"Juara pertama.. Rei.. Yang terbaik dikelas.. Ishigawa!" Sejak kecil selalu begitu, selalu. mungkin terdengar aneh bagi kalian, tapi apakah kian tahu rasanya dikucilkan karena berprestasi? Saat aku berjalan di belakang mereka. "Itukan dia? "
"Ya dia terlihat sombong ya.. " beberapa berbisik, tapi sayangnya telingaku terlalu tajam. "Dia selalu sendiri, sebenarnya aku muak tapi dia pintar. " Sahut yang lain. "Ya, dia seperti alat bantu untukku. " mereka tertawa kecil bersama. Tetapi ketika mereka melihatku. "Ishigawa-kun, ayo pergi bersama."
"Ishigawa-kun, selamat pagi. " Dan banyak lagi. Bahkan ada yang terang-terangan. Itu terjadi ketika aku memasuki sekolah dasar. Saat itu ada tugas membuat mahakarya secara berkelompok. "Elisa-san, mohon bantuannya. " Aku membungkuk tetapi.. "Menjijikkan! Guru, aku tidak mau sekelompok dengan dia! Dia jelek! " Tetapi saat aku menjadi juara kelas, gadis itu. "Rei, aku suka padamu. "
Eh? Apa-apaan ini? Aku bertanya dalam hati. Aku meremas jari-jariku. "Maaf, aku tidak. " Aku membalas dengan suara tegas dan rendah, lalu meninggalkannya.
Kejadian-kejadian itu membuatku tak ingin menjadi anak pintar lagi, aku sudah memilki rencana besar. Saat ini aku sudah jadi murid menengah atas. Aku mencoba tidak jadi pusat perhatian. Orang yang biasa-biasa saja, yang memiliki teman tapi tak banyak. Todak ada yang menyukai dan tidak ada yang membenci. Terutama, aku ingin pura-pura bodoh. Tapi...
"Ehhhh? " Saki berteriak kencang membuat banyak orang tertuju padanya. "Kenapa? " Tanyaku.
"Rei, lihatlah nilaimu! " Saat aku melihat, mataku terbelalak. "A-ap-pa? "
"Ehh, ternyata kau jenius.. " "Wah selamat. Ishikawa. " banyak pujian-pujian yang masuk ke kepalaku tetapi itu membuatku ketakutan. sialan, aku padahal ga belajar! Gumamki dalam hati.
Sejak saat itu, aku berusaha bangun telat dan yang lainnya tapi nilaiku tetap paling tinggi. Hingga aku berfikir untuk melakukan itu. Aku sering membolos dan bermaon game di bar game. Aku menjadi hikkikomori dalam seminggu, lalu dua minggu itu tak terasa. Sebenarnya sisanya aku sakit, karena aku ketagihab game jadi aku lupa makan dan kurang tidur. Bahkan ibuku sampai marahj-marah selama satu jam. Tapi entah mengapa aku lega. Hingga waktunya aku kembali ke sekolah.
"Kau baik-baik saja? " Tanya saki yang sudah menungguku bersama Tanju. "hm. " Aku
mengangguk. Hari seperti biasanya, di sekolah pun aku jadi vanyak tidur tapi aku ingat semua yang guri-guru itu katakan. Hingga matahari yang mulai meredup dan langit pun berubah jadi jingga.
"Kau akan kesana lagi? " Tanya tanju. "Tidak, aku sudah memilikinya dirumah. "
"Eh? Benar-benar pecandu. " Sahut Saki. "Aku duluan. " Aku pun pulang sendiri. Tidak ada yang aneh saat itu, aku berjalan pulang dengan earphone ditelingaku sambil memikirkan strategi yang harus aku lakukan. Ini tentang game. Beberapa orang-orang berjalan didepanku. Seperti biasa kota sangatlah ramai, tiba-tiba seekor anjing berlari padaku dan refleks aku menangkapnya. Namun, sesorang mendorong kami tidak sengaja dan kami pun terjatuh. Aku berdiri kembali, namun anjing itu entah kemana dan saat aku menoleh itu adalah terakhir kali aku membuka mata.
Di sebuah rumah yang sederhana, seorang wanita setengah baya melihat ke arah jendela dapurnya sambil memasak makan malam. "Anak itu, dia pulang malam lagi. Kalau pulang akan ku jewer dia! " dia menggoreng telur guling sambil bergumam kesal.
Tak lama suara getaran handphone terdengar. "siapa lagi yang menellon disaat aku sibuk! " Protesnya. Dia pun emngangkat teleponnya. Terdengar suara lembut seorang wanita berbicara. "Halo, apa benar ini dengan kediaman Ishigawa? "
"Ya, aku istrinya Ishigawa aku Mio. Aku bicara dengan siapa? "
"Begitu ya, apa Ishigawa Rei adalah putra anda? "
Anak itu, apa dia buat masalah lagi? Fikornya dalam hati. "Ya, ada apa dengan anak saya? "
"Kami dari pihak Rumah sakit bersinar, ingin memberitahukan bahwa anak anda.. " Seketika fimirannya menjadi kosong, tubuhnya kaku nelemas dan terjatuh, tangannya gemetar. "Halo, halo, Nyonya apa kau masih disana? " Perawat itu sedikit mengencangkan suaranya ditelpon. Mio kembali menggegam ponselnya. "Anda baik-baik saja? "
"Ah iya."
"Baiklah, istirahat dan tenangkanlah diri anda. Sekarang putra anda sedang dirawat disini, kami akan berusaha.."
"Ya, terimakasih. "
"Baik, kami akan menunggu kedatangan anda, nanti kami hubungi lagi. Terimakasih.. "
Telepon terhenti, dan tangisan pun pecah. "Dasar, anak nakal. " Mio tak dapat menahan tangisnya.
Suasana rumah sakit pun sibuk, salah satu pasiennya adalah Rei dia masih setengah sadar tetapi nafasnya sesak. "Ishigawa-san, kau bisa mendengarku? " Aku sudah menjawab bisa tapi tak ada yang bisa mendengarku. Aku juga tidak melihat anjing itu. Apa dia mati?
"Ishigawa-san, kami akan memkndahkanmu. 1,2,3.. " Aku dipindahkan ke kasur UGD. Mereka menyenteri mataku, memeriksaku, aku merasakan semua itu, aku melihatnya tapi aku tidak bisa bicara. "Ishigawa-san kami akan membersihkan lukamu."
"Dokter, tekanan darahnya rendah!"
"Ambil kantung darah dan infus!"
Aku terus bertanya, dia kemna, anjing itu apa dia tidak apa-apa? Mataku semakin gelap, perlahan-lahan nafasku semakin sesak dan aku pun tidak sadarkan diri. "Bawa dia ke ruang operasi! " Itu kata terakhir yang aku dengar.
Operasi berjalan, Mio berlari masuk ke dalam rumah sakit. "Ishigwa Rei, Ishigawa Rei, aku ibunya."
"Dia sedang dioperasi." Suster itu mengantarnya hingga ke ruang tunggu ruang operasi. Mio yang harap cemas terus berdoa. Setelah 4 Jam operasi, dokter pun keluar. " Dokter bagaimana keadaan putra saya? "
"Operasi nya berjalan lancar, namun kita belum mengetahui dia akan sadar kapan."
"Ya ampun.. "
"Dan satu hal lagi, kita juga harus memeriksa ke bagian ortophedi karena diyakini ada beberapa tulang yang patah dibagian kaki dan tangan ,mungkin harus segera dioperasi juga. "
"Tidak mungkin.. " Wajah Mio memucat. Setelah beberapa saat Operasi kedua ,operasi patah tulang pun telah dilakukan. Tetapi Rei belum terbangun.
Satu minggu telah berlalu. Teman-teman Rei datang bergantian, khusunya Saki dan Tanju. "Bangunlah, bukankah kau harus menyelesaikan game mu!" Saki sedimit berteriak. Tanju memeluk pundaknya. Waktu telah berlalu mereka pamit untuk pulang.
"Terimakasih, anak-anak.. "
Saki dan Tanju menundukkan kelala mereka. "Aku yakin dia akan segera bangun, soalnya dia anak yang egois, yakan? " Tanju yang berusaha menghibur. Mio tersenyum. Kecil dan mengangguk. "Hati-hati dijalan. "
Hari ke delapan. Seorang pria tua berjalan terburu-buru ,dia mengelap keringat dengan dasinya.
"Istriku!" Dia masuk dan memeluk Mio yang sedikit menangis. "Argh, kenapa ini bisa terjadi? "
"Sudahlah, datang-datang malah marah-marah.. "
Pak Ishigawa menghela nafas. "Bagaimana keadaannya, dia sudah dioperasi? "
"sudah. "
"Lalu kenapa dia belum sadar? " Mio mengelus punggung suaminya. "Dokter sudah berusaha, kita tunggu keajaiban tuhan. " Tangis pak Ishigawa pun pecah, dia menangis sambil terduduk lemas.
