Ketika aku sendiri di sore hari di sebuah taman deket tempat tinggal ku. Banyak sekali orang yang berpasangan, istilah itu sering disebut dengan kata berpacaran. Saat itu aku sempat berfikir apakah bahagia Ketika aku punya pacar kelak? karna aku melihat banyak sekali yang berjalan dan bergandengan tangan sambil bercanda gurau bersama pacar mereka.
Aku sedikit iri melihat mereka bahagia karena aku sendiri orangnya Kutu buku dan tidak pernah punya pikiran mencari seorang pacar. Para siswa di sekolah ku selalu saja membuli ku dengan mengambil kacamata besarku, terkadang ketika aku sedang membaca di dalam kelas, buku ku tiba-tiba di rebut oleh mereka lalu di Lempar bolak-balik agar aku mengejar buku kesayangan ku yaitu novel horor yang sangat menarik menurutku.
Namaku Adinda, aku seorang anak yang suka belajar dan membaca. Segala mata pelajaran pun aku kuasai hampir dengan sempurna. Kata kebanyakan teman-teman, aku gadis cupu dalam pergaulan. Banyak dari teman-temanku suka menyindir dari belakang, akan tetapi ada satu teman di Kelas ku yang selalu ada melindungi ku dari Buly'an mereka.
"Hay Adinda, hari minggu besok kamu datang ya ke rumahku, aku mau mengadakan pesta ulang tahun," kata Luna teman ku.
" Emmm gimana yah," jawabku ragu.
"Pokoknya kamu harus datang ke acara ulang tahun ku" Celetuk Luna.
"Baik lah" jawabku.
" Gini aja, bagaimana kalau kamu menginap di rumahku sehari sebelum acara ulang tahun ku," kata Luna,
"Aku tidak bisa, Orang Tua ku pasti tidak menyetujuinya.”
"Yasudah nanti aku yang minta ijin ke orang tua kamu ya" jawab Luna.
"Kalau begitu aku setuju" jawab ku langsung setuju.
Ketika aku dan Luna sampai di rumahku, Luna pun langsung berbicara dengan kedua orang tua ku.
"Om, tante, boleh nggak kalau Luna mengajak Adinda untuk menginap di rumahku malam minggu ini karena hari Minggu Luna akan mengadakan pesta ulang tahun" Kata Luna dengan sopan.
" Oh, Selamat ulang tahun ya nak” Kata ibu dan papa ku.
" Terima kasih Om, tante" jawab Luna.
" Boleh saja, tapi harus ingat jangan pergi kemana pun ketika malam hari" kata Papaku.
" Tenang om, Luna nggak akan mengajak Adinda ke luar, karena dia mau membantu mempersiapkan acaranya buat hari minggu besok" jawab Luna.
" Baik lah, om pegang kata-kata kamu.”
" Iya Om" jawab Luna kegirangan.
Tepat di hari sabtu, aku di jemput sama Luna untuk menginap di rumahnya dan sekalian mampir ke salon kecantikan.
" Eh Adinda, mampir dulu yuk ke salon langganan ku, aku mau tampil beda besok" kata Luna.
"Ok siap " jawabku.
Sesampainya di salon, aku pun menunggu Luna sambil membaca majalah yang berada di rak yang bertengger di bagian sudut dinding.
"Adinda, coba kesini sebentar" kata Luna.
"Iya Luna ada apa?" jawabku.
"kamu juga di dandani ya biar tampil beda besok di acara ulang tahun ku," kata Luna menarik lengan ku.
"Nggak usah, aku mau biasa aja" jawabku.
"Aku nggak mau di hari ulang tahun ku kamu di bully sama teman-teman yang lainnya" ucap Luna.
Aku berpikir sejenak lalu memutuskan untuk menuruti kemauannya.
" emmm baik lah" jawab ku.
Rambutku di potong sedikit tepat di atas bahu, kemudian di cat warna silver ke abu-abuan. Tidak lupa aku dipakaikan lensa mata yang sesuai dengan minus Kacamata ku yang tebal. Adinda kamu cantik banget setelah di cat rambut dan lepas kacamata. Pasti besok banyak laki-laki yang akan mengejar-ngejar kamu setelah hari ulang tahunku.
Aku sejenak Berpikir ; "Apa benar akan banyak laki-laki membully ku di kelas bahkan satu sekolah beralih terpikat dengan kecantikan ku?"
"Hey Dinda! kamu membayangkan Apa? serius amat!” celetuk Luna.
"Boy, ops, maaf keceplosan!" jawabku malu-malu.
"oh lagi membayangkan Boy, cie, akhirnya Adinda seorang yang kutu buku mempunyai impian bersama Boy, laki laki terkece di kelas kita" Celetuk Luna.
"Eh nggak! Aku tidak membayangkan sedang berpacaran dengan Boy kok!" jawabku malu lalu memalingkan wajah.
"Nggak apa-apa Dinda, Kamu juga harus bahagia bersama orang yang kamu cintai!" kata Luna.
"Iya Luna tapi kamu jangan bilang ke Boy, aku akan malu banget!" jawabku.
"iya santai saja" jawab Luna.
Hari minggu pun tiba, Hari ini hari ulang tahun Luna. Acara pun di mulai, para Undangan sudah berkumpul di taman dekat Kolam renang di rumah Luna. Ketika detik-detik acara ulang tahun Luna, aku dan Luna pun keluar dari kamar Luna dan menuju halaman belakang. Banyak mata tertuju pada ku karena aku hari ini tampil beda dengan dandanan bagai seorang putri kerajaan.
"Dinda lihat lah para laki laki itu, semua terkagum-kagum atas kecantikan mu setelah melepaskan kacamata besarmu," Kata Luna.
"iya, tapi aku tidak melihat dia, apa dia tidak datang?" jawab ku.
"ohhh si Boy!” seru Luna bernada sedikit keras.
Acara pun selesi dengan Meriah, banyak pula dari para undangan yang mulai pulang meninggalkan pesta. Aku pun melihat Boy duduk sendirian di tepian Kolam renang sambil melihat ke arahku. Aku pun jadi salah tingkah, hampir saja aku terpeleset jatuh ke kolam renang. Dengan refleks Boy berlari ke arahku langsung dan menangkap tangan ku.
"Terima kasih Boy, sudah menolongku" kata ku.
"Iya hati-hati ya kalau berjalan, coba tadi kalau kamu terjatuh, pasti kamu tidak akan secantik ini lagi" ucap Boy.
"Ya, terima kasih" jawabku.
" Ayo kita duduk di sana sambil mengobrol. Adinda, sebenarnya Aku mau bilang sesuatu sedari dulu ke kamu, tapi aku takut kamu menolak ku," kata Boy terus terang.
"Apa boy?" kata Ku ragu-ragu.
"Mau kah kamu jadi pacarku?" kata Boy menembak ku.
"Mmm, Boy gimana ya!” jawabku sambil melihat ke arah Luna.
Dari kejauhan Luna seakan mengerti apa pembicaraan kami, dia memberi kode anggukan kepala yang menandakan kata terima.
"Iya Boy, aku terima kamu jadi pacarku.”
Akhirnya momen yang membuatku ingin berpacaran dengan Boy tersampaikan saat acara ulang tahun Luna. Hari-hari pun semakin bermakna karen Boy selalu melindungi ku ketika aku mendapatkan bully'an dari anak laki-laki di sekolah.