Puk...
Kotak kue tar itu hancur berantakan di lantai , Semenatara itu aku menatap pria paruh baya dengan tatapan tak percaya.
"Sudah papa bilang berapa kali?!,Papa gak akan makan - makanan sampah kayak gini !"
"Ta...tapi paa melo sendiri yang buat itu semua..."Kata ku gemetara.
" Papa gak perduli !, Ray! Bawa melo ke rumah jangan biar kan dia keluar dari rumah lagi!"
"Baik Mr. Guntur " Ray berjalan mendekati ku.
"Papa jahat! "Jerit ku frustasi " Melo cuman bikin kue tar untuk raya in ulang tahun papa tapi papa... papa malah menolak dan menghancur kan kue itu !"
Aku menatap ayah ku dengan sedih , luka yang selama ini ku sembunyi kan kembali muncul dan menyiksa bathin ku sebuah embun putih kembali berdesak - desak kan di kedua manik mata ku .
" Melo benci papa !"
Aku segera berlari pergi tanpa mendengar kan teriakan ayah dan sekertaris Rey, Sudah cukup mereka selalu melarang ku dan mengurung ku dalam rumah bahkan sering menyiksa ku dengan sikap dingin dan segala peraturan keparat ! Aku muak dengan semua itu!.
Aku berlari tanpa tujuan dan tak tahu arah ku berlari hingga sebuah teriak kan semua orang menyatu di udara...Tatapan ku terpaku pada sebuah mobil truk yang berjalan melaju cepat ke arah ku .
Satu hal yang baru ku sadari aku berada di tengah jalan raya .
Mulut ku membisu dan tubuh ku menolak bergerak untuk menyelamat kan diri namun tubuh ku menolak perintah dari otak ku hingga aku sadar mungkin kah ini... akhir dalam hidup ku.
Ciiittt ....
Brakkkkk!!!!!
Truk itu menghantam ku dengan keras membuat tubuh ku melayang sesaat di udara dan terpelanting ke tanah aspal dengan keras genangan darah terlihat disekitar ku kepala ku terasa pecah dan sakit luar biasa , Sementara semua tulang ku merasa remuk .
" Nonaa!!!!!"
Samar - samar aku melihat Rey mendekati ku , Nafas ku tersengal - sengal ... rasa sakit yang luar biasa itu tak bisa ku deskripsi kan perlahan kilasan kenangan tentang aku dan ayah ku.bermunculan .
Papa .. papa melo sayang papa andai kan papa melihat melo seperti ini apa yang akan papa lakukan ? , Perlahan ku rasa kan dunia berputar semua jeritan dan teriakan orang masih terdengar nyaring ku rasa kan sebuah tangan menggoncang kan tubuh ku dan meneriak kan nama ku berulang kali namun kegelapan malah merenggut diri ku.
****
Suara dentingan alat - alat yang mengandung silver terdengar sayup - sayup di telinga ku kemudian terlelap tidur ketika obat bius masih mempengaruhi ku, Ke esokan pagi nya Saat aku membuka mata ku yang pertama kali ku lihat adalah Rey sekertaris papa ku.
Ia sedang tertidur nyenyak di sofa yang tak jauh dari ranjang ku , Ku duga Sekertaris berusia 23 tahun itu menjaga ku semalaman.
" Rey..." Kata ku lirih.
Lelaki itu masih terbuai dalam mimpi nya.
'' Rey... bangun" panggil ku dengan sekeras mungkin namun suara yang keluar dari mulut ku seperti cicitan tikus kecil yang sedang sekarat " Bangun bego"
" Ugh ..."
Rey terbangun dia mengucek mata nya beberapa kali dan duduk dengan mata terpejam mencoba mengumpul kan nyawa nya yang masing mengawang - ngawang.
" Ah ,Nona anda sudah sadar ? Maaf tadi saya tertidur dan tidak menyadari bahwa anda sudah siuman " Ucap Rey seraya berjalan mendekati ku " Apa anda merasa kan ada yang sakit ? "
" Tidak..." Balas ku pelan .
Rey menekan tombol pemanggil di samping ranjang ku " Tuan besar tidak bisa datang ke sini , Beliau sedang ada rapat besar di perusahaan nya"
Aku tersenyum getir , Di saat keadaan ku yang hampir sekarat papa ku masih lebih mementing kan urusan perusahaan ketimbang nyawa putri semata wayang nya?. Semenjak mama meninggal papa berubah drastis dulu dia sangat lembut pada ku namun sekarang begitu dingin sorot mata yang selalu memancar kan kehangatan berubah menjadi sorot mata dingin dan tajam.