Sebuah Cahaya menganggu mataku. "Terang sekali! " Rei terbangun di sebuah ruangan yang redup. Dia menggosok-gosok matanya. "Dimana ini? " Saat dia berdiri dan akan melangkah, dia menginjak sesuatu dan terpeleset. "Kyarggh! Apa-apaan ini? " kesalnya. "Sstt! " Toba-tiba muncul suara entah darimana. "Siapa? " Tanyanya tapi tidak ada yang menjawab. Dia melihat le sekeliling, perpustakaan besar yang tua dan rak-rak tinggi dengam buku-buku yang tidak dimetahui jumlahnya mengitarinya. "Sialan, dimana ini? Kenapa aku bisa terjebak disini? Aku benci ini! "
"Sstt! "
"Siapa itu? "
"Apa bisa kau tidak berisik?" Rei mematung saat melihat kesampingnya. "Buburung hantu? "
Dia mendeham. "Bisa kau diam? " Burung itu menggoyangkan kacamatanya. "K-kau bicara? Dia bisa bicara? " Rei terkejut dan pingsan setelah berteriak. "Hah, apa boleh buat. " Burung itu menjetikkan jari disayapnya. "Anak-anak bawa dia!"
"Hmm. Dimana ini nyaman sekali.." Rei mengganti posisi tidurnya menyamping. Tetapi ada seseorang disebelahnya. "Kau sudah bangun? "
"Waaa!" Rei terkejut. "Apa kau hobi berteriak?"
"S-siapa kau, burung bisa berbicara? "
"Hah, padahal aku sudah menolongmu tapi kau masih saja takut begitu. " Burung itu menggelengkan kepalanya. "Siapa yang tak akan takut jika melihat hewan berbicara! "
Burung hantu itu berdiri di kursi yang ada di sebelah kasur. "Baikla& aku akan memperkenalkan diri, tapi sebelumnya aku ucapkan selamat datang di Bibliotecha! "
"Bibi apa? "
"Bibliotecha! "
"Ahh, Blibolobiteka ya.. Aww! " Dia menapar Rei. "Kenapa kau menamparku? "
"Kau bodoh. "
"Apa? "
"Ini Bibliotecha, bodoh. " urat nadi Rei seakan mau meledak karena kesal. "Awas kau.." Gumamnya.
"Dan namaku Nike, aku adalah seorang penjaga. Kau siapa? "
"Ah, Nike. Aku Ishigawa Rei, terimakasih telah menolongku. " Rei menundukkan kepala.
"Dan bibliotecha atau apalah itu, sebenarnya ini dimana? Dan kenapa kau bosa bicara? "
"Aku adalah seorang penjaga jadi aku harus berbicara."
"Ya, tapi kan aneh selama ini aku hanya melihatnya di film. Arkhh! Ya, kenapa kau menjambakku, burung sialan?! "
"Kau bisa berjalankan? "
"iya. "
"Ikuti aku! " Nike terbang memandu Rei. "Ini adalah Bibliotecha, perpustakaan dari perpustakaan. Disini tidak hanya menyimpan berbagai informasi tetapi menyimpan semua memori yang pernah terekam di dunia."
"Hm? " Rei mengerutkan dahi. "Dengan kata lain ini adalah perpustakaan yang berada diantara kehidupan dan kematian."
"Jadi ini dunia lain?" Ah, apakah ini mimpiku karena aku sering main game isekai?
"Ishigawa Rei, apa kau ingat kenapa kau bisa berada disini? " Rei menggelngkan kepalanya. Jadi dia tidak ingat? "Kalau begitu akan kuberi tahu, Ishigawa Rei kau telah mati. " Matanya terbelalak, Rei tidak mempercayai itu. "Aku mati? "
Nike mengangguk-anggukan kepalanya. "Tidak mungkin, ini pasti hanya mimpi.."
Nike memansang wajah dingin. "Jika aku mencubit pipiku aku akan terbangun. " Rei mencubit tangannya. "Attchhtchh,sakit.. Bagaimana ini, kalau begini aku ga bisa bangun. " Rei menurunkan wajahnya. Apa aku benarcbenar mati? Seingatku aku pulang sekolah dan bermain game.
"Katanya mau cubit pipi, kau mencubit tanganmu bodoh. " Dia hanya mempermasalahkan itu? "Ya, bukan itu yang harus kau khawatirkan. Hei, Nike bagaimana caranya aku bangun?"
Nike hanya terdiam. "Jadi kau juga tidak tahu ya." Rasanya aku mau mati saja, tunggu tapi mungkin memang aku sudah mati?
"Tidak. aku tahu. " Mata Rei berbinar dia mengenggam lembut sayap kecil Nike. "Tolong beri tahu aku. " Nike mengangkat wajahnya, menatap wajah Rei. "Kau harus ingat bagaimana kau mati. " Rei melepas genggamannya. "Begitu ya, tapi aku sama sekali tidak ingat apapun. Aku juga merasa aku belum mati, perasaan ini, detak jantungku dan kehangatan tubuhku aku merasa semuanya normal. "
"Jadi kau roh hilang ingatan ya."
"Roh hilang ingatan? "
Nike mengepakkan sayapnya dan terbang. "Ikuti aku."
Rei melihat sekelilingnya tampak bingung, mereka berjalan ke sebuah tempat yang berbeda dibalik rak-rak itu terdapat lorong-lorong kecil yang ternyata dapat dimasuki salah satunya tempat ini. "sebenarnya kita mau kemana ?"
"Sudah sampai. " "Eh? " Nike membuka sebuah buku yang keluar dari salah satu helai bulunya. Dia membuka buku itu dan keluarlah sebuah kunci. Dia membuka pintu itu. "Ayo masuk. "
Rei mengikutinya dari belakang. Dia terpesona dengan tempat itu. Seperti film avatar yang amu tonton saat SD.
"Nike.. " Seekor paus bungkuk mendekati Nike. "Tuan Mnemosine. " Nike memberi salam.
"Ada apa kau jauh-jauh kesini? " Paus itu melirik ke arah Rei. "Hm? "
"Tuan, dia ada Ishigawa Rei dia kehilangan ingatannya. "
"Nike siapa dia? " bisik Rei. "Argh!" Nike Menampar Rei. "Kenapa kau menamparkWu? " Nike menutup mut Rei. "Sopanlah sedimit! "
Paus itu tertawa melihat tingkah mereka, membuat mereka terkejut. "Maafkan burung hantu kecil ini, tuan. " Nike membungkuk. "Tidak usah sungkan. Jadi, kau ingin meminta bantuanku untuk mencari ingatannya? "
"Ya, tuan."
"Hmm.. Aku akan membantu. "
"Ya, anu tapi siapa namamu tuan paus?" Nime terbangun dan kesal, tatapannya tajam.
"Ini adalah salah satu sang dewa ingatan di lantai pertama, Whale Mnemosine. " Dewa?
"Ishigawa Rei, kemarilah! " Rei mendekati Whale. "Simpan tanganmu disana. " Whale menturuh Rei menempelkan kedua tangannya di sebuah batu yang bersinar. Saat Rei melakukannya, sesuatu yang ajaib terjadi. Sebuah titik-titik cahaya keluar satu persatu membentuk sesuatu yang akan muncul dan itu adalah sebuah rubik bintang yang terjatuh tepat didepan mereka. Batu yang bersinar pun menghilang. "Ambil itu. " Rei mengambil rubik dihadapannya, namun dia masih belum mengerti apa hubungan rubik itu dengan ingatannya. "Ini mungkin akan menjadi sedikit sulit, karena benda itu adalah simbol ingatanmu. Tapi, karena kau ingin mengembalikannya kau harus menyelesaikan benda itu dengan sempurna. Hahahaha.."
"Jadi maksudmu aku harus menyusun rubik ini? " Tanya Rei.
"Hmm, sepertinya di kehidupanmu kau orang yang pintar dilihat dari benda itu. " Rei tersanjung dengan kata-kata itu dan membuatnya semangat. "Tidak, dia bodoh. " Tapi dipatahkan oleh Nike. "Jangan panggil aku bodoh!" Whale tertawa terbahak-bahak. "Hahahaha. "
"Terimakasih, Whale Mnemosine-san aku pasti aku menyelesaikannya." Tegas Rei. "Hmm, waktunya 48 jam dari sekarang. " Nike membungkuk memberi salam begitu juga Rei. Ikan paus itu dan ruangannya menghilang dan berubah menjadi ruangan kosong. Rei sangat percaya diri bahwa dia dapat menyelesaikannya dalam empat puluh delapan jam. Tetapi pada kenyataanya..
"Sudah kubilang kan kau itu bodoh, waktumu yang tersisa sudah kurang dari empat jam." Burung ini apa harus kubuat dja jadi steak? Ah, fapi tapi membayangkannya saja membuatku mual.Phw! Rei menjukurkan lidahnya. Nike mengangkat sebelah alisnya. "Aku susah yakin, tapi kenapa yang satu ini aku tidak bisa. Sialan! " Rei menjatuhkan rubiknya ke kasur. Nike mengambilnya dan melihatnya, dia memutar rubik itu. "Ada yang aneh. "
"Aneh? "
Nike mengangguk. "Rubik ini seperti kehilangan satu bagiannya. " Rei memeriksa rubik kembali, dia memeriksanya dengan teliti. Hingga dia tersadar. "Apa yang kau lakukan? " Rei membongkarnya lalu menyusunnya kembali hingga membuat rubik itu terbuka dan sesuatu jatuh dari dalamnya. "Hm?" Nike mengambil sebuah permata yang berbentuk kelereng itu dan memberikannya pada Rei. Pada saat Rei memegang itu dia merasakan tubuhnya seperti disetrum, muncul sebuah visual singkat yang membuatnya menjadi sesak. Rei pun terjatuh.
