Mentari pagi bersinar cukup hangat setelah hujan mengguyur semalaman. Daun-daun basah, tanah lereng pegunungan yang lembek menyapaku pagi ini yang mesti pergi ke ladang menemani paman dan bibiku memanen hasil perkebunan mereka.
Ini hari kedua bagiku setelah kemarin aku tiba di sini disambut guyuran hujan lebat, jadi aku tidak bisa pergi kemana-mana. Oya, perkenalkan namaku Anzel umurku 18 tahun semester dua di Universitas Negeri terkenal di kotaku. Ini liburan pertamaku menginap bersama paman dan bibiku yang rumahnya di lereng bukit merapi. Sebenarnya aku minggat dari rumah karena masalah orang tua, untunglah paman dan bibiku mau menerimaku tinggal bersama mereka selama dua minggu nanti. Mungkin mereka senang dengan kedatanganku yang bisa dianggap sebagai anak mereka sendiri karena beliau belum mempunyai keturunan sampai sekarang, mungkin Tuhan belum memberinya.
"Zel, kalau kamu mau ikut, kenapa pakai baju seperti itu? Memangnya kita mau piknik?" tanya pamanku heran saat melihatku memakai t-shirt lengan panjang ditambah rompi hoodie dengan setelan celana pendek selutut dan sepatu kets, tak lupa beanie dan syal menggantung di leher.
Aku tersenyum garing kearah pamanku yang sudah siap dengan sabit dan beberapa keranjang bambu di tangannya. "Memang, nggak bisa apa kalau pakai seperti ini saja paman?"
"Kamu yakin pakai seperti itu? mending ganti baju bibi saja dan pakai boots. Apa nggak sayang pakai itu sepatu? Jalanannya jelek lho" ucap bibiku menasehati. Ia baru keluar dengan pakaian berkebunnya lengkap dengan sepeda kayuh mentereng di sebelahnya.
Setelah berpikir beberapa saat, okey lebih baik kuikuti kata mereka yang paham dengan daerah sini. Aku masuk kembali ke dalam rumah, menuju kamar tempat aku tidur semalam dan melihat di atas tempat tidurku sudah ada satu setel pakaian bibi yang harus kugunakan. Walau terlihat kampungan, ya sudahlah pakai saja toh di sini tidak ada Mr. Iceman seperti Yunho. Aku memakainya tapi tetap memakai beanie kesayanganku, tidak mungkin aku keluar rumah tanpa beanie buluk itu. Mungkin bisa dibilang style pakaianku sekarang style amburadul, tapi aku pakai senyaman mungkin, agar tidak terlihat begitu aneh di depan orang lain. Kukenakan sepatu boots baru yang ukurannya pas denganku dan terlihat masih baru karena belum pernah digunakan. Entahlah milik siapa, apa urusannya denganku, pikirku yang tidak suka ambil pusing masalah sepele.
Kulangkahkan kaki keluar rumah menghampiri paman dan bibiku yang sudah siap dari 15 menit yang lalu. "Bisa kita pergi sekarang?" tanyaku sambil menatap mereka satu per satu. Kulihat tatapan aneh dan kagum mereka ke arahku. "Apa aku terlihat aneh?" cengiran bingung langsung kutujukan ke arah mereka berdua.
"Enggak, kami cuma heran. Mau pakai apapun kamu tetap saja terlihat manis" puji bibiku sambil membelai kepalaku lembut. Aku tersenyum tersipu malu. Tidak pernah kurasakan seseorang membelai kepalaku seperti ini.
"Bibi ini bisa saja. Sini biar kubantu bawa sepedanya, bibi bantuin paman bawa keranjang saja" ucapku mengambil alih sepeda dari tangan Bibi dibalas dengan senyum sayang beliau.
Kamipun akhirnya berjalan meninggalkan rumah menuju ladang melewati jalan berbatu kecil. "Oya paman, kenapa paman dan bibi nggak sewa pekerja saja untuk memanen hasil perkebunan kalian, bukankah perkebunan kalian cukup luas ya?" tanyaku ingin tahu.
"Kami sudah menyewa pekerja, tapi lebih enak memanen hasil kebun sendiri untuk kita makan di rumahkan?" sahut Paman menengok sekilas ke arahku.
Aku tersenyum mengangguk setuju. "Berapa pekerja paman?"
"Tidak banyak cuma beberapa pemuda yang putus sekolah di kampung" sahutnya lagi.
"Wah paman dermawan sekali, mau mempekerjakan mereka. Coba kalau di kota nggak mungkin ada yang nerima orang-orang putus sekolah untuk bekerja" jelasku panjang lebar.
"Apanya yang dermawan, kita hanya saling tolong. Paman butuh mereka, mereka butuh uang, impaskan?" sanggah Bibi rendah hati.
Tak terasa kami sudah sampai di ladang paman yang cukup luas itu, memang benar ada beberapa pemuda dan pemudi yang sedang bekerja di ladang itu. Hamparan permadani hijau membentang di depan mataku. Pohon buah dan sayuran pun ikut andil di dalamnya. Hamparan bunga juga tidak kalah indahnya. Sungguh tak menyesal aku memilih pergi ke tempat ini.
"Ayo, akan paman kenalkan sama para pekerja. Mereka seumuran denganmu" ucap paman menyuruhku untuk turun ke ladang. Mataku mengerjap menghentikan kekagumanku akan keindahan yang diciptakan Tuhan untuk para manusia di dunia ini.
"Letakkan saja sepedanya di pinggir jalan, bibi akan pergi memetik buah. Kamu ikuti saja pamanmu" Aku mengangguk menuruti perkataan Bibi. Setelah memarkirkan sepeda aku menuruni ladang menyusul paman yang sudah berada jauh di depan menghampiri para pekerjanya. Menyapa mereka satu persatu.
Melihatku sudah berada di sebelahnya, paman langsung memperkenalkanku kepada para pekerjanya. "Oh iya, kenalkan ini keponakan paman dari kota namanya Anzel, Anzel ini Mimi dia sudah bekerja dengan paman selama 3 tahun" Paman memperkenalkan gadis yang umurnya sebaya denganku, wajahnya lugu dan manis.
Aku mengulurkan tangan memperkenalkan diri. "Anzel" gadis ramah dan sopan dihadapanku menyambut uluran tanganku. "Kau hebat bisa kerja seperti ini, aku pasti hanya bisa mengeluh capek kalau kerja seperti ini. Senang bisa bertemu denganmu" ucapku ramah. Senang mengenal orang baru.
Mimi hanya tersenyum menanggapi setiap perkataanku. Aku melambai ke arahnya saat paman mengajakku berkeliling lagi.
"Ini Ota" ucap paman saat sampai di belakang pemuda yang sekarang berdiri memunggungi kami. "Ota kenalkan ini keponakan paman, Anzel" pemuda itu menoleh ke kami. Ya Tuhan, ternyata di tempat seperti ini ada makhluk tampan seperti ini.
"Ota" ucap pemuda itu mengulurkan tangan.
"An...zel..." sahutku menyambut uluran tangannya. Mungkin sekarang mulutku menganga menatap pemuda di depanku sekarang.
"Dia baru bekerja satu tahun dengan paman setelah putus kuliah, Oya Ta, dimana Deden sama Ajeng"
"Mungkin sedang di kebun buah" sahut pemuda itu santun.
"Oh, ya sudah. Zel, kamu bisa belajar memanen dari mereka, paman mau panen sayuran yang di sana dulu ya" paman pergi meninggalkanku bersama pemuda yang cukup memukauku sampai saat ini.
"Maaf, bisa dilepasin tanganku?" ucap Ota menatap tangannya yang masih kugenggam erat.
Aku tersadar bahwa dari tadi aku belum juga melepaskan tangannya. "Aaa...maaf. Siapa namamu tadi?" tanyaku antusias mendekatinya.
"Ota" jawabnya singkat lalu berbalik memunggungiku melanjutkan aktivitasnya yang tertunda tadi.
Kuikuti dirinya berharap bisa mengakrabkan diri dengannya, "kau suka perkebunan paman ya?" tanyaku sok akrab.
