Inilah cinta. Terkadang kita akan bahagia di endingnya terkadang juga perlu air mata untuk mengakhirinya. Takdir jodoh kita tak akan pernah tau kapan dan pada siapa kan berlabuh.
Di penghujung waktu diakhir tahun ku lihat rembulan tampak tak malu malu menampak dirinya. Dia seolah olah tersenyum padaku. Entah karna perasaanku atau memang iya.
Tak lama hape ku berbunyi. Oh sang kekasih yang menelpon. Dan malam malam begini. Mungkin ada hal penting fikirku.
"Hallo sayang" sapaku memanja
"Kita putus ya"
Sontak aku pun terkaget kaget. Tak ada masalah yang selama ini kenapa tiba tiba begini. "Kenapa??" tanyaku penasaran
"Kamu selingkuh kan?? Aku sudah tau semuanya." ucapnya dengan nada tinggi
Aku bingung setengah mati. Terheran heran bukanya selama ini yang punya teman wanita lain adalah dia. Kenapa aku yang dituduh selingkuh.
"Kok bisa kamu menuduhku selingkuh. Atas dasar apa??"
"Aku melihatmu berboncengan dengan pria lain. Kenapa mau mengelak."
"Dimana kamu melihatku."
"Dah gak usah banyak tanya. Kita putus. Kalau kamu pengen trus sama aku boleh. Tapi aku tetep boleh punya pacar lain selain kamu. Tiga bulan bagaimana? Biar aku pikir- pikir kamu layak enggak tetepa jadi pacarku."
Mungkin saat itu aku itu bodoh ya. Sangat bodoh kalau aku pikir pikir. Udah tau yang selingkuh dia duluan. Yang banyak pacar dia juga. Aku cuma berteman dengan laki laki lain aku yang disalahin. Ya mungkin cowok suka menangnya sendiri ya.
Dan aku pun mengiyakan. Dia berhak punya cewek lain. Sedangkan aku tidak boleh.
Waktu terus berjalan tak terasa itu sudah berjalan satu bulan. Aku masih rela dengan perjanjian itu. Rela dia selingkuh sedang aku harus melepas semua teman laki lakiku.
Namun pada suatu waktu. Saat aku sedang bekerja di sebuah perusahan dibagian desain grafis tiba tiba boss wanitaku memanggil.
"Rell. Sini sebentar. Ada yang ingin ku bicarakan denganmu."
Bergegas akupun keluar menghampiri boss. "Ada yang bisa ku bantu bu".
" Ini kamu tolong belikan kertas tipe ini di toko sana. Stok limit ini. Segera ya."
Aku pun kebingungan. Padahal aku berangkat ke kantor naik bus. Gimana mau kesana. Padahal enggak ada akses apapun menuju kesana. Maklum ojek online masa itu belum ada.
"Kenapa Rell. Kamu perginya sama Aldo ya." Boss wanita memanggil adiknya yang tak sengaja baru lewat didepannya "Kebetulan Al. Antar Relly beli kertas ya. Relly udah tau lokasinya tinggal ngikuti dia ja nanti."
"Oh ok mbak." Melihat kearah Relly. Mengamatinya sambil tersenyum. " Ayo brangkat sekarang aja."
"Baik" sahutku sambil senyum.
Aldo masih seusiaku. Lebih tua dariku 2 tahun. Diperjalanan kami bercerita panjang lebar. Dan kami merasa cocok dan nyambung aja pembicaraannya.
"Boleh aku minta nomer hapemu Rell?"
" Oh tidak usah." tolakku. Aku masih ingat perjanjian dengan pacarku kalau sampe punya laki laki lain. Kita akan berakhir.
"Kenapa? Sudah punya pacar kah?"
"Iya." jawabku singkat karna malu.
" Oh pantesan gak boleh. Benar aja masak cewek secantik kamu belum punya pacar." goda Aldo sambil memandangiku. Dan aku pun hanya tersenyum saja.
Waktu berlalu. Hari tlah berganti. Dan hari minggu pun tiba. "Gak ada lemburan jadi bisa santai minggu ini. Yeee" ucapku sambil melipat selimutku. Tiba tiba hapeku berbunyi. Ada pesan masuk dari nomor tak dikenal. Aku pun penasaran. Lantas membukanya
Pagi dek. Udah bangun belum ini.
Aku pun heran. Pacarku saja jarang ucap gini pagi pagi hari. Aku pun membalas "Siapa ya."
Hayo tebak siapa.
"Ni orang maunya apa sih." gerutuku membaca pesan itu.
Kalau gak mau ngasih tau. Tak blacklist ya.
Oh jangan dek. Kejem banget seh. Aku aldo dek.
Dan akhirnya aku yang dulunya enggak tertarik sama Aldo mulai berhubungan dekat dengannya mulai dari smsan sampai teleponan. Dan aku pun sampe gak nyadar kalau masa ujianku selama 3 bulan dengan pacarku berakhir.