"Kau tidak apa-apa?"
"Ya. " Rei berusaha berdiri dibantu Nike. Rei memegangi setengah wajahnya. Tubuhku semuanya sakit. Rei duduk di atas kasur itu. Nike terdiam memandanginya. "Nike. "
"Hm? "
"Aku melihat seekor anjing. "
"Anjing? "
"Ya. Aku dijalan dan aku menggendongnya. "
"Lalu? "
"Aku tidak tahu, semua jadi kacau karena aku kesakitan dan saat aku tersadar itu selesai begitu saja. "
"Sayang sekali. " Nike mengangkat kedua tangannya. "Apa itu?" Nike mengambil secarik sobekan kertas yang berada di bawah kaki Rei dan naik ke pangkuan Rei yang membuat Rei terkejut. "Eh? Kau mau apa? "
"Baca ini. " Dia memberikan kertas itu kepada Rei. "verde brillante, apa maksudnya? " Rei mengangkat sebelah alisnya. "Hm, sepertinya itu bahasa prancis atau Italia. " Bilang saja kalau kau juga tidak tahu. Rei menghela nafas. "Kurasa aku punya kamus bahasa prancis dan italia, ayo ikuti aku! "
Mereka mencari di setiap rak yang ada disana, dimulai dari bawah, tengah, hingga atas. Tak terasa hari sudah semakin gelap. Rei merasa sangat lelah dan lapar. Suara perutnya seperti petir yang menggelegar. "Rupanya roh juga butuh makan." Gumamnya. "Mungkin karena sesikit ingatanmu kembali. " Nike yang turun membawa beberapa buku. "Ah begitu ya. "
"Ini." Nike memberikan buku-buju itu kepada Rei. "Aku akan menyiapkan makan malam, tunggulah. " Nike terbang entah kemana. Jadi dia bisa masak ya?
Aku pun membaca buku-buku itu, dan mencariinya satu persatu. "Tidak ada. " Tak memledulikan rasa laparku aku terus mencari. "Bukan. "
"Ini makanannya. " Kata Nike kepadaku, namun aku yang sedang fokus tak memperhatikannya. "Ya, terimakasih. Aku akan mamakannya nanti. " Nike kembali ke tempatnya membaca buku dan terus memperhatikan Rei. "Ketemu! " Rei mengambil pena dan kertas menuliskan kata lertama yang dia temukan hingga dia terjemahkan ke dalam bahasa jepang. "Hijau yang bersinar?" Nike mendekatinya. "Sudah kau temukan? " Rei memperlihatkan tulisannya. "Hm, aku sudah tau artinya. " Mendengar itu Rei langsung duduk dengan tegap memasang wajah kesal. "Kenapa tidak memberitahuku? " Rei bergumam dengan gertakan giginya. "Supaya kau bekerja. " Sialan! "Ini makanlah, aku sudah menghangatkan supnya. " Nike membawakan baki yang berisi roti, sup krim dan juga kue tart. "Terimakasih. Selamat makan! " Rei mencoba memakan sup itu. "Enaknya! Wah kau pintar memasak juga rupanya.. "
"Bukan aku. " Rei menghentikan makanannya. "Eh? "
"Mereka yang membuatnya. " Rei terkejut saat Nike menunjuk kearah belakang punggung Rei. Banyak kawanan marshmellow dan permen kapas yang berjejer, dan bekerja seperti di restoran. Apa-apaan itu? Jadi tergiur. Air liur Rei menetes dari mulutnya.
Rei masuk kedalam imajinasi terdalamnya bahwa dia aedang memakan marshmellow panggang. "Kyaa, kyaaa.." M1 berteriak ketakutan. Nike memukul leher belakang Rei hingga dia menyembur dan batuk-batuk. "Apa yang kau lakukan?! " Kesal Rei. "Seharusnya aku yang bertanya?! " Nike menghadang wajah Rei. Eh? Nike melipat kedua tangannya. "Lihat mereka jadi ketakutan gara-garamu. " Rei mengerutkan dahi kebingungan. Memangnya apa yang kulakukan, aku kan cuma ma-
Rei menutup mulutnya saat sadar. "Kau sudah ingat apa yang kau lakukan? "
Rei bersujud. "Maafkan aku.. " Mahluk-mahluk kecul itu mindur ketakutan. Ah, jelas mereka begitu aku hampir memakannya. Salah mereka juga sih kelihatan enak. Tibac tiba Rei menampar dirinya sendiri membuat yang lain terkejut. Ishigawa Rei, apa yang kau fikirkan seharusnya kau minta maaf. "Sekalilagi, aku minta maaf. " M1 terenyuh dengan permohonan maaf Rei, dia sedikit demi sedikit mendekati Rei. Tangan mungilnya mengelus rambut Rei.
Rei pun bangun dan menyodorkan tangannya. M1 menaiki tangan Rei. "Terimakasih. "
"Kyukyu. " kata M1. Rei menoleh ke arah Nike memasang wajah penasaran. "Maksudnya dia memafkanmu. "
"Kyuukyaagrahh! " Lah kok jadi seram? Wajah Rei jadi tegang melihat mahluk kecil ditangannya berbicara padahal dia tidak mengerti apa yang dia ucapkan. "Katanya jangan terulang lagi, kalau terulang lagi.. "
"Kalau terulang lagi? "
"Krwaawwgrahhhjddrrkyaa.. Taaa.. Tuuu.." Apa yang mereka semua katakan? Apa mereka semua mengancamku? "Kata mereka, mereka akan bekerja sama membunuhmu." Sudah kuduga. "Begitulah. "
"Baiklah aku janji tidak akan mengulanginya lagi. " Rei menurunkan M1 dan mereka pun pergi meninggalkan Rei dan Nike. "Oya, terimakasih makanannya.."
Hari semakin larut, Rei kembali ke kamarnya. Dia menjatuhkab dirinya ke kasur terus memikirkan arti potongan kata itu. Apa yang sebenarnya terjadi padaku dan anjing itu? Rei pun terlelap dalam tidurnya. "Tidak, tidak,jangan!" Keringat bercucuran daei tubuhnya, Rei terbangun dari mimpi buruknya. Dia melihat kearah jendela matahari telah bersinar redup.
"Selamat pagi. " Sapa Nike namun Rei tak menjawab. Ada apa dengannya? Mahluk-mahluk kecil itu sudah semangat dengan kerjaannya. M1 melihat Rei yang melewatinya dan menyapanya. "Kyuuu. " Rei melirik dan hanya tersenyum kecil membuat M1 sedikit kesal dan membuang sapunya, mengikuti Rei. "kyuukyuukaaa.. " Nike yang melihat itu menghampiri mereka. "M1, serahkan padaku. " M1 pun pergi dengan wajah cemberut. Nike menepuk pundak Rei. "Ah Nike, selamat pagi. "
"Kau lapar? "
"Tidak. "
"Kau sakit? " Rei menggelengkan kepalanya.
"Lalu, apa kau menemukan sesuatu? " Rei terdiam sebentar dan menjawab. "Tidak. "
"Apa kau mengingatnya? " Rei menghentikan langkahnya, dan tubuhnya mulai runtuh. Dia melihat sekujur tubuhnya dan menutupi wajahnya dengan tangannya. "Rei, Rei?! "
"ini minumlah. " Nike membawakan segelas air untuk Rei. Dia meneguknya hingga habis.
"Anjing itu. "
"Hm?"
"Aku membawanya namun karena aku terjatuh, kami.. Kami.. "
"Tidak usah bicara dulu jika kau belum bisa untuk menceritakannya. "
"Kami tertabram truk, karena itu masih lampu hijau. " tegas Rei.
"Jadi begitu ya. "
"Anjing itu berwarna putih dan bulunya sedikit keriting. Apa kau tidak melihatnya? " Nike mnggelengkan kepalanya. "Jadi dia masih hidup ya?"
"Aku harap begitu, tapi kita tidak tahu pasti. " Nike mulai mengepakkan sayapnya. "Ingatanmu belum sepenuhnya kembali, aku punya sesuatu yang harus kau lakukan. "
Rei mengikuti Nike kesebuah ruangan abstrak dengan sebuah rak buku kecil yang berdiri disudut ruangan itu. "Deixe mou. " Saat Nike selesai mengucapkan kata itu, rak dan buku-buku itu bergerak dan berubah bentuk hingga memunculkan satu buku yang bersinar. Nike mengambil buku itu. "Ini bukalah disaat bulan sudah menuju atas kepalamu. "
Rei menerima buku itu. Buku misterius yang masih tertutup rapat.
