Short Story' by: Seruling Emas
Hari Wisuda sarjana adalah hari paling bahagia dan membanggakan dalam hidupku. Aku, Savitri telah merencanakan banyak hal sejak tahun terakhir kuliah.
Bahkan di tahun terakhir ini aku menyambi kerja sebagai staf administrasi di sebuah perusahaan kecil. Itu ku lakukan untuk menimba pengalaman sambil menerapkan ilmu Ekonomi yang ku dapat di bangku kuliah.
Setelah semua urusan administrasi dan ijasah lengkap di tangan. Aku mulai memasukkan banyak lamaran kerja ke beberapa perusahaan besar. Dan tentu saja dengan harapan yang sangat besar dapat diterima bekerja.
Namun sayangnya, di jaman ini. Sudah terlalu banyak Sarjana Ekonomi di Indonesia. Beberapa kali aku mendapat panggilan kerja. Beruntungnya bisa mendapat izin dari perusahaan tempatku berkerja sejak kuliah.
Hingga dua bulan, tak satupun posisi yang ditawarkan itu sesuai kriteriaku. Aku menolak tidak hanya karena posisinya. Tapi juga karena ikatan kerja kontrak yang menurutku enggak banget.
Di bulan ke-3, entah mungkin karena bosan atau terpengaruh bujukan kawan. Aku akhirnya mencoba sebuah posisi yang menurutku mentereng, Bussiness Advisor.
Meski perihal gaji sudah mereka jelaskan bahwa tidak ada sistem gaji untuk jabatanku. Yang ada hanya komisi beberapa ratus dollar, serta bonus kinerja.
Mereka menjelaskan beberapa perhitungan yang menggiurkan dan masuk akal di mataku. Dan, letak kantorku yang berada di Central Bussiness District menurutku sangat menjanjikan untuk mencapai target yang mereka buat.
*
Hari berikutnya. Dengan wajah berseri-seri aku menghadap bos perusahaan tempatku bekerja selama ini. Beliau mencoba menahanku. Hatiku merasa sedikit tak senang. Hal itu membuatku makin teguh untuk resign.
Pada akhirnya beliau mengijinkan permintaanku. Sembari menunggu surat rekomendasi, aku mendapatkan banyak nasehat.
"Savitri, kamu kerja di sini sudah lebih dari setahun. Kerjamu bagus. Tekun dan membawa banyak hal positif untuk usaha saya. Sayangnya saya hanya bisa menggajimu sesuai UMK."
"Seiring waktu berlalu, kamu akan mendapatkan lebih banyak pengalaman. Orang tua memang tak bisa terus menahan anaknya tetap di sangkar demi alasan kasih sayang. Anak harus mendapatkan pengalamannya sendiri, baru dia bisa mengambil keputusan bijak untuk menggapai mimpi.
"Ini surat rekomendasi dan pesangonmu. Nasehat saya, berhati-hatilah dengan lingkungan barumu. Pelajari setiap hal baik-baik. Lalu pilih yang sesuai dengan hati kecilmu. Suara hati kecil adalah suara malaikat yang tulus melindungimu."
Beliau tersenyum saat aku menjabat tangannya dan berterimakasih untuk semua kemudahan yang ku terima selama bekerja.
*
Hari pertama bekerja di gedung perkantoran yang megah. Aku mengalungkan name tag berpita biru di leherku dengan bangga. Lengkap dengan foto, nama dan jabatanku. Aku juga mengenakan setelan blazer baru yang lumayan mahal. Sepatu teplek yang biasa ku pakai kerja harus diganti. Disesuaikan dengan setelan bajuku. Tas baru dan tas laptop yang ku jinjing benar-benar membuatku terlihat seperti para eksekutif muda lainnya.
Hari itu, selain absen finger print, aku juga harus mengikuti kelas pelatihan lagi. Melihat semua orang berbondong-bondong memasuki ruangan besar, akupun mengikuti. Membawa alat tulis kecil. Penjelasan tutor di depan, ku catat semua. Banyak hal baru yang harus ku pelajari lagi.
Pelatihan selama 3 hari itu ku ikuti dengan semangat. Meskipun aku merasa sedikit aneh, melihat peserta yang makin berkurang. Tapi tutor di depan mengatakan bahwa berkurangnya peserta karena mereka tidak lulus dalam tes di akhir sesi. Jawaban itu membuatku melambung. Aku termasuk yang lulus tes hingga hari terakhir.