"Enggak juga" jawabnya singkat plus dingin.
"Terus kenapa memilih kerja di sini? Kan masih banyak pekerjaan lain yang bisa kau kerjakan. Orang muda sepertimu kalau ke kota pasti sukses" ucapku penasaran menggebu-gebu.
"Untuk apa ke kota mencari susah saja, di sini lebih nyaman" ucapnya dengan nada sedikit ketus.
"Ini dia sifat buruknya kalian, merasa di sini nyaman jadi nggak mau beranjak ke dunia luar" ucapku tanpa berpikir kalau ini akan menyinggung perasaannya.
Ia menoleh ke arahku menghentikan acara memetik cabainya. "Kau ini mau membantu memanen atau menguliahiku?" katanya ketus.
"Eum..." aku meringis ke arahnya, sadar kalau aku terlalu cerewet, tapi tidak bisakah dia berbuat baik padaku. "Apa kau nggak bisa ramah sama aku? Seperti saat kau bicara sama pamanku?"
"Ini sudah cukup ramah" ucapnya menggotong keranjang cabe ke sisi yang lain. Ia membuang nafas kesal. "Aku tidak membentakmu dan aku tidak berbicara kasar padamu, apa ini masih kurang ramah untukmu?" tanyanya tanpa melihat ke arahku.
"Cara bicaramu ini yang kurang ramah. Kau bicara denganku tapi matamu hanya melihat cabai, memangnya aku dan cabai sama apa?" ucapku ketus.
Matanya kini tertuju padaku, "bicaralah aku akan memperhatikanmu sekarang" ucapnya santai.
Bukannya senang dia memperhatikanku, aku malah ketakutan sendiri dipandangi seperti itu. Aku tak mampu mengatakan sepatah katapun. "Auuhhh...lupakan, lebih baik aku pergi dari sini" aku memilih menghindari tatapan itu, tatapan iceman. Oh My God kenapa aku menemukan sosok seperti itu di sini sekarang?
Kulangkahkan kaki menjauhinya berniat menghampiri Mimi dan sialnya aku malah tergelincir dan jatuh terjerembab. "Auwww....Okey fine! Sekarang celanaku kotor, pantatku sakit, tanganku kotor, dan...."
Seseorang mengulurkan tangannya di depanku. Kuarahkan pandanganku ke atas dan melihat Mr. Iceman di depanku. "Kubantu" walau malu tetap saja aku harus bangun, kuraih uluran tangannya kemudian mencoba berdiri, ia menarikku membantuku berdiri, sepatu bootsku tergelincir lagi, tanpa diberi komando tanganku langsung melingkar di lehernya karena takut akan terjatuh lagi.
Kini aku sudah bisa berdiri dengan benar, sedikit rasa sungkan karena telah memeluk seseorang tanpa ijin. Aku minta maaf ragu-ragu takut kalau dia akan memarahiku, karena kelancanganku barusan. "Aa....maaf, bukan maksudku untuk...."
Ota memotong kata-kataku. "Sepertinya kau perlu pulang sekarang, celanamu kotor seperti itu" katanya mengingatkanku.
Mataku mengerjap sesaat. "Aaa...iya, tapi aku nggak tahu arah pulangnya. Lebih baik kutunggu paman dan bibi saja, nggak apa-apa juga seperti ini...lagipula..." tiba-tiba tanpa disuruh Ota melepaskan kemejanya dan mengikatkan dipinggangku untuk menutupi celana kotorku. "Kau nggak perlu seperti ini" kataku sungkan.
"Kau akan malu kalau jalan dengan celana kotor seperti itu" ucapnya yang kemudian pergi kembali ke pekerjaannya.
Aku tersenyum girang sendiri, mendapatkan perhatian dari Mr. Iceman. Apa aku sudah jatuh cinta padanya secepat ini? Aku berdehem seketika apalagi melihat kedatangan Mimi dengan sekeranjang penuh sayuran wortel. "Mimi" panggilku ke arahnya. Mimi menoleh melihatku. "Aku mau tanya sesuatu sama kamu, kamu kenal Ota berapa lama, dia tinggal dimana dan apa dia sudah punya pacar" tanyaku beruntun.
Mimi tersenyum sebentar menanggapi pertanyaanku yang banyak itu. "Dia kakakku, setahuku belum punya pacar. Non Anzel naksir dia?" Aku hanya tersenyum menanggapinya. "Dia banyak yang naksir cuma, dianya susah suka sama orang. Lho, ini kemejanya kak Ota kan? Kog bisa ada di non Anzel?" raut muka penuh pertanyaan terpampang jelas dimuka Mimi sekarang, ia terlihat heran dan bingung kenapa kemeja kakaknya bisa ada di pinggang gadis yang baru saja dikenalnya.
"Ee...tadi dia minjemin ini buatku, soalnya celanaku kotor terpeleset barusan" jelasku tidak ingin dicurigai sebagai pencuri.
"Tumben, dia baik. Beruntung sekali non Anzel sampai dipinjami kemejanya, padahal dia itu paling tidak suka barangnya dipakai sama orang lain. Adalagi, biasanya dia akan ketus sama orang yang pertama kali ditemuinya, seperti waktu ketemu sama kak Ajeng dulu. Oya, lebih baik non jangan suka sama kakakku itu, dia itu ketus, jutek abis dan...." Mataku melotot seketika melihat orang yang baru dibicarakan sudah berdiri di belakang Mimi. Aku menyolek lengan Mimi untuk menghentikannya bicara menjelek-jelekan kakaknya tapi tidak digubrisnya.
"Terus" sebuah suara menghentikan omongan Mimi, ia mengenal suara yang setiap hari didengarnya. Wajahnya membeku mendengar suara itu, ia menoleh perlahan berharap bukan suara sang kakak. Tapi harapannya pupus, Ota sudah berdiri di belakangnya melihat ke arahnya dengan muka juteknya.
Sebuah cengiran disunggingkan Mimi ke arahnya. "Non Anzel, aku permisi dulu..." ucapnya kabur menghindari kakaknya yang siap memarahinya.
"Mimi..." panggilku cemas sendiri. Mimi kabur lebih baik aku juga ikut kabur. Kulangkahkan kaki tanpa memandangi sosok pria yang masih betah berdiri di depanku.
"Kau juga mau kabur?" tanyanya dingin.
Kutolehkan kepalaku sambil mengulas sebuah senyum di bibirku. "Aku mau panen sayuran yang lain" jawabku yang langsung memalingkan muka berniat melarikan diri.
Sebuah tangan menarik lenganku menghentikan langkahku yang akan melarikan diri. "Di sini masih banyak yang belum dipanen, panen di sini saja" senyum kecut menghiasi wajahku yang gagal dalam pelarian. Dan alhasil aku jadi tawanannya sekarang membantunya memanen cabai.
Tak banyak kata yang dia ucapkan hanya tindakan yang diajarkannya aku mengikuti apa yang diajarkannya padaku. Sebenarnya senang juga berdua seperti ini dengan Mr. Iceman. Ah...Ota namanya. Anzel-Ota...AnzelOta cocok sekali nama itu melekat menjadi satu. Aku tersenyum sendiri seperti orang gila membayangkan kalau aku dan Ota berjodoh dikemudian hari.
Ota keheranan melihat tingkahku. Lalu fokus lagi dengan tanaman cabai di depannya.
Mataharipun mulai terik dan panasnya kian menyengat mana kala ia sudah berada tepat di atas ubun-ubun kepala kami. Keringat mulai bercucuran membasahi pelipisku. "Apa kita nggak bisa istirahat dulu ya? panas sekali. Paman sama bibi kemana lagi?" keluhku mulai kepanasan. Memang panas sih, apalagi kalau siang bolong seperti ini di kota bisa uring-uringan aku dijemur seperti ini.
Ota menoleh ke arahku. "Mungkin mereka di gubuk sekarang, kau istirahat saja di sana" ucap Ota dingin namun penuh perhatian. Kupandangi dirinya berharap dia mau mengantarkanku menuju gubuk yang dimaksud karena jelas aku tidak paham dimana letak gubuk tersebut.
