[08 November 2004]
Dorr
Suara peluru yang ditembakkan menggema diseluruh penjuru ruangan, pemuda yang tadi sempat menarik pelatuk pistol tersenyum puas. "Bagaimana? Zie? kau masih ingin bangkit dan menyelamatkan kekasihmu itu?"
"Zack, aku sudah berjanji untuk menyelamatkan Aluna, uhuk, aku tak akan mengingkari janji itu." ucap lelaki yang bernama Fernzie, tangan lelaki itu memegangi dadanya yang kini mengalir darah yang juga mengotori bajunya.
"Ck, ck, ck. Bagaimana kau akan menepatinya? kau sendiri sudah lemah tak berdaya. Aku jadi kasian," Zack, pemuda itu menyeringai saat melihat tubuh Fernzie yang sudah ambruk ke lantai.
Fernzie tak membalas perkataan Zack, dirinya kini menggumamkan kata maaf sebanyak-banyaknya. "Maaf Aluna, a-aku tidak bisa menepati janjiku. Maaf...."
••••
[01 Desember 2021]
"Sssshh, hah? Aku dimana? Mengapa tempat ini sangat asing bagiku, dan kenapa aku tak merasakan rasa sakit di dada kiriku? Bukannya waktu itu aku ditembak oleh Zack?" Fernzie merasa kebingungan, kemudian dirinya bangkit dan duduk.
"Kamar? ini kamar siapa? Mengapa aku bisa disini?" ungkapnya sembari melihat sekeliling yang terasa asing, kemudian Fernzie reflek memegangi kepalanya lantaran merasakan sakit yang luar biasa. "Argh! Kenapa kepalaku bisa sesakit ini?!"
Tiba-tiba saja Fernzie tak sadarkan diri, dirinya terjatuh pingsan. Namun bagi Fernzie ini bukan sekedar pingsan biasa.
30 menit kemudian....
"Hah! Jadi ini sudah 17 tahun setelah kejadian itu? Tapi mengapa aku bisa hidup kembali diraga keponakanku sendiri?! Ini sangat tidak masuk akal!" gerutunya yang baru beberapa menit terbangun, tangannya memegang-megang pipinya dan tangan yang satunya memegangi cermin yang ditemukannya di nakas.
"Ini lagi, kenapa wajahku jadi baby face?! Ck sangat merusak penampilanku yang dulu, tapi setidaknya adikku itu menuruti permintaanku yang terakhir. Tapi walau aku ditubuh ini aku akan tetap membalaskan dendam ku, dan sebelum itu aku akan menjalani hari-hariku sebagai siswa SMA."
🦋Permintaan Fernzie kepada adiknya sebelum berangkat menyelamatkan kekasihnya🦋
“Kenzie, berjanjilah jika aku tiada sebelum aku memiliki seorang anak, maka gunakanlah namaku untuk anakmu."
••••
"D-daddy?" ucap Fernzie terbata-bata, jujur saja dirinya merasa tidak nyaman memanggil sosok adiknya dulu sebagai ayahnya. 'Ck aku sangat malu' -dalam hati
"Iya? Kau terlihat gugup, ada apa? Apakah ada yang kau pikirkan saat ini son?" Dahi Kenzie mengerut kebingungan, biasanya putra tunggalnya itu akan langsung bermanjaan kepada istrinya--ibu Fernzie Athalio Aezgar (nama Fernzie saat ini).
"Emm, aku boleh berlatih beladiri? bermain pistol? atau menggunakan belati?" Jelas sekali pertanyaan itu membuat Kenzie bingung, tadinya anaknya itulah yang akan menolak jika dirinya meminta anaknya itu untuk berlatih bela diri. Tapi disisi lain dirinya juga bangga, akhirnya anaknya akan mengikuti jejaknya yang dulunya Kenzie juga mengikuti jejak kakaknya--Fernzie Claude Aezgar.
"Tentu saja son, daddy akan mengajarimu. Tapi sebelum itu daddy ingin meminta sesuatu darimu,"
Fernzie mengernyit bingung, meminta sesuatu? Ck, ini yang sedikit menjengkelkan dari adiknya. Sering kali meminta sesuatu sebagai imbalan (syarat) sebelum melakukan apa yang disuruh. Dan ternyata sifat itu masih menempel pada adiknya hingga saat ini.
"Tentang apa?"
"Daddy memintamu untuk berhenti bermanja dengan mommymu itu. Ingat ini dia adalah istriku, jadi harusnya aku yang berada diposisimu, son!"
Dalam hati Fernzie menyeringai, ohoho ternyata putra adiknya ini suka bermanja-manja dengan istrinya yang merupakan ibu kandung putranya? hmm ini akan menjadi hal yang bisa ia gunakan untuk....ancaman? maybe?
"J-jadi daddy mengancamku?" Mata Fernzie berkaca-kaca, berbeda dalam hatinya yang sedang tersenyum puas melihat Kenzie yang kelimpungan.
