"Hikss... hiks... hikss....!" suara tangis mengiringi hujan disore ini, suasana di taman yang biasanya ramai oleh pengunjung, Tiba-tiba sepi hanya derunya suara hujan yang bersahutan.
"Kurang ajar kau Akbar, akan ku buat kau menyesal telah meninggalkanku. Dan buat teman-teman dan siapa saja yang telah nenghinaku, akan kubuat kalian ternganga jika suatu saat melihatku!" Tekad Lira menggebu-gebu. Amarahnya kini telah di ubun-ubun.
Taman yang makin gelap karena awan hitam, terasa menyeramkan dan getir bersama kesedihan hati Lira. Namun bagi Lira tidak demikian, sebab gelapnya senja dan derunya hujan anugrah yang bisa menyembunyikan lara hatinya.
Perlahan Lira bangkit, dan berjalan pelan di lorong taman. Tujuannya kini pulang, namun hatinya masih kacau. Tidak mungkin dia pulang dengan keadaan yang sedih dan mata yang sembab.
Lira menghentikan langkahnya, lalu berteduh dibawah pagar tanaman yang membentuk payung. Menahan dinginnya hujan, tangannya memeluk satu sama lain, berharap rasa hangat kini menerpa. Hujan kini makin terseok-seok, oh rupanya suara angin yang menimpa pepohonan.
"Duhh... Gusti... lindungi hambaMu ini!" batinnya berdoa.
Terlahir dari keluarga sederhana, dengan seorang Ayah sebagai tukang jahit keliling, dan Ibu sebagai penjaja Nasi uduk dan gorengan. Tak ayal membuat sebagian teman-temannya selalu mengejeknya, terlebih saat Lira membawa gandengan seorang cowok tajir dan anak orang kaya sekecamatannya. Teman-teman Lira iri dan selalu bilang "si miskin dapat si kaya". Karena merasa risih dan malu karena ejekan teman-teman Lira, akhirnya Akbar tega meninggalkan Lira yang sedang cinta-cintanya.
" Akbar...., lihat saja nanti, saat aku kaya dan kau ingin kembali bersamaku, maka ku pastikan kau bertekuk lutut di kakiku, untuk memintaku kembali!" desahnya geram.
Tapi Lira bingung, bagaimana cara dia bisa balas dendam? Sedangkan sekarang saja dia sudah resign dari tempat bekerjanya sebagai kasir di sebuah Supermarket, karena dipermalukan oleh semua teman-temannya. Dikata-katainya miskin, punya pacar tajir karena pelet, dan lain sebagainya.
Lira sedih dan putus asa, sehingga dia memutuskan resign dari pekerjaan itu. Sudah tidak nyaman dengan orang-orang yang ikut campur dengan keadaan orang lain, memang tidak akan bisa tenang.
Hujan sedikit reda, perlahan hanya gerimis. Lalu senja mulai menampakan kembali terangnya. Lira segera menyusuri jalanan taman, menuju jalan besar yang dilewati kendaraan, termasuk. angkot jurusan menuju rumahnya.
Saat beberapa langkah lagi menuju jalan besar, tiba-tiba Lira mendapati sesosok tubuh terbujur lemah. Lira segera menghampiri dengan panik.
"Pak..., kenapa Pak...?" tanyanya panik, lalu meraih tubuh Pak Tua yang terbujur. Beruntung Pak Tua bukan pingsan, dia masih bernafas dengan nafas yang tersengal.
"Aduh... ini bagaimana, saya antar ke RS atau Klinik terdekat saja ya Pak, atau Bapak bawa HP? Biar saya telponkan keluarga Bapak!" ujar Lira panik disertai khawatir.
"Ti-tidak usah Nak, an-tar sa-ya pu-lang!" ucapnya terbata. Lira paham kemudian dengan segera dia menuju jalan besar berniat menyetop angkot. Tapi lupa belum menanyakan di mana alamat Pak Tua tadi. Lira kembali lagi dengan tangan kosong, lagipula angkot manapun belum ada yang lewat sejak hujan tadi.