Ia balik menatapku yang tak beranjak dari tempatku berdiri sejak dia mengucapkan kalimatnya terakhir. Tanpa berkata apapun dengan bahasa tubuhnya dia menyuruhku berjalan mengikutinya dan aku mengikutinya di belakang. Ternyata dia mengantarkanku ke gubuk, menerobos tanaman sayuran kubis, tomat, cabai, kentang, kacang. Setelah itu menyusuri pohon-pohon jeruk, apel, anggur, kami juga tidak menyangka akan bertemu dengan para pekerja di kebun paman yang lain, namun sayangnya aku tidak sempat menyapa atau berkenalan dengan mereka, aku hanya terus berjalan mengikuti pemuda tinggi berkulit putih yang berjalan memunggungiku.
Sepasang mata mengamati kami berdua yang berjalan melewatinya, kusunggingkan senyuman ke arahnya. Gadis itu mengamatiku bingung, namun matanya mengisyaratkan kalau aku sudah merebut barang miliknya yang paling berharga. Keningku mengkerut, bingung. "Dia kenapa?" tanyaku seakan bertanya pada diri sendiri. Mataku kembali mengikuti sosok yang berjalan memimpin di depanku. Dan akhirnya kami sampai juga di gubuk, namun paman dan bibi tidak ada di sana. "Paman sama bibi kemana?" tanyaku bingung.
"Mungkin turun bukit melihat perkebunan kelapa sawit" jawab Ota menebak.
"Turun bukit?" pekikku tak percaya. Ternyata perkebunan milik pamanku benar-benar luas aku tidak bisa membayangkan masih ada perkebunan kelapa sawit juga setelah berhektar-hektar sayuran ini. Lagi-lagi aku merengek dan sekarang minta pulang.
Ota menghela napas berat mendengar rengekanku. "Apa kita benar-benar harus pulang sekarang?" tanyanya padaku.
"Tentu saja, aku sudah nggak tahan lagi" rengekku menahan sakit.
"Kau tidak bisa menahannya" bantah Ota yang enggan beranjak kemanapun sebelum pekerjaannya selesai.
"Mana bisa ditahan" teriakku makin merengek. Aku benar-benar tidak bisa menahan dorongan biologis ini. Efek kepanasan aku selalu butuh toilet, karena saluran biologisku ingin mengeluarkan veses yang entah dari mana asalnya mendorong ingin segera keluar. Mulutku meringis menahannya.
Lagi-lagi Ota hanya menghela nafas panjang menanggapi setiap rengekanku. "Kau ini benar-benar....aish..." aku kesal sendiri menunggu tanggapan Ota. Kususuri jalan setapak mencari jalan keluar dari tempat itu ke jalan raya dan berharap akan menemukan pemukiman terdekat. "Menunggunya sama saja membunuhku secara perlahan" lagi-lagi aku mengumpat kesal. Tiba-tiba sebuah tangan menarik lenganku dan menarikku untuk berjalan melawan arah yang kutuju sekarang. Kulihat pemilik tangan tadi dan aku terdiam mengikutinya yang akan membawaku entah kemana karena kuyakin dia akan mengajakku ke tempat yang kuperlukan.
Kami berhenti di depan gubuk kecil yang bertuliskan toilet yang alirannya langsung ke sungai. Tanpa basa basi aku masuk dan melakukan apa yang sudah menjadi kebutuhanku sekarang. Setelah dua puluh menit, aku keluar dan tidak melihat Ota ada di sana. "Aish....dia meninggalkanku begitu saja" makiku kesal.
Namun baru beberapa meter aku melangkahkan kaki menyusuri jalan setapak yang mulai mengeras akibat panasnya matahari, aku mendengar seseorang merajuk dan kesal. Kuhentikan langkahku dan mencari ke sumber suara tersebut dan kulihat Ota dan seorang gadis yang berpapasan denganku saat mencari gubuk tadi. "Apa mereka bertengkar?" tanyaku seorang diri mengintip dari balik pohon pinus yang menjulang.
"Siapa gadis tadi? Kenapa kau begitu perhatian padanya? Akukan lebih lama mengenalmu tapi kau tidak pernah sebaik itu padaku. Dan lagi apa tadi pakai tarik-tarikan tangan segala?" seloroh sang gadis berkepang dua dengan baju motif bunga-bunga dan rok sepan yang pendek di atas lutut marah-marah kepada pria di depannya yang hanya mematung dan terlihat biasa saja menanggapi rengekan dari sang gadis.
"Ajeng, dia itu keponakan si bos jadi aku harus baik kan padanya? Lagipula si bos sudah menyerahkan tanggung jawab padaku untuk menjaga dan membimbing keponakannya itu. Lagipula tidak ada yang lebih. Kalian masih sama saja dimataku" jawabnya yang kemudian berbalik berjalan meninggalkan gadis yang di panggilnya Ajeng barusan.
"Jadi dia Ajeng cewek yang naksir sama dia. Dia baik padaku karena aku keponakan bos-nya. Jadi, aku besar kepala sendiri. Huh..." kuhembuskan napas kecewa mengetahui kenyataan kalau apa yang kubayangkan tadi hanya berlebihan belaka. Kulangkahkan kaki lagi menyusuri ladang paman. Berharap bisa menemukan sesuatu yang luar biasa. Tetapi tak ada satupun yang menarik hatiku lagi sampai seseorang menepuk pundakku pelan. Kutolehkan kepalaku dan mataku berhasil menangkap sosok yang barusan menepukku, ia tersenyum ceria menatapku. Kepalaku miring, terlihat bingung. Siapa dia? Apa dia mengenalku? Kenapa dia tersenyum padaku? tanyaku dalam hati.
"Kau pasti Anzel iya kan? Kenalkan aku Deden pekerja di sini" ucapnya ramah.
"Aaa....kau pegawai paman juga, Anzel" tanpa sadar aku menanggapi uluran tangan pemuda yang terlihat sangat ceria ini.
"Sudah berkeliling di sini?" tanyanya antusias.
"Iya, sudah. Aaa...aku harus bertemu dengan bibi dan paman sekarang. Sepertinya aku akan terlambat" ucapku beralasan, aku hanya tidak ingin terlalu dekat dengan pria asing.
"Apa perlu aku bantu mencari mereka?"
"Nggak perlu, terima kasih. Kau kerja saja, aku akan mencari mereka sendiri"
"Lebih baik aku menemanimu, takutnya kau tersesat nanti" ucapnya sedikit memaksa.
Aku tidak suka sikap seperti ini, berusaha akrab padaku padahal aku tidak menginginkannya. "Nggak...aku..." belum selesai aku menolak ajakan Deden seseorang berseru dari arah belakang.
"Kenapa kau pergi sendirian, aku mencarimu tadi" seru seseorang dari arah belakangku. Aku menoleh dan terlihat itu Ota.
"Aku yang harusnya tanya kenapa kau pergi tadi? Ah sudahlah...aku mau nyari paman, kau bisa membantuku kan, Den?" ucapku mengalihkan perhatianku dari Ota.
"Tentu" sahut Deden mantap dan senang akhirnya bisa mendapatkan kesempatan berdua denganku. Aku pergi meninggalkan Ota dengan muka jutek ditemani Deden.
* * *
"Anzel ini baju siapa ya?" tanya bibi saat mencuci baju milikku. Aku berlari dari ruang tengah menuju halaman depan untuk melihat apa yang dimaksudkan Bibi. Bibi menyodorkanku kemeja kotak-kotak besar ke arahku, keningku mengkerut bingung. Berpikir sejenak, kemeja siapa ini? Kumiringkan kepalaku dan menggaruknya bingung. Aku bukan orang yang punya memori otak bagus, jadi aku sedikit lupa mengingatnya. "Aaa...punya Ota" jawabku setelah menemukan puzzle yang hilang.
"Ota?" pekik Bibi tak percaya dengan apa kataku.
