Tubuh Keira membeku setelah dapati tunangannya sedang bercumbu ria dengan sahabatnya sendiri. Padahal, hari pernikahan mereka hanya beberapa hari lagi namun, Keira malah mendapat kejutan yang begitu "istimewa"dalam hidupnya.
"Iyan!"
Kedua orang itu hentikan aktivitas mereka akibat suara Keira. Keduanya sama-sama terkejut karena tak menyangka akan hadirnya Keira yang memergoki mereka secara langsung. Tanpa pikir panjang, Keira langsung hampiri keduanya dan layangkan tamparannya pada pipi kanan Iyan.
"Aku nggak nyangka kalau kamu ngelakuin hal semenjijikan ini!" ucap Keira dengan air matanya yang ikut berderai basahi kedua pipinya.
Tak terima dengan perbuatan Keira, Iyan langsung menarik rambut panjangnya hingga buat kepala Keira mendongak akibat tarikan Iyan yang begitu kuat.
"Kau pikir kau siapa sampai berani lakukan hal ini ke aku? Kalau bukan karena tanruhan itu aku juga gak bakal sudi buat sekedar kenal cewek miskin sepertimu!"
"ta-taruhan?"
"Kau pikir sosok Iyan yang bergemilang harta ini mau dengan kau cewek jelek dan miskin ini?! Ah, rasanya lebih baik aku kehilangan uang 250 miliarku untuk menebus taruhan itu daripada harus menikahimu. Kita batalkan pernikan ini."
Setelah ucapkan sederet kalimat yang begitu menyayat hati Keira, Iyan langsung pergi begitu saja tanpa pedulikan perasaan Keira. Bahkan lelaki itu merangkul mesra Bella, sahabat Keira dengan tanpa malunya.
"Bella! Aku masih maafin kamu kok Bell. Please, jangan tinggalin aku juga." ucap Keira putus asa saat sadari jika sahabat yang sudah lama temaninya akan pergi tinggalkan dirinya demi lelaki kaya tak tahu diri itu.
"Tapi aku gak bakal minta maaf ke kamu Kei, gimana dong? Udah ya, aku capek harus temenan sama cewek miskin dan jelek kayak kamu. Ah, buat semua kebaikan yang udah aku lakuin ke kamu gak usah dipikirin. Aku ikhlas. Aku gak bakal minta ganti rugi kok. So, bye-bye Keira."
Kedua kaki Keira tak lagi mampu menopang tubuhnya. Keira jatuh terduduk dengan tangisnya yang tak bisa untuk berhenti. Keira tak menyangka akan alami hal yang begitu menyakitkan seperti ini. Selama ini, dirinya sudah berjuang sendirian lantara kedua orang tuanya telah meninggal sejak dirinya berumur dua tahun. Keira habiskan waktu kecilnya di panti asuhan milik orang tua Bella. Keira dan Bella sudah berteman sedari kecil, maka tak heran jika hati Keira teresa lebih remuk saat Bella tinggalkannya ketimbang dirinya ditinggalkan Iyan.
Keira putuskan untuk bangkit dan bergegas menuju flat tempatnya tinggal. Setidaknya, Keira masih punyai tempat untuk tidur.
Sesampainya di flat, Keira langsung rebahkan tubuhnya di atas ranjang. Rasa nyaman begitu memeluk tubuhnya kala punggung kokohnya menyapa kasur empuk yang telah terlampau sering temaninya menangis. Dan malam ini, Keira kembali keluarkan air matanya setelah banyaknya tawa yang hiasi harinya akhir-akhir ini. Kebahaiannya datang dengan orang yang tidak tepat.
***
Keira terbangun dari tidurnya lantaran bel flatnya ditekan berkali-kali dengan tak sabar. Dengan enggan Keira bangkit dari posisinya dan bergegas untuk melihat tamu yang sudah mengganggu ketenangannya. Dirinya dibuat terkejut karena yang mengunjunginya adalah sang pemilik flat yang disewanya.
"Ah, selamat malam. Kenapa anda mengunjungi saya malam-malam Bu?"
"Kamu harus keluar dari sini sekarang juga."
"A-apa? Tapi kenapa Bu? Lagi pula, saya sudah membayar uang sewa Bu."
