Seperti halnya koin
Sebuah rutinitas selalu memiliki dua sisi
Terselesaikannya sebuah siklus menjadi sebuah hasil yang tak terelakkan dari sebuah rutinitas
Namun kebosanan juga menjadi bagian pasti dari sebuah proses rutinitas
Bagaimana kamu menjalani hubunganmu?
Rutinitaskah?
Atau sudah lebih dalam dari sekedar memutari siklus bertemu, berpisah, dan meninggalkan sebuah kenangan?
Apakah jarum jam juga pernah merasa bosan dengan rutinitasnya. Mengitari putaran 360 derajat, sepanjang masa hidupnya. Apa jadinya kalau dia bosan? Pasti berhentilah fungsinya sebagai penunjuk waktu. Jangankan untuk berhenti, ketika jarum jam itu terlalu lambat atau terlalu cepat, maka akan menghasilkan perbedaan yang berujung pada tingkat kepercayaan seseorang pada penunjuk waktu. Itu tentang jarum jam yang rutinitasnya berputar dari satu detik ke detik yang lain.
Sebuah hubungan yang dipertahankan dengan pertemuan, kebersamaan dan jalinan komunikasi yang intens pastinya akan berjalan dengan sangat lama. Bahkan saking awetnya, bisa jadi sebuah kisah itu akan menjadi bagian wajib dari sebuah perjalanan waktu seseorang. Ikatan semacam apakah yang bisa semacam itu? Percayalah, itu hanya akan terjadi pada sebuah ikatan yang direstui oleh agama dan juga pengakuan secara hukum. Tidak berlaku bagi sebuah ikatan yang hanya dibangun datas sebuah komitmen bersama dan saling membahagiakan semata.
Bachtiar memasuki putaran usia yang ke 43 tahun, sedangkan Lidia 39 tahun dan jalinan hubungan yang ke 13 tahun, tanpa ikatan yang disahkan oleh agama maupun hukum. Bahtiar dan Lidia mengukuhkan kisah cinta dan bertahan dengan status pacarana selama 13 tahun. Bisa disebut sebuah prestasi, bisa juga disebut sebagai kesia-siaan. Bukan waktu yang sebentar, tentunya juga bukan sebuah pilihan yang diinginkan oleh keduanya.
Lidia menerima status janda di usia 24 tahun, sedangkan Bagchtiar sendiri diketahui gagal melakukan pernikahan pertamanya diusia 28 tahun. Dua orang yang berlatar belakang hampir sama, disakiti dan ditinggalkan itu bertemu beberapa tahun setelah menjalani masa-masa sulit dalam hidupnya. Takdir mempertemukan keduanya dan memberikan lakon sebagai sepasang kekasih dengan komitmen ingin bersama, namun terhalang restu orang tua. Orang tua Bachtiar tentunya, yang memang keberatan dengan status Lidia sebagai janda kembang.
Hari-hari pasangan kekasih ini dilalui layaknya hubungan sepasang manusia usia dewasa. Menjadi sepasang kekasih yang di waktu-waktu tertentu juga berganti peran sebagai seolah-olah sepasang suami istri. Mungkin hal ini bisa dihukumi wajar, atau tida wajar oleh beberapa orang. Setiap akhir pekan mereka akan saling bertemu dan menghabiskan waktu, demikian juga saat hari-hari libur. Namun semua akan kembali pada aktivitas masing-masing ketika waktunya.
Sebuah rahasia yang mamapu ditutup rapat. Sangat rapat, bahkan terkadang keduanya juga memainkan peran untuk saling tidak mengenal satu sama lain, jika diperlukan. Hubungan yang disembunyikan sejak larangan dari orang tua Bachtiar tanpa tolerasni menolak kehadiran Lidia. Karena melawan orang tua bukanlah sebuah pilihan yang baik, sedangkan melepaskan sebagian hati bukan pula hal yang bisa dilakukan, maka inilah jalan terbaik bagi mereka.
Bahtiar dengan bisnis property yang dibangunnya mampu menyuguhkan kemewahan yang tidak berbatas pada Lidia. Kurun waktu 13 tahun ini, tentunya tidak seharipun dilewatkan Bachtiar tanpa mengguyur kekasihnya itu dengan materi dan juga perhatian. Sedangkan Lidia, bisnis salon kecantikan miliknya yang saat ini sudah memiliki 3 cabang, menjadi ladang pundi-pundi uangnya. Dari sanalah dia mencukupi kebutuhan Ibu dan kedua adiknya yang tinggal terpisah darinya.