"Iya, kemarin waktu aku jatuh di ladang dia minjemin itu untuk menutupi celanaku yang kotor. Biar nanti aku kembalikan ke orangnya kalau sudah kering" sahutku yang kemudian berlari masuk ke dalam rumah lagi. Aku kembali berkutat dengan laptopku menyusun makalah-makalah yang terbengkalai. Sudah dua jam aku berkutat di depan laptop dari saat kejadian bibi memanggilku karena masalah pemilik kemeja. Sekarang bibi sudah pergi ke ladang dan paman pergi ke kepala desa untuk menghadiri rapat tiap bulan bagi seluruh kepala keluarga di kampung itu.
Tak terasa cacing-cacing di perutku mulai protes memintaku untuk segera mengisi perut. Bibi tadi berpesan padaku kalau di rumah tidak ada makanan karena beliau tidak akan pulang sampai malam nanti, langsung pergi kondangan setelah dari ladang. Jadi aku harus mencari makan sendiri atau memasak sendiri. Kuputuskan untuk membeli makanan di warung terdekat yang kemarin pernah ditunjukan bibi padaku saat kehabisan stock makanan di rumah.
Setelah mengesave data lalu mematikannya, aku keluar rumah dan tak lupa mengunci pintu rumah sebelum aku meninggalkannya. Kususuri jalan berbatu kecil yang menurun, menuju warung makan terdekat untuk mengisi perut. Dan tidak kusangka aku malah bertemu Deden dan Mimi, mereka jalan berdua Mimi terlihat manja dengannya. Mungkin dia menyukai pria itu, pikirku.
"Non Anzel" sapa Mimi ke arahku. "Oya bang Deden kenalin ini non Anzel keponakannya Pak Anwar, bos kita" ucap Mimi mengenalkanku pada Deden.
"Aku sudah tahu, kemarin sudah ketemu dan sudah membantunya mencari pak Anwar dan istrinya" senyum Deden mengembang antusias menceritakan kejadian kemarin. Aku hanya tersenyum tipis menanggapinya. Sebenarnya aku memintanya mengantarku hanya karena aku kesal dengan Ota, jadi sebenarnya aku hanya memanfaatkan keberadaannya kemarin bukan maksud lebih. Tetapi yang kulihat dia begitu bahagia dengan hal itu.
Begini-begini aku pandai melihat tingkah orang lho, tetapi untuk orang yang kusukai aku tidak bisa membaca karakternya. Mungkin cinta membutakan segalanya, kelebihanku hilang musnah olehnya, bahkan yang terlihat hanya kelemahanku. Entah kenapa aku jadi bodoh kalau sedang jatuh cinta. Atau mungkin cinta membodohkan seseorang, tapi ketika aku jatuh cinta dengan Mr. Iceman aku jadi rajin belajar bahasa dan aku jadi pandai karenanya. Jadi tak selamanya cinta membuat kita bodohkan??
Mimi terlihat sebal dengan kebanggaan Deden memamerkan kalau dia sudah dekat denganku, padahal aku tak merasa sedekat itu dengannya. "Kalian mau ke ladang?" tanyaku memecah kekesalan Mimi.
"Tidak, kami barusaja pulang dari sana. Ini kita mau kencan sekarang" sahut Mimi cepat dan semangat. Benarkan tebakanku kalau Mimi menyukai Deden.
"Bukan kencan hanya mau jalan-jalan saja, kamu mau ikut?" sanggah Deden sekaligus mengajakku untuk ikut serta dengan mereka. Wajah Mimi langsung cemberut mendengarnya. Aku tersenyum tipis dan menolak halus ajakan mereka. Akupun tidak ingin mengganggu acara kencan yang dinanti oleh Mimi. Mimi tersenyum ketika mendengar jawabanku yang menolak ajakan Deden. Benar-benar lucu melihat kejadian seperti ini. Mungkin cinta Mimi saat ini masih bertepuk sebelah tangan tetapi aku yakin dia akan mendapatkan cinta itu pada akhirnya dan aku harus membantunya nanti.
Kamipun berpisah, aku kembali berjalan mencari warung makan terdekat dan setelah lima menit berjalan aku sudah melihat warung makan yang kucari, dan tidak begitu banyak pembeli hanya satu orang yang sedang duduk makan menikmati makanannya. "Ibu pesan nasi pake semur daging, jangan pedes satu, minumnya es teh manis" setelah memesan makanan aku mencari tempat duduk yang nyaman, yup di depan pedagangnya dan di sebelah pemuda yang menikmati makan siangnya. Tak sengaja aku menoleh dan betapa terkejutnya aku melihat ternyata pria di sampingku itu Ota. Aku memalingkan muka dan berharap dia tidak memperhatikanku sekarang. Mana sekarang aku mengenakan celana hotpan dengan kaos v neck-ku yang pas badan. Oh no, bisa dipikir aku gadis genit dengan pakaian seperti ini. Kutarik beani-ku berharap bisa menutupi setengah dari wajahku.
"Non, ini nasinya" panggil ibu penjual menyodoriku piring.
Aku tak menggubris si ibu, berharap sang ibu memanggilku nanti setelah pria di sampingku ini pergi dari sini. Dan sayangnya harapanku pupus. Sang Ibu masih memanggilku dan pria di sampingku kini malah ikut-ikutan memandangiku. Merasa kasian pada si ibu, Ota mengulurkan tangannya membantu menerima pesananku. "Ini pesananmu, jangan biarkan orang tua mengulurkan tangan selama itu" ucapnya kembali memakan makanannya, setelah meletakkan piring dan gelas di depanku. "Mungkin kau tidak nyaman melihatku di sini, tapi makanlah pesananmu. Lagipula sebentar lagi aku selesai, habiskan makananmu sebelum kau kelaparan" bisik Ota pelan.
Aku sadar kalau Ota menyadari kalau itu aku, kuturunkan tanganku yang sejak tadi berusaha menutupi sebagian wajahku. Kulirikkan mataku kearahnya, dia masih fokus dengan makanannya dan akupun memakan makananku.
Lalu tiba-tiba datang berbondong-bondong orang ke warung makan tersebut. Pakaian mereka compang camping, ada juga yang terlihat seperti preman pasar. Setelah beberapa menit Ota akhirnya menghabiskan juga makan siangnya. Ia berniat memanggil sang ibu namun aku menghentikannya, kutarik lengan bajunya. Ia menatap lengannya kemudian menjurus padaku dengan pandangan bingung. Kupandangi dirinya dengan wajah berharap dia akan menungguku selesai makan dan keluar dari tempat itu bersama-sama karena hanya dia orang yang kukenal disitu.
Paham dengan ekspresiku dia mengurungkan untuk memanggil pemilik warung makan. "Makanlah" ucapnya kemudian. Aku tersenyum ke arahnya dengan penuh rasa terima kasih mau menemaniku di situ. Kuhabiskan makananku secepat mungkin, karena aku tidak ingin melihat pandangan orang yang melihatku dengan pandangan menjijikan. Lagi-lagi Ota melepaskan kemejanya dan mengikatkannya kepinggangku untuk menutupi kakiku yang sedikit terbuka. "Lain kali pakailah pakaian yang nyaman untukmu, saat kau pergi" ucapnya yang kemudian berpaling dariku kembali berkutat dengan minumannya.
Mataku kini kagum dan lebih kagum melihat pria yang berada di sampingku sekarang. Aku tersenyum
tipis lalu melanjutkan makan. Selesai makan Ota memutuskan untuk mengantarku pulang. "Aku bisa pulang sendiri kog, kau pulanglah sana" suruhku padanya.
Ia melihatku sepintas lalu menghadap lurus ke depan lagi tanpa menghiraukan perkataanku barusan. Mataku memandangnya bingung, bibirku mengerucut sebal. Tapi di dalam hati ini jantung berdebar tak karuan. Aku senang dia ada di sampingku sekarang, tapi aku takut aku akan kehilangan control dan ketahuan kalau aku benar-benar menyukainya sekarang.
"Boleh aku menanyakan sesuatu padamu" ucap Ota tiba-tiba padaku.
"Tentu saja" sahutku cepat tanpa berpikir lama.