"Apa ini salah satu ingatanku? "
"Kita lihat saja nanti. "
Otakku begitu kosong, aku merasa frustasi. Aku menatap langit-langit ruangan ini.
"Gelap. "
"Kau sesang melihat apa? " Nike yang baru datang. "Heo, Nike.. Apa disini tidak bisa keluar seperti taman atau melihat langit?"
"Ada kok. "
"Eh, ada? "
"Hm-mm. Kau mau kesanan? "
"Ya, boleh. "
Nike terbang diikuti Rei yang berjalan di belakangnya. Mereka cukup jauh berjalan. "Ternyata ada tempat seperti ini ya.." Banyak sekali pintunya.
Nike membuka salah satu pintu itu. Cahaya yang menyilau memasuki ruangan, Rei terkesima dengan pemandangan diluar, langit yang begitu biru, awan putih, sungai, bukit, taman yang hijau dan banyak lagi. "Apa ini surga? "
"Tidak, bukan. " Bantah Nike. "Bahkan aku pun belum pernah melihatnya, tidak ada yang tahu itu seperti apa. " Nike menatap langit.
"Begitu ya. "
"Eh, muncul darimana mahluk itu?" Nike menunjuk ke ujung semak-semak. "Anjing? "
"I-itukan.." Rei berlari kecil mendekati anjing itu, membiat Nike bingung. Rei jongkok didepan anjing putih yang ramah itu. "Ternyata kau disini. "
"Guk! "
"Dia anjingmu? " Rei mennggeleng. "Bukan, dia anjing yang ada diingatanku. " Nike langsung mengerti. Rei mengangkat anjing itu. "Maaf aku baru menemuimu, kurasa kita masih hidup. Aku kira begitu. "
"Guk! "
Nike mengawasi mereka yang asik bermain ditaman, Nike tersenyum. Kecil melihat wajah ceria Rei yang selama ini tidak ada padanya. Hingga tak terasa hari pun sudah menggelap.
"Ini makananmu. " Rei memberinya makan, anjing itu pun sangat lahap.
"Kenapa kau tidak memberinya nama? Sedari tadi kau hanya memanggilnya kau, anjing kecil. " celetuk Nike. "Nama ya? Hm.."
"Guk! "
"Lihatlah, sepertinya dia juga menginginkannya."
Rei pun memikirkan beberala nama dan menyebutkannya. "Bagaimana dengan Shiro, karena warnamu putih.."
"Rrrrr.. "
"Sepertinya dia tidak setuju. "
"Yuki? "
"Rrrr"
"Ichi, myeon, light, sam.. " Semua nama itu di tolak oleh si anjing.
"Tako.. "
"Guk! " Anjing itu melompat ke pangkuan Rei. "Kau menyukainya? " Dia mengangguk.
"Anjing bernama gurita, hmm.. Kedengerannya bagus. " Sambung Nike.
Mereka pun makan malam bersama, kecuali Nike yang terbang ke sebuah pohon yang berdampingan dengan jendela bulat yang besar mengarah ke langit. Perasaan kemarin tidak ada? Rei bertanya dalam hatinya.
"Kenapa dia tidak pernah makan bersama? " Gumamnya. Tak. Lama Nime kembali turun kehadapan mereka. "Wakwu makanwa diswana. " Nike berbicara sambil menguyah dan menyeruput makanannya. membuat Rei dan Tako ternganga. "Kalau boleh tau kau makan apa?"
"Ulat. Mau? " Tako dan Rei menggelengkan kepalanya. Nike mengahabjskan makanannya. "kenapa kalian tidak menghabiskan sisa makanan kalian? " Aku jadi ga nafsu.
"Habiskanlah!" Suruh Nike. "Oya, sepertinya bulan tidak muncul malam ini. "
"Darimana kau tahu? " Rei yang melanjutkan makannya.
"Karena aku burung hantu." Eh, benar juga..
Keesokannya harinya. Tako sudah membangunkan Rei dengan semangat. "Guk, guk! "
"Ah iya, bentar lagi.. " Rei masih dalam keadaan tertidur, air liurnya masih keluar. Dia memang susah bangun pagi setelah menjadi gamer dan jadi kebiasaan. "Guk, guk, rrr.. "
"Arghhh! " Tako menggigitnya pelan. "Kenapa kau menggigitku, Tako?!"
"Itu karena kau terlalu bodoh untuk bangun pagi." Nime yang baru datang. "Jangan panggil aku bodoh! "
"Rrrr.. "
Rei memasang wajah muram. "Ya, ya, aku bangun.. " Rei bangkit dari kasurnya, pergi ke kamar mandi, gosok gigi dan mencuci wajahnya.
Dia pergi menuju ruangan makan, melewari rak-rak buku yang besar. "Kyuu kyuu. "
"M1, Selamat pagi. Huaa. " Rei menguap. "Kyuu. "
"Kau belum bangun? " Nike yang baru datang. "Hm." Eei memasang wajah mengantuk. "Hei Nike, apa disini tidak ada roh selain aku? Atau hanya aku, ini lertama kalinya? "
"Kenapa bertanya seperti itu? " Nike menyodorkan semangkuk makanan anjing dan semangkuk susu dibantu mahluk-mahluk kecil lainnya untuk Tako. "Hanya penasaran saja. Karena aku tidak melihat manusia lain disini. "
"nggngg. " Tako meringkuk di bawah kaki Rei. "Kenapa kau? " Tanya Rei. "Kalian pergilah, terimakasih. " Nike menyuruh mahluk-mahluk kecil Itu pergi. "Jadi kau takut mereka ya.. "
"mmm." Rei mengangkatnya dan mengelusnya. "Tidak apa-apa mereka juga teman. Ayo makan!"
"Guk! " Nike melirik mereka dengan sebelah matanya sambil meminum teh hangat.
Hampir seharian Rei dan Tako mengisi waktu bersama. Mereka bermain ke taman, makan, tidur siang dan membaca buku dan mereka pun tertidur di meja. Nike tersenyum melihatnya, dia merasa tidak perlu mengkhawatirkan sesuatu. Dia merapikan buku-buku itu mengembalikannya ke tempat mereka masing-masing. Dia terbang berkeliling. Nike menoleh ke arah jam yang berdiri diatas ruangan itu. "Sudah waktunya." Dia pun terbang entah kemana. Jam berbunyi mengarah ke angka enam. Rei dan Tako terbangun. "Sudah jam enam. " Sahut Rei. "Grrr. " "Huaa. " Mereka berdua menguap bersama. "Tako, kemana semua bukunya?" Tako menggelengkan kepalanya. Apa Nike sudah membereskannya? Kalau difikir-fikir dia kan memang seperti itu, dia tidak suka hal-hal yang berantakan. "Oiya, kemana Nike?"
Rei dan Tako berkeliling mencarinya namun tidak ketemu, hingga dia bepapasan dengan beberapa kelompok Marshmellow yang dipimpin M1. "M1, kalian melihat Nike? "
"Kyoon. "
"Tidak? " Rei memgang dahunya, dan mengerutkan dahinya. " Tidak seperti biasanya, dia pergi tanpa jejak. Kemana dia sebenarnya? "
"Guk! "
"Aku juga tidak tahu, Tako."
"Kyaaakyuuuwayakaa."
"Ah, baiklah M1. Selamat bekerja semuanya. " M1 dan kelompoknya pergi dari ruangan itu.
Rei terus memikirkan kemana perginya Nike. Tiba-tiba tiba matanya membesar. Ah pasti dia sedang tidur disuatu tempat, dia kan burung hantu, hewan nokturnal. Rei berbicara dalam hati sambil mengangguk-anggukan kepalanya. Rei mengangkat wajahnya. Tapi tetap saja ini tidak seperti biasanya. Ah kenapa aku jadi mengkhawatirkan dia.. Tidak, kenapa harus mengkhawatirkan dia?! Rei mengacak-ngacak rambutnya sendiri. Tako kebingungan melihat tingkah majikannya itu.
sebuah gerbang besar itu mulai terbuka , banyak orang-orang berbaris disana menatap Nike yang memasuki ruangan megah itu. Eksperi yang berbeda ada disana, Nike sedikit melirik ke bagian yang kosong. Dia mendarat dan memberi salam kepada yang di hadapannya. "Aku Nike memberi salam padamu, Yang Mulia." Sosok itu tersenyum kecil.
Rei merasa lelah, dia dan Tako kembali ke kamar. Rei membaringkan tubuhnya. Dia kembali memikirkan Nike yang cukup lama menghilang, bahkan tidak ada di tempat dia tidur biasanya. Kemana dia sebenarnya, apa masih ada tempat yang belum aku tahu? Ah memikirkannya pun gerlalu rumit.
Saat aku melirik sisi kiriku aku melihat sebuah buku yang kemarin Nike berikan. Aku pun mengambilnya, melihatnya sedikit leboh lama. "Apa ini bisa? "
"Ngug. " Tako menghampiriku ke kasur dan tidur di sebelahnku. Aku mengelus-ngelusnya. Namun aku merasa kalau ini untuk terakhir kalinya. Aku pun tidak yakin, sebenarnya apa yang terjadi pada kami? Tak sadar mereka pun ketiduran.