"Bapak, alamatnya dimana?"
"Dah-lia no-mer 27!" ejanya terengah-engah. Lira merogoh saku tasnya, dia baru ingat masih punya Hape android pemberian Akbar dulu saat ultah ke 19 tahun, niatnya barang ini akan dia kembalikan juga, daripada terkenang-kenang akan bayangan Akbar yang tega meninggalkannya, lebih baik Hapenya juga dia kembalikan. Namun sayangnya untuk hari ini, terpaksa Lira masih harus memakainya untuk sekedar pesan taksi Online.
"Bapak, tahan dulu ya! Saya sedang memesan taksi online, dia sedang menuju kemari lima menit lagi!" ucap Lira. Lira melihat Bapak Tua itu menarik nafasnya dalam, Lira sangat resah dan berharap taksi pesanannya segera datang.
Tak berapa lama taksi online datang, Lira segera menyetop.
"Pak, tolong bantu saya angkat bapak itu!" pinta Lira pada Pak Supir. Supir mengangguk, kemudian berlari. menuju Bapak Tua yang terbujur lemah.
"Angkat Mbak, kakinya saja. Saya badannya. Yang kuat ya, tahan sampai pintu taksi." Pak Supir memberi aba-aba.
Dengan segenap tenaga, Lira mengangkat betis Pak Tua yang lumayan berat juga. Akhirnya badan Pak Tua terangkat, dengan terengah-engah Lira dan Pak Supir bekerja sama menggotong tubuh tua Pak Tua yang belum Lira tahu namanya.
"Jalan Dahlia nomer 27 Pak!" ucap Lira. Pak Supir segera menjalankan kemudinya, dengan sedikit kencang dia menjalankan taksinya.
Tak berapa lama, taksi tiba di alamat yang disebutkan Lira tadi. Sebuah rumah besar di lingkungan komplek perumahan elit. Lira terkaget-kaget.
"Mbak, pencet dulu belnya....!" perintah Pak Supir sebelum dirinya dan Lira bekerja sama menggotong Pak Tua. Dengan susah payah dan sekuat tenaga, Pak Tua berhasil dikeluarkan dari taksi. Bersamaan dengan itu, pintu gerbang rumah besar itu terbuka lebar, menampilkan seorang Sekuriti. Dengan sigap Pak Sekuriti menghampiri Lira dan Pak Supir lalu membantu menggotongnya.
"Bapak....!" serunya terkejut. "Ayo segera bawa ke pintu utama!" aba-aba Pak Sekuriti mengarahkan kemana Pak Tua harus dibawa. Tiba di pintu utama, Pak Sekuriti memencet bel, tak berapa lama pintu terbuka lebar.
"Kakek....!" teriak seorang lelaki muda tampan berpakaian rapi dan wangi. Sejenak Lira terpesona, saat tatapan matanya bersitatap dengan mata lelaki muda itu.
"Tampannya....!" Lira terpesona.
"Maaf, ini kakek saya kenapa?" sebelum menjawab, Lira berbalik dan segera merogoh uang yang ada di saku tasnya. Lira membayar lebih taksi yang ditumpanginya, seraya berterimakasih.
"Terimakasih Pak!" Pak Supir manggut lalu meninggalkan kediaman Pak Tua yang diantarnya.
"Oh... maaf Mas, tadi saya menemukan Kakek Anda terbujur di sekitar taman, kayanya Kakek mengalami sesak nafas. Kalau tidak keberatan, segera diberi obat sesak nafas!" ucap Lira berinisiatif mengingatkan cucu si Kakek segera memberi obat sesuai sakit yang diderita si Kakek.
Lelaki tampan itu seakan disadarkan, lalu dia berteriak memanggil seorang ART untuk mengambilkan obatnya Kakek.
"Mang Nanang..., tolong ambilkan obat sesak nafas Kakek, cepat!" teriaknya menggema. Tanpa disadari. Lira, rupanya lelaki tampan itu menatap dari ujung kaki sampai ujung kepala.