Ia menoleh padaku sambil terus berjalan melewati jalan berbatu. "Apa benar kau menyukaiku?" tanyanya yang seketika membuatku terkejut bukan main. Kuhentikan langkahku seketika. Bagaimana bisa dia mengetahuinya? pikirku dalam hati. Ia ikut berhenti melihatku yang mematung di tempat. "Aaa...aku hanya bertanya karena penasaran saja, apa benar yang dikatakan Mimi padaku kemarin. Kalau tidak, ya sudah jangan..."
"Benar. Aku menyukaimu" potongku terus terang. Aku tidak ingin berbohong menutupi kenyataan tapi aku tidak ingin terlihat begitu murahan saat menyukainya. Jadi kupikir lebih baik mengatakannya dan bersikap sebiasa mungkin. Karena kudengar dia pria yang sangat popular di sini, banyak sekali penggemarnya, jadi aku ingin membuatnya penasaran padaku. Jika aku menyatakan cinta tapi sikapku dingin bukankah itu lebih menarik.
"Apa yang kau suka dariku?" tanyanya ingin tahu.
"Semuanya. Aku menyukaimu...semuanya" jawabku datar tanpa ekspresi.
Ia menatapku bingung ada tanda tanya besar tertulis di keningnya, saat ia mengerutkan kening. Aku tersenyum sembunyi-sembunyi. Aku berharap berhasil membuatnya penasaran. "Oya, kemejamu yang kemarin kau perlu ambil dan kemeja ini aku tidak perlu mencucinya kan? Lagipula bukan aku yang memintamu untuk meminjamkannya padaku'kan?" ujarku tanpa rasa malu sedikitpun. Aku belajar ini dari sahabat terbaikku Jun yang berhasil mendapatkan pacar artis yang dipuja banyak pria.
"Tidak perlu, kau kembalikan langsung saja padaku setelah sampai di rumah" ucapnya sedikit gagap di awal.
Lagi-lagi aku memancingnya dan ingin membuatnya penasaran. "Aaa...apa kau tahu tempat di sini yang menarik? Aku perlu membuat makalah tentang hal-hal menarik yang aku temui saat libur semester ini. Aku akan ajak Mimi atau Deden ke tempat itu, kau ada ide? " tanyaku antusias.
Kepalanya miring, alisnya saling bertaut menunjukkan ekspresi bingung tiada tara. "Kalau kau menanyakannya padaku bukankah lebih baik aku yang mengantarkanmu ke sana?" katanya mengajukan diri.
"Kau?" wajahku berpikir sejenak. "Sepertinya aku akan berurusan dengan banyak orang kalau aku mengajakmu nanti" ucapku sedikit ketus. Kulangkahkan kakiku lebih cepat agar segera sampai di rumah dan Ota mengimbanginya di belakang.
Akhirnya sampai juga kami di depan rumah. Aku bergegas mengambil kemejanya yang di jemur tadi. Tanpa berlama-lama kuhampiri dirinya yang berdiri di tengah-tengah halaman. "Ini punyamu, thank's. Aaa...tempat yang menarik ada di mana?"
"Besok akan kuberitahu" jawabnya sambil melepaskan ikatan kemeja dipingganggangku tanpa permisi. "Aku ambil" ucapnya yang kemudian berbalik cepat meninggalkanku yang masih spot jantung karena tindakannya barusan. Setelah bayangannya menghilang, aku baru bisa menghembuskan nafas lega. Serasa jantungku tertindih karung beras. Ia berhenti memompa darah beberapa menit yang lalu. Untunglah aku masih bisa bernafas sekarang.
* * *
Mentari pagi mulai menyapaku menggelitikku dengan sengatan-sengatan hangat lewat celah jendela kamarku. Udara pagi juga ikut hadir membelaiku lembut dan sebuah suara membangunkanku yang masih terbuai hangatnya dekapan sang mimpi. "Anzel dicari Ota di luar tuh, katanya sudah janjian sama kamu, kog kamunya masih tidur?" seru Bibi dari luar kamar menuju kamarku sekarang.
Seketika mataku terbuka membelalak lebar mengerjap beberapa kali kemudian bangun dari tempat tidur seketika. "Bibi ngomong apa barusan?" kataku kepada sosok wanita paruh baya yang kini sedang membenarkan tatanan sanggulnya.
"Ota sudah nunggu di luar katanya kalian janjian mau pergi hari ini, kenapa kamu belum siap-siap?" jawab bibi dengan nada lembut penuh penekanan yang membuatku seketika langsung paham perkataannya. Tapi, siapa yang janji akan pergi bersama? Otakku kembali bertanya sendiri. Aku menggaruk kepalaku yang jelas tidak gatal, tapi inilah ekspresi kebingunganku sekarang. Bibi memandangiku heran, bukannya segera mandi aku malah mematung di depannya. "Kenapa nggak langsung mandi, kasian kan Ota nunggunya. Oya bibi sama paman mau kondangan lagi, tapi bibi sudah siapin makanan. Kau ajak Ota makan juga nanti, bibi tinggal ya" segera setelah mengucapkan itu, bibi berbalik dariku dan berjalan keluar rumah.
Walau sekarang diotakku penuh dengan pertanyaan yang tidak mendapat jawaban, aku tetap bersiap-siap pergi. Setelah dari kamar mandi dan berganti baju dengan celana tiga per enam dan kaos panjang dengan rompi hoodie dan tak lupa syal menggantung di leher lengkap beserta beanie di kepalaku. Aku keluar kamar menuju ruang tamu. Kulihat Ota duduk tenang di sofa coklat di samping pintu. "Sudah siap?" tanyanya saat melihatku muncul di hadapannya.
"Memang kita mau ke mana?" tanyaku bingung. "Memang kita janjian mau pergi ke mana gitu? Aku yang lupa atau kau yang mengada-ada. Bukannya kita nggak pernah bikin janji akan pergi ke mana ya?"
tanyaku beruntun mengingat-ngingat kejadian sebelumnya.
"Bukankah kemarin kau bertanya padaku di mana tempat paling menarik di sini? Akan kuantar kau ke sana sekarang. Mumpung aku libur kerja hari ini" ucapnya tenang.
Mataku mengerjab sesaat ketika melihat style pakaian yang dikenakannya hari ini. Kemeja kotak-kotak dengan dalaman kaos putih polos yang pas di badannya dan celana jins biru yang terlihat modis dipakainya. Dia benar-benar mempesona. Mataku mengerjab lagi menyadari kalau aku sedang mengaguminya sekarang, aku tidak ingin berlama-lama mengaguminya, aku takut dia akan mengetahui aku sedang menggilainya sekarang. Aku berdehem sejenak, "aku perlu sarapan dulu, kau mau ikut?" ajakku pura-pura malas harus makan berdua dengannya.
Ia tersenyum simpul. "Makanlah dulu aku akan menunggu di sini" ucapnya tenang. Kuputar kepala dan tubuhku pergi meninggalkannya. Aku tidak jadi sarapan malah memasukan makananku ke dalam lepak dan memasukkannya ke tas ransel yang akan kubawa nanti. Tidak perlu waktu lama untuk mengepak makanan itu. Aku keluar menemui Ota lagi.
Matanya membulat bingung, aku tahu pasti dia akan bertanya, kog cepat?. Ia tak mengatakan apapun. "Aku tidak suka makan ditunggui. Ayo pergi" kataku yang segera diikuti Ota yang berdiri dari tempat duduknya. Kami akhirnya meninggalkan rumah.
"Eum...sebenarnya kita mau ke mana? Aaa...ajak Mimi dan Deden juga" imbuhku penuh semangat.
Ota lagi-lagi tidak menunjukkan ekspresinya. "Aku tidak yakin tempat itu menarik atau tidak. Kau mau mereka ikut? Terserah kau saja, mungkin sekarang ada sungai"
"Mereka kencannya di sungai?" pekikku tak percaya. Hari gini kencan di sungai, seperti jaman masih dijajah Belanda saja.
"Siapa bilang mereka kencan? Mimi saja yang berharap itu kencan" sahutnya enteng. Ini orang benar-benar tidak bisa menghargai perasaan orang lain. Mataku memicing ke arahnya menatapnya kesal.
