Rambut di ikat satu, kacamata tebal, muka jerawatan, baju seragam sekolah bagian atas yang tidak bisa dibilang putih, sepatu yang sebentar lagi jebol.
Byur, sebuah air yang entah berasal darimana membasahi semua tubuhnya, Namira berhenti sejenak, hal seperti ini sudah sering dia alami.
"Sudahlah", kata Namira dalam hati. Ia lalu menuju ke tempat duduk di taman yang ada di sekolahnya, mengeluarkan semua buku yang terkena air dan menjemurnya sejenak.
Dia menahan tangisan yang akan keluar dari mulutnya." Aku tidak boleh cengeng", katanya lagi.
Setelah lima belas menit lamanya, ia mengembalikan buku itu di tasnya. merapikan sedikit rambutnya dan berjalan menuju kelasnya dengan menutupi bagian depannya dengan tas.
Sesampainya di kelas semua orang mentertawakan dirinya. Begitu guru masuk, guru hanya menatapnya dengan pandangan yang tidak bisa dilukiskan dengan kata-kata, diam sebentar lalu meneruskan mengajar.
Namira sudah mengerti akan hal itu, dia tahu diri, dirinya hanyalah anak yang tidak berguna.
Ibunya selalu mengatakan hal itu, padahal semua sudah ia lakukan, hanya saja rasa benci itu sudah mengalahkan pikiran sehat ibunya. Semua itu karena ia dilahirkan sebagai perempuan, sebenarnya tidak ada yang salah dengan hal itu, hanya saja ayahnya menginginkan anak laki-laki. Setelah mengetahui istrinya melahirkan anak perempuan, ayahnya pergi begitu saja meninggalkan kebencian di hati Ibunya.
Namira menerima semua itu dengan lapang dada. Saat ini yang sayang dengan dirinya hanyalah kakek satu-satunya. Dan itu yang membuatnya kuat sampai detik ini.
Bukan hanya teman di sekolah yang menyakitinya, tetangga sekitarnya juga begitu. Mereka selalu saja menghina dirinya. Tapi Namira tidak peduli.
Hari ini Namira tidak enak badan, ia memilih untuk tidak masuk sekolah, dari semalam badannya panas, semua itu dikarenakan ia disuruh menguras bak mandi besar tanpa diberi makan sedikitpun oleh Ibunya, perutnya perih dan badannya menggigil.
Ia berjalan menemui ibunya yang sedang memasak," Bu, Namira lapar", katanya pelan.
"Kalau mau makan kerja dulu, di rumah ini tidak ada yang gratis, bersihkan kandang ayam sampai bersih setelah itu baru makan", jawab ibunya ketus.
"Tapi Bu, Namira dari kemarin belum makan", kali ini Namira berdiri sambil berpegangan pintu, ia sudah tidak kuat lagi, sambil meneteskan air mata, Namira berkata sambil menangis," maafkan Namira Bu, Namira sudah tidak kuat lagi", seketika tubuhnya jatuh.
Ibunya Namira mematikan kompornya, sambil berdecak ia mengangkat Namira dan membawanya ke tempat tidur, lalu dengan santainya kembali meneruskan memasak.
Ibunya tidak tahu, Namira saat itu sedang berada di antara hidup dan mati, tak lama kemudian sebuah cahaya memasuki tubuhnya, tubuh yang semula sudah mulai dingin menghangat kembali.
Namira membuka matanya, ia merasakan sebuah kekuatan baru. Ia duduk dan berjalan keluar rumah, mengambil ayam sepasang yang merupakan miliknya. Pergi dari rumah itu tanpa menoleh kebelakang.
Tujuan Namira adalah pasar. Di pasar Namira menjual kedua ayamnya, hasil penjualan ia belikan baju sekolah dan sepatu bekas yang layak pakai. Sisa uangnya ia pakai untuk beli makan. Dengan perut yang terisi, ia pulang.
Sesampainya di rumah, ia mendapati ibunya berkacak pinggang dengan muka memerah.
Ibunya berteriak," Namira, kau apakan ayam milikku, dan bungkusan apa yang kau bawa itu".
"Sudah Namira jual Bu, lagipula ayam itu adalah pemberian Kakek untuk Namira, sedangkan bungkusan ini adalah baju dan sepatu sekolah Namira, Namira membelinya dari hasil jual ayam", jawab Namira lembut.
"Berani sekali kamu, kata siapa itu milikmu, kamu lupa, selama ini siapa yang mengurus dirimu", teriak ibunya lagi.
Namira diam, ia masuk ke rumah. Melihat Namira diam saja, ibunya tidak berkata apa-apa lagi, masuk ke dalam kamarnya dan membanting pintu.
Semenjak adanya cahaya yang masuk ke dalam tubuhnya Namira bukan saja kuat, dia menjadi lebih cantik, jerawat yang ada diwajahnya hilang, dan ia tidak membutuhkan kacamata itu lagi.
Di sekolah semua orang tidak mengenalinya, Namira masuk ke sekolah itu dengan tenang, kalau biasanya rambut itu di ikat satu, kali ini ia mengikat rambutnya menjadi dua, Namira terlihat cantik.
Banyak yang bertanya-tanya siapa dirinya, ketika pertanyaan mereka terjawab, mereka tidak bisa berkata apa-apa. Bukan hanya itu saja Namira menjadi lebih pandai, setiap pertanyaan yang dilontarkan oleh gurunya Namira menjawabnya dengan akurat, dan nilai ujiannya sempurna.
Perlahan pandangan orang terhadap dirinya berubah, anak laki-laki mulai banyak yang mendekati, tapi Namira tidak menggubris mereka semua. Sedangkan anak perempuan yang sering menyakitinya selama ini tidak bisa berkutik, Namira sudah memberikan mereka pelajaran.
Tapi mereka menargetkan anak lain yang penampilannya mirip dengan Namira sebelumnya. Melihat hal itu Namira tidak tinggal diam, ia melaporkan adanya kekerasan di sekolah kepada pihak berwajib, karena pihak sekolah tidak mau nama sekolahnya tercoreng, dibuatlah peraturan baru mengenai kekerasan di sekolah yang hukumannya adalah dikeluarkan dari sekolah tersebut dengan tidak hormat.
Namira juga bekerja di sebuah toko yang lumayan besar, berkat kegigihannya bekerja dan kepandaiannya Namira dipercaya mengerjakan pembukuan di toko itu, tentu saja gajinya lumayan besar.
Uang hasil kerjanya ia pergunakan untuk membahagiakan Kakek dan juga Ibunya. Atas segala perlakuan ibunya selama ini Namira tidak mendendam.
Perlahan wanita yang sudah melahirkannya di dunia ini menerima Namira, tidak ada lagi kata-kata kasar yang terucap dari mulutnya, ada rasa bahagia dan bangga dihatinya ketika mengetahui bahwa anak perempuan yang tidak dikehendaki suaminya itu ternyata menjadi anak yang terpandai di sekolahnya.
Pandangan tetangga juga berubah, mereka menyesal telah memperlakukan Namira dengan buruk selama ini.
Namira tersenyum, ia bahagia bisa melalui semua ini tanpa harus membalas dengan cara yang menyakitkan. Namira menyebutnya pembalasan yang manis.
🍭TAMAT🍭