Tepat 2010 aku lulus dar SMA Bangsa.
Rasa sedih karena tak kunjung mendapatkan feedback dari orang yang aku sukai.
Namanya adalah Adwan Tama. Laki-laki dingin idaman para wanita di sekolah ini.
Entah mengapa aku pun ikut menyukainya, padahal dulu aku sangat anti terhadap pria yang terlalu populer.
Walau kami sekelas selama 2 tahun, dia tidak pernah sekali-sekali menyebut namaku. Bahkan memanggil nama ujung seperti "Si" saja tidak.
Sedih sekali rasanya, harus melupakannya walau harus berjuang selama 4 tahun demi melupakannya.
Setelah lulus aku mendapatkan beasiswa di salah satu kampus favorit di jurusan komunikasi.
Dan berhasil. Aku berhasil melupakannya walau dengan bersusah payah.
Setelah melalui ujian cukup panjang dan bertemu orang-orang banyak dan semua baru, aku pun masuk ke salah satu tempat kerja yang aku inginkan.
Mendaftar dan di terima dengan posisi yang aku inginkan membuat satu kebanggaan dalam diriku.
Sampai akhirnya aku bertemu lagi dengannya di tempat kerja yang sama.
Perjuangan selama bertahun-tahun untuk melupakannya pun akhirnya terbuang sia-sia.
Bruk ....
Pertemuan awal.
Berawal dari berkas yang jatuh berantakan saat aku menabrak seseorang bertubuh kekar di depan ku ini.
"Maaf, maaf, aku tidak sengaja."
"Lain kali hati-hati, kalau tidak bisa bawa berkas sebanyak ini, menyalahkan teman mu yang lain membantu."
"Iya terima-" ucapan ku terpotong kala melihat wajahnya.
Wajah tak asing dilihat saat 8 tahun yang lalu.
"Sinta?" ucap pria gagah di depanku.
"I-iya, Adwan ya?" tanya ku juga.
"Iya, saya Adwan Tama. Wah lama kita gak pernah ketemu ya."
Setelah menunggu 8 tahun untuk mendengar panggilan nama ku terucap dari mulutnya, akhirnya hari ini detik ini dia memanggil namaku.
"Jadi? Kamu mau menaruh berkas ini dimana?" tanya Adwan.
"Aku mau menaruhnya di ruang manajer dan kata mereka manajer disini galak ya?" tanya ku begitu terlihat polos.
"Oh ya? Ya sudah kalau begitu kau pergi saja bersama ku nanti aku antar kau ke ruang manajer agar tidak terlalu takut."
"Wah, baiklah terimakasih."
Setelah melewati beberapa lantai, Aku dan Adwan pun sampai tepat di lantai 5 gedung ini.
Aku membawa berkas sembari di bantu oleh Adwan. Saat melewati beberapa karyawan, sudut pandang mata pun mengarah ke aku, entah mengapa.
Tetapi yang pasti aku terus mengikutinya sampai tepat di ruangan manajer.
Ruangan yang begitu luas pun terbuka di bantu oleh dua orang dan aku pun mengikuti Adwan lagi dari belakang.
Sesampainya di dalam ruangan, aku melihat ruangan ini kosong tidak ada orang. Hanya ada aku dan Adwan saja.
"Taruhlah berkas itu di meja ujung."
"Baiklah, terimakasih ya Adwan sudah membantu," ucap ku sembari tersenyum manis.
Deg ... deg ... deg ...
Jantung Adwan seketika berdegup kencang kala melihat senyum mengngembang di pipi chuby ku ini.
"Iya sama-sama."
"Yasudah kalau begitu aku harus kembali bekerja."
"Mengapa kamu tidak beristirahat di sini dulu sebentar? Aku masih ingin berbincang denganmu."
"Tetapi jika aku tidak bekerja, manajer pasti akan marah, aku tidak mau sampai gajih ku terpengaruh hanya karena malas bekerja."
"Aku akan mengurusnya."
"Tidak Adwan terimakasih atas bantuannya."
Setelah itu aku kembali ke ruang kerja ku lagi. Mulut-mulut berisik pun kembali berbicara.
Bahkan teman ku Lita bertanya seperti ini, "Apa yang terjadi? Bagaimana? Apa manajer galak?"
"Entahlah aku tidak bertemu dengan manajer tadi."
"Apa? Kau yakin Sin?"
"Iya aku yakin."
Di waktu yang bersamaan.
"Akhirnya kita bertemu kembali. "
"Siapa tuan?"
"Sinta, wanita yang pernah mengirimkan sebuah puisi romantis untukku saat valentine."