"Tapi sebagai kakak seharusnya kau mendukungnya juga. Eum....kurasa tidak perlu, kau mana bisa mendukungnya. Kau saja sulit menyukai orang lain" ucapku meremehkannya.
Ota melirikku sekilas dan tak menanggapi perkataanku barusan menganggap apa yang kukatakan hanya angin lalu saja baginya. Mulutku mengerucut melihat ekspresi cueknya itu. Aku berdecak kesal. Kulangkahkan kaki mendahuluinya. "Mau ke mana kau?" serunya menghentikanku. Kutolehkan kepalaku dengan ekspresi wajah tak suka tapi sedikit malu juga sih, sok-sok'an tahu soalnya. "Jalan ke sungai ke sebelah sana" Ia menunjukkan jalan setapak yang kanan kirinya ditumbuhi ilalang yang tumbuh tinggi hampir setengah badanku. Kuikuti arah jari tulunjuknya dan berjalan ke jalan yang dimaksudkannya. Ia masih memperhatikanku dengan tatapan datarnya. Kenapa oh kenapa aku tidak bisa membaca ekspresi wajahnya? Yang terlihat bagiku hanya ekspresi datar yang menarik hati, jeritku dalam hati.
Tidak perlu waktu lama untuk sampai di sungai. Kami melihat Mimi dan Deden sedang mengobrol di tepi sungai sambil bermain air. Aku tersenyum, "ternyata ada harapan" ucapku pelan. Ota melihatku, kulirik dia sesaat. "Kita di sini dulu sebentar ya, sepertinya menarik" ucapku yang kemudian turun ke sungai menghampiri Mimi. Ota juga ikut turun ke sungai. "Hei...sorry ganggu" sapaku bersemangat melihat mereka yang terlihat begitu ceria berdua.
"Eh non Anzel" sahut Mimi saat menoleh ke arahku, wajahnya terlihat berseri-seri sekarang. Kulirik Deden sesaat dan tersenyum tipis padanya.
"Panggil Anzel aja, nggak usah pakai non" protesku terhadap panggilan Mimi.
"Kamu sama kak Ota kencan ya?" katanya setelah melirik kakaknya yang berdiri di sampingku sekarang.
"Hush...sembarangan. Aku mau bicara sebentar sama kamu" kutarik Mimi menjauh dari yang lain. Aku membuat kesepakatan dengannya dan dia menyetujuinya. Okey, akting dimulai.
"Kalian berdua mau ikut kita ke suatu tempat nggak? Kalau pergi berdua 'kan nggak enak" Deden menyetujui usulanku, Mimi terlihat kesal karena Deden terlihat begitu bersemangat, namun demi perjanjian kami, dia berpura-pura biasa saja. "Oya, Mimi bolehkan aku jalan berdua sama Deden di belakang, kalian berdua jalan duluan saja" ucapku yang tanpa ijin langsung mengaitkan kedua tanganku di lengan Deden. Deden terlihat begitu senang. Mimi tersenyum menyanggupi.
Yups, sekarang waktuku mulai untuk mendekatkan Deden dan Mimi. "Sorry Den, sebenarnya aku hanya memanfaatkan keberadaanmu saja di sini. Aku suka sama Ota tapi kata Mimi dia pria yang sulit jatuh cinta makanya aku butuh bantuanmu untuk membuatnya cemburu padaku. Dan dengan perasaanmu padaku, kuharap kau hentikan saja, ada yang lebih mencintaimu dengan tulus dan lugunya. Kau tidak inginkan kehilangan seseorang seperti itu?" ucapku to the point.
"Maksudmu Mimi?" tanyanya. Aku mengangguk cepat. "Dia menyukaiku seperti itu?"
"Iya, benar. Jadi kuharap kau mau membalas perasaannya, kau tidak inginkan dikecewakan orang lain, jadi buatlah seseorang itu bahagia dan kau akan merasakan kebahagiaannya itu juga nanti"
Deden tersenyum, "akan kucoba, walaupun kenyataannya aku juga punya sedikit rasa untuknya"
"Wah, cocok sekali. Okey, masalah kalian sudah selesai. Sekarang, bantu aku meluluhkan hati si Mr. Iceman itu" ucapku menunjuk punggung Ota.
"Akan kubantu semampuku" jawab Deden tulus. Ternyata tidak perlu waktu lama untuk menuntaskan masalah percintaan mereka, aku memang mak comblang sejati, tidak heran teman-temanku mengatakan seperti itu dan selalu meminta bantuanku untuk mencomblangkan mereka. Tapi sekarang aku harus mencari bantuan untuk menakhlukan Mr. Iceman ini.
"Kenapa kemarin tidak mengajakku saja, aku tahu banyak lokasi menarik di sini" ucap Deden mulai berakting.
"Ah...berarti aku salah meminta bantuan seseorang" kulirik Ota sekilas, tak ada respon darinya. Kupilih untuk berjalan bersebelahan dengan mereka. "Apa lokasinya masih jauh?" tanyaku pada Ota.
Ia menoleh, "sebentar lagi sampai" yang kemudian memalingkan mukanya lagi. Mulutku lagi-lagi mengerucut. Apa ini pria yang menarik perhatianku, tapi kenapa aku malah menggila dibuatnya seperti ini, kuacak beanieku dan berusaha menutupi wajahku dengannya.
"Kau kenapa?" tanya Deden penasaran dengan kelakuanku yang aneh ini.
"Capek" sahutku cepat. Lagi-lagi aku mengeluh. Inilah kebiasaanku mengeluh.
"Mau kugendong?" ucap Deden yang langsung membuat mataku dan mata Mimi melotot bersamaan.
Tidak menduga kalau Deden akan membantuku sampai sejauh ini, padahal ia tahu kalau Mimi menyukainya. Kulirik Mimi bingung, wajahnya tak rela jika aku harus menyentuh punggung pria yang disukainya. Aku tersenyum bingung. "Aku...." Belum sempat aku menjawab tawaran Deden sebuah tangan menarikku paksa untuk segera pergi menjauh. Kulihat pemilik tangan itu, Ota. Apa yang dia lakukan. Kesal padaku karena aku terlalu manja atau kesal karena aku terlalu dekat dengan Deden yang merupakan orang yang disukai adiknya.
"Hei...lepaskan tanganku, kenapa kau tarik aku seperti ini. Kau marah aku terlalu dekat dengan Deden? Aku melakukannya agar Mimi menyatakan perasaannya sama Deden. Hei...." Kutarik tanganku ke arah berlawanan dan membuatnya seketika berhenti lalu menoleh ke arahku. Matanya memandangku dengan tatapan ingin memakanku hidup-hidup. Tak terasa kutelan air liurku dengan susah payah. "Kau ini kenapa?" ucapku takut-takut.
"Kau bilang akan membantu Mimi kenapa kau lakukan itu di depannya?" tanyanya dengan nada sedikit kesal.
"Oh...jadi kau mencemaskan perasaan adikmu juga? Okey, aku nggak bakalan gangguin mereka, puas sekarang?" ucapku tak kalah kesal. Okey, rencana membuatnya cemburu tidak pernah berhasil untuknya. Apa yang harus kulakukan untuk meluluhkan hati yang mirip dengan plat besi ini? Apa perlu aku membakarnya sampai akhirnya meleleh? Apa perlu merasakan sakit dulu kehilanganku baru dia mau menerima perasaanku? kataku dalam hati. Kulangkahkan kaki perlahan menjauhinya, dia masih mengikutiku. Mimi dan Deden juga masih mengamati kami dari jauh. Melihat kami menjaga jarak, mereka mulai mendekat.
"Kakak bertengkar lagi dengan Anzel? Ck, kakak ini kekanak-kanakan. Tau kan kalau dia suka sama kakak, kenapa kakak malah mengajaknya bertengkar terus" Mimi memarahinya lalu berlari menghampiriku.
Kusunggingkan senyuman terima kasih pada Mimi atas bantuannya. Kami akhirnya tiba di sebuah tanah lapang, hanya padang rumput hijau membentang di sana dan satu pohon besar yang berada di tengah-tengah padang rumput itu. Alisku bertaut, kutolehkan kepalaku ke arahnya meminta penjelasan. "Aku sudah mengatakannya sebelumnya, aku tidak yakin apa ini menarik untukmu atau tidak? Tapi menurutku ini menarik" ucapnya tanpa dosa.
