Di pagi hari yang cerah dengan suara kicauan burung, seorang gadis cantik terbangun dari tidurnya.
Perkenalkan namaku Aina Miura, aku siswa SMA kelas 2. Aku lahir di Jepang tapi aku tinggal di Indonesia tepatnya di jakarta, aku punya sahabat yang sangat baik padaku, namanya Ainun dia teman pertamaku di sekolah.
Jujur saja aku punya seseorang yang aku sukai, dia satu kelas denganku, Aku menyukainya karena dia baik, alim, sholeh, ramah ya gitulah pokoknya dia tipeku.
Di pertengahan semester ini, aku disibukkan dengan ulangan harian dan belajar, karena sebentar lagi akan ada PAS 2 (Penilaian akhir semester 2).
Memang sih sulit untuk belajar, karena materinya banyak.
Apalagi ada satu pelajaran yang aku benci yaitu bahasa Jawa.
Ya mau gimana lagi, aku hanya mengerti tiga bahasa yaitu bahasa Indonesia, bahasa Inggris dan bahasa Jepang.
Nilai ku di pelajaran bahasa Jawa selalu C, walaupun begitu, aku bersyukur mendapat ranking 1pararel.
"Ainaaaa... Cepat!!" Teriak bintang dari luar rumah ku
"Iya!" Jawabku
Bintang adalah teman pertamaku di Indonesia, dia baik dan perhatian, meskipun umur kami terpaut satu tahun.
Setelah sarapan aku pamit pada ibuku, dan pergi ke sekolah.
Di luar rumah bintang menungguku dengan memasang wajah marah.
"Lama banget sih, cepat naik!" Kata bintang kesal
"Maaf" Kataku
Aku pun naik di motornya dan berangkat menuju sekolah.
Sesampainya di sekolah, aku langsung bertemu dengan Ainun.
"Hai Aina sahabat terbaikku!" Kata Ainun yang langsung memelukku
"Hai Ainun" Jawabku tersenyum
Kami pun langsung masuk ke kelas dan mengobrol.
"Sekarang kamu lancar ya bahasa Indonesianya" Kata Ainun
"Iya, kamu kan yang ajarin aku" Kataku tersenyum
"Aku juga sedikit tau tentang bahasa Jepang darimu" Kata Ainun
"Wah benarkah, bagus kalau begitu" Kata Aina.
Seketika pandangan Ainun teralihkan karena datangnya seseorang, ya dia adalah Rian laki-laki yang aku sukai.
"Kamu liatin siapa nun?" Tanyaku
"Eh bukan siapa-siapa kok" Jawabnya
Pelajaran pun di mulai, kini kelasku di ajar Agama (PAI), Aku cukup paham tentang Agama Islam, setelah guru menjelaskan, kami di suruh mengerjakan tugas PAI/ulangan harian.
"Bapak tinggal sebentar ya, jangan rame" Kata pak guru
"Baik Pak" Jawab semua murid
Setelah pak Guru ke luar kelas, sebagian murid langsung menanyakan jawaban ke teman-temannya, saat aku mengerjakan soal terakhir Rian menghampiriku.
Dia bertanya tentang soal yang menanyakan hukum baca Al Qur'an dan tajwid.
Aku sangat degdegan karena dia terlalu dekat denganku, namun aku sedikit senang karena orang yang aku sukai dekat denganku.
Saat aku melihat ke belakang, terlihat sepasang mata menatap ke arahku.
"Kenapa Ainun menatapku ya?" Batinku
"Hei cepat Aina, kasih tau aku jawabannya" Kata Rian
"Kamu pikir sendiri saja" Kataku
Namun Rian tetap memaksa ingin tau jawabannya, Rian hampir menyobek kertas ulangan ku, dan terpaksa aku pun memberi tau jawaban tersebut.
Saat aku memberi tau Rian, kepalanya semakin dekat denganku, terdengar suara meja di pukul. "Brak!!"
Aku pun langsung melihat ke asal suara itu, ternyata yang memukul meja itu Ainun.
"Ainun kenapa ya?" Batinku
Saat istirahat, aku menghampiri Ainun dan mengajaknya ke kantin.
"Kau saja, aku mau disini" Kata Ainun
"Kau kenapa Ainun?" Tanyaku
"Tidak apa-apa" Jawabnya
Saat di kantin aku bercerita pada Indy dan nadia, dan betapa terkejutnya aku, mereka bilang bahwa Ainun itu menyukai Rian , mungkin karena kejadian tadi Ainun cemburu dan marah padaku, aku sangat kaget karena orang yang aku sukai, di sukai juga oleh sahabatku, aku takut persahabatan kami putus.
Setelah kejadian itu, rasanya Ainun cuek padaku, ia selalu menjauhiku karena Rian yang selalu dekat denganku, padahal aku selalu mencoba untuk menjauhi Rian agar persahabatan ku dengan Ainun tidak putus.
Di bulan Oktober tanggal 1, yaitu dimana hari penilaian akhir semester berlangsung.
Aku duduk di depan Ainun, saat aku menyapanya dia malah pergi menjauh dariku.
Uian akhir semester berlangsung lancar dan mudah.
Saat aku keluar ruangan PAS, awalnya aku ingin mengajak Ainun bicara, tetapi dia selalu mengindariku.
