panggil kamu ya". Aku mencoba tetap tersenyum meski hati sakit. "Andi,....."
Tidak ada jawaban lagi dari Andi, kulihat ia murung tidal seperti biasanya menanyakan bapaknya.
Keesokan harinya seperti biasa aku membangunkan anak-anakku untuk sholat. Saat aku membangunkan Andi kulihat dia berkeringat sedangkan badannnya menggigil
Kupegang keningnya ternyata dia demam. Sesekali Andi mengigau memanggil bapak nya. Aku bingung aku harus bagaimana, haruskah aku menghubungi suamiku, tapi aku takut nanti dia marah kalau di suruh pulang.
Kulihat Andi semakin tinggi suhu badannya padahal sudah aku kompres dan minum obat. Karena suhu badannya tidak kunjung turun, dia aku bawa ke rumah sakit di kota ku dan ternyata setelah dilakukan pemeriksaan ternya anakku terkena demam berdarah da harus di rawat inap.
Sungguh aku tidak tega melihatnya, apalagi dia selalu memanggil bapak nya. Aku memberanikan diri untuk menelfonnya." Assalamualaikum, bapak" kudengar dari telfon bahwa dia lagi bersam istri mudanya.
"Waalaikumsalam,ada apa?" Jawabnya
"Ini pak, Andi lagi sakit demam berdarah sekarang ada di rumah sakit B, dia ingin bertemu dengan mu. Bisakah kau kesini?"
"Iya akan aku usahakan kesana".
Mendenga jawaban itu aku tak sanggup membendung air mataku, sebegitu pentingkah istri mudanya sehingga anaknya sakit saja masih mikir buat jenguk, sedangkan anaknya selalu menanyakannya.
Kondisi Andi semakin buruk, dokter memberi tahu kalau Andi harus pindah ke ICU."ya Allah cobaan apa lagi ini" ucapku seakan cobaan dan beban datang silih berganti.
Suamiku tidak kunjung datang, berkali-kali aku menghubunginya untuk datang namun semua nihil ia tak kunjung datang.
Hingga suatu kejadian yang sangat menyakitkan terjadi, anakku andi anak bontotko meninggal karena sakitnya. Runtuh duniaku, hilang separuh hidupku. Aku benci sangat benci sama suamiku. Dia yang aku harapkan datang untuk menengok anaknya yang sedang sakit tak kunjung datang, sebegitu tidak berartikah anak-anaknya? Ya Allah aku lelah,aku hancur beginilah akhirnya. Anak yang tak bersalah harus menanggung keegoisan orang tuanya. Astagfirullah.
Saat mendengar bahwa Andi tiada barulah suamiku datang. Kulihat ia ingin mengis entah apa yang ingin ia tangisi, ku samperi dia. "Untuk apa kau datang kesini"? Ingin sekali aku berkata kasar tapi lidahku kelu.
"Maaf"
Hanya kata itu yang keluar dari bibirnya. Ingin sekali aku tampar mukanya namun aku masih memiliki kesadaran bahwa hal itu tidak baik.
Setelah Andi di makamkan suamiku menemuiku "maaf aku Bu, karena aku tidak datang menemui Andi waktu di rumah saki"
Hatiku sakit mendengar penuturannya.
"Minta maaf? Apa Andi bisa hidup lagi dengan maaf mu? Apa kamu tidak mikir bagaimana perasaan Andi? Dia hanya ingin bertemu denganmu itu saja apa susahnya datang meski sebentar? Apa sebegitu pentingkan istri mudamu ketimbang anak-anak? Kalau kau tidak lagi mencintai ku setidaknya cintailah anak-anak mereka darah dagingmu, mereka butuh kasih sayangmu. Bagaimana bisa kau mengabaikannya?" Ku tumpahkan segala kekesalanku apa yang menjadi beban di hatiku, aku tidak peduli akan semua aku terlanjur sakit hati sunggu aku lelah aku ingin tenang bersama anak-anakku.
"........."
Tidak ada jawaban dari suamiku, akupun memberinya pilihan, karena aku sudah tak tahan dengan semua kelakuan suamiku yang semena-mena terhadap kami.
"Begini saja pak, sekarang pilihlah aku dan anak-anak atau istri mudamu"
Aku tak peduli meski dibilang aku egois, aku tak peduli dia bilang aku apa. Sebab aku sudah tak tahan aku tak ingin berbagi.
"Kok ibu bilang gitu, aku tak bisa meninggalkan istri mudaku, aku mencintainya"
"Berarti bapak memilihnya ketimbang kami?"
"Maaf"
Aku tau arti dari ucapannya, akupun harus siap menerimanya daripada makan hati tiap hari, anak-anak pun sudah ikhlas akan semua keputusan yang aku ambil. Karena sebelumnya aku sudah mendiskusikannya dengan mereka.
Pada akhirnya suamiku memilih bersama istri mudanya dan meninggalkan kami yang telah bersama dengannya dari awal bukan apa-apa menjadi orang yang sukses. Aku ikhlas mungkin ini adalah jalan takdir akhirku, mungkin ini jalan Tuhan yang di tunjukkan untukku, ini adalah jawaban dari doa-doaku selama ini. biar orang bilang aku egois tapi inilah aku dan keterbatasanku, aku tak mampu menerima aku tak bisa untuk berbagi.
Memang perpisahan adalah hal yang di benci Tuhan namun, sungguh hatiku tak sanggup lagi. Kuharap kedepannya akan menjadi hari-hari yang indah. Saatnya aku menjadi bapak sekaligus ibu buat anak-anakku. Aku bisa, aku sanggup, aku kuat, be strong💪💪💪💪