Menarik apanya, cuma padang rumput hijau membentang seperti ini, mirip lapangan bola, gerutuku dalam hati. Mataku memicing ke arahnya, memandangnya keki. Kulihat Mimi dan Deden menikmati waktu bersama mereka, sedangkan aku harus merasa kesal dengan ini semua. Kubalikkan badan memilih untuk pergi dari tempat itu dan tidak mempedulikan yang lain.
Ota memanggilku dan mengejarku tapi tetap saja kuacuhkan. Ini bukan tempat yang menarik untuk suasana hatiku yang saat ini sedang memburuk karenamu. Aku hanya ingin pergi jauh darimu untuk menenangkan diriku dan berharap setelah itu aku bisa kembali menjadi diriku yang dulu.
"Kau mau ke mana?" tanya seseorang saat lengan kiriku tertarik ke belakang. Kualihkan pandanganku pada seseorang yang menghentikan langkahku. Itu Ota.
Aku tak menjawab pertanyaannya dalam beberapa menit saat mata kami bertemu dan berbicara dengan sinar mata yang aku sendiri tak jelas apa maksud sorot matanya itu. Aku malah terkagum-kagum melihatnya dan bertanya sendiri dalam hati, kenapa aku menyukainya? Kenapa aku tidak bisa membaca setiap ekspresi wajahnya? Kenapa aku masih menyukainya walaupun sikapnya sedingin ini padaku? Dan kenapa sorot mata ini malah membuatku mabuk dan tergila-gila lebih lagi padanya. "Kemanapun tapi nggak di tempat itu" sahutku dingin. Ota melepaskan tangannya dari lenganku. Aku berpaling darinya dan berjalan entah kemana, hanya mengikuti kakiku melangkah, yang pasti ke arah jalan pulang. Kudengar langkah kaki Ota berjalan di belakangku. Tanpa kata kami berjalan pulang.
Tiba-tiba seseorang menghampiri Ota yang sebelumnya memandangku dengan mata memicingnya. Aku tidak suka tatapan mata itu. Kutolehkan kepala sebentar melihat apa yang dilakukannya pada pria yang sejak tadi mengikutiku di belakang. Dia memeluknya, sedangkan Ota malah diam tak meresponnya, matanya hanya menatapku. Seperti menunggu respon yang akan kuberikan. Aku hanya melihatnya sekilas lalu kembali berjalan meninggalkan mereka. "Okey fine, apa itu pamer kemesraan padaku? Dia benar-benar nggak bisa menghargai perasaan orang lain. Aku kan sudah bilang kalau aku menyukainya, kenapa dia malah seperti itu di depanku. Lalu tatapan mata apa tadi, kenapa memandangku seperti itu? aneh", umpatku kesal dalam hati.
* * *
Setelah satu minggu mendekam di rumah untuk menyelesaikan makalah, kuputuskan hari ini untuk ikut Mimi dan Deden ke air terjun dan tidak diduga kami bertemu Ota di jalan, mata kami bertemu tapi tanpa suara. Karena tawaran Mimi, dia ikut. Okey, apa ini. Aku ingin menghindarinya tapi dia malah datang. Okey, mulai sekarang aku akan ikuti alurnya dan tidak akan melawan arus.
Setelah setengah jam berjalan kami tiba di air terjun itu. Melihat keindahan alam yang terbentang di depan mataku saat ini tanpa sadar aku menarik seseorang untuk mendekati air terjun itu. Orang itu hanya mengikutiku saja mungkin dengan pandangan bingung. "Wah....ini benar-benar cantik" decak kekaguman selalu kulontarkan manakala aku berjalan melewati bebatuan untuk mendekati air terjun itu. "Benarkan?" ucapku menoleh pada orang yang sedari tadi kutarik kemana-mana. Mataku membulat besar mengetahui pemilik tangan itu Ota. "Kau? Kenapa bisa kau?" seruku tak percaya kalau orang yang di sampingku sekarang bukan Mimi malahan kakaknya.
"Jangan berteriak seperti itu, kau pikir aku hantu? Kau yang manarikku ke sini, kenapa kau tidak sadar menarik siapa? Atau kau selalu berbuat sekehendak hatimu, menarik orang tanpa bertanya dulu apa orang itu mau ke sini atau tidak?" ucapnya menghakimiku karena lancang telah menariknya mendekati air terjun.
Kulempar tangannya kesal. Mulutku mengerucut ingin membalasnya tapi kupikir akan buang tenaga jika meladeninya. Kuhembuskan nafas panjang. Lalu berpaling darinya dan memilih mendekati air terjun sendirian. "Hei, jangan dekat-dekat itu berbahaya" serunya khawatir.
"Aku sudah sering melihat seperti ini dari dekat, aku ingin berada di bawahnya sekarang" ucapku tanpa mempedulikan kalau sekarang aku sedang diikuti Ota yang takut kalau aku terlalu dekat dengan air terjun.
Kulangkahkan kaki memanjat bebatuan besar untuk menuju air terjun. Luar biasa sejuk, apalagi saat kurasakan bias percikan air terjun mengenai tubuhku. "Uwaaaahh...." celetukku bahagia.
Sesampainya di bawah air terjun aku menoleh ke belakang dan kulihat Ota di belakangku, kulihat ke belakang lagi. Tidak ada orang. "Deden sama Mimi mana? Kog mereka nggak ada?"
Ota menoleh ke belakang melihat tempat Deden dan Mimi berdiri tadi. "Tadi mereka di belakangku" jawabnya bingung.
Otakku berpikir cepat, mungkin mereka memberiku kesempatan menikmati alam yang indah bersama Ota. Okey, thank you Deden Mimi. Aku tersenyum sekilas. "Ya sudah terserah mereka di mana, aaa....aku mau main air di sini. Kalau kau mau pulang silahkan" ucapku tanpa mempedulikan Ota akan tetap di sini atau meninggalkanku. Kulepas sepatu ketsku lalu merendam kakiku ke dalam air dingin yang mengalir cukup jernih. Kubasuh mukaku dengan air dingin itu, benar-benar menghilangkan segala penat. Aku bermain air sesukaku tanpa peduli dimana Ota sekarang.
"Apa kau puas?" tanya seseorang padaku. Ia sudah berdiri di sampingku sekarang, tubuh yang menjulang tinggi itu sangat bercahaya terlihat dari sudut pandangku sekarang. Oh Tuhan aku benar-benar dibuatnya mabuk cinta.
Aku mengulas senyum dibibirku, tiba-tiba kuulurkan tanganku menariknya untuk ikut duduk di sampingku melakukan apa yang kukerjakan sekarang. "Duduk di sini sebentar, rasakan air dinginnya. Menyegarkan" ucapku senang. Otapun terpaksa ikut duduk di sebelahku merendam kakinya di air dingin. Kebisuan terjadi setelah itu.
"Eum......." Ota menoleh ke arahku menungguku yang akan mengatakan sesuatu. Tiba-tiba aku mengurungkan niatku untuk berbicara. "Katakan apa yang mau kau katakan" celetuk Ota yang sedikit kesal mendengarku berkali-kali ingin bicara sesuatu tapi lagi-lagi aku diam. Menggantung saja.
Kutolehkan wajahku ke arahnya. "Apa kau pernah menyukaiku?" ucapku tiba-tiba.
"Oo?" matanya membulat kaget. "eum..." ia ingin mengatakan sesuatu, namun aku takut mendengar kenyataan kalau dia tidak pernah menyukaiku lebih baik aku menghindarinya.
Tiba-tiba kupercikan air dingin ke mukanya, "jangan menganggapnya begitu serius aku hanya bercanda" ucapku tertawa melihatnya kaget. Ia tersenyum, lalu membalasku dengan percikan air dingin pula. "Auw...hentikan. Aku bisa basah"
"Siapa yang mulai?" tanya Ota sambil tertawa puas. Ini pertama kalinya aku melihat senyumannya, sungguh membuatku bertambah gila karenanya. Oh Tuhan, selamatkan aku dari kegilaan ini.