"Apa kau jatuh cinta tuan?"
"Menurutmu?"
"Entahlah, mungkin kau memang sednag jatuh cinta tuan."
"Panggil dia kemari, aku ingin mengatakannya sekarang."
"Baik.
Setelah itu pertanyaan beruntun pun datang menghujam diriku sampai akhirnya seseorang memanggilku lagi ke ruang manajer.
Tap ... tap ... tap ....
Langkah kaki begitu seram datang menuju kantor yang sedikit gaduh dan ramai.
"Ada apa ini? Apa ini tempat menggosip?" tanya pria yang cukup tegas ini.
Hening pun terjadi seketika saat suara tinggi pria itu memenuhi ruangan.
"Sinta ikut dengan ku ke ruang manajer sekarang!"
Deg!
'Tamatlah riwayatku,' ucapku dalam hati.
"Hati-hati Sinta," bisikan Lita sembari memegang tanganku.
Mata-mata pun menyoroti diriku saat hendak melangkankan kaki keluar, bahkan sampai aku tidak terlihat.
~▪︎~
Ruang Manajer.
"Masuklah!"
"B-baik."
Aku melangkahkan kaki ku sampai tepat di depan meja yang cukup luas.
"Kau yang bernama Sinta?" tanya seseorang dari balik kursi.
"Iya. Benar tuan."
"Izinkan saya menyampaikan sesuatu."
"Baiklah, akan aku dengar."
"Temui aku dengan keluarga besar mu tepat jam 20.00 di restoran Xyo ruang Vip."
"Baik tuan."
"Sekarang kau pergilah."
Hati ku sangat hancur kalau harus menemukan keluarga besarku dengan manajer ini.
Raut wajah mendung pun nampak jelas saat aku kembali masuk ke ruangan. Semua pun tidak bertanya lagi, sudah seperti biasa jika seorang karyawan keluar sari ruangan manajer dengan raut wajah mendung.
~▪︎~
Aku pulang menggunakan ojek online bahkan sudut mata pun melihat ke arahku sampai aku benar-benar hilang.
~▪︎~
Aku memberi tau ibu dan kakak laki-laki ku dngan sangat Hati-hati bahkan aku pun bilang kepada mereka jangan salah mengambil ucapan.
Karena posisi ku akan terancam nantinya dan jangan terlalu bersikap bagaimana karena aku khawatir akan menyinggung perasaannya.
~▪︎~
Tepat pukul 19.45 aku, ibu dan kakak laki-laki ku sampai di restoran ini. Bergaya seadanya tetapi memasuki ruangan Vip.
"Masuklah," ucap pria yang memanggilku datang ke ruangan manajer tadi siang.
Sesaat aku memasuki ruangan, ada satu laki-laki berjas biru tua senada dengan sepatu mengkilatnya.
"Dudukalah."
'Suaranya seperti tidak asing di dengar tapi siapa?' tanya ku dalam hati.
Raut wajah tegang muncul saat pria ini menyuruh kami bertiga duduk.
"Aku tidak ingin berbasa-basi. Apa dia benar anak mu?" tanya Pria itu.
Wajahnya tidak terlihat karena tertutup oleh bayangan gelap.
"I-iya benar tuan dan ini kakak laki-laki keduanya sedangkan yang pertama sudah menikah."
"Oke. Aku ingin membicarakan hal yang serius dengan kalian."
"Apa itu? Apa adik ku melakukan sesuatu yang menyinggung hatimu?" tanya kakakku.
"Tidak. Aku memanggil kalian hanya untuk meminta persetujuan kalau aku ingin Sinta menjadi istriku."
Tek ...
Lampu pun menyala dengan terang dan menyorot wajah manajer itu dan ternyata Manajer galak itu adalah Adwan Tama, pria idaman SMA Bangsa yang pernah aku sukai dulu.
Ibu dan kakak ku tidak bisa menjawab dan lebih melimpahkan jawaban itu ke diriku, karena aku lah yang akan menjalankan hubungan yang lebih serius ini nantinya.
Dan ya ... mau tidak mau aku harus melangkahi kakakku.
Sekarang manajer galak yang di takuti para karyawan itu memiliki pawang yang sangat ampuh.
Pria idaman para wanita dan pria yang pernah aku sukai semasa SMA itu menjadi pelabuhan pertama dan terakhirku.
Penantian selama 8 tahun pun terbayar lunas dan tidak sia-sia begitu saja karena Adwan Tama sekarang menjadi milikku, suami yang paling aku cintai.
"Aku mencintaimu, " ucap Adwan sembari mengecup keningku.
-END-