Suatu pagi, Lidia terbangun dari tidur nyenyaknya dan melihat disampingnya masih tidur pula lelakinya. Setelah semalam yang penuh kebahagiaan, seperti biasa keduanya menghabiskan waktu. Seperti biasanya pula, Lidia terbangun lebih dulu dan menyiapkan sarapan untuk Bachtiar. Membangunkan Bachtiar dan menyiapkan pakaiannya, kemudian menemaninya menghabiskan sarapan.
Rute berikutnya adalah mempersiapkaan diri untuk kembali ke kamar dan memanjakan lelakinya hingga malam menjelang. Selanjutnya bila malam telah tiba, maka keduanya akan berkemas dan bersiap untuk meninggalkan villa dan kembali ke apartemen masing-masing. Selanjutnya keduanya akan menjalani kehidupan masing-masing. Bachtiar akan kembali pada rutinitasnya dan Lidia juga akan kembali menjalankan bisnisnya, bisnis yang sebenarnya bukti kesungguhan Bachtiar padanya. Dua buah salon kecantikan yang dihadiahkan Bachtiar pada Lidia, sekaligus untuk memberikan sumber penghasilan mandiri pada Lidia.
Selama 13 tahun, rutinitas itu yang dijalani oleh keduanya. Tanpa berani untuk mengubah salah satu diantara rute itu. Kebersamaan yang terkesan dipaksakan itu memang menuntut banyak pengorbanan. Pada akhirnya memang waktu yang akan menjadi pembuktian terbaik sebuah hubungan.
Jum’at sore
Lidia berada dibalik meja kerjanya, membereskan beberapa berkas yang tercecer di meja. Tiba-tiba gerakan tangannya terhenti begitu pesan masuk ke ponselnya. Tentunya dari Bachtiar. Seperti biasa, pesan cinta yang setiap akhir pekan diterimanya selama 13 tahun ini. Meskipun sebenarnya tanpa pesan itu, alam bawah sadarnya akan tetap menggerakkan dirinya untuk mengambil langkah menuju villa yang menjadi salah satu saksi kebersamaan mereka.
Supermall menjadi tujuan Lidia, seperti biasanya. Berbelanja keperluan dapur untuk dua hari kedepan selama berada di villa. Seperti biasa pula ia akan bergegas untuk memasak ketika sampai di sana. Menyajikan makan malam untuk menyambut kekasihnya. Menyiapkan pakaian dan tampilan terbaik dari dirinya. Bersiap untuk menghabiskan malam yang indah. Demikianlah yang menjadi rutinitas Lidia selama 13 tahun mendampingi Bachtiar.
Begitu mobilnya sampai di parkiran villa, ada yang berbeda. Ternyata Bachtiar sudah sampai lebih dulu, dan bergegas membantu membawa belanjaan Lidia masuk ke dalam dapur. Mungkin ini kejutan, pikir Lidia. Sekedar untuk memperingati 13 tahun kebersamaan mereka, atau mungkin hal lain. Entahlah, Lidia mendapat hadiah sebuah kecupan begitu memasuki dapur. Seperti biasa, itulah sambutan yang selalu diberikan Bachtiar padanya.
Selesai makan malam, seperti biasa pula Bachtiar mengajak Lidia menuju balkon menikmati malam berdua. Lidia merasakan ada perbedaan pada perilaku Bachtiar kali ini. Mungkin sebentar lagi, sebuah kenyataan akan terpampang nyata dihadapannya.
SEBUAH LAMARAN
Malam ini Bachtiar memberikan lamaran resmi kepada Lidia, dengan menghadiahkan sebuah kalung berlian yang kini dipasangkan di leher Lidia. Namun, Lidia tak sepenuhnya bahagia. Karena Bachtiar hanya bisa memberikan pernikahan sirri padanya. Iya hanya pernikahan sirri. Tentunya dengan restu yang belum juga mampu dikantongi keduanya, maka hanya ini yang bisa dilakukan oleh Bachtiar.
Lidia tidak memberikan jawaban, tidak menolak juga tidak mengiyakan lamaran itu. Dia memilih untuk merebahkan kepalanya di dada kekasihnya itu. Bachtiar memahami perasaan wanitanya itu dengan baik. Setelah 13 tahun, ternyata hanya sebuah pernikahan sirri yang mampu ia berikan, itupun 6 bulan lagi. Tentunya inilah kekecewaan terbesar. Tapi Lidia terlalu menyayangi Bachtiar, hingga memilih untuk diam.
