Disebuah rumah, pagi hari, di saat semua kekacauan dimulai.
"Ma, kaos kaki Ayu kurang satu", teriak anak pertamaku yang berumur tujuh tahun. "Kok bisa? tadi sudah Mama letakkan di dalam sepatumu, coba lihat lagi", jawabku sambil menggendong anakku Dito yang baru berumur satu tahun.
Lili anakku yang nomor dua, saat ini sibuk minta rambutnya di kepang dua gara-gara tidak mau kalah dengan teman satu bangkunya, duduk manis sambil memakai kaos kaki.
Bimo anakku yang nomor enam asik bermain sendiri sambil memegang sesuatu sambil senyum-senyum sendiri. Aldi yang nomor tiga memperhatikan adiknya tersebut berkata," Ma, Bimo sedang memainkan kaos kakinya Mbak Ayu", katanya sambil mengambil tas sekolah, dan berjalan melewati Tio anakku yang nomor empat.
Aku segera menghentikan kegiatanku dan mengambil kaos kaki Ayu, lalu meletakkan kembali kedalam sepatunya.
"Mama, kaos kaki Ayu kok basah", teriaknya lagi, Aldi hanya tertawa," tadi kena ludahnya Bimo", sahutnya.
"Ih jijik, Ayu mau ganti kaos kaki lagi", dengan santainya ia melempar kaos kaki tadi ke sembarang tempat.
"Kakak, kaos kakinya jangan diletakkan sembarang tempat begitu", sambil merapikan rambut Lili.
Terdengar suara tangisan dari kamar, anakku yang nomor lima Leo, aku segera bergegas menemuinya, dan memberikan empeng yang terlepas dari mulutnya.
Suamiku Mas Aryo baru selesai mandi, setelah berpakaian rapi ia lalu pergi bekerja sambil mengantarkan Ayu, Lili dan Aldi ke sekolah, anak-anakku yang tiga itu bersekolah di sekolah yang sama, Ayu kelas 2 SD, Lili kelas 1 SD dan Aldi TK.
Sepeninggal mereka, aku mulai memandikan Dito, Bimo dan Tio secara bergantian, sementara Leo masih tidur.
Setelah semuanya mandi, aku membuatkan susu khusus bayi untuk Bimo, sementara Tio aku buatkan bubur bayi, sedangkan Dito masih minum Asi. Leo masih juga tidur. Setelah selesai mengurus ketiga anak-anakku, aku membangunkan Leo, memandikannya lalu menyuapinya bubur.
Dito tertidur setelah minum Asi, begitu juga dengan Bimo, Tio dan juga Leo asik main mobil-mobilan, ku lihat anak-anakku dalam posisi aman, aku mulai bersiap mengerjakan pekerjaan rumah yang lainnya, membersihkan rumah, mencuci baju dan juga memasak, tidak banyak yang aku masak, yang pasti sudah harus ada adalah sayur bening bayam serta tahu dan tempe goreng. Sederhana tapi anak-anak dan suamiku menyukainya.
Aku bersyukur, karena walau anak-anakku banyak mereka semua tidak rewel dan tidak banyak maunya.
Aku dulunya bekerja di sebuah perusahaan swasta, di sanalah aku mengenal Mas Aryo, orangnya yang sabar membuatku menerima cintanya Mas Aryo, kami hanya berpacaran hanya lima bulan lamanya, setelah itu Mas Aryo melamar diriku.
Pada awalnya aku masih tetap bekerja, tapi setelah kelahiran anak pertamaku Ayu, aku berhenti dari pekerjaanku dan Mas Aryo menyetujui keputusanku itu. Setahun kemudian lahirlah anak yang kedua, begitu seterusnya.
Mertuaku bahagia sekali, karena Mas Aryo adalah anak tunggal jadi suatu kebahagiaan tersendiri bagi mertuaku mempunyai cucu yang banyak.
Beginilah kehidupanku, aku adalah wanita yang tidak bisa diam, jadi mengurus ke tujuh anakku merupakan suatu tantangan.
Hari ini hari Sabtu, sudah menjadi rutinitas bahwa hari adalah jadwal aku menjemput ketiga anak-anakku. Aku menggendong Dito, sedangkan Tio, Leo dan juga Bimo aku titipkan pada Diana adikku.