"Seneng gak akhirnya kita balikan lagi." ucap pacarku saat kita ketemuan sambil makan siang.
Dan aku sendiri pun merasa biasa saja. Enggak tau kenapa perasaanku pada Erfan mulai memudar. Erfan adalah nama pacarku. Aku dan dia selisih banyak 6 tahun lebih tua dia. Aku dan Erfan sebenarnya sudah berpacaran 3 tahunan. Lama bukan.
Tapi kami tidak pernah setia satu sama lain. Maksudnya tidak hanya dekat dengan satu orang. Kita sama sama memiliki temen deket lainnya.
"Seneng sayang" ucapku saraya tersenyum. Meski hatiku udah mulai bimbang.
"Yaudah. Kalau kamu seneng. Ingat jangan sampe aku tau kamu selingkuh lagi ya."
Aku hanya tersenyum dan melanjut memakan makananku. Tapi Erfan semenjak kami berpisah berbeda sifatnya. Dia lebih perhatian. Lebih bisa menghargaiku. Berbeda dengan yang dulu pokoknya.
Hari senin mulai menyapa. Aku bergegas berangkat karna pagi ini banyak deadline yang harus diselesaikan.
Dan begitu sampai ditempat kerja Aldo sudah duduk di lobby sambil tersenyum melihatku. Aku pun tersenyum padanya. Tiba tiba Aldo beranjak dari tempat duduknya dan menghampiriku.
"Aku udah lama lho nunggu kamu?"
"Kenapa menungguku. Ada hal apa"
"Nanti makan siang bareng yuk"
"Maaf tidak bisa. Aku nanti harus nglembur di jam makan siang. Banyak yg harus aku kerjakan." tolakku.
Aku takut orang orang akan berfikir macam macam karna kedekatanku dengan Aldo. Adik boss. Kemarin udah gempar gara gara aku dapat gaji tertinggi terus menyaingi desainer sebelumnya. Belum lagi boss laki-laki yang begitu memanja aku. Bukan karna ada apa. Cuma dia lebih suka dengan hasil kerjaku. Jadi kadang boss pun masuk keruanganku sekedar ngasih cemilan doang.
"Plis ya dek. Sekali ini aja. Cuma deket dari sini kok."
"Ya besok siang aja gimana." Aku berusaha menolak siapa tau dengan diganti hari dia pas gak bisa.
"Siap. Besok aku kesini lagi ya. Aku pergi dulu ya." Sambil berjalan pergi menjauhiku
Aku pun berfikir sudahlah sekali ini aja gapapa ya. Itung itung ucapan terima kasih atas kemarin udah nganter aku.
Waktu yang dijanjikan akhirnya dateng juga. Aldo pun jam makan siang baru dimulai udah langsung masuk ruanganku.
"Ayo rell." seraya tersenyum menyapaku
"Bentar ya. Belum selesai ini."
"Udah nanti lagi. Ntar tak bantu bilangin mas kalau misal mas marah sama kamu."
" Yaudah. yuk."
Kami pun pergi. Ntah apa yang dipikirkan temen kerjaku soal ini. Padahal temen kerjaku ada yang naksir sama Aldo. Ruyam kayaknya urusannya kelak.
"Naik motor gak papa ya dek. Biar romantis dikit"
Rasanya aku pengen ndang selesai urusan ini. Ternyata Aldo orangnya kalem. Dia enggak suka hal yang aneh aneh pada wanitanya.
Pulang dari makan ternyata hujan lebat. Dan ternyata Aldo enggak bawa mantel. Padahal waktu udah mulai jam kerja. Aldo kemudian membuka jaketnya dan diberikan ke aku. Dan dia menyuruhku supaya pegangan yang erat. Aku pun ngikuti. Aku tak terasa memeluk dia dengan erat.
"Dek putusin pacarmu ya. Jadi pacarku aja. Atau kalau mau istriku." ucap Aldo sesampainya di perusahan. Tempat kami makan sama perusahaan gak jauh cuma sekitar 5menitan pakai motor kecepatan sedang udah sampe.
"Aku gak bisa." Meski hubunganku dengan pacarku banyak cobaan tapi aku juga bingung tetep ingin sama dia seorang.
"Kenapa dek. Dia udah selingkuh juga dibelakangmu. Dia juga gak kaya. Apa sih lebihnya dek."
"Kok kamu bisa tau?" aku terheran heran dengan jawaban Aldo tadi. Kenapa kalau laki laki itu mudah tau kalau pasangannya selingkuh. Insting atau gimana ya.
"Ya tau lah dek. Kalau kamu gak mau putusin dia. Kalau aku besok nekat ngrebut kamu gak papa kan."ucap Aldo sambil tertawa dan pergi dengan motornya
Aku bingung. Apa maksud merebutnya. Apa dia beneran mau melakukannya. Aku gak tau apa yang akan terjadi jika itu semua benar.