"Ada yang sudah membeli tempatmu dengan harga dua kali lipat. Jadi, kemasi barangmu dan cepat pergi dari sini."
"Kalau begitu kembalikna uang sewa yang sudah saya bayarkan untuk sebulan ini!"
"Enak saja! Lagi pula aku juga tidak mau jika seorang wanita penghibur menempati flatku! Ah, apa jangan-jangan kau membawa pelangganmu itu kemari?!"
Keira dibuat terkejut dengan perkataan ibu paruh baya di depannya ini. Apa seseorang yang dimaksud sebagai wanita penghibur itu dirinya? Kenapa wanita ini menyebutnya sebagai wanita penghibur? Belum juga Keira dapatkan jawaban dari pertanyaanya, dirinya sudah dibuat terkejut kembali dengan hadirnya sosok yang benar-benar tidak ingin dilihatnya itu.
Bella dan Iyan memandang rendah Keira dengan begitu angkuh. Ternyata mereka dalang dari semua ini dan bisa dipastikan jika mereka pula yang sebarkan berita tak benar pada ibu pemilik flat ini.
"Kau kan punya banyak lelaki untuk dipuaskan, menumpang saja dengan salah satu pelangganmu itu." ucap Iyan.
Mendapat perlakuan seperti itu Keira segera bergegas untuk kemasi barang-barangnya. Dirinya tak kuat lagi untuk dipandang hina bahkan disebut-sebut sebagai wanita penghibur. Apalagi sekarang para tetangga mulai keluar untuk menyaksikan keributan yang dibuat oleh dua manusia iblis itu.
Keira menyusuri jalanan lenggang tanpa adanya tujuan. Dirinya tak tahu harus kemana. Tiba-tiba saja sebuah mobil berhenti di depennya dan menghadang jalannya. Selanjutnya, seorang lelaki bertubuh tegap dan berotot keluar menghampirinya.
"Nona muda, maaf saya datang terlambat." ucap lelaki itu.
Dipanggil seperti itu tentu saja membuat Keira begitu kebingungan. Ini pertama kalinya seseorang memanggilnya dengan sebutan seperti itu.
"Ah, maaf membuat anda kebingungan. Silahkan masuk, saya akan antar anda ke mansion. Di sana akan ada yang menjelaskan semuanya pada anda." jelas lelaki itu sambil terkekeh kecil.
Tanpa menunggu lama, Keira masuki mobil mewah itu. Keira ragu sebenarnya, namun setelah melihat senyuman lembut dari sosok di depannya ini membuatnya yakin untuk ikut padanya.
Setelah tiga puluh menit, akhirnya mobil yang ditumpanginya itu masuki halaman luas mansion mewah yang berhasil buat Keira tercengang akan kemegahannya. Halaman rumah dipenuhi dengan tanaman cantik dan air mancur tepat di tengah halaman. Halamannya begitu luas hingga untuk menuju pintu utama pun jika berjalan kaki rasanya akan melelahkan.
"Selamat datang Nona muda." ucap seorang pelayan yang membukakan pintu mobil untuk Keira.
"Ah, terima kasih."
"Kedatangan anda sudah kami nanti Nona, mari saya antar menuju ruang utama."
Keira mengikuti pelayan itu dengan tanpa henti kagumi setiap sudut ruangan. Para pelayan yang bertugas langsung menundukkan kepala mereka saat ketahui nona muda yang dinantikan mereka telah masuki mansion megah ini.
"Nona muda, perkenalkan saya Adam, pengacara sekaligus sekertaris pribadi di keluarga Rudolf. Tuan Rudolf, ayah anda, memberiku tanggung jawab untuk membawa anda kembali ke mansion ini saat anda berumur dua puluh tiga tahun." ucap seorang pria paruh baya kala Keira telah berada di ruang utama.
"Rudolf? Ayahku bernama Rudolf?" Keira tidak pernah tahu akan latar belakang orang tuanya. Maka ketika dirinya mendengar nama Rudlof dirinya begitu terkejut bukan main. Karena sosok Rudolf di kota ini hanyalah satu, dan sangat tidak mungkin jika itu orang tuanya.
"Ya, Adelard Rudolf adalah ayah anda dan Aneisha Rudolf adalah ibu anda."
