Amira menahan rasa kesal dengan mencengkram lututnya. Di depan sana,suaminya sendiri tengah main api dengan sahabat yang paling dia prrcaya.
Hari hampir beranjak siang,Amira yang tengah mengelap kaca terkesiap saat melihat Amel dan Aldo suaminya berpelukan,bahkan tanpa malu berciuman di depan Butik tempat dirinya bekerja saat ini.Memang Butik ini menghadap trotoar,beberapa kursi di bawah pohon juga berjejer di depan Butik ini,sebab itu banyak orang berlalu lalang. Amira terguncang,hampir menangis,namun ditahannya. Sebab saat ini dirinya masih bekerja,lalu lalang orang di dalam toko pakaian ini seolah menyadarkan Amira bahwa dia tidak boleh menangis di sini. Amira,29 tahun seorang karyawan sebuah butik ternama,bersuamikan Aldo, seorang manager sebuah perusahaan multinasional.
Kembali ke rumah,melepas sepatu asal dan terburu masuk ke dalam kamar. Di atas ranjang,Aldo tengah setengah duduk bersandar di kepala ranjang. Amira mendekat,"Mas..." Suaranya masih berusaha tenang,bak air tak beriak.
Aldo yang semula senyum-senyum sendiri menatap HP mengangkat kepalanya mendengar suara Amira,"Oh,sudah pulang?" Amira mengangguk.
"Mandi dulu ya sayang!"
Menurut,berlalu ke dalam kamar mandi,berharap percikan air dapat sedikit meredam emosinya yang tengah bergejolak,selepas mandi naik ke tempat tidur dan beringsut mendekati Aldo.
"Mas tau Mira kerja di mana?" mengetes kepedulian Aldo terhadap dirinya
"Mas lupa sayang" Menjawab sambil tetap menatap HP,Amira tersenyum tipis,setidak penting itu ternyata aku di hidup mu mas. Batin Amira pedih.Ditatapnya suaminya yang masih sibuk dengan HP, tidak ada pillow talk sebelum tidur,setiap malam Aldo hanya sibuk dengan HP. Amira sebelumnya maklum,mungkin Aldo butuh hiburan di tengah lelahnya pekerjaan,namun melihat kejadian tadi siang membuat kepercayaan Amira pecah seketika. Ingin bertanya perihal yang dia lihat tadi siang namun pasti lelaki di sampingnya ini tidak akan berkata jujur.
Akhirnya Amira menunggu Aldo pulas,2 jam berlalu,suara tarikan nafas yang halus dan teratur menandakan Aldo telah tenggelam dalam mimpi. Mira menyibak selimut, berjingkrak dan melangkah pelan mengambil HP Aldo yang tergeletak di atas nakas.
'Tidak di kunci,syukurlah!'
Layar terbuka menampilkan wallpaper Aldo seorang,suaminya yang telah menikahinya selama 3 tahun terakhir.
Amira menggulir-gulir HP Aldo,membuka aplikasi pesan,sebuah nama di chat teratas bertuliskan A,ya hanya A. Mira membuka pesan itu,tidak lama suara isak tangisnya mengisi malam yang dingin.
"Sial! berhenti menangis bodoh!"
"Apa ini? Kalian berselingkuh sejak dua tahun lalu? Pantas saja kelakuan kalian jika bertemu seperti orang yang sudah sangat akrab,ternyata kalian menikam aku di belakang." Amira memegang dadanya sakit,terduduk di atas sofa,dia memilih ke luar kamar setelah membaca pesan di HP suaminya.
"Kau bilang aku ini jelek karena wajah ku kusam dan jerawatan kan Aldo? Kamu bilang aku tidak menarik lagi bukan? Kamu tidak berselera melihat ku?" Terisak-isak sendiri,menahan sesak dada setelah membaca isi percakapan kontak A yang Amira duga adalah Amel dengan suaminya.
"Dan Kamu Amel,bukannya akan menikah sebentar lagi? hanya hitungan bulan dan Kamu masih tega berkhianat. Kita lihat apa yang akan terjadi dengan mu!"
***
Hiruk pikuk pesta pernikahan di sebuah Ballroom hotel Plaza,Amira menatap lampu gantung di langit-langit ballroom hotel,menutupnya dengan sebelah tangan. Hari ini dia mengenakan gaun peach yang menjuntai hingga ke mata kaki,wajahnya ditutupi selembar kain tipis,hanya menampakan mata dan dahi ke atas. Rambut sepunggungnya tergerai indah,bergelung-gelung.
"Persiapan selesai. Ma'af Amel,jika kau menjadi sahabat ku hanya untuk merebut suami ku,maka akan aku berikan. Tapi,jangan serakah. Jika pernikahan ku hancur,maka kamu juga begitu." Melangkah anggun,duduk di tempat yang sudah di sediakan,Aldo tampak menyusul di belakang Amira. Lelaki tampan itu mengenakan setelan jas coklat,mendekat dan duduk di sebelah Mira.
Di depan sana Amel dan suaminya tengah berdiri menyalami para tamu yang hadir,Amel menarik HP dari dalam tasnya. Mengetikan sebuah pesan,"Sekarang!" Lalu layar monitor berukuran besar di ruangan pesta ini menyala.