"Ainun tunggu, aku ingin bicara" Kataku
"Cepat katakan" Katanya cuek
Saat aku akan mengatakan maaf, seketika Rian menarik tanganku, dan mencoret pipiku dengan colekan krim kueh, karena hari itu hari ulang tahunnya.
Ainun yang melihat kejadian itu terlihat kesal, ia pun pergi meninggalkanku.
"Kamu tidak mengucapkan selamat padaku?" Kata Rian
"Ouh ya selamat ya" Kataku singkat, aku mencoba mengejar Ainun tapi tidak bisa.
"Kenapa persahabatan ku jadi seperti ini!" Batinku kesal
Karena masalah itu membebani pikiranku, saat PAS di pengumuman rangking aku mendapat ranking 3, sungguh aku sangat syok sekali.
Pernah aku minta maaf pada Ainun, tapi aku tidak tau apakah permintaan maafku di Terima atau tidak, karena saat tanggal 27 Oktober, dimana diadakannya acara maulid nabi Muhammad SAW, Rian menghampiriku dan mengungkapkan perasaannya padaku di depan Ainun, aku melihat Ainun meneteskan air mata, lalu ia pergi dariku.
"Ainun!!" Teriakku
"Kau Terima aku kan aina" Tanya Rian
"Maaf Rian, aku menolak" Kataku yang langsung pergi mencari Ainun, padahal aku sangat ingin menerima Rian, tapi aku lebih memilih sahabat ku, aku terpaksa menolak Rian demi Ainun.
"Ainun tunggu!" Kataku
"Cukup aina! Pergilah dengan Rian, aku tau kita menyukai orang yang sama, tapi Rian memilih mu!" Kata Ainun meneteskan air mata
"Ainun aku minta maaf, aku mendukung hubungan mu dengan rian! aku tidak menyukainya" Kataku
"Dia selalu dekat denganmu, apalagi saat pelajaran agama, hatiku sakit aina, aku cemburu melihat kedekatan kalian!" Kata Ainun menangis
"Aku tau Ainun, aku minta maaf" Kataku
"Halah maaf apaan! Hari ini kita bukan sahabat!" Katanya dengan nada tinggi
Perkataan Ainun langsung menusuk ke hatiku, aku pun meneteskan air mata.
Seketika ada yang menghampiriku dan bertanya padaku, aku pun melirik ke arahnya.
"Hei kenapa menangis, sudah diam, nanti di kira aku yang buat kamu nangis, kalau ada masalah ceritakan" Kata alfin teman sekelasku
Aku pun menceritakan masalahku pada Alfin.
"Aku bisa membantumu" Katanya
Alfin pun mengatakan rencananya agar masalah ku selesai.
Memang awalnya berhasil, namun sekarang aku di benci oleh semua murid perempuan sekelas, hanya teman sebangku ku saja yang tidak terhasut dengan adanya gosip aku perebutan pacar orang/tukang nikung, hatiku sangat hancur saat itu.
"Aina ayo pulang" Ajak alfin
"Kau pulang duluan saja" Kata aina
"Ingat aina, bila ada masalah ceritakan padaku, aku akan siap membantu mu" Kata alfin
"Ya pasti" Jawabku tersenyum
1 jam berlalu, Aina pergi dari sekolah, niatnya langsung pulang tapi ia pergi dulu ke taman untuk menenangkan pikirannya, seketika hujan pun turun membasahi tubuhnya.
"Hujan ya, pas dengan suasana hatiku, semuanya hancur, Ainun membenciku dan teman satu kelas pun sama" Kata aina menangis
Ia berniat pulang karena sebentar lagi maghrib, namun saat ia akan menyebrang, dari arah kanannya ada mobil melaju dengan kecepatan tinggi, ia tidak bisa menghindari mobil itu, seketika semuanya terlihat gelap, ia tidak bisa melihat apa-apa, aina tertabrak mobil yang remnya blong...
Darahnya bercucuran membasahi tubuhnya, dan seketika warga pun langsung berkumpul di tempat kejadian, di sana juga ada Ainun yang tadinya ingin meminta maaf.
"Ainaa!! Gak mungkin ini kamu" Kata Ainun menangis
"Ainaaa!!" Kata Rian dan alfin yang ada di tempat itu juga, Ainun sangat menyesal telah memutuskan persahabatannya.
Di rumah Aina di penuhi dengan orang yang berduka, ibunya aina sangat sedih, Ayahnya aina pun langsung pulang dari kerjanya, setelah pemakaman Aina.
Ainun menanyakan apakah ada pesan terakhir dari aina, dan ibunya menjawab ia.
Terlihat 3 amplop yang isinya surat permintaan maaf untuk Ainun, Rian dan Alfin.
Di suratnya Ainun, aina meminta maaf bila ada salah selama mereka bersahabat.
Di suratnya Rian, aina mengatakan ingin sekali menerima Rian tapi, aina memikirkan perasaan Ainun, sedangkan di suratnya Alfin, dia meminta maaf dan berterima kasih karena telah membantunya.
Mereka bertiga pun merasa bersalah dan menyesal karena perilaku yang mereka perbuat terhadap Aina, dan ibu aina memberikan surat terakhir, Aina menuliskan betapa bahagianya memiliki sosok teman seperti Ainun.
"Maafkan aku Aina" Ucap Ainun sambil sesenggukan
TAMAT