Napas Keira berhenti seketika saat mendengar kedua nama yang begitu diagungkan di kotanya ternyata adalah kedua orang tuanya. Orang terkaya di penjuru negeri ini ternyata sosok yang telah memberinya kehidupan.
"Tuan Rudolf meninggalkan warisan untuk anda berupa mansion ini, dua villa, tiga gedung apartement,dua restoran, tiga mall, satu taman hiburan, satu butik dan lima perusahaan. Selama ini, saya dan beberapa sekertaris Tuan Rudolf yang mengurusnya. Ah, dan yang saya sebutkan tadi hanyalah yang ada di dalam negeri. Masih ada beberapa warisan untuk anda yang belum saya sebutkan yang bertempat di luar negeri."
Tangan Keira terasa bergetar saat melihat bukti tanda dia sebagai pewaris resmi dari Adelard Rudolf. Dirinya benar-benar tak menyangka jika lahir dari rahim sosok yang begitu bergelimang harta. Bahkan kekayaan Iyan yang selalu dielu-elukannya hanya sebutir debur saja. Siapa yang menyangka jika sosok wanita miskin sepertinya ternyata merupakan pewaris tunggal dari pasangan terkaya.
"Sebaiknya anda beristirahat sekarang. Besok, saya akan mengenalkan anda sebagai pewaris Rudolf yang telah hilang."
***
Berita ditemukannya sang pewaris tunggal keluarga Rudolf begitu menggemparkan. Begitu banyak wartawan yang mengerubungi Keira setelah dirinya selesai melakukan konferensi pers bersama Pak Adam tadi pagi.
Ah, kebetulan konferensi di adakan di perusahaan utama, tempat Iyan bekerja.
"Keira, sayang! Kau tidak mungkin melupakanku kan? Suruh orang-orang ini melepaskanku, sayang!"
"Iyan? Bella?" Keira begitu terkejut saat melihat kondisi keduanya dengan tangan yang terborgol.
"Maaf Nona, apa anda mengenal mereka?"
"Aku tunangan Keira! Penangkapan ini pasti sebuah kesalahan! Sayang, bukankah kita akan menikah sebentar lagi, hm?" ucap Iyan dengan tak tahu malunya. Mendengar ucapan Iyan tentu membuat banyak orang terutama Pak Adam terkejut.
"Apa benar itu Nona? Maaf jika saya lancang, tetapi lelaki dan wanita ini telah menggelapkan dana perusahaan selama beberapa tahun terakhir. Dan dari laporan yang saya terima mereka telah mencoreng nama baik anda dengan menyebut anda sebagai wanita penghibur. Mereka tidak pantas bersanding anda Nona."
Keira tersenyum remeh saat mendengar ucapan Pak Adam. Ternyata, hasil kekayaan Iyan merupakan hasil penggelapan uang perusahaan. Dengan pandangan tajam Keira menatap Iyan dan Bella bergantian.
"Iyan, kita sudah batalkan pernikahan itu. Apa kau perubah pikiran sayang? Sayangnya sosok Keira di depanmu ini tidak pantas untuk bersanding dengan pelaku korupsi sepertimu! Ah, dan Bella, terima kasih atas semua kebaikanmu selama ini. Masalah kemarin, tidak perlu kau pikirkan, karna hari ini kau akan mendapat balasanya. Bukankan tinggal di penjara menyenangkan? Kau tidak perlu bertemu denganku yang merepotkanmu ini! So, bye-bye! Selamat menikmati kehidupan di penjara sayang!"
Keira berjalan menuju mobilnya tanpa pedulikan teriakan Iyan dan Bella yang memanggil namanya berualang kali. Apa yang dilakukannya adalah hal yang benar. Keduanya pantas untuk dapatkan balasan itu.
"Pak Adam, bukankah pelaku korupsi akan selalu mendapatkan hukuman mati? Jika memang begitu, biarkan keduanya mendapat hukuman itu. Keduanya tidak akan mampu untuk menebus uang tuntutan atas pencorengan nama baikku dan mengembalikan uang perusahaan yang mereka gelapkan. Jadi, akan lebih baik jika keduanya mati daripada menjadi penjilat saat keluar."