"Rio balikin tas gue!!!". Teriak Sindi.
"Lo ambil aja. Gue mau pulang". Ucap Rio meninggalkan Sindi begitu saja.
Sindi pulang dengan keadaan menangis. Ibu yang melihat Sindi pulang dengan keadaan menangis menyimpan sejuta tanya didalam benaknnya.
"Nak. Kamu kenapa nangis?". Tanya ibu. Ibu selalu sedih jika menyangkut tentang anak semata wayangnya ini. Ibu selalu menyalahkan dirinya yang membuat nasib anaknya begitu rumit dan sulit.
"Rio bu... Tadi dia bully aku lagi". Ucap Sindi yang mengeratkan pelukannya kepada ibu. Tangisnya pecah.
"Sabar nak". Hanya itu yang mampu keluar dari mulut sang ibu. Bukan karena si ibu yang tidak bisa bicara. Tetapi ibu tidak memiliki lagi cara untuk anaknya itu.
"Kenapa bu. Orang miskin kayak aku selalu dibully bu". Ucap Sindi yang didominasikan dengan tangis yang menggema.
Ibu tak menggubris pertanyaan Sindi. Ibu hanya mengeratkan pelukannya untuk mendekap Sindi.
Rio memikirkan apa yang tadi dia lakukan kepada Sindi. Rasanya bersalah. Rio bukan hanya tadi saja membully Sindi. Tapi sudah berkali kali.
"Lo kagak ikut turun Yo?". Tanya Usang. Rio tidak menggubris pertanyaan Usang.
"Jangan bilang lo lagi mikirin Sindi". Tebak Usang. Ingin sekali rasanya untuk menjawab iya. Namun ada hal yang sangat mengganjal yaitu gengsi.
"Mana ada". Jawab Rio berlalu pergi meninggalkan Usang.
Sindi pergi kesekolah berjalan kaki. Itu memang sudah menjadi kebiasaannya. Sindi berjalan dengan terburu buru. Namun sayang, pintu gerbang sudah ditutup. Sindi memohon kepada pak satpam untuk memasukkannya.
"Pak. Ini cuma baru telat lima menit pak". Teriak Sindi menunjukan arah kepada jam tangannya. Pak satpam tidak merespon sama sekali.
Rio bernasib sama dengan Sindi. Dia terlambat bangun hingga menyebabkan dia untuk tidak bisa masuk kedalam sekolah.
Rio merongoh kantung sakunya. Disana ada sebungkus rokok yang masih disegel. Rio mencoba menyogok Pak satpam menggunakan rokok agar dia bisa masuk.
"Ekhem". Rio berdehem sembari memperlihatkan rokok kepada satpam.
Pak satpam sepertinya peka. Dia menghampiri Rio dan membawa satu bungkus rokok pemberian Rio. Pak satpam membukakan pagarnya.
Baru saja Sindi ingin masuk, pak satpam langsung menutup kembali pagarnya. Memang pilih kasih.
"Pak. Kenapa dia bisa masuk?". Teriak Sindi kepada pak satpam.
Rio melihat perdebatan antara pak satpam dengan Sindi. Rio merasa kasihan. Rio memerintahkan pak satpam untuk membukanya.
"Pak suruh masuk aja". Ucap Rio menyimpan helmnya diatas motor. Sindi merasa senang karena bisa masuk keskolah.
Sindi dengan begitu saja melewati Rio. Rio mencekal tangannya agar Sindi tidak berjalan mendahuluinya.
"Lu masih punya hutang sama gue". Ucap Rio meninggalkan Sindi dengan sejuta pertanyaan ditempat parkir.
Bel istirahat berbunyi. Seluruh siswa berlarian untuk bisa memesan makanan lebih awal.
Rio berjalan didepan yang dikuti keempat temannya. Rio memiliki jabatan tinggi disekolahnya yaitu seorang kapten.
"Gue samain aja pesenan kalian. Biar kagak ribet". Ucap Usang berlalu pergi begitu saja. Rio dkk duduk di kursi paling pojok kesukaanya.
Sindi sedang duduk dikelas dengan menahan perut laparnya. Sindi sangat lapar, tapi Sindi tidak mempunyai uang.