Rei terbangun kaget karena jam berbunyi dan mengarah angka dua belas tengah malam . Cahaya bulan yang bersinar masuk ke dalam kamarnya. Dia teringat dengan buku miliknya, dia bergegas membawa buku itu ke tempat yang telah ditunjuk oleh Nike kemarin. "Bawalah buku itu kesini dan simpan tepat permata itu mengarah ke cahaya bulan." Tako yang mendengar langkah Rei pun ikut terbangun dan berlari mengikutinya. Rei menyimpan buku itu sesuai perintah. Saat permata kecil dalam buku itu terkena cahaya bulan, tiba-tiba tiba saja Rei seperti terhipnotis. Dia melihat kilasan masa lalunya. "Inikan? " Tubuhnya kaku, semakin dia masuk semakin terpisah jiwa dan tubuhnya . "Guk, guk, gyk! Ngg. " Tako menunduk khawatir saat panggilannya tidak dibalas oleh Rei. Hingga kecelakaan itu.
Rei terjatuh, Tako menyundulnya dan menjilatinya. Dia menoleh ke arah anjing itu dengan tatapan kosong. "Tako.."
"Ngg? "
"Aku ingat semuanya, aku ingat kecelakaan itu." Tako merubah posisinya ke posisi duduk. "Maafkan aku karena tidak bisa menyelamatkanmu. Maafkan aku jika saat itu aku melepasmu." Rei menumpahkan air matanya. "Maaf, maaf.." Anjing itu menghampirinya. "Tidak apa-apa. " Rei terkejut mendengar itu, dia mengangkat wajahnya dan menatap anjing itu. "Tako, kau bicara?" Tako menggerakan ekornya. "Apa aku sedang bermimpi? " Ah tapi..
"Tidak, aku memang bisa berbicara seperti Nike sejak awal tapi aku tak mau membuatmu takut. Tidak, mungkin aku yang takut untuk berbicara padamu. " Tako memegang fangan Nike. "Maaf." Rei memeluknya. "Rei? "
"Tako.. " Rei menangis sambil memeluk anjing itu. Tako merasa bahagia. Tapi sesuatu terjadi padanya, Tako mulai berubah menjadi butiran-butiran cahaya. "Tako, apa yang terjadi padamu?"
Tako tersenyum. "Sudah waktunya aku pergi, Rei. "
"Ehh?"
"Kau sudah ingat semuakan? Jadi kau pasti mengerti." Rei kembali menangis. "Tidak, jangan pergi! Jangan tinggalkan aku! "
"Tapi aku harus pergi, terimakasih telah menyelematkanku. "
"Aku tidak, aku membiarkanmu mati. "
"Jangan menyalahkan dirimu. Aku sangat berterima kasih padamu, aku harap kau cepat kembalu pada keluargamu." Anjing itu menghilang seperti debu dan teebang menjadi cahaya. Rei hanya terdiam menunduk.
Nike kembali. "Rei? " Dia menghampiri Rei yang terus duduk menunduk. Rei berdiri mengangkat wajahnya, menatap Nike dengan tatapan kosong. "Tako., Ta-ko su.. "
"Dia sudah pergi? " Rei terkejut kenapa Nike mengetahuinya. "Jadi keinginannya sudah tercapai ya. "Nike tersenyum kecil. "Apa maksudmu? "
"Rei, kau sudah mengingatnya kan? Bahwa Tako mati di depan matamu. "
"Kau sudah mengetahuinya? Sejak kapan? "
"Tidak ada yang aku tidak tahu." Nike mengepakkan sayapnya. "Lalu kenapa kau tidak memberitahuku?!"
Nike mendekatkan wajahnya pada wajah Rei. "Ishigawa Rei, saatnya kau buktikan bahwa kau masih hidup!"
Beberapa jam sebelumnya..
Nike memasuki sebuah ruangan yang dipenuhi orang-orang, ruangan itu begitu megah. Orang-orang itu nampak melihat Nike dengan tatapan dingin dan sinis. "Nike." Suara lembut yang menggemakan seisi ruangan. "Yang mulia. " Nike membungkuk memberi salam. "Kau membawakanku apa? " Nike memberikan sebuah mutiara yang bersinar emas. Orang itu mengambil dengan tangan besarnya. Dia melihat mutiara itu tersenyum kecil, lalu menggenggamnya. Dia kembali duduk tegak. Tiba-tiba saja seseirang menyela dengan kesal. Dia menggerutu. "Hei Nike, jangan berpura-pura kau! Kau tahukan kenapa kami memanggilmu?!" Nike menatapnya tajam. "Aku lebih tahu darimu, Herb."
"Kenapa kau menatapku seperti itu?! Kedudukanku lebih tinggi da.. " Seekor gajah disebelahnya menarik sebelah bahunya. "Herb, jaga sikapmu di hadapan yang mulia!" Seru Elphan. "Rrr."
"Apa masih ada yang ingin bicara? " Semua menunduk tidak berkutik saat orang itu bicara. "Nike."
"Ya, Yang mulia. "
"Siapa dia? " Orang itu menyilangkan kakinya. "Namanya Ishigawa Rei. "
"Ishigawa Rei, hmm.. Aku ingin meminta pendapat yang lain. Ariela, bgaimana menurutmu? " Dia menoleh ke seorang putri duyung yang membawa trisula yang berdiri di bafisan kiri Nike.
"Sebelum itu, aku ingin bertanya satu hal. Tuan Nike, kenapa kau sangat ingin mebantunya? "
Nike tersenyum kecil. "Hmm, entahlah. Tapi kurasa dia sangat menarik, mungkin dia adalah orang yang dapat membuka itu." Mendengar itu, seisi ruangan terkejut dan menjadi ricuh.
"Apa maksudmu?! "
"Itu mustahil. "
"Apa kau gila?"
Kata-kata itu semua menggema di seisi ruangan. "Ekhm. " Semua pun menghening.
"Apa kau yakin? " Tanya Ariela. "Tidak begitu, tapi saat ini mungkin ingatannya akan kembali." Jawab Nike. "Lalu jika ingatannya kembali apa yang akan terjadi? " Elphan menyela. "Heh, itu pasti tidak mungkin! " sinis Herb.
"Kita lihat saja nanti. Jadi, yang mulia bisakah kau percaya padaku?" Nike membungkuk. "Jaga ucapanmu!" teriak Ariela. Dia ingin terus berbicara namun dihentikan oleh Wanita itu.
"Baiklah. "
"Yang mulia, maaf tapi.. "
"yang mulia.." "Yang mulia.. "
Wanita itu berdiri membuat seisi ruangan terdiam. "Nike, buktikan padaku jika tidak aku juga akan menidurkanmu seperti Mnemosine. " Wanita itu mendekatkan wajahnya ke wajah Nike.
"Baik, yang mulia. "
Nike menghela nafas. "Kenapa? " Rei masih menatapnya dingin. "Kau harus segera keluar dari sini, Ishigawa Rei. "
"Ehh?"
"Ikuti aku, ada yang harus kau lakukan. " Apa yang dia maksud?
Mereka berjalan menelusuri lorong-lorong kecil diantara rak-rak yang penuh buku itu. Nike memilih satu bagian rak dan mengambil satu buku yang tak terlalu tebal. Dia menyodorkannya pada Rei. "Apa ini?"
Rei membuka buku itu. "Ehh? " Dia nampak sangat terkejut. "Ini puzzle?"
"Itu bukan puzzle biasa."
"Hmm? ".
"Kau akan mengetahuinya setelah memainkannya. "
Rei mulai menyusun puzzle geser itu. Papan puzzle yang sudah terlihat tua. Rei mulai menyusunnya . "Gambar gunung? " Tidak, tidak mungkin semudah itu. Nike tersenyum sendiri melihat keseriusannya. "sem-bil-an?" Gumam Rei.
Rei mengulang permainannya lagi. Dia menata kembali puzzle itu. Kyubi? Puzzle itu membentuk sebuah gambar seekor rubah berekor sembilan.
Tiga puluh menit kemudian...
Rei berjalan di belakang Nike dengan rasa khawatir karena dia merasa ada yang mengikuti dibelakangnya di belakangnya. "Masuk.. " Rei ternganga, dia melihat sekelilingnya. Seperti dalam game dan film, heh apa aku akan ditangkap? Rei mulai berkeringat. "Nike, Nike.. "
"Ishigawa Rei. " Wanita itu memanggilnya. "Yang mulia.. " Nike membungkuk memberi salam begitupula dengan Rei. "Aku telah membawanya. " Ehh, Nike diusruh olehnya? Bagaimana ini, apa yang akan mereka lakukan padaku? Apa aku harus kabur? "Areila, tolong bawa itu! " Suruh sang Ratu. "Kalian bawa itu masuk! " Suruh Ariella pada para bawahannya.
Para prajurit itu membawa berkas kayu tua yang sangat besar . A-apa itu?! Rei melirik Nike dengan kaku dan wajahnya yang begitu abstrak. "Eh-hm. " Nike mendeham. Benda itu disimpan tepat di mata Rei. "Ishigawa Rei.. " Suara itu menggema. "I-iya."