"MOM-----" Belum sempat Fernzie berteriak Kenzie sudah duluan membekap mulutnya, "sssst, sssst, sssst! B-baiklah aku akan mengajarimu tanpa syarat!"
Kenzie menghela nafas pasrah, jikalau istrinya mengetahui jika ia memberi sebuah ancama kepada putra semata wayangnya ini pasti ia akan disuruh angkat kaki dari rumah ini. (Ya walaupun rumah ini miliknya, namun apakah daya jika dirinya ini sudah sangat-sangat mencintai istrinya dan menuruti semua kemauan istrinya?)
"Benarkah?" Mata Fernzie berbinar, Kenzie hanya mengangguk" saja.
••••
Fernzie POV
Sejak saat itu aku berlatih bela diri dengan adikku yang sekarang menjadi ayah kandungku, aku pernah sesekali melihat keterkejutannya saat aku berhasil melakukan bentuk penyerangan secara sempurna dalam sekejap saja.
Kehidupanku disekolah juga tak terlalu buruk, ada beberapa orang yang kini menjadi sahabatku, bahkan banyak sekali siswi-siswi yang dengan terang-terangan menyatakan cintanya kepadaku. Mungkin karena aku terlihat berbeda karena sebelumnya aku dikenal sebagai laki-laki cupu dan kutu buku akut.
Akan tetapi dari banyaknya siswi yang menyatakan cintanya padaku, aku hanya tertarik kepada seseorang yang amat cuek kepadaku. Dia Aela, Mikaela Anathasia. Seorang ketua OSIS yang cuek dan suka marah-marah. Hahaha, aku rasanya ingin menertawakan diriku sendiri.
Seiring berjalannya waktu aku kini lebih menguasai tentang beladiri dan beberapa teknik penggunaan senjata, bahkan aku merasa aneh dengan sikap Aela yang biasanya cuek padaku mendadak menjadi soft dan baik. Bahkan Aela yang sekarang sering bercanda tawa denganku.
Aku rasa mungkin cintaku tidak bertepuk sebelah tangan, eh apa yang aku katakan tadi? Cinta?
POV end
••••
[03 Januari 2022]
"Lio!" Seorang perempuan dengan almamater OSIS berlari menuju parkiran, ketika menemukan sosok yang ia cari-cari setelah bel pulang sekolah ini.
"Aela?" Fernzie mengernyit heran, biasanya dirinyalah yang akan menghampiri ketua OSIS itu tapi mengapa sekarang malah sebaliknya.
"Lio, gue boleh minta tolong nggak?" Nafas perempuan yang ber-name.tag Mikaela itu tersendat-sendat karena dibuat berlarian tadi, Fernzie tambah bingung apa yang terjadi pada Mikaela?
"Tumben, lo kenapa La?" tanya Fernzie.
"Gue boleh pulang bareng lo ke rumah loya? pliss g-gue nggak mau pulang ke rumah," Fernzie yang melihat tatapan panik dan ketakutan Aela, marasa sedikit kesal. Apa yang membuat Aela bisa seperti sekarang?!
"Lo kenapa? Ceritain ke gue La! Gue tau lo lagi ada masalah." Fernzie memegang kedua bahu Aela, sesaat setelahnya mata Aela berkaca-kaca bersiap untuk menangis.
"G-gue ceritain nanti,"
"Oke, ayo ikut gue."
••••
Sesampainya mereka berdua dirumah Fernzie, Vella-ibu memandang terkejut keduanya terutama Fernzie. Entah keajaiban apa yang dialami putranya hingga membawa seorang perempuan kerumah.
"Atha? Ini pacar kamu sayang?"
"Bukan Mom... Ini tuh temen Atha," ucap Fernzie dengan nada merengek, yang berhasil membuat Mikaela melongo.
'Hah?! Lio ngerengek?! Cowok dengan tampang sok dingin itu ngerengek?! Wah, wah, wah, anak mami ternyata. Tapi emang sih wajah dia tuh babyface.' ucap Mikaela dalam hati.
"Jawabnya bukan tapi matanya nggak bisa bohong," goda Mommy Vella.
"Mommy bercanda, ayo masuk."
••••
Fernzie POV
Ketika baru beberapa menit setelah Mommy menyuruh kami berdua masuk, tiba-tiba saja Mommy ada urusan di butiknya yang mengharuskan Mommy untuk ke butik itu.
Kami berdua (Aku dan Aela), berbincang-bincang selama beberapa menit hingga Aela bercerita tentang keluarganya secara tiba-tiba. Aku merasa sedih waktu dia mengatakan kalau dikeluarganya tak pernah ada yang namanya keharmonisan, lama-kelamaan suaranya bergetar namun masih tetap menceritakan alasannya tak mau pulang.
Dan aku memberanikan diri untuk bertanya siapa nama orang tuanya, siapa tau aku mengenalnya, kan? Akan tetapi saat dia menjawab nama orang tuanya, jantungku berdegup kencang. Ini tak mungkin kan? Aluna Shella? Zack Xaverius?