Makin hari Aldo makin dekat denganku. Hampir tiap hari dia datang keperusahan untuk sekedar bertemu denganku. Aku pun mulai terbiasa dengan kehadirannya. Tapi terkadang aku juga risih juga. Dia kadang mencuri kesempatan untuk menciumku juga.
Waktu terus berjalan. Aku diajak kerumah Aldo menemui orang tuanya. Tapi ternyata respon orang tuanya tak seperti dugaanku. Sepertinya mereka tidak menyetujuiku dekat dekat dengan Aldo. Aku pun menyadarinya. Karna sifatku yang peka dengan gerak gerik orang. Aku hanya beramah tamah biasa layaknya teman yang datang kerumah temannya.
Dan saat ada pertemuan makan makan bareng temennya Aldo juga mengajakku. Dan memperkenalkanku pada mereka sebagai pacarnya atau terkadang calon istrinya. Kami semakin dekat. Dia selalu berkata "Aku cemburu melihatmu smsan sama pacarmu. biarkan aku dek yang menggantikannya"
Aldo memang orang yang baik. Aku serasa dimanja sama dia. Apapun yang kuinginkan selalu dituruti. Dia juga selalu membanggakanku di hadapan keluarganya dan juga teman temannya. Tapi aku bingung. Sejujurnya orang yang paling nyaman adalah pacarku kini. Ketika aku bersamanya serasa aku tak mau lepas darinya. Enggak tau kenapa.
Suatu hari ibunya Aldo datang ke perusahan mencariku. Dan mengajakku makan siang diluar. Aku sudah sedikit mengerti mengenai hal ini.
"Nak, kamu suka sama Aldo."
Aku sontak kaget dengan ini. "Ada apa memangnya bu."
"Jika kamu dan Aldo sama sama serius. Besok bilang pada orang tuamu kami akan datang kerumahmu."
Aku bingung saat itu. Aku tau ayah Aldo tidak setuju dengan hubungan ini. Ibu Aldo sejujurnya juga tak setuju. Mungkin karna anaknya udah suka sama aku jadi demi kebahagiaan anaknya dia relakan.
Hal yang tak pernah aku duga pun lebih mengejutkan lagi. Tiba tiba tanpa angin tanpa hujan. Orang tua Erfan datang kerumahku. Menemui orang tuaku dan melamarku bersama dengan Erfan juga tentunya. Padahal Erfan saat itu masih sms sama aku. Cuma nanya hal hal terkait itu tapi ternyata dia datang melamarku.
Kami sekeluarga diberi waktu 2 bulan untuk memikiran ini. Setelah itu pihakku akan datang menemui keluarga Erfan untuk memberikan jawaban terkait hal ini.
Aku belum cerita kemana mana soal ini. Pagi harinya satu perusahan udah gempar tentang masalah ini. Termasuk Aldo. Aku juga heran. Darimana mereka bisa tau coba. Apa ada mata mata disekelilingku.
Aldo begitu melihatku langsung menarikku dan menciumku. Aku berusaha menolak juga. Tapi posisiku tak memungkinkanku untuk menolak ciuman itu. Dia mulai meraba raba ketubuhku membuatku makin bergairah pada ciuman itu. Tiba tiba dia menyentuh payudaraku. Aku langsung tersadar dan sekuat tenaga mendorongnya.
"Kenapa dek. Kenapa??" Aldo menangis dalam pelukanku. Aku hanya terdiam. Kenapa ada orang begitu cintanya padaku. Padahal dia tau aku sudah punya pacar. Dan kini bahkan sudah bertunangan.
Waktu berganti waktu. Aku dalam kebingungan. Disisi lain ada pacarkan Erfan yang begitu peduli padaku. Disisi lain ada Aldo orang yang begitu sayang padaku. Dalam keputusaanku aku ingat bahwa kita bisa sholat istiqoroh agar diberi kemudahan dalam mengambil keputusan yang terbaik. Aku pun langsung sholat istiqoroh. Memohon pada Yang Kuasa agar diberi petunjuk untukku jodoh yang terbaik diantara mereka berdua.
Dan Allah mendengarnya. Dia membantuku memutuskannya mesti ada satu diantara mereka yang harus tersakiti. Tapi itu memang terbaik untuk mereka.
Akhirnya aku pun menikah dengan pacarku. Jawaban dari Allah untukku. Dan untuk Aldo. Aku sampai saat ini tidak tau kabarnya. Terakhir aku dengar dia kecelakaan waktu balapan liar dijalanan. Setelah itu aku tak tau lagi.
Aku selalu merasa bersalah atas ini semua. Tapi aku juga merasa bersyukur aku akhirnya bisa bertemu jodoh yang terbaik untukku.