Semua mata tamu beralih menatap layar,begitupun Amel dan suaminya,Amel mengernyit heran,setahunya tidak akan ada video yang diputar. Namun dia diam,mengira suaminya yang mempersiapkan kejutan.
Beberapa detik kemudian,semua tamu tampak terkejut dan menutup mulut mereka. Begitupun Amel,wajahnya tampak pucat,berdiri lalu berteriak,"Matikan itu sekarang! Apa-apaan ini?!"
Namun,layar monitor besar itu tetap menyala,menampilkan perbuatan mesum Amel dan suaminya.
Wajah Rendra,suami Amel tampak memerah,mungkin marah. "Sayang,aku bisa jelaskan!" Mengguncang lengan Rendra,yang kemudian ditepis lelaki itu dengan kasar.
"3 tahun aku berpacaran sama kamu,tidak pernah sekalipun aku mengotori dan menodai tubuh kamu,kamu malah menyerahkannya kepada lelaki lain?! Kamu anggap aku apa Amel?!" Berteriak gusar
"Katakan! Katakan siapa baj*ngan itu?"
Seluruh tubuh Amel lemas,tidak! Bukan begini skenario yang dia buat! Amel menatap lurus ke sebuah kursi,lelaki lawan mainnya di video yang diputar barusan. Kasak-kusuk para tamu bagai dengungan lebah setelah mengikuti arah pandang Amel.
Aldo berdiri,hendak pergi karena malu,namun Amira memegang lengannya. "Mau kemana mas? Tidak mau kah kamu bertanggungjawab setelah berbuat mesum dengan istri orang?"
Aldo menghempaskan kasar tangan Amira,"Apa-apaan kamu!"
Amira tergelak,"Jadi hanya segini keberanian kamu? Bisanya main belakang dan ingin mengeruk kekayaan papa ku dengan menikahi aku? Setelah itu menceraikan aku dan menikahi Amel? Iya?"
Beralih menatap Amel,"Dan kamu! Kamu itu sahabat ku! Teganya kamu menusuk ku hanya demi lelaki macam Aldo," tergelak sebentar,"Kamu rela meninggalkan Rendra yang baik,tampan,seorang CEO pula demi sampah seperti Aldo,dan parahnya lagi kamu ingin menguras harta Aldo pula,orang yang tulus mencintai kamu. Wow sungguh predikat wanita paling bodoh pantas diberikan kepada kamu Amel." Bertepuk tangan dengan keras.
"Kamu!" Muka Amel memerah,tidak menyangka perbuatanya tercium oleh Amira.
"Apa?!"
"Wajar saja Aldo selingkuh,kamu itu jelek,kusam, jerawatan lagi. Aldo itu tidak berselera dengan mu! Lihat aku cantik dan seksi,mampu memuaskan suami mu!" Berbicara tanpa malu karena tersulut emosi,bisik-bisik para tamu semakin nyaring.
Rendra memerah mendengar perkataan vulgar Amel,tangannya mengepal menahan geram. Sedangkan Aldo di seberang sudah tak berkutik,menahan malu. Tamu-tamu di sini adalah rekan kerjanya dan Amel,ya mereka sekantor. Peristiwa hari ini,pasti akan membuat namanya dan Amel jelek seisi kantor.
Amira tergelak mendengar perkataan Amel,"Apa? Aku jelek dan kusam? Itu karena selingkuhan mu itu! Tanyakan padanya pernah tidak dia memberi ku uang? Tidak pernah! Selama ini aku bertahan karena berfikir dia menabung demi masa depan,tapi nyatanya gajinya untuk menyenangkan kamu gundiknya!"
"Hei! jaga mulut mu!" Amel hendak menampar Amira namun ditangkis wanita itu
"Jaga tangan mu,atau ku patahkan tangan mu itu! Aku selama ini menahan diri karena ingat kebersamaan kita,tapi sekarang aku tidak akan segan!"
Amir memutar tubuhnya menghadap Aldo,"Kalau mau istri cantik,modalin! Jangan taunya menuntut hak tapi lupa kewajiban." Setelah berkata begitu,Amira membuka penutup wajahnya dan tampaklah wajah mulus serta bibir pink alami. Semua mata berdecak kagum,pujian kecantikan lolos dari para tamu.
Selama ini Amira itu cantik,hanya sayang. Tertutup dengan kondisi mukanya yang sensitif dan berjerawat,belum lagi dia harus bekerja untuk menghidupi dirinya dan Aldo,mengingat itu Amira hanya menertawakan dirinya sendiri yang terlalu bucin.
Aldo terpana melihat istrinya,bahkan Amira sekarang jauh lebih cantik daripada Amel. Amira mengabaikan tatapan memuja suaminya,mengeluarkan sebuah surat cerai,mengangsurkan ke hadapan Aldo,"Ini sudah aku urus semua! Mulai hari ini kita cerai! Tidak sudi tidur dengan bekas orang!" Setelah berkata begitu Mira pergi dengan senyum kemenangan.
Di pintu masuk,samar-samar terdengar Rendra yang menalak Amel,bahkan belum 24 jam pernikahan mereka. Tentu saja,siapa yang mau setelah tahu fakta menyakitkan begitu.