••••
[17 Januari 2022]
Setelah Aela memutuskan untuk ke kosan temannya hari itu, 14 hari setelahnya aku jarang bertemu dengan Aela. Karena saat dia menyapaku aku langsung pergi, aku masih memikirkan Aluna dan Zack. Aku sering melamun bahkan waktu berlatih dengan Daddy pun aku sering tak fokus sehingga banyak penurunan.
Aku memutuskan untuk berbicara dengan Mommy pada hari minggu ketika waktu sudah sore, "Mommy,"
Aku melihat Mommy yang tadinya sedang mengiris sayuran kini berhenti dan menoleh kepadaku, "Ada apa? Kau perlu sesuatu?"
"Aku ingin mengatakan sesuatu dengan Mommy,"
Mommy yang mendengar itu langsung menuju meja makan dan duduk di kursi yang ada disebelahku, "Sini duduk kalau mau cerita, Mommy akan dengerin apa yang kamu ceritakan,"
Aku pun duduk dikursi samping Mommy, "Mom, kalau semisal aku suka cewek gimana?" ucapku.
"Ya bagus dong, siapa orangnya? yang kamu ajak kesini dua Minggu lalu?" Mendengar tebakan Mommy aku mengangguk.
"Tapi Mom, kalau aku nggak suka sama ayahnya gimana?" Bukannya menjawab Mommy malah bernmtanya balik kepadaku, "ooohh jadi ini yang membuatmu galau selama dua Minggu terakhir hmm?"
Belum sempat aku menjawab Mommy sudah meneruskan perkataannya, "Mommy nggak ngelarang kamu nggak suka sama seseorang, itu hak kamu. Tapi kalau karena ini kamu terus-menerus galau, melamun, latihan nggak fokus, nilai turun, itu membuat Mommy sedih sayang. Kamu tau? Mommy pernah tidak direstui ketika dekat dengan Daddymu. Ayah Mommy nggak suka Mommy deket-deket sama Daddy, tapi karena melihat Daddymu tulus saat mendekati Mommy, Grandpamu itu perlahan-lahan merestui kami berdua."
"Kalau kamu memang menyukai gadis itu kamu harus menerima sebagaimana orang tuanya, lupakan apa yang telah dia perbuat kepadamu. Kalau bisa, maafkan dia."
Dalam hati aku menyeru, 'Tapi dia nggak mungkin bisa dimaafkan, dan niatku disini untuk balas dendam kepadanya!'
"Kalau kamu sedih, jadikan itu sebagai penyemangatmu, jangan jadikan sesuatu sebagai pelampiasan." Tutur Mommy membuatku sadar bahwa selama ini aku membuat Daddy dan Mommy khawatir.
"Aku janji Mom, aku nggak bakal seperti ini lagi. Terima kasih Mom, You are always a helper when I'm in trouble." Aku pun berhambur kepelukan Mommy.
••••
Setelah percakapan aku dan Mommy waktu itu, kini aku lebih fokus dalam berlatih, hingga Daddy pun bangga karena melihat banyak peningkatan yang ada padaku. Dalam pendidikan disekolah, ibu guru juga mengatakan bahwa aku telah mengalami peningkatan pesat hingga ketika kenaikan kelas aku mendapat peringkat pertama satu angkatan. Dalam bisnis, Daddy juga tak jarang membawaku ketika ada meeting, dari situ aku pun sedikit demi sedikit paham dengan dunia bisnis.
Aku dengan Aela? Kami sudah lebih dengan dari sebelumnya, bahkan ada yang menduka kamu berdua berpacaran. Namun sebenarnya tidak, aku tak ingin mengajak Aela kedalam hubungan yang jelas-jelas bisa menjadikan kami asing jikalau putus, jadi aku ingin menunggu kelas 12 dan disitulah aku.... ingin melamarnya. Ya, walupun hanya bertunangan sih... Eh tapi beberapa hari lagi aku kan kelas 12?
POV end
••••
[27 Juni 2022]
"Jadi apa yang mau lo bicaraain?" Mikaela, gadis itu terlihat sangat cantik dengan baju yang ia kenakan, tampak anggun dan menawan. Fernzie juga tak kalah keren, dengan kemeja kotak-kotak dipadukan celana jeans.
"Sebenernya ini udah lama gue mau ucapin ini ke lo, La gue suka sama lo. Gue tau, gue bukan cowok romantis seperti kebayakan cowok diluar sana, yang ngasih bunga, coklat ataupun boneka untuk menyatakan perasaannya kepada seseorang. So, Will you be my fiancé?" ucap Fernzie sembari menyodorkan sebuah kotak cincin beserta cincinnya yang sangat kentara kalau itu cincin berlian.
Aela terkejut namun tak urung ia tersenyum, ia mengangguk. "Yes, i will."
[SELESAI]
Ceritanya garing banget pliss😭🙏
Jujur aku nggak bisa buat cerpen, ini aja tulisanku sangat melenceng jauh dari kata sempurna.
Maafkan jikalau ada typo ya!
Like and comentnya♥️
Ada yang mau versi lengkapnya?