Ratu tersenyum. Prajurit silih berganti dan terus masuk dengan kotak-kotak kayu yang lain, dan ada tiga kotak yang di bawa masuk dari ukuran besar, sedang dan kecil. "Ishigawa Rei, maaf tapi kami, tidak, aku ingin meminta tolong padamu. "
"Meminta tolong? Padaku? "
"Ya. "
Dia melirik ke arah Nike beberapa detik. "Baiklah. Jadi, apa yang harus aku lakukan? "
"Jaga kata-katamu anak muda, kau fikir siapa kau berbicara santai begitu pada yang mulia! " Gertak salah satu jendral disana. Sang Ratu menengadahkan telapak tangannya. "Tidak apa-apa, Jalel. "
"Maafkan saya, Yang mulia. " Jalel melirik tajam ke arah Rei. Yahh, kepala elang itu menakutkan..
"Ishigawa Rei, tolong bantu kami membuka peti-peti ini."
"Hmm, memangnya kalian tidak memilikinkunci untuk ini?" Ratu menggeleng. Ehh? "Ini adalah peti-peti yang kami dapatkan dari dungeon, membukanya memerlukan sihir. Dan beberapa tertulis bahasa kuno yang tidak bisa kami baca. " Sambung Ariela
"Tapi, aku kan tidak bisa menggunakan sihir. Kenapa tidak minta Nike saja?
"Aku menolak. "
"Apa?! "
"Ini adalah ujian untukmu, Rei. "
"Ke-kenapa? "
"Kau mau kembali ke duniamu kan? Jadi, lakukan saja! "
Rei menghela nafas. "Memangnya apa hubungannya.. "
"Hanya kau yang dapat melakukannya, jadi aku percaya padamu. "
"Baiklah, aku mengerti. " Rei mencoba membuka berkas itu dimulai dari kotak yang terkecil. Dia meraba-raba kotak itu, ada suatu relik disana. Inikan! "wajah menjadi cermin jiwa. " Saat Rei membaca tulisan yang ada di relik itu, kotak itu mengeluarkan sinar biru yang terang dan kotak itu pun terbuka. "Mu-mustahil! "Elphant terbelalak. Rei melihat isi di dalamnya dan dia terkejut. "M-ma-masker?!"
"masker? " Serentak seisi ruangan. "Rei ini masker yang mana?" Bisik Nike. "Ini untuk perawatan wajah." Jawabnya. Nike membawa peti itu ke hadapan Sang Ratu. "Yang mulia, ini adalah masker khusus perawatan wajah. " Mata Sang Ratu langsung berbinar. "Benarkah itu?"
"Ya, Rei yang bilang. "
"Umm ya, itu salah satu benda untuk merawat wajah agar kulitnya tetap sehat." Rei terkekeh tetapi dalam hatinya dia bertanya. Kenapa harta karun dungeon masker, dungeon macam apa itu? Ah, mungkin hanya kebetulan. "Rei?" Nike yang membangunkan lamunannya. "Ya? "
"Bukalah kotak yang selanjutnya."
"Ah, baiklah. " Rei menghampiri kotak yang sedang. Dia terpaku dengan relik yang menyerupai angka. Hehh, inikan aritmatika? Kening Rei berkeringat. Relik itu bertuliskan jika suku ke-3 adlah 24 dan suku ke-6 adlah 36 maka jumlah suku ke 15 adalah..
"Umm?" Nike mengangkat sebelah halisnya melihat Rei yang terus bergumam menghitung angka-angka itu, begitu pula yang lainnya. "Jawabannya 660!" Tegas Rei. Tiba-tiba, kotak itu berkata. "Excellent! " dan terbuka. Ehh? Aku penasaran isinya apa? Gumam Rei dalam hati.
Rei pun melihat isi kotak itu. Cup ramen?! "Rei, ada apa? " Nike menghampirinya dan melihat isi kotak yang membuat Rei begitu tercengang. "Ouhh. " Nike menyipitkan matanya. "Ada apa, Oshigawa Rei, Nike? " Tanya sang Ratu. "Apa yang ada di dalamnya? "
"Yang mulia, sepertinya saya butuh bantuan Jelal untuk membawanya ke hadapan anda. "
"Jelal, bantu Nike. "
"Laksanakan, Yang mulia. " Jelal menghampiri Nike dan Rei melihat isi kotak itu dia pun imut terkejut. Ini? "Jelal, bantu aku membawanya. "
"Baik. " Mereka pun memperlihatkannya pada Sang Rati dan yang lainnya. "Apa itu? " Ariela terbelalak. "Itukan?!" Elphant tercengang. "Kau mengetahui sesuatu, Elphant? " Tanya sang Ratu.
"Iya Yang mulia, setahu saya itu adalah makanan bernama ramen berasal dari Jepang. "
"Benarkah itu, Ishigawa Rei? "
"Ya, dia betul. Elphant-san, bagaimana kau bisa mengetahuinya? "
"Soal itu.. "
"Hmm? "
"Beri tahu, Elphant! " Suruh Sang Ratu. "Anu, itu saya dulu pernah menyamar ke dunia manusia dan mencobanya tapi yang versi asli dan saat aku ke tempat yang bernama minimarket saya melihat ramen dengan kemasan seperti itu. Itu adalah cup ramen, yaitu ramen instant yang siap di masak dan tidak memerlukan waktu lama untuk memasaknya. Iyakan, Rei-dono?"
"Wah, kau mengetahui banyak rupanya. "
"Menarik!" Semua jendral, prajurit dan juga Nike semua terkejut melihat Sang Ratu berdiri. "Yang mulia?! " Ehh, gedenya! "Menarik sekali, aku ingin mencobanya.." Sang Ratu turun dari tahtanya menghampiri Rei dan Nike. "Ishigawa Rei, buatkan untukku! " Sang Ratu membungkuk menghadapkan wajahnya ke wajah Rei. Gedenya! Rei menelan ludah. "A-anu, punya air panas? "
"Air panas? " Rei mengangguk. "Ya, butih air panas untuk membuatnya. " Deket banget, menakutkan! "Yang mulia, jika berkenan saya dapat menyiapkan air panasnya. " Sambung Nike.
Sang Ratu kembali berdiri. "Baiklah, Nike siapkan air panas dan Ihigawa Rei buatkan aku ramen itu!"
"Baik!"
Setelah beberapa menit..
"Enaknya! " Seisi ruangan terpelongo melihat ekspresi Sang Ratu yang tak biasa saat menikmati cup ramen. "Sungguh luar biasa, aku tak menyangka ada makanan seenak ini.. "
"Yang mulia. " Gumam yang lainnya.
Tiba-tiba Ratu berhenti makan dan mendeham. "Ishigawa Rei. "
"Ya? "
"Ini makanan yang enak, tapi aku ingin kau membuka kotak terakhir untukku. "
"Baiklah. "
Rei pun bersiap untuk membuka kotak terakhir. Dia menatap kotak itu sedikit lebih lama, apa yang sebenarnya tertulis disana?
Rei membaca tulisan-tulisan itu. "Rubah rubah cantik siapa namanya. Rubah rubah cantik menari-nari. Rubah rubah cantik dialah wujudnya. " Hah? Rei mengerutkan wajah. Tiba-tiba kotak itu bergetar kencang, seisi ruangan terkejut. Para jendral dan prajurit siap melindungi Sang Ratu. Rei melangkah mundur ke belakang. "A-apa ini?! " Kotak itu hancur seketika. Asa Ok tebal menyelimutinya, dan terlihat samar sosok yang sangat besar tiba -tiba mengibas ekornya. Semua terbelalak termasuk Rei, kakinya gemetar hingga tak dapat bergerak dan dia terjatuh. "Kyuubi? " Gumam Nike. Rei menoleh ke belakang lalu kembali lagi ke depan. Dia berteriak. "Ehh?!"
Kyuubi adalah mahluk mitos berupa rubah yang memiliki sembilan ekor. Rubah itu mengaum lalu tersenyum ke arah Rei yang sedang setengah mati ketakutan. "Rei, sepertinya dia menginginkanmu. " Celetus Nike. "A-apa? " Rei sangat gemetaran, tubuhnya membeku. Dia tidak tahu harus melakukan apa. Rubah itu terus menatapnya ramah, meski begitu Rei tetap takut. "Sepertinya kau telah dipilih, Ishigawa Rei. " Ujar Sang Ratu. Banyak orang saling berbisik, kecuali para jendral.
Rubah itu mendekatkan wajahnya ke wajah Rei. Wajah yang besar dan mata yang bulat tajam itu sangat dekat di hadapannya. Tiba-tiba saja rubah itu menjilati Rei yang terduduk kaku disana, membuat semua orang terkejut. "Wah, Kyuubi yang buas pun tunduk di hadapanmu ya. " Celetusan Nike membuat yang lainnya bertepuk tangan. Tetapi Rei hanya terdiam melamun. Rubah itu terus berlaku manja di depannya.
"Ishigawa Rei, terima kasih telah membantu kami. "
"Tidak masalah. Tapi... " Rei melirik ke sebelahnya.