Orang tuaku merasa tak habis pikir bagaimana aku memutuskan resign kerja di perusahaan dengan gaji stabil dan mengejar janji komisi yang belum pasti. Tapi penolakan orang tua tidak menggoyahkan tekadku. Aku tetap bersiap untuk memulai karierku dan mengejar penghasilan ratusan hingga ribuan dollar sebulan.
Hari itu aku masuk ruangan. Bertemu manager yang membawahi ku bersama 5 orang BA lainnya, pria dan wanita. Mendapatkan pengarahan singkat dan harus bersiap untuk mengikuti sang manager menemui client. Excited banget kan. Aku merasa tak sabar untuk mendapatkan pengalaman baru.
Kami pergi bersama beberapa rekan senior lain yang juga akan bertemu client. Banyak cerita dan obrolan keberhasilan dari senior dan manager sepanjang perjalanan bermobil. Hal itu memacu semangatku untuk bisa sukses seperti mereka.
Pengalaman pertama menemui client itu agak sedikit mengecewakanku. Hal ini tidak seperti dugaanku. Setelah waktu yang disepakati habis, kami kembali. Lalu mengantar yang lainnya ke tempat Client mereka. Selama perjalanan, pertanyaanku banyak. Dan manager bilang, bahwa usaha tidak mengkhianati hasil. Kita harus berusaha lebih keras dan berdoa agar tujuan kita berhasil. Aku kembali termotivasi. Hingga lewat magrib aku baru kembali ke kantor untuk mengambil laptop dan perlengkapanku lainnya.
Sampai di rumah pukul 9 malam. Mama sudah bernyanyi sejak melihatku membuka pintu pagar. Tapi aku terlalu lelah dan lapar untuk mendebat. Dengan suara sedikit tinggi aku berkata,
"Savitri capek Ma! Lapar! Bisa gak sih, ngomelnya entar aja?"
Mama dan papa terkejut. Mama masih ingin marah, tapi Papa membawa mama ke kamar. Abangku datang mendekat, lalu tiba-tiba tangannya menjitakku.
"Aduh, apa-apaan sih? Sakit tau!" teriakku kesal.
"Hati Mama tuh lebih sakit denger elo bicara kaya gitu. Apa lu mulai lupa dosa? Lu tadi sholat magrib gak?" Abangku bicara dengan nada tinggi.
Aku terdiam tak menjawab. Ya Allah, hari pertama kerja, aku mulai lalai pada Mu. Zuhur, Ashar dan Magrib terlewat semua karena terjebak macet di jalan.
Sebulan bekerja, rasa bersalah karena sholat yang bolong-bolong itu, mulai berkurang. Semua jadi seperti biasa saja. Sering sholat Zuhur ku gabung di waktu Ashar. Entah sah atau tidak. Tapi bagiku, yang penting aku tidak meninggalkan sholat.
Di bulan kedua, aku berhasil mendapatkan client. Itu terasa membanggakan. Aku tak sabar menunggu komisi turun di akhir bulan.
Hari yang ku tunggu tiba. Penghasilan $300 ku terima dalam bentuk rupiah. Meskipun jika dihitung selama 2 bulan kerja tak digaji, $300 itu sama sekali tak mencukupi, aku menghibur diri. Setelah ini jika client puas, aku bisa mengandalkan bonus bulan berikutnya sambil mencari client baru.
Tak dinyana, petang itu bos besar mengajak semua staf untuk mencari hiburan. Kami naik beberapa mobil kantor menuju tempat karaoke mewah. Tak hanya bisa menyanyi dan berjoget hingga puas. Para pria juga bisa bermain bilyar. Makanan pun berlimpah di meja makan. Mereka berteriak-teriak menggunakan mic. Aku merasa pusing. Jantungku berdegup cepat mendengar dentaman musik yang hingar-bingar.
Jam 9 malam, belum ada tanda-tanda acara akan berakhir. Aku minta ijin pulang karena abangku sudah menjemput. Sudah kubayangkan nyarian merdu Mama di rumah nanti.