"Okey baik, maaf aku yang salah" ucapku yang sudah setengah basah. Ota menghentikan serangannya padaku. "Ah, lihat aku basah seperti ini" kataku pura-pura kesal, padahal menikmatinya tadi.
"Maaf" ungkapnya yang seketika melepaskan kemeja yang dipakainya dan memakaikannya padaku. "Mungkin kau akan kedinginan nanti, sebaiknya kita pulang sekarang. Kau bisa kena flu kalau seperti ini terlalu lama" katanya menentramkan jiwa.
Mataku mengerjap. "Thank's" ucapku sambil tersenyum simpul. Ia membalasnya dengan senyum manis.
* * *
Gara-gara pulang berbasah-basah ria, sekarang aku demam dan aku tidak diijinkan keluar rumah oleh paman dan bibiku, padahal ini hari terakhirku berada di tempat ini. Dan aku ditinggal di rumah sendirian. Merana sudah. Kupilih berjalan ke luar rumah menghirup udara segar di pagi hari menjelang siang seperti ini. Tak ada hal lain yang bisa kulihat dari depan rumah kecuali jalan kerikil setapak dan bukit-bukit hijau yang membentang. Bosan juga melihat yang seperti ini, apalagi hanya menikmatinya dari jauh seperti ini. Kulangkahkan kaki memasuki rumah, seseorang memanggilku. "Anzel" Aku menoleh dan terlihat olehku Deden membawa sekeranjang penuh buah jeruk ke rumah. "Katanya kamu sakit? Ini aku bawain buah jeruk" ucapnya menyodorkan sekeranjang jeruk orange di depanku.
"Sebanyak ini?" tanyaku tak percaya.
"Iya, sekalian dibagi sama paman dan bibimu" sahutnya.
"Oh, thank's" ucapku. Sebenarnya aku tidak suka jeruk tapi demi membalas perhatian Deden aku menerimanya. "Masuklah" kataku mempersilahkannya masuk.
"Ah tidak usah, Mimi sudah menungguku. Dia titip salam, katanya tidak bisa menemuimu tapi mengirimkan kado untukmu nanti" Deden tersenyum penuh arti.
"Kado? Oh baiklah" sahutku walau sedikit bingung dengan maksud ucapan Deden barusan.
Setelah berpamitan denganku, Dedenpun pergi meninggalkan rumah, kubawa jeruk pemberiannya ke dalam dan meletakkannya di meja makan. Tidak ada yang bisa kulakukan sekarang. Kalau aku sakit, aku lebih suka seseorang memberiku strowberi atau mengajakku jalan-jalan keluar, mungkin sakitku akan segera sembuh. Baru saja aku akan beranjak ke kamarku untuk berbaring tetapi seseorang mengetuk pintu dan memanggil namaku. Suara seorang pria, yang terdengar familiar bagiku. Kuhampiri pintu depan dan herannya aku, ketika melihat Ota berdiri di ambang pintu dengan sekeranjang kecil strowberi segar. Warna merahnya langsung menghipnotisku untuk terus melihat buah yang sangat lezat itu.
"Kau sudah baikan?" tanya Ota padaku. Mataku mengerjap seketika, oya, sekarang aku berada di hadapan Mr. Iceman, ucapku dalam hati.
"Oh, sedikit membaik" ucapku melihatnya sepintas dan kembali memperhatikan buah merah kecil di tangannya.
"Eum...ini untukmu, Mimi bilang kau akan menyukainya dibandingkan harus membawakanmu jeruk" ucapnya menyodorkan keranjang strowberi padaku. Mataku kini menatapnya bingung dan menahan gejolak ingin segera menerima keranjang yang disodorkannya.
"Jadi ini kado dari Mimi, okey thank's" ucapku yang langsung menerima keranjang itu. "Ya sudah, nggak ada yang mau kau omongin lagi kan? Pulanglah" usirku.
"Eum...aku perlu bicara sesuatu padamu, tapi tidak di sini. Tidak enak bicara dalam rumah kalau hanya kita berdua, aku takut..." Ota belum menyelesaikan kalimatnya namun aku sudah memotongnya.
"Aku paham yang kau cemaskan. Tunggu sebentar" kuletakkan keranjang buah di meja tamu kemudian beranjak pergi ke kamar untuk mengambil sweater, syal dan beanie kesayanganku lalu memakainya dan keluar kembali menemui Ota yang masih berdiri di ambang pintu. Kuambil lagi keranjang strowberinya, "Ayo pergi" ajakku sambil menyomot strowberi dan memakannya.
"Biar kubawakan untukmu" Ota merebut keranjang yang kubawa. Aku tidak protes dan menerima saja tawarannya. Itu lebih baik, daripada kubawa sendiri, pikirku.
"Maaf membuatmu sampai jatuh sakit seperti ini" Ota memulai percakapan setelah beberapa meter dari rumah.
Aku menoleh ke arahnya. "Bukan salahmu" sahutku cepat.
"Dan maaf juga, mengajakmu keluar, padahal aku tahu kau masih sakit" ucapnya dengan nada penuh perasaan.
Sedikit heran mendengar intonasi perkataannya barusan tapi kutepis perasaan kepedeanku. "Nggak masalah, aku juga bosan di rumah" sahutku santai sambil menyomot strowberi yang dibawanya.
"Aku juga minta maaf, kalau selama ini aku mengabaikan perasaanmu padaku. Sebenarnya aku masih bingung kau menyukaiku atau tidak? Karena itu aku menganggap kau tidak punya perasaan apapun padaku. Jadi...."
Dan anehnya aku melakukan sesuatu di luar pikiran nalarku. Kukecup pipinya cepat. Dia menghentikan langkahnya. Sebenarnya aku takut dia akan memarahiku yang lancang melakukannya, jadi lebih baik aku tidak melihatnya sekarang. Walau aku sadar dia kini menatapku tajam. "Kalau nggak ada yang ingin dibicarakan lagi, lebih baik aku pulang tubuhku sudah mulai menggigil sekarang" ucapku saat terkena udara gunung yang beranjak menuju sore hari. Dia tak merespon ucapanku barusan, dia hanya memandangiku sekarang.
Kuberanikan diri meliriknya. "Eum...sebaiknya...aku...pulang" ucapku takut-takut. Kuputarkan tubuhku hendak melangkahkan kaki meninggalkannya. Sebuah tangan meraih lenganku, memaksaku untuk menghentikan langkahku. Kutolehkan wajahku, langsung menatap matanya yang kini menatapku dengan tatapan yang tidak bisa kupahami. "Kau masih ingin bicara sesuatu?" ucapku ragu-ragu.
"Aku dengar ini hari terakhirmu di sini dan besok kau sudah kembali ke kota dengan rutinitasmu seperti biasa. Mungkin tidak akan ada lain kali kita bisa bertemu lagi. Jadi maaf aku menyukaimu terlambat dan maaf aku melakukan ini" Sebuah kecupan lembut mendarat dibibirku. Aku terpaku seketika, mataku membulat kaget dengan apa yang terjadi sekarang ini. Tanpa sadar aku membalas kecupannya, walau singkat pasti dia merasakannya juga.
Ia menarik kepalanya menjauh dariku lalu tersenyum memandangku. Kusunggingkan senyuman untuk membalasnya. Apa ini namanya ciuman pertama jantungku seperti meletup-letup. Ada ribuan kembang api yang meledak di dalamnya. Membuatku sulit bernafas untuk beberapa saat. Aku tidak yakin apakah ini akan berakhir saja seperti ini?
Keesokan harinya, Ota mengantar kepulanganku kembali ke kota dan dia berjanji akan segera menyusulku ke sana suatu hari nanti. Jadi aku akan menunggu kedatangannya. Dan dia bilang, dia akan mengajakku kencan kalau dia sampai sana. Kisah cinta yang manis yang pernah kurasakan. Walau awalnya begitu sulit mendapatkan perhatiannya, namun dengan seiring berjalannya waktu gunung es pun akan meleleh dengan sendirinya.