Naik kendaraan umum kadang kala merupakan hiburan tersendiri bagiku, melihat berbagai macam manusia dengan pekerjaan yang berbeda adalah suatu hal yang menyenangkan, apalagi melihat spanduk barang-barang yang di diskon didepan sebuah toko membuatku lapar mata.
Ketika asik melihat spanduk yang menawarkan harga yang menggiurkan, mataku menangkap sepasang manusia sedang bergandengan tangan menuju ke sebuah restoran dan laki-laki yang menggandeng wanita di sebelahnya dengan mesra adalah Mas Aryo suamiku.
Boom!, seakan ada bom yang meledak di dadaku. Dengan mempergunakan hp aku memotret mereka berdua. "Awas ya Mas Aryo, lihat saja apa yang akan aku lakukan padamu Mas", batinku meronta.
Sepulang dari menjemput anak-anak, aku sibuk mengurusi makan mereka semua dan melakukan rutinitas ibu rumah tangga seperti biasanya.
Jam 7.00 malam suamiku pulang, karena hatiku masih panas gara-gara penampakan di siang hari tadi, aku menghindari Mas Aryo, setelah menyiapkan makan malam untuknya, biasanya aku selalu menemaninya makan, tapi kali ini aku mengacuhkannya. Mas Aryo diam saja, hanya saja raut mukanya agak sedikit heran. Dan hal itu sudah berlangsung selama seminggu.
Kupikir Mas Aryo peka, tapi ternyata dia acuh saja. " Oh, ini tidak bisa dibiarkan, mau ngajak perang rupanya", ucapku.
Besoknya aku menghubungi Diana, aku meminta tolong kepadanya untuk mencari tahu tentang selingkuhan suamiku itu. Tak berapa lama Diana memberitahukan kepadaku bahwa wanita itu bernama Siska, dia satu kantor dengan Mas Aryo.
Bagus, disaat aku di rumah mengurusi semuanya, dia asik enak-enakan sama rekan kerjanya, heh, lihat saja nanti.
Hari ini Selasa, aku meminta izin kepada gurunya Ayu, Lili dan Aldi untuk tidak masuk pada hari itu, kebetulan Mas Aryo tidak bisa mengantarkan mereka sekolah karena Mas Aryo mau pergi bersama temannya meninjau lokasi proyek kerjasama perusahaan tempat ia bekerja dengan perusahaan lain.
Anak-anak aku pakaikan dengan pakaian yang bagus, aku juga sudah memesan taksi untuk membawa semua anakku ke kantornya Mas Aryo. Tidak lupa aku meminta kerjasama mertuaku. Syukurnya Mertuaku menyetujui rencana ku.
Sesampainya aku dikantornya Mas Aryo aku langsung menuju ke ruangannya, ruangan kerja Mas Aryo bercampur dengan pegawai lainnya. Seketika mereka semua heboh melihat aku membawa pasukan ku.
Beberapa orang ada yang mengenalku, karena aku dulu juga bekerja disitu langsung gembira dan memelukku, sementara satpam diluar tidak bisa apa-apa melihat kedatanganku.
Ketika aku memasuki ruangan kerja Mas Aryo terlihat ia sedang bersenda gurau dengan Siska, begitu melihatku mukanya langsung pucat.
Dia segera menghampiriku dan berkata sambil terbata-bata," Dek, ada apa ini?.
"Ada apa, ada apa, ga usah pura-pura deh Mas, sebentar, biar aku bicara sama ulat betina yang tadi bicara denganmu", jawabku ketus.
"Dek, percayalah, Mas ga ngapa-ngapain kok, sungguh*, katanya dengan pandangan mengiba.
"Ini apa Mas", aku memperlihatkan semua rekaman dan juga foto apa saja yang dilakukannya dengan Siska di setiap hari Sabtu.
Aku tidak memperdulikan lagi apa yang akan suamiku katakan, aku mendekati Siska dan berkata dengan sedikit ketus," Mbak kan yang namanya Siska, perkenalkan aku Nia, dan ketujuh anak-anak ini adalah anaknya Mas Aryo, kalau Mbak mau jadi istrinya Mas Aryo ya silahkan, tapi dengan syarat sekalian urusin ini anak-anaknya. Saya juga mau istirahat Mbak, selama sembilan tahun pernikahan, saya tidak bisa kemana-mana sibuk ngurusin anak-anak ini, saya dulu juga bekerja, tapi karena mertua saya ingin punya cucu banyak jadinya ya saya berhenti bekerja", dengan lancar dan jelas aku mengatakan semua itu.
