Pagi itu Mia bersama suaminya sedang pergi berkunjung ke rumah mertuanya (orang tua suami).
Saat di berada disana, Mia melihat sosok yang tak asing di wajah yaitu mantan pacar suaminya.
Pertanyaan pun mengalir deras dalam fikirannya.
"Hay Mia," ucap wanita itu.
Suaminya pun menarik tangan sang ibu ke dalam rumah.
"Ibu ngapain bawa dia kesini?" tanya Jaki suami Mia.
"Dia hanya berkunjung Jaki. Lagian juga Ibu yang menelfonnya datang kemari."
"Untuk apa Ibu?"
"Ibu hanya menyukainya! Mia, dia wanita pilahnmu. Wanita tidak berguna yang tidak memiliki penghasilan."
Deg!
Hati mana yang tak sakit mendengar ucapan yang begitu tajam menikam hatinya. Sembari menahan tangis Mia hanya bisa terduduk lesu di ruang keluarga.
Mia memutuskan untuk kembali keluar menemui wanita itu.
"Hay Mia kau apa kabar?"
"Menurutmu?"
"Aku lihat kau belum memiliki anak. Apa kau mandul?" ucapan tajam dari wanita ini pun membuat mental Mia bergetar.
"Mandul? Kata siapa? Aku dan mas Jaki hanya belum ingin memiliki anak dengan cepat."
"Oh ya? Apa itu hanya alasan kau saja untuk menutupi ke mandulanmu itu? Hahahaha, jika saja mas Jaki memilih aku, mungkin dia tidak akan hidup sengsara."
"Oh ya? Bukan kah dia akan sengsara jika hidup bersama dengan mu wahai wanita pel***?"
"Apa kau bilang? Sialan kau ini! Aku akan memberi perhitungan ke padamu nanti."
"Silahkan aku tidak takut."
~▪︎~
"Maaf ya Ibu lama. Ibu lagi menyiapkan makan untuk Jaki," ucap ibu mertua Mia.
"Iya bu, gak apa-apa. Yaudah kalau gitu aku pulang ya bu, aku gak mau di hilang penganggu kalau aku lama-lama disini."
"Tidak, tidak ada yang bilang seperti itu. Lain kali kau datang lagi ya sayang."
"Iya Ibu ku."
'Dasar wanita murahan, hanya bisa menggoda Ibu mertua dengan sikap busuk seperti itu,' umpat Mia dalam hatinya.
"Sayang makan yuk, aku laper," ajakan Jaki dari pintu ruang tengah.
"Iya, iya. Mau aku siapkan?"
"Beh sayang. Suapin ya sekalian," Begitulah manjanya Jaki ke sang istri tercinta.
Tetapi selalu saja Mia mendapatkan fitnah kejam dari Ibu mertuanya dan hal itu pun juga di dukung oleh sang mantan pacar.
2 Bulan Kemudian.
Saat Jaki mendapatkan bisnis di luar kota, Mia juga mendapatkan teror begitu banyak wajah dari mana.
Mulai dari lembaran telor busuk ke dinding rumah, tanah kuburan berserakan di garasi, bahkan boneka aneh tertancap di rumah ini.
Untunglah Mia seorang guru ngaji, jadi tidak ada satu pun sihir yang bisa menembus rumah ini.
Dan karena kebaikan hatinya, Mia mendapatkan sebuah telfon dari temannya. Temannya meminta bantuan untuk bekerja sama di sebuah toko kue yang baru saja berdiri.
Mia pun mengiyakannya tetapi setelah Mia mendapatkan persetujuan sang suami tercinta.
Mia tidak pernah bercerita kalau selama Jaki melakukan perjalanan bisnis, doa selalu mendapatkan teror dari orang tidak dikenal.
Blam!
"Hoam, Assalamualaikum sayang," ucap Jaki baru pulang tepat pukul 20.00
Hemmm ....
Uhuk ... uhuk ....
"Bau apa sih ini?" ucap Jaki.
Jaki pun menyalakan senter tepat menyorot ke taman depan rumah.