Tuhan andai kan waktu bisa terulang kembali aku mengingin kan perasaan yang hangat seperti dulu , Dulu papa sering membaca kan dongeng tentang hujan dan pelangi bahkan sering mengajak ku berkunjung ke taman bermain setiap akhir pekan atau pergi jalan - jalan memutari kota meski hanya sekedar melihat - lihat.
Jika di lihat - lihat dulu beliau begitu penyayang namun sekarang ... berubah menjadi sosok yang tak ku kenali lagi , Papa andai kan masih seperti dulu mungkin aku tak akan sesakit ini .
" Nona...Nonaa" Rey melambai kan tangan nya kedepan wajah ku membuat ku tersentak kaget.
Baru ku sadari aku di kerumuni beberapa perawat dan seorang dokter dengan wajah yang mulai keriput.
" Nona anda baik - baik saja kan? "
" A-aku baik - baik saja ..."
Aku menatap sang dokter " Dokter apa saya baik - baik saja ? "
Dokter yang bernama Wahidin itu tersenyum simpul " Keadaan Nona baik - baik saja , Hanya saja..."
Dokter Wahidin terdiam sejenak saat melihat Rey mengintruksi nya agar tak memberitahu ku dengan isyarat yang jelas - jelas aku tau ! .
" Aku tak perlu kebohongan kata kan saja " Cetus ku.
Dokter wahidin terlihat ragu - ragu untuk memberitahu ku.
" Beritahu dia , Tak perlu di sembunyikan lagi saya juga ingin tahu apa yang di derita anak saya "
Suara berat itu memecah kan keheningan , Jantung ku mencelus saat melihat papa ku memasuki ruangan dengan seorang wanita berusia 30 tahun yang bergelayut manja di lengan nya.
" Papa sudah selesai rapat nya ? " Tanya ku tergetar .
Siapa wanita yang bergelayut manja di lengan nya itu? , Kenapa papa membiar kan wanita asing itu menyentuh nya?!.
" Papa sudah selesai rapat nya " Balas papa ku dengan wajah datar.
" Baik lah saya akan memberitahu Nona Melo dan Mr. Guntur serta Istri anda " Dokter wahidin menghela nafas pelan.
DEG...
"I-istri ? " Tanya ku pelan dan menatap papa ku dengan tatapan tak percaya , Hati ku terasa tertohok saat mendengar nya.
" Lanjut kan " Sela papa ku dengan wajah tanpa ekspresi.
"Mr. Guntur berdasar kan hasil pemeriksaan kami ... kami mendeteksi ada nya sel - sel yang di duga adalah sel kanker yang berada di kaki kanan nya untung nya masih di tahap awal " Kata Dokter Wahidin muram namun segera cerah kembali.
Sementara aku merasa mendapat kan tamparan hebat saat mendengar nya , Ku lihat ekspresi papa ku masih saja sama seperti awal selalu datar.
" Kalau boleh tahu itu kanker jenis apa ? " Tanya wanita asing itu seraya menepuk bahu ku dengan cemas.
" Ini jenis kanker tulang atau osteosarcoma untung nya kanker ini belum menyebar dan mungkin baru muncul beberapa hari yang lalu "
Wajah ku kembali membeku .
" Saya belum pernah mendengar detail rincian tentang penyakit ini tolong beripenjelasan sedikit" Pinta Papa ku.
" Mr. Guntur saya akan memberitahu sedikit hal tentang ini gejala awal nya tentang kanker ini akan merasakat rasa nyeri terus - menerus pada bagian kaki belakang , Rasa sakit berlipat ganda saat penderita berusaha bergerak dari nyeri terjadi pembengkakan yang berwarna kemerahan "
"...Bagian kaki akan menjadi lemah dan rapuh , Jatuh atau cedera kecil saja bisa membuat tulang nya patah dalam kasus Nona melo ... Nona melo masih bisa di selamat kan meski membutuh kan waktu lama mungkin membutuh kan waktu yang lama " Jelas Dokter Wahidin " Jika Mr.Guntur ingin lebih jelas nya lagi anda bisa membahas nya di ruangan saya "
Aku menyingkir kan tangan yang menepuk - nepuk bahu ku dengan kasar , Kenapa beban hidup ku semakin bertambah? Ujian apa lagi yang kau berikan pada ku Tuhan? Penyakit yang ku derita bukan lah penyakit biasa namun penyakit ini sungguh mengerikan .