"Dan satu hal lagi, orang tua Mas Aryo tidak mau cucu-cucunya diasuh sama baby sitter, jadi silahkan Mbak Siska mengurus anak-anak ini semua, dan kalau setuju saya akan meminta Mas Aryo menceraikan saya", ucapku lagi.
"Ada apa ini?", terdengar suara yang berwibawa mendekati kami, karyawan yang lain langsung terdiam mereka semua melirik sinis ke arah Siska.
Siska wajahnya sama pucat nya dengan Mas Aryo.
"Nia?, lho, ada apa?, ini anak-anakmu semuanya?, ada acara apa ini?, kok sampai bawa anak segala?", tanya Pak Indarto mantan bos ku dulu.
"Selamat siang Pak Bos, iya ini anak-anak saya dengan Mas Aryo", kataku sambil membungkukkan badan memberi hormat.
"Ada apa ini Aryo", Pak Indarto menatap wajah suamiku, raut wajahnya berubah.
"Ini, anu, Pak", Mas Aryo tidak bisa berkata-kata.
"Begini Pak, Mas Aryo ini main-main dengan Mbak Siska dibelakang saya Pak, setiap hari Sabtu dia sibuk berkencan dengan Mbak Siska, sementara saya sibuk di rumah mengurusi anak-anak", jawabku dengan tenang.
Dito mulai menangis, diikuti Bimo dan Tio. Ayu dan ketiga adiknya yang lain mulai terisak, Mas Aryo mulai membujuk anak-anaknya.
Aku lalu berkata kepada Siska," inilah yang harus aku hadapi setiap hari, jadi apa keputusanmu?".
"Maafkan saya Mbak Nia, saya salah, sebelumnya saya sudah diperingatkan teman-teman, tapi saya tidak mau mendengarkannya, sejujurnya saya belum mau punya anak, jadi saya berjanji akan melepaskan dan menjauhi Mas Aryo", jawabnya sambil sedikit terisak.
"Sudah seharusnya, dan untuk Mas Aryo, jangan dikira aku akan memaafkan semua ini, kalau masih ingin aku menjadi istrimu, ada persyaratan yang harus kita selesaikan di rumah, Pak Bos maafkan saya yang sudah dengan lancang membuat keributan dan menghambat kerja semua orang", kataku sambil melihat ke arah Siska, Mas Aryo dan juga Pak Indarto.
"Dek", Mas Aryo menatapku dengan sendu.
Siska tetap membisu, rasa malu menyelimuti hatinya. Tapi sesal memang datangnya belakangan .
"Nia, kalau suamimu tidak berubah dan masih melakukan kesalahan yang sama kedepannya, cepat beritahu aku, aku akan memecatnya dan kamu yang akan menggantikannya", jawab Pak Indarto dengan tegas.
Mas Aryo langsung membeku ditempat.
Aku pamit pulang, Pak Indarto menyuruh Mas Aryo untuk mengantarkan aku dan anak-anak pulang, sebagai hukuman, Mas Aryo diliburkan satu hari dan tentu saja gajinya juga dikurangi satu hari.
Setiba di rumah, setelah selesai mengurus anak-anak, aku bicara empat mata dengan Mas Aryo. Aku minta pada hari Sabtu sepulang kerja dan hari Minggu dia harus membantuku mengurus anak-anak, dan aku juga minta waktu untuk ke salon sekali sebulan untuk memanjakan diri. Dan anak-anak akan ditemani Nenek dan kakeknya dan juga Mas Aryo.
Selain itu untuk cuci dan setrika aku memakai jasa laundry.
Semenjak saat itu Mas Aryo diwaktu senggangnya banyak menghabiskan waktu bersamaku dan Anak-anak.
Sedangkan Siska kudengar ia sudah tidak bekerja di perusahaan itu lagi, dan kemarin kami mendapatkan undangan pernikahan Siska dengan seorang laki-laki yang lebih mapan dari Mas Aryo.
🍁TAMAT🍁
Jangan biarkan pelakor merajalela.
Happy reading.