"Kyuubi aku yang akan mengurusnya bersama yang lain. " Rei menghela nafas lega. "Aku kira.. " Ehh? "Ya, aku akan menyuruh Ariela untuk mengurusnya dengan lembut. "
"Laksanakan, Yang mulia! " Ariela menundukan kepalanya.
"Lembut?" Gumam Rei. "Kalau tidak dia bisa mengamuk. " Bisik Nike padanya. Seketika bulu kuduknya berdiri, lalu melirik rubah itu lagi. Terlihat rubah itu tersenyum kepadanya. "Sia benae-benar menyukaimu, Rei. " Bisik Nike lagi. Wajah Rei menjadi lesu.
"Ishigawa Rei sebagai rasa terimakasih , apa kau menginginkan sesuatu sebagai imbalan? " Rei berfikir tentang itu. Apa yang aku inginkan? Dia terus berfikir di dalam hatinya hingga dia memutuskan. "Bisakah bantu aku untuk melihat apa ini benar-benar sudah mati? "
Sang Ratu menegakkan tubuhnya. "Aku punya pertanyaam sebelum itu. "
"Apa itu? "
"Bisakah kau menahan siksaanya?"
Akhirnya Rei telah kembali ke dalam perpustakaan Bibliotecha tiga hari yang lalu . Dia merasa jadi sangat rindu dengan tempat ini setelah pergi ke istana sang ratu.
"Akhirnya.. " Ya ampun disana itu membuat bulu kudukku merinding.
Selama tiga hari aku menjadi sangat rajin membaca buku-buku yang ada disini. Entah mengapa aku tidak mau kesana lagi. Tetapi aku terus memikirkan apa yang dikatakan ratu, namun hingga hari ini tidak terjadi apa-apa padaku. Apa dia menipuku? Tch! Rei mendesis .
Saat aku baru saja akan melelapkan tubuhku, ada sesuatu yang menjilatiku. Sontak aku terbangun, dan saat aku melihat ternyata ia adalah rubah itu. Tapi kenapa dia bisa? Tubuhku tak mau bergerak sedikit pun setelah melihatnya. "Ni-n-nike. " Suaraku tak mau keluar. Keringat mulai membasahi wajahku. Sial kenapa dia bisa kesini?!
"Tuan, tuan.. " Siapa itu? Terdengar suara perempuan. "Siapa kau? K-keluar! "
"Aku di sampingmu tuan. "
"A-ap-apa? "
"Aku disampingmu." Hmm? Aku memberanikan diri menoleh dan aku begitu terkejut melihat rubah itu masih disampingku. "Kkkau bisa berbicara? " Rubah itu mengangguk. "Kkkau perempuan? " Rubah itu mengangguk lagi. "Eh?"
"Maaf membuatmu terkejut, aku hanya ingin menemuimu. "
"Kenapa mau menemuiku? " Aku berharap ini mimpi. "Ada yang ingin ku katakan padamu, tuan."
"Mau bilang apa? " tanyaku
"Te-terimakasih. " jawab rubah itu malu-malu. "Eh? "
"Kau telah melepaskanku dari sana, bukan? "
"Maksudmu kotak itu? " Rubah mengangguk. "Begitu rupanya. Ngomong-ngomong, kenapa kau bisa berada di dalam sana? " Telinga rubah itu turun dan dia membungkukkan sedikit badannya tanda dia ketakutan.
Rei yang melihat itu merasa iba. "Kalau begitu tak usah cerita. " Dia membuang muka. Rubah kembali berdiri dan menghampirinya. "A-aku akan bercerita!" Gila suaranya gede banget, dia membuatku terkejut saja!
Rei menatapnya. "Baiklah. "
Rubah itu berubah jadi kecil. "Eh, kau bisa mengecil? "
"Ya. "
"Kenapa tidak sejak awal? "
"Maaf.. "
"Lupakan saja, bukankah kau ingin bercerita. " Rubah itu naik ke pangkuan Rei dan dia pun duduk di pangkuannya. "Jadi begini ceritanya.. " Pasti dia disegel seseorang dan terjebak di kotak itu. "seratus tahun yang lalu.. " Ini dia! "Aku sedang bermain-main di sekitar dungeon dan aku melihat banyak kunang-kunang disana aku senang sekali, lalu aku mengejarnya tapi ternyata disana begitu banyak jebakan, dan aku mengenai salah satunya hingga aku terjatuh, lalu terguling dan akhirnya aku terjebak di dalam kotak dan terkunci selama seratus tahun. " Eh..
"Itu sangat sangat menakutkan, disana gelap sekali!" Rubah itu mukai menangis. "Membayangkannya saja membuatku takut. " Rei ternganga. Rubah itu mengusap air matanya. "Maaf.."
"kenapa meminta maaf? "
"Karena amu sudah menangis didepanmu. " Rei tersenyum kecil. "Tidak perlu khawatir. Ya, syukurlah sekarang kau sudah bebas. " Rubah itu mengangguk senang.
"Tuan boleh aku tahu namamu? " Tanya si rubah sambil mengibaskan kesembilan ekor kecilnya. "Namaku Ishigawa Rei, panggil aku Rei. " Dia terlihat begitu senang. "Tuan Rei, terimakasih!"
"Ya. Lalu namamu? "
"Kasane, namaku kasane. "
"Ah, Kasane kau.. " Belum selesai Rei berbicara, Nike datang dengan terburu-buru. "Rei, Rei.." Saat dia melihat Kasane yang berada di pangkuan Rei dia menghentikan kepakan sayapnya.
"Kau?! " Rei sadar kalau yang dimaksud Nike adalah Kasane. "Ya, dia bersamaku. "
"Begitu ya. "
"Ada apa? "
"Kalau begitu ikut aku ke Sang Ratu. " Eh? "Soalnya dia hanya menurut padamu saja. " Rei melirik Kasane yang meringkukkan tubuhnya. "Tak kusangka dia bisa berubah jadi kecil. " Bahkan burung hantu ini juga terkejut, tidak kusangka. "Ayo Rei! " ajak Nike.
"Baiklah, Kasane ayo aku akan mengantarmu. Kau harus segera pulang pada Sang Ratu. " Kasane tetap meringkuk. Rei mengangkat tubuh kecilnya. "Apa yang kau takutkan? " Telinga Kasane turun. "Aku tidak mau menjadi senjata, aku tidak mau menyakiti siapapun." Rupanya kyuubi juga bisa selembut ini. Nike mengerutkan dahi melihat mereka saling berbicara. "Kalian saling bicara? " Rei spontant menoleh ke arah Nike. "Eh? Kau tidak mendengar dia bicara? "
"Memangnya dia bisa bicara? "
"Eh? "
"Sudahlah jangan mengada-ngada, apa otakmu semakin bodoh karena terus memikirkan bagaimana kau bisa kembali.. "
"Tidak, tidak, dia memang bisa bicara. Sejak tadi kami berbicara, lihat namanya adalah Kasane. " Rei mengangkat rubah itu dan menyodorkannya ke wajah Nike. "H-halo. " Sapa Kasans tetapi Nike tidak mengerti. Rei mulai curiga jika hanya dia yang bisa mengerti bahasa rubah. Tapikan aku manusia!
"Sudahlah, kita segera kesana! " Suruh Nike. Mereka pun pergi ke istana Sang Ratu. sesampainya disana mereka sangat terkejut dengan bentuk Kasane yang kecil yang di gendong oleh Rei dalam pelukannya.
"Itu kyuubi? " celetus Elphant. "Ya. " Jawab Nike dengan singkat. "Mustahil! " Kasane turun dari pelukan Rei dan membesar. Dia pun duduk di hadapan Sang Ratu dan para jendral. "Yang mulia, saya rasa rubah ini sangat msnyukai Rei. Bahkan Rei berkata bahwa dia dan rubah itu saling berbicara satu sama lain. " Semua orang terbelalak saat Nike menjelaskan hal itu. Mereka saling berbisik, bergumam dan berdebat satu sama lain hingga mereka pun terdiam ketika Ratu mulai berbicara. "Apakah benar, Ishigawa Rei? "
"Ya, itu benar. "
"Apa yang kalian bicarakan ?"
"Sebelum itu, apakah aku boleh menanyakan sesuatu hal? "
"Tentu. Katakan."
"Apakah kau akan membuatnya menjadi senjata? " Rei menatap tajam pada Sang Ratu dan itu di protes oleh para jendral, tetapi Ratu membiarkannya. "Ya, dia adalah salah satu aset berharga, tapi tentu dia masih kami rahasiakan. "
"Apakah untuk perang? Perang dengan siapa? " Sang Ratu tersenyum kecil. "Ada apa Ishigawa Rei, apa rubah itu membicarakan sesuatu padamu? "
"Ya, dia berbkcara kepadaku dan memkntaku memberitahukannya pada kalian semua dan aku akan mengatakannya sekarang. Jangan paksa Kasane menjadi senjatamu."
"Rei? " Bisik Nike. "jangan bercanda kau! " Para jendral berteriak padanya.