*
Setahun berlalu. Aku sudah bekerja pada 3 perusahaan berbeda tapi bidang yang sama. Mama dan Papa sudah lelah. Abangku juga sudah tak mungkin lagi pergi menjemput jika aku pulang kemalaman. Karena dia mendapat tugas di daerah lain.
Satu hari Minggu, seorang pria datang bertamu. Mama dan Papa terlihat sangat gembira. Aku diminta menyiapkan minuman. Berhubung asisten libur di hari Minggu, maka aku tak bisa menolak perintah.
Seminggu setelah itu, pria itu datang lagi. Kali ini dengan ibunya, yang ternyata sahabat mama saat SMA. Mama asik ngobrol mengenang masa lalu. Lalu aku diminta menemani pria yang bernama Gunawan itu makan Bakso yang terenak di daerah kami.
Kami banyak mengobrol tentang ini itu. Juga tentang pekerjaan masing-masing. Dia seorang sarjana Pertanian. Dan dia bilang dia bekerja sebagai petani di propinsi lain. Aku hanya mengangguk-angguk saja. Dengan bidang pekerjaanku, aku terbiasa bersikap sopan. Bahkan meski client tidak menyenangkan, aku tetap pasang wajah senyum dan tenang.
Sebulan setelah itu, hal yang mengubah hidupku tiba. Pria itu bersama ibu dan ayahnya datang melamarku. Itu mengejutkan! Aku tak bisa menjawabnya. Aku tidak membencinya, tapi bukan berarti mencintainya kan. Aku ingin menolak. Tapi Mama bilang, aku harus sholat istikhoroh dulu. Minggu depan mereka akan datang lagi untuk mendengar jawabanku. Aku terdiam.
Tapi selama seminggu itu, Mama seperti iklan tv yang muncul selang 5 menit di waktu prime time. Kupingku jadi panas dan membuat hatiku marah. Aku merasa ini bukan membiarkanku memilih. Tapi memaksaku untuk menerimanya.
Sabtu malam, Papa duduk denganku di taman dalam sambil melihat koi berenang di kolam.
"Savitri, Papa dan Mama hanya akan mencarikan pria yang terbaik untukmu. Agamanya bagus. Dia anak yang sopan dan menyayangi orang tua. Pekerjaannya juga bagus. Meski petani, penghasilannya lebih besar darimu. Mungkin bukan dalam hal materi, tapi pahala."
"Dia membantu banyak tetangganya yang tidak bekerja, untuk menggarap lahannya dengan sistem bagi hasil. Membantu banyak anak tak mampu untuk bisa terus sekolah."
"Papa hanya berharap kamu mencukupkan pengalaman kerja di luar sampai di sini saja. Lalu menikah dan memberi Mama dan Papa cucu yang Sholeh dan Sholehah."
"Pikirkanlah baik-baik ya ...."
Aku tercenung dan merenung. Tidakkah waktu setahun ini aku sebenarnya merugi? Aku juga sudah lelah bekerja seperti ini. Beberapa teman kerja wanita juga sudah resign dan menikah. Lalu, aku bagaimana? Apakah akan terus begini?
Singkat cerita, akhirnya kami jadi menikah. Sejak itu aku jadi pengangguran. Dan sepenuhnya menjadi ibu rumah tangga.
Lalu anak-anak kami lahir. Karierku berikutnya adalah menjadi seorang ibu. Untuk menjadi seorang ibu, aku harus siap lahir batin. Karena ini adalah karier seumur hidup. Full time 24 jam sehari tanpa libur.
Tahun berlalu. Anak-anak lucu itu beranjak dewasa. Kami harus menyiapkan hati untuk melepas mereka menjalani bahtera masing-masing.
Rambutku sudah memutih. Kulitku juga sudah mengendur. Sesekali rumah kecil kami yang asri di tengah ladang, disemarakkan tangisan dan keceriangan suara malaikat-malaikat kecil. Aku merasa sangat bahagia melihat itu.
"Mama, Papa, pilihanku untuk menjalani karier sebagai ibu, telah membuahkan hasil. Aku sangat bahagia. Terimakasih untuk semua nasehat dan kesabaran yang Mama dan Papa berikan untukku. Semoga surga menjadi tempat kita berkumpul nanti," gumamku.
"Aamiin," tambah suamiku.
End