"Astagfirullahalazim! Begitu banyak bangkai tikus dan telur busuk di mana-mana."
"Apa Mia tidak membersihkan ini?!" ucap Jaki kesal.
Brak!
"Astagfirullahalazim," Mia terkejut dari tidurnya.
"Mas Jaki, ada apa? Kok gak salam dulu?"
"Sudah tadi di luar. Mas mau nanya."
"Tanya lah mas."
"Mengapa kau tidak membersihkan rumah?"
"Aku baru saja tadi sore menyapu semua sudut ruangan ini mas."
"Lalu?! Mengapa kau tidak membersihkan dan membuang semua bangkai yang ada di taman rumah."
"Bangkai? Tadi sore anak-anak ngaji bermain disana. Mana mungkin ada bangkai?" tanya Mia tidak percaya.
"Sudahlah lihat saja nanti pagi."
Setelah 3 hari berlalu, Jaki baru menyadari bahwa sang istri mendapatkan sebuah teror dari seseorang tak dikenal.
Jaki pun langsung menindak lanjutin perbuatan yang tidak mengenakan itu. Sedangkan Mia bekerja membantu temannya setiap hari.
Cacian, hinaan, bahkan suara-suara bising selalu ada di telinga Mia. Tetapi temannya selalu memberi semangat agar Mia tidak mendengarkan perkataan itu.
"Menurutmu apa balas dendam terbaik untu membungkam mulut orang-orang jahat itu?" tanya Mia saat sedang memasukan kue ke dalam oven.
"Kau pernah ingat ucapan ustazah dulu?"
"Dulu ustazah pernah bilang jika kejahatan di balas kejahatan artinya kau sama saja seperti itu. Sedangkan jika kau membalas kejahatan dengan kebaikan mungkin mulut-mulut yang berlalu lalang itu akan bungkam."
"Iya benar. Tapi bagaimana aku bisa?" tanya Mia lagi.
"Kau ini seperti tidak ada aku saja. Aku akan mempercayai satu toko kepada dirimu. urusan dan kerjakanlah."
"Aku tau kau akan sukses. Karena aku tau kau pintar dalam hal memasak kue dulu. Jadi berjuanglah."
Dan setelah berhasil membuka beberapa toko, Mia berhasil membantu temannya dengan toko yang di percayakan ke pada Mia.
Bahkan Ibu mertuanya pun terdiam kala menanyakan, " Siapa yang membuat kue ini?"dan salah satu karyawan Mia pun memberitahukan kalau Mia lah yang membuat langsung kue ini.
Dan tidak hanya itu saja, Ibu mertuanya pun sudah sedikit demi sedikit bersikap baik sampai akhirnya Mia mengandung anak pertama mereka.
"Mas aku hamil."
"Serius sayang? Alhamdulillah."
~▪︎~
"Bu, Mia hamil."
Kebahagiaan yang terpancar jelas dari keluarga ini pun sampai ke telinga wanita yang diduga mantan pacar Jaki.
"Apa? Sialan! Lakukan terus apa yang aku pinta."
4 bulan kemudian, Jaki berhasil mencari tahu kalau Lois mantan pacar Jaki lah penyebab semua teror di rumahnya.
"Bagaimana? Kau masih percaya dengan argumenmu?"
"Apa maksudmu?"
"Kau mengira aku mandul tetapi aku telah membuktikannya kalau aku tidak mandul."
"Dasar kau ini!"
"Jahat sekali kau! Menghancurkan mental istri ku dengan perkataanmu. Aku bisa mengurungmu dengan semua kasus penipuan yang pernah kau lakukan," jelas Jaki.
"A-apa?"
"Mia sudah memberi tahu kalau kau adalah bisang dari segala penipuan. Jangan pernah sekali-sekali kau sentuh keluarga ku mengerti!"
"Aku punya semua buktinya Mia. Maaf ya aku sudah membawanya ke ranah hukum, Bye."
Walau dalam hatinya tidak tega, tetapi inilah yang bisa Mia lakukan demi menyelamatkan kejujuran dalam hatinya.
-END-