Alarm berdering, membangunkan aku. Aku malas untuk bersekolah. Karena pastinya, mereka akan mempermainkan diriku lagi.
Kabar bahwa anak bungsu dari keluarga Caessa kabur dari rumah, membuat kehebohan di berita setempat.
Hidupku tenang di dalam satu bulan setelahnya. Kemudian, neraka menyerangku.
Aku pindah sekolah, dan satu sekolah dengan Ashley. Dia berkata akan membiayaiku, Ashley sudah seperti saudara perempuanku.
Namun, itu tak berjalan lancar. Anak-anak disini, membullyku dengan alasan tak jelas. Aku diguyur air comberan di WC, kemudian aku sering kena fitnah. Dihukum oleh guru-guru. Dan lagi-lagi aku mendapatkan luka-luka.
Hari-hariku sangat buruk, aku tidak ingin sekolah. Tapi, sama saja aku tidak menghargai Ashley. Dia sudah memasukkan keluargaku ke penjara.
Aku juga mempunyai seorang kekasih, dia sangatlah sabaran, menyemangati dikala jatuh.
Pagi-pagi buta ini aku berangkat, melangkah menuju ke kelas. Sepi, ini lah kedamaian yang kurasakan.
Kriet...
Pintu terbuka menampilkan pemandangan buruk. Setetes air mata jatuh.
Ku lihat kekasihku sedang berciuman penuh gairah bersama Ashley.
Ashley, dia mengambil pacarku.
Lantas, kakiku gemetar, pupil mata bergetar. Aku dengan susah payah berlari dari sana. Melangkah tak tentu arah, dan tiba di belakang sekolah.
Kotor, satu kata yang bisa mendeskripsikan tempat ini. Bangku taman yang lapuk itu menjadi tempatku duduk.
Tumpah... Semuanya tumpah, air di gelas tumpah. Aku menangis dan menimbulkan suara mengerikan.
Aku ingin mati.
Mataku bergerilya, mencari sesuatu yang bisa menyayat pergelangan tanganku. Pecahan kaca tak jauh dari sana, aku ambil.
Dengan air mata yang mengering, melunturkan riasan natural guna menutupi bekas luka. Aku menatap seksama kaca itu.
Craat!
Darah muncrat dari pergelangan tanganku.
Lama kelamaan, kesadaranku memudar. Aku tersenyum penuh kemenangan, akhirnya aku bisa mati.
***
Ah... Aku gagal.
Kini, aku berada di kamar rumah sakit—duduk di ranjang meratapi nasib. Ruangan serba putih dengan berbau obat-obatan membuatku bertanya-tanya; siapa yang membawaku?
Aku menatap lamat-lamat perban yang mengitari tangan kiriku. Seharusnya aku menyayat dengan garis horizontal, bukan vertikal. Bodohnya aku.
“Lo mau bales dendam?”
Deg!
Suara maskulin itu mengagetkanku, aku menoleh ke sumber suara itu. Remaja berambut pirang itu menyungging senyum.
“Kalo mau, gue bantu.”
Ehren Jarvis, siswa berandalan yang bolak-balik di skors. Aku jarang bertemu dengannya dan dia juga tidak pernah membullyku. “Kamu ... yang menyelamatkan aku?”
Pertanyaanku dibalas dengan sebuah anggukan kecil. “Jadi, sekali lagi. Lo mau bales dendam ke mereka?”
Aku terdiam sesaat, tiba-tiba muncul sekelebat ingatan. Saat Ashley yang juga bertanya seperti itu.
“Hai! Violet!” Ehren mengibaskan tangannya di depan wajahku, menyadarkan aku dari lamunanku.
Setelah menimang-nimang sejenak, apakah aku boleh mempercayainya?
“Btw, jangan percaya sama gue. Kalo gue bertindak mencurigakan, langsung kabur ya.”
Sejujurnya, aku ingin...
“Oke, aku mau balas dendam.”
Terpatri senyum hangat di wajahnya, membuatku terkesima sesaat. “Bagus, bagus.” Tangan besarnya mengelus rambutku.
“Jadi lo mau bunuh mereka semua 'kan?”
“Hah?!”
***
Tujuh bulan telah berlalu semenjak Ehren ingin membantuku. Dan, beberapa orang telah menjadi korban dari kebrutalan.
Akhirnya aku mengikuti ucapannya, membunuh semua orang dengan cara mereka membullyku.
“A-ahh, tolong ampuni aku!”
Lenguhan tersiksa keluar dari mulut palsunya. Dia adalah targetku.
Kareena Raquel, gadis yang senang bergosip dan menyebarkan rumor buruk tentangku. Dia bersama antek-anteknya menyiksaku di gudang.
“Ini ... ini semua Ashley yang menyuruh kami!”