"Perempuan muda yang manis!" gumannya memuji. Mang Nanang datang tergopoh sambil menyodorkan sebuah botol obat dan segelas air putih. Pak Tua segera meminum obat sesak nafasnya. Tak berapa lama Pak Tua terlihat membaik, sesak nafasnya kembali normal. Lira bersyukur, terlebih Cucu si Bapak Tua.
"Aduhh Nak..., terimakasih banyak atas bantuannya, tadi kalau Bapak tidak ada yang menolong dalam waktu satu jam, Bapak pastinya sudah tidak ada di sini!" ucap Pak tua berterimakasih.
"Sama-sama Pak!" ucap Lira pendek dan malu-malu.
"Bajunya basah, biar diganti saja. Disini banyak baju perempuan yang muat, punya cucu perempuan saya yang sekarang kuliah di luar negeri." ucap Pak Tua.
"Tidak usah Pak, tidak usah diganti. Saya mau pulang saja." Tolak Lira segan.
"Tidak usah segan....!" sergah Pak Tua seraya memanggil salah satu pelayan perempuannya.
"Nani..., bantu Nona ini ganti baju!" perintahnya.
Lira tertegun lalu matanya mengitari seluruh ruangan di rumah itu. Mewah..., baru kali ini Lira masuk ke dalam sebuah rumah mewah.
Lira berganti pakaian, Sang pelayan memberi baju ganti yang sangat bagus baut Lira, sehingga Lira nampak sangat cantik. Rupanya, ada yang terpesona akan kecantikan Lira.
****
Enam bulan kemudian, Lira kini telah berubah menjadi Lira yang sangat cantik dan berkelas. Enam bulan yang lalu Bapak Tua yang bernama Pak Toya itu, tiba-tiba memberikan Lira sebuah butik kenamaan milik Sang anak perempuannya yang sudah setahun yang lalu meninggal. Butik itu seakan terbengkalai sejak sang pemilik meninggal dunia karena sakit kanker. Rupanya Sang anak perempuan Pak Toya itu adalah Mamanya lelaki tampan yang bernama Arjuna, yang kini telah menjadi kekasih baru Lira.
Rupanya Lira telah dilamar Arjuna, bahkan dalam waktu lima bulan lagi mereka merencanakan pernikahan.
Lira tiba-tiba bertemu dengan teman-temannya yang dulu membulinya, di Supermarket bekas tempat dia dulu bekerja.
Lira dengan langkah yang angkuh melewati ketiga temannya yang julid-julid itu, lalu tanpa segan Lira merangkul lengan Sang kekasih untuk menunjukkan bahwa Lira sekarang mempunyai kekasih yang lebih tampan dan kaya daripada yang dulu.
Rupanya Akbar juga berada di sana, dan ternyata Akbar menjadi salah satu pacar teman Lira yang suka membulinya. Akbar menatap terpesona terhadap Lira, dia nampak menyesal melihat Lira yang sekarang terlihat sangat cantik dan berkelas.
Lira merasa puas telah memperlihatkan kemajuan baik fisik maupun keadaan ekonominya pada teman-temannya.
Terbalas sudah balas dendam yang Lira impi-impikan dulu. Kini dia merasa puas. Selain. memiliki kekasih yang tampan dan baik, rupanya Arjuna kekasihnya itu orang terkaya sekabupaten mengalahkan kekayaan Akbar yang hanya sekecamatan. Terlebih sekarang Lira mempunyai butik warisan yang semakin maju pesat.
Walau hanya sebuah warisan dari Kakek Toya, namun sejak dikelola lagi oleh Lira, butik almarhum Ibunya Arjuna itu kini semakin besar dan ternama.
Sempurna sudah balas dendam Lira. Tapi Lira hanya. menjadi sombong pada orang-orang yang dulu membulinya saja, tidak pada orang lain yang selalu baik padanya.