Sindi pergi ketoilet untuk sekedar meminum air keran agar bisa menahan rasa laparnya. Walaupun dikit sih.
Sindi dipanggil oleh Rio yang sesang mengumpul. Pasti mereka ingin membully Sindi. Jika saja Sindi tidak mempunyai hutang kepada Rio. Sindi tidak akan mendengar ucapan Rio.
"Cul. Lo habisin makanan gue tuh". Ucap Rio dengan seenak jidatnya. Sindi sedikit senang ketika Rio menyuruhnya untuk menghabiskan makanannya. Namun Sindi juga malu.
"Gak. Gue masih kenyang". Ucap Sindi. Rio terus memaksa Sindi agar mau memakannya.
"Lo harus inget kalo lo punya hutang sama gue. Sini". Ucap Rio sambil menepuk nepuk kursi kosong disisinya. Sindi terpaksa mengikuti keinginan Rio.
Rio memberikan makanannya bukan karena ingin membullynya. Tapi Rio pernah memergoki Sindi yang pergi ke toilet hanya untuk meminum air keran agar bisa mengganjal perutnya.
Rio pulang sedikit terlambat daripada teman temannya. Rio menjalankan motornya dengan kecepatan sedang. Rio melihat seseorang yang tidak asing berjalan dipinggir trotoar.
Rio bisa menebak bahwa itu adalah Sindi. Sindi memang selalu pulang dengan berjalan kaki. Kasihannya.
Rio menepikan motornya dibelakang Sindi. Sindi tidak mengetahui keberadaan Rio.
"Lo emang gak punya duit banget yah sampe pulang aja jalan kaki?". Tanya Rio. Sindi terpelonjak kaget mendapati Rio yang berada dibelakangnya.
"Kalo iya. Emang lo bakal ngasih?". Ucap Sindi kepada Rio. Rio merongoh sakunya untuk mengeluarkan uang sebesar limapuluh ribu.
"Nih". Ucap Rio memberikan kepada Sindi.
"Gue cuma becanda. Gue duluan". Ucap Sindi berlalu meninggalkan Rio. Rio menarik tangan Sindi untuk pulang bareng bersamanya.
"Kalo lo gak nerima uang dari gue. Berarti lo harus pulang bareng gue". Ucap Rio. Sindi hanya diam membatu ditempat. Rio sudah menyuruh Sindi untuk menaiki motornya. Tapi dia tetap tidak menjawab.
"Cepet. Lo mau pulang atau kagak?". Ucap Rio dengan nada yang sedikit keras karena banyak kendaraan yang berlalu lalang sehingga membuat bising.
"Gue gak bisa naiknya. Motor lo tinggi". Ucap Sindi malu malu.
"Lo kenapa gak bilang dari tadi. Ayo". Ucap Rio memegang tangan Sindi untuk membatunya menaiki motor.
Rio menjalankan motor dengan kecepatan sedang. Rio melihat bahwa didepan banyak sekali orang yang sedang tawuran. Rio memutar balikkan motornya. Namun ada yang melempar batu sehingga mengenai Sindi.
"Aw!!!". Teriak Sindi. Rio menepikan motornya untuk memastikan bagaimana kondisi Sindi.
"Lo gak apa apa?". Tanya Rio memegang pucuk kepala Sindi. Wajah Sindi seketika memerah dengan prilaku Rio yang begitu manis untuk hari ini.
Rio menjalankan motornya dengan hati hati ketika mengetahui kondisi Sindi baik baik saja. Hanya mendapatkan lebam diarea tangan kirinya akibat lemparan batu itu.
Sindi turun dari motor Rio ketika sudah sampai didepan rumahnya. Sindi mengucapkan terima kasih dan berlalu pergi meninggalkan Rio.
"Cul". Panggil Rio. Sindi menghentikan langkahnya dan membalikkan badannya kearah Rio.
"Maafin gue, lo jangan lupa istirahat. Gue pamit". Ucap Rio meninggalkan Sindi. Sindi hanya tersenyum kepada Rio atas apa yang dia lakukan.
Ini yang part 1 nya. Nanti muncul lagi yang part 2 nya.