Penyakit ini pada umum nya jenis penyakit kanker tulang yang umum nya menyerang anak usia remaja , Semoga saja aku masih bisa sembuh tanpa diamutasi.
" Papa sudah berapa kali bilang untuk tetap diam di rumah ?! , Lihat jadi nya kamu seperti ini kan !? " Raung Papa ku kesal saat Dokter wahidin sudah pergi meninggal kan kami.
" Mr. Guntur tolong tenang kan diri anda Nona Melo baru saja siuman dan mendengar kabar buruk Nona pasti sedang sedih " Kata Rey mencoba mencegah pertengkaran di antara kami berdua.
" Papa selalu mengurung melo di rumah !! , Melo juga pingin seperti anak - anak laij nya yang selalu bebas berkeliaran di luar melo kadang iri sama burung yang sering terbang bebas di langit ! Kenapa papa malah mengekang melo ?! "
Mendengar itu papa ku semakin menatap ku dengan kemarahan yang terlihat jelas di manik mata nya .
" Papa bahkan jarang memperhatikan melo ..." Kata ku lirih " Papa gak pernah luangin waktu buat melo meski papa libur kerja , papa melo gak butuh materi ! Melo gak butuh kemewahan yang papa berikan ke melo ! Yang melo butuh kan itu cuman papa..."
Aku mulai menangis tanpa suara " Yang melo butuh kan itu papa... bukan sederet baby sister dan maid yang papa sewa !"
" Papa juga tau itu ! , Tapi papa banting tulang itu untuk kamu ! Papa tidak ingin kamu menderita seperti anak gelandangan di jalanan "
" Kalo papa tau kenapa papa gak pernah luangin waktu buat melo? Sedikit aja paa... melo butuh papa sejak mama meninggal papa berubah jadi dingin dan menjaga jarak dengan melo.. kenapa ? Kenapa papa seperti itu?"
" Melo kangen papa , Melo pingin papa seperti dulu lagi !" Tangis ku pecah saat papa ku tiba - tiba memeluk ku dengan erat.
" Melo mengerti lah , Waktu itu papa sama seperti mu papa terpuruk dan papa tidak tau harus melakukan apa untuk menghibur mu nak " Bisik Papa ku serak " Maaf papa tidak bermaksud untuk mengekang kebebasan mu ... iya papa tahu papa salah tapi percayalah papa lakukan ini demi kebaikan kamu "
" Tapi papa melakukan hal yang salah " Kata ku di sela - sela isakan ku.
" Sudah - sudah jangan menangis lagi " Papa ku melepas pelukan nya dan mengusap air mata ku " Jangan bertingakah kekanak - kanakan putri papa sudah besar sekarang , Cepat sembuh jangan berfikir yang aneh - aneh lagi "
Aku tersenyum getir " Baik lah "
" Oh ya melo , Ini Reina guntur adik papa " Ayah ku memperkenal kan wanita yang tadi bergelayut manja di lengan nya " Iya papa tau kamu pasti bingung, Tante Reina menyamar sebagai istri papa agar musuh bisnis papa tidak mengetahui keberadaan ibu mu papa tidak mau mereka tau dan menyelakai ibu mu nak "
Ah , Mungkin aku yang terlalu berfikir negatif ternyata wanita itu tante ku sendiri keluarga dari pihak papa memang misterius .Aku menatap Tante Reina dengan senyum lebar wanita itu membalas ku dengan senyum lembut .
" Papa bisakah... papa seperti dulu? Melo rindu papa yang dulu "
Papa ku terkekeh kecil lalu mengacak - ngacak rambut ku " Tentu saja bisa "
Aku tersenyum lebar lalu memeluk nya dengan erat , Tuhan aku sadar sekarang aku yang egois dan selalu memeduli kan ego ku sendiri aku terlalu egois dan tidka berfikir bahwa papa ku menajuh dari ku karena tak tau apa yang dia harus lakukan sementara ia tak pernah menghibur seseorang yang tengah berkambung.
Rasa nya ini semua benar - benar seperti mimpi sekarang aku merasakan nya ... aku merasakan ke hangatan pria yang sangat ku cintai kali ini aku tak mau bersikap egois lagi sebab rasa egois ku akan membuat nya menjauhi ku . Aku sangat bersyukur untuk hari ini aku bisa merasakan kebahagiaan yang dulu telah pergi dari ku, Sekarang aku merasakan dunia seperti kembali ke dalam genggaman tangan ku kembali.