Sudah berulang kali, orang-orang yang menjadi korban kami mengatakan bahwa Ashley yang menyuruh mereka untuk merundung diriku.
Dasar jala**!
Selama waktu berjalan, aku menyiksa Kareena, dan sekarang Kareena Raquel meninggal dengan keadaan mengenaskan.
“Lihat Ehren! Aku berhasil membunuh kutu lagi!” ucapku bersemangat, menghampiri Ehren yang tiba disini.
“Ayo kita bunuh Ashley!”
Mendadak eskpresi Ehren muram, dia terbelalak—menatapku tak percaya. “G-gue nggak bisa matiin Ashley.”
Sekujur tubuhku terpaku, “hah?” sepatah kata keluar dari mulutku.
“Anak baik.”
Deg!
Mataku menangkap tangan seseorang yang mengelus rambut pirangnya Ehren. Suara dingin nan menusuk ini, aku mengenalnya.
“Ashley...” panggilku dengan nada gemetar.
Sosok Ashley tampak di kegelapan malam ini. “Aku sedih, orang spesialku menusukku dari belakang.” Dia mendekatiku selagi aku mematung.
Ashley memegang kedua tanganku yang berlumuran darah, menangkup wajahnya dengan tanganku. Bisa kurasakan saat tangan ini menyentuh kulitnya.
Darah kini mewarnai kedua pipinya.
Wiu...! Wiu..!
Sirine mobil polisi terdengar mendekat. Jantungku berdebar kencang, peluh dingin mengucur ketika Ashley membisikkan sesuatu.
“Jeruji besi, menunggumu.” Seringai lebar tercetak jelas di wajahnya.
“Tidak mungkin, ini tidak mungkin. Seharusnya, aku tak mempercayaimu.”
***
Beberapa hari telah berlalu. Semua orang tercengang dengan kabar bahwa anak bungsu dari keluarga Caessa menjadi dalang pembunuhan berantai. Mereka berpikir bahwa semua orang di keluarga Caessa sangatlah gila.
Tidak ada kabar tentang Ehren Jarvis, dia menghilang dengan alasan dikeluarkan dari sekolah.
Lapas remaja yang kini menjadi tempat tinggal Violet sangat kumuh. Dia dijatuhkan hukuman 10 tahun penjara, seharusnya dia menerima hukuman 20 tahun. Tapi, karena Violet yang masih di bawah umur, mereka meringankan hukumannya.
“Dengan saudari Violet Caessa, ada orang yang ingin menemui Anda. Segeralah ke ruang kunjungan.”
Violet dengan mata kosong segera menuju ruang kunjungan. Wajah cantiknya sekarang tidak ada lagi, diganti lingkaran hitam di bawah mata, bibir pecah-pecah dan memar.
Setibanya, dia duduk menatap penuh kebencian kepada orang dihadapannya.
Di halangin oleh kaca, orang itu tersenyum. “Bagaimana kabarmu?”
“Ashley!” Violet menggertak dengan tangan terkepal kuat. “Gara-gara kau, hidupku hancur!”
Ashley terdiam sesaat, mulut kecilnya ternganga. “Heh... Seharusnya aku yang mengatakannya.”
“Kamu ingat? Siswi SMP yang diperkosa oleh anak sulung dari keluarga Caessa, tetapi pelaku pemerkosaan tidak dipenjara karena uang...?”
Deg!
“A-apa maksudmu?” bibir Violet bergetar. Raut wajahnya mengeras. Dia mencoba mengingat-ingat kejadian 4 tahun lalu.
“Kemudian siswi itu mengunjungi rumah sang pelaku, menuntut pertanggungjawaban karena kehidupan sekolahnya hancur. Namun, ia diusir dan dicaci maki oleh adik dari sang pelaku.”
Akhirnya Violet mengingatnya. Pada malam itu hujan deras terjadi, seorang gadis mengunjungi rumah mereka.
Dia berteriak-teriak sembari melempari tomat, kemudian Violet membukakan pintu lantaran hanya ia yang berada di rumah. Karena terganggu, Violet tanpa pikir panjang mengusirnya sekaligus mencaci makinya.
“Tidak mungkin... Kamu sangat berbeda dengan wanita itu!” teriaknya frustasi.
“Ini adalah balasan untuk apa yang kamu perbuat. Kamu tahu? Kamu itu hanyalah boneka-ku, yang bisa aku kendalikan semaunya,” jelas Ashley memberitahukan apa yang dia pikirkan tentang Violet.
“Ah~ semua murid di sekolah juga salah satu bonekaku. Mereka mengikuti apa ucapanku.”
Ashley berdiri dari duduknya, dia mengulas senyum tipis. “Ini ... adalah balas dendamku.”
Tamat.
I want to cry T_T. But it's okay, the important thing is that this story idea has come out.