Dua bulan kemudian
Semenjak lamaran itu, keduanya tetap bertemu seperti biasa. Tetap menjalankan rutinitas pertemuan sembunyi-sembunyi seperti biasa. Namun ada sesuatu yang dirasakan tidak biasa oleh Lidia. Selama dua bulan ini, mungkin tubuhnya memang menjalankan setiap pertemuan itu, sebagaimana biasa. Tapi tidak dengan hatinya.
Jika selama 13 tahun ini, hatinya selalu merasa bahagia dengan akhir pekannya, tidak kali ini. Semua terasa biasa. Jika ini sebuah masakan, maka rasa hambar yang muncul. Sentuhan Bachtiar, juga menjadi terasa biasa. Perhatian Bachtiar juga seolah tak mampu membangkitkan rasanya. Lidia menyadari rasa itu, meskipun tak mampu mengendalikanya.
Sebuah perenungan panjang akhirnya diambil Lidia untuk menenangkan gejolak dalam dirinya. Ini bukan karena Bachtiar yang berkurang perhatiannya, bukan pula tuntutannya tentang sebuah pernikahan sah. Ini lebih kepada keinginan hatinya, yang seolah menolak untuk melangkah maju. Maju melanjutkan kisah hidupnya yang berliku.
Akhir pekan yang selama 13 tahun ini menjadi lading kebahagiannya kini tidak lebih dari sebuah rutinitas. Cinta dan perhatian Bachtiar juga seolah menjadi rasa yang biasa. Kenangan-kenangan selama 13 tahun ini, seolah berubah menjadi sekedar sebuah tabungan memori masa lalu yang tak lebih hanya penting untuk dilupakan.
Lidia tidak mampu mengendalikan dilemma dalam dirinya. Dilema yang mengantarkan pada perenungan panjang yang membawanya pada hasil, dimana saat ini dia mulai meragukan perasaannya. Meragukan perjuangan yang selama ini ia banggakan. Perjalanan panjang yang telah dilalui dengan susah payah bersama Bachtiar, kini seolah bersiap untuk ditinggalkan.
Lidia sadar betul, tidak seorangpun bisa mencegah Bachtiar dalam bertindak. Seharusnya, pernikahan bukanlah hal yang sulit. Meskipun Bachtiar menjanjikan pernikahan sah, setelah keadaan memungkinan, tapi itu belum jelas kapan. Bachtiar tidak mau mengambil risiko kehilangan keluarganya. Demikian pula Lidia. Lalu ap arti perjuangan mereka selama ini?
Akhir pekan kembali datang. Lidia merasakan ada penolakan pada tubuhnya. Untuk pertama kali sepanjang kebersamaa, hanya kali ini hal itu terjadi. Sekalipun beberapa bulan ini dilalui dengan kehambaran, tapi ia tetap berangkat juga. Tapi tidak dengan hari ini. Hatinya juga menolak. Demikian pula tubuhnya.
Satu bulan kemudian
Semenjak penolakan Lidia untuk bertemu pada akhir pekan terakhir yang lalu. Semenjak itu pula keduanya tidak saling berhubungan. Lidia juga tidak tergerak untuk mencari kabar Bachtiar, meskipun sebaliknya, Bachtiar mati-matian berusaha menemui Lidia. Sekedar untuk meminta penjelasan dan memperbaiki keadaan. Namun Lidia tidak memberikan kesempatan
Sampai akhirnya suatu hari, Lidia yang mendatangi kantor Bachtiar. Sebuah kejutan, yang pastinya tidak disangka oleh Bachtiar. Lidia sengaja memilih kantor Bachtiar, justru untuk menghindari amarah dan emosi berlebihan Bachtiar saat mendengarkan keputusannya. Lidia memutuskan untuk mundur. Semenjak saat ini dan seterusnya.
Ada sebuah hubungan, dimana terkadang perpisahanlah yang menjadi jawaban akhir. Bukan sekedar untuk menimbulkan patah hati pada keduanya, namun lebih kepada untuk mengajarkan bahwa takdir sebuah kebersamaan tidak selalu berakhir indah. Bertemu dengan orang yang salah, terkadang perlu. Untuk meyakinkan seseorang, atas “pemaksaan” dalam sebuah hubungn itu salah.
Bukankah memang seharusnya demikian. Perpisahan adalah sebuah awal dari sebuah kisah yang akan dimulai berikutnya.