"Hoo.. " Ratu duduk tegak. "Apakah namanya Kasane? "
"Ya.. "
"Kenapa dia tidak mau menjadi senjata? " Mendengar itu Telinga Kasane mulai turun dan dia mulai membungkuk. "Dia takut, katanya dia tak mau menyakiti siapapun. "
"Jadi benar ya kau bisa berbicara dengannya. "
"Memangnya kalian tidak?"
"Sudah ku bilang, kami tidak mengerti. Hanya kau saja yang dapat mengerti bahasanya. " Sambung Nike berbisik.
"Benarkah?! "
"Ya. " Lanjut Sang Ratu. Rei melirik ke semua orang dan mereka mengangguk iya. Ehh padahal kan mereka semua hewan, kok gak bisa ngerti bahasa rubah? Atau jangan-jangan..
"Haha. menarik! " Semua terkejut melihat Ratu yang tertawa puas. Baru kali ini seperti ini. "Ishigawa Rei, kau sangat menarik. Bagaimana keadaanmu? "
"Ahh, tentang itu? Aku tidak merasakan apapun seperti yang kau bilang hari itu, hingga kini aku merasa baik-baik saja. "
"Begitu ya. Baiklah terimakasih telah mengantar Kasane kembali padaku kalian boleh kembali, Nike. "Baik, yang mulia. Ayo Rei! "
"Tunggu dulu! Kau belum berjanji untuk tidak menjadikannya senjata. "
"Kalian sudah berteman ya. Baiklah, aku janji."
"Aku pegang janjimu. Kalau begitu aku pamit. "
Mereka pun meninggalkan istana. Nike melirik Rei yamg berwajah serius. Tiba-tiba saja Rei terjatuh dan memegangi kepalanya. "Rei? " Nike berhenti di sampingnya.
Disaat itu kesadarankua hanya setengahanya, dadaku sangat amat sesak dan sulit bernafas. Kepalaku sakit dan tubuhku sulit digerakkan. Itukan?! Aku tercengang karena saat aku sadar aku telah berada di sebuah ruangan yang tidak asing. Aku melihat tubuhku yang terbaring di ruangan rumah sakit . Aku melihat diriku yang sedang ditangani para dokter, mereka memacu jantungku dengan defibrillator. Dan aku melihat kedua orang tuaku disana. "A-yah.. Ib-u.. " Semua menjadi gelap seketika. Apakah ini yang dimaksud Sang Ratu.
Tiga hari yang lalu..
"Apa aku masih hidup? "
"Sebelum aku menjawabnya, apa kau siap menerima rasa sakit sebagai imbalannya? "
"Ya. Aku siap! "
"Kalau begitu, kau masih hidup. "
"Lalu kenapa aku masih disini? Kenapa aku tidak kembali? " Saat bertanya itu di saat itu, dia tidak menjawab apapun dengan alasan jika dia memberitahuku itu akan membuatku semakin kesakitan, jadi aku harus cari tahu sendiri.
Kini aku mengerti bahwa aku sedang dalam keadaan koma dan kritis. Dan aku pun merasakan sakit itu, sakit yang ada di tubuh asliku.
Rasa sesak didada, tubuhku yang dingin dan kaku, kepalaku serasa tertimpa beban yang berat.
"Hai, Rei... Kau tidak apa-apa? Hei! " Bahkan suara Nike memudar sedikit demi sedikit.
Aku membuka mataku seketika. Aku melihat tubuhku terbaring dikamarku ditemani Nike dan Kasane.
"Dia telah sadar! " Seru Kasane. Nike menutup bukunya. Dia memeriksa keadaanku.
"Uhm, uhm, tidak ada masalah. "
"Kenapa aku bisa ping... " Aku pun teringat lagi hal yang terjadi sebelumnya.
"Kau sudah ingat? " Tanya Nike. Aku mengangguk. "Kalau begitu, jika kau ingin kembali kau harus terus memecahkan sebuah misteri. "
Nike menuntunku ke depan pintu sebuah yang berukuran besar. "Pintu ini telah terkunci selama seribu tahun. "
"Ehh? Jangan-jangan... " Nike mengiyakan. Rei memandangi pintu besar itu. bagaimana aku bisa membukanya?
Nike menunjukan sebuah layar ponsel yang tertempel didinding sebelah pintu itu. "Ini. "
"Game tetris?!"
"Jadi itu namanya? Kau sepertinya mengerti jadi langsung kerjakan! "
"Terus kau mau kemana? "
"Ingat, aku adalah burung hantu! "
Rei memainkannya dengan serius level demi level. Kasane setia menemaninya hingga ia ketiduran, lalu pergi mencari dan membawa makanan. Dan terus diulang.
Tiga hari kemudian. "Se... lesa... " Rei yang kelelahan langsung ditangkap Kasane karena tak sadarkan diri dan tidur dengan pulas.
Malam itu Nike datang kesana untuk memeriksa membawa beberapa suruhan Ratu. "Wahh! " Mereka terkesima karena Rei bisa membuka pintu yang tidak dapat mereka buka selama ribuan tahun.
Mereka membuka pintu itu dan masuk kedalamnya. Sekumpulan harta karun yang mewah tertumpuk didalamnya.
Namun, ada satu kotak yang dijaga oleh sihir hitam dan tidak dapat mereka dekati. Anehnya, Rei dapat mendekatinya. Ia pun disuruh untuk memegang kotak itu.
Saat kotak itu dipegang, keluarlah sesosok bayangan berjubah dan bertudung hitam membawa
sabit yang besar. "Siapa kau, berani-beraninya mengusik tempatku!"
"Anu, Namaku Ishigaki Rei dari Tokyo 16 tahun. " Santai banget dah.
"Mau cari mati kau! "
"Maaf, tapi aku udah mati. " Bayangan itu tercengang. "O... omong kosong! " Laah dia gampang ditipu, tapi itu asli sih.
Rei menoleh ke belakang melirik Nike. Jangan cuma ngomong doang dong, bantulah aku! Rei menggerakan bola matanya.
"Apa yang kau inginkan, bocah! "
"Cuma ingin tahu, kenapa diem dikotak ga diistana aja? "
"Uhmm... Itu.... Anu, itu sih... Bukan urusanmu!"
"Mau main game, game apa yang kau suka? "
"Aku suka main suit. "
"Ok, kalau aku menang mereka boleh miliki kotak itu kalau kau yang menang kau bisa membunuh kami. "
"Rei-dono, kenapa?! "
"Jangan berisik, aku tidak akan kalah. " Dasar Gajah Penakut.
"Hohoho... Kau percaya diri sekali bocah! Kau hanya ingin hidupkan? "
"Batu, gunting, kertas! " Refleks si hitam itu mengikuti gerakan Rei.
"Aku menang! " Rei memberi gunting, sedangkan dia kertas. Babak kedua dimenangi lagi oleh Rei hingga kali terakhir di babak ke sepuluh.
"Siapa namamu? "
"Baru ditanya?! Namaku White. "
"Namamu tidak seperti dirimu. " Rei membuang wajah.
"Jangan ngejek! " white menghela nafas pendek. "Hei bocah, kau mau buat perjanjian denganku? "
"Ehh, aku ga tertarik. "
"Dengerin dulu, berengsek! Ah, kau tahu aku adalah malaikat maut. "
"Masa? " White sangat jengkel. "Kalau kau hidup hingga lima puluh tahun kau menang, tapi jika kau hidup kembali hanya untuk mati kau harus jadi pesuruhku. Bagaimana? "
"Biar kufikirkan dulu. "
"Tidak. Ini adalah kontrak dari kepemilikan kotak yang sudah kau pegang."
"Tu... tunggu!" Rei membuka matanya namun tubuhnya susah bergerak.
"Dokter, dia telah sadar!"
"I... bu."
Keadaan Bibliotecha sangat sepi dengan kepergian Rei, khususnya Kasane. Dia terus meringkuk dan menurunkan kedua telinganya.
Rei telah terbangun dari koma selama dua minggu. Dia masih harus menjalani terapi pemulihan, sehingga harus tetap berada dirumah sakit hingga dia sembuh.
Teman-temannya pun telah mengunjungi dia. Rei tidak ingat apapun mengenai Nike, Bibliotecha dan yang lainnya. Yang dia ingat hanyalah kecelakaan itu, dan katanya anjing yang dia selamatkan telah mati.
Satu bulan berlalu. Saat itu, Rei sudah dapat berjalan sendiri.Tetapai masih harus menjalani terapi karena gerakan tangannya yang masih kaku.
Rei keluar dari kamar mandi, namun tiba-tiba dia merasa sangat pusing dan matanya menjadi buram. Dia juga merasa sakit dibagian ulu hatinya dan terjatuh.
Dan saat dia terbangun, dia telah berada disebuah perpustakaan kuno yang besar. Dia melihat Seekor burung hantu dan sesosok bayangan hitam membawa sabit besar menyambutnya.
"Selamat datang di Bibliotecha. " Sahut Nike.
"Dan selamat kau akan menjadi bawahanku. " Sambung White.
ULKH!
Kasane menjilati wajahnya. "Selamat datang! " Dia mengibasi ekornya.
"Apa aku sudah mati?"