Bertahun-tahun lamanya aku mencari jawaban, kenapa kisah yang biasa orang sebut cinta monyet ini terus bersemayam dan mengusik hari-hariku.
Kala itu aku hanyalah seorang siswi sekolah menengah pertama yang beranjak remaja, begitu polos, namun naif. Aku tidak begitu cantik, tapi cukup membuatku merasa sombong karena beberapa anak laki-laki mencoba mengungkapkan perasaannya padaku. Entah apa yang membuatku merasa di atas angin saat itu, hingga aku menyakiti perasaan sebagian dari anak-anak itu dengan bersikap semauku. Mulutku ceplas-ceplos asal bicara, aku tidak pernah memendam apapun yang ada dalam perasaanku. Baik ataupun buruk pasti akan keluar tanpa tedeng aling-aling.
Sampai akhirnya, aku iseng menerima pernyataan cinta dari seorang laki-laki sekelasku. Iseng?!, saat itu teman sekelasku mulai ada yang berpacaran, aku hanya mengikuti trend. Seseorang yang pada akhirnya ku panggil Bintang, tentu bukan nama sebenarnya. Dia yang pada awalnya tidak masuk hitunganku, dia yang sama sekali bukan tipe orang yang bisa berpacaran, dia. Mengingat ini, air mataku menetes, merindukan sesuatu padahal dia sudah tidak seperti yang aku rindukan, tapi kenapa perasaannya masih sama? walaupun aku sadar sepenuhnya keadaannya jauh berbeda. Dia menyatakan cinta di depan kelas, semua mendengar ucapannya. Perbuatan seistimewa itu dilakukan oleh orang yang biasa untuk aku yang tidak cantik, dan aku bilang 'Iya'.
Aku dan Bintang menjadi dekat, pacaran kita sehat bahkan kita berdua semakin berprestasi. Dia mulai berani datang ke rumahku, padahal awalnya aku pikir dia pengecut, ternyata dia benar-benar menyukaiku. Bahkan hampir setiap sore dia lewat di depan rumahku hanya sekedar untuk melambaikan tangan, walaupun seharian kita bertemu di sekolah. Dan esok harinya ada saja yang dia kritik, rokku yang pendek, pakaianku, bahkan dia memintaku memakai jilbab tidak hanya saat sekolah. Saat itu jelas aku kesal, sekarang aku menyadari itu nasehat yang luar biasa yang tidak aku dapat dari lelaki manapun setelah dia.
Sekali lagi, aku hanyalah seorang gadis yang naif, tidak pandai menahan emosi, tidak pandai meraba hati orang lain, hingga akhirnya aku terlalu banyak menyakiti. Tentu saja ada yang tidak suka dengan cinta monyetku saat itu, bahkan seseorang sampai melakukan segala cara merusak ikatan konyol yang kupunya. Entahlah, Bintang terlihat marah dan cemburu, sementara aku yang bodoh malah menikmati sensasi dicemburui olehnya. Bintang mulai melakukan hal-hal bodoh juga, dia melarangku ini itu tidak boleh dekat dengan si ini si itu, dan itu membuatku kesal, dan muak. Aku mendiamkannya.
Saat hujan dia datang kerumah, menunggu di halaman berharap aku menemuinya. Aku tidak peduli dan membiarkan dia basah kuyup kehujanan, bagaimana bisa hal seperti itu dilakukan anak SMP seperti aku dan dia? aku seperti menonton drama orang dewasa. Di sekolah jangan harap dia bisa mendekatiku, aku selalu menempel dengan seseorang yang aku pikir baik yang butuh beberapa tahun sampai akhirnya aku tahu dia sebenarnya tidak suka dengan hubungaku dengan Bintang, dia ingin aku berpisah dengan Bintang. Bukan karena dia menyukaiku, tapi karena prestasi yang melejit dan dia tertinggal. Dia kehilangan aku yang saat itu adalah temannya biasa belajar. Kau jahat sekali kawan, kau membuatku menjadi mengerikan.
Bintang berusaha menghubungiku, saat itu dia memakai telpon rumah yang bisa mengirim sms, entah apa sebutannya saat itu, bahkan nomer telponnya aku masih ingat sampai sekarang. Aku terus mengabaikannya. Lama kelamaan aku menjadi tidak tahan, aku menulis sebuah surat dan berencana memberikan padanya, berisi kata-kata sadis tanpa saringan bahwa aku ingin putus. Ku tulis semua satu per satu hal-hal yang membuatku muak padanya. Saat bel pulang sekolah berbunyi, dia mendekatiku, kawan ku menghalaunya tapi entah apa yang Bintang bicarakan akhirnya kawanku bersedia pergi.
Tatapannya penuh harap, andai waktu bisa diulang aku ingin sekali mendengar apa yang akan dia katakan. Tapi tidak bisa, aku yang bodoh saat itu langsung mengambil surat yang sudah kulipat dan meletakannya di meja, tanpa kata dan meninggalkan dia. Aku yakin dia begitu sedih, hujan saat itupun turun dengan romansa patah hati yang kental. Aku biasa saja saat itu, aku lega melepaskannya. Tapi tidak untuk waktu setelah itu, sakit hati yang aku rasakan berlipat-lipat membunuhku perlahan selama bertahun-tahun. Tanpa aku tahu kenapa, apa dan mengapa? sakit itu tidak mampu aku jelaskan tidak mampu aku mengambarkan, aku bahkan tidak mampu lari darinya.
Kekosongan yang dia tinggalkan begitu nyata, penyesalan benar-benar menyiksaku semakin lama semakin besar. Aku begitu kehilangan dia, aku menangis setiap melihat benda atau apapun yang mengingatkan aku padanya. Terlebih aku dan dia melanjutkan ke sekolah yang berbeda. Aku mati rasa, aku cin... suka padanya. Setiap sore aku berdiri mematung di depan jendela, berharap dia datang, sekedar bertamu atau melambaikan tangan. Tapi dia tidak pernah datang. Aku mulai gila.
Waktu berlalu, perasaanku semakin tidak bisa ku tahan. Aku menangis hampir setiap malam, mengingat kebodohanku, kesombonganku dan keegoisanku. Aku merindukan dia sampai hampir gila. Bukan berarti aku tidak mencoba melupakan dia dengan kisah konyol yang baru, aku berkali-kali mencoba mengiyakan ajakan beberapa laki-laki. Tapi semua berakhir, hampa, aku tidak merasakan perasaan seperti pada Bintang.
Lalu suami? anak? apakah hampa?
Seseorang yang menjadi suamiku bahkan ayah dari anakku adalah orang yang ku pilih karena rasa dan hati. Aku bertemu dengannya ketika aku sudah tidak lagi bodoh, naif, dan bukan remaja lagi, kurang lebih lima tahun sejak kisah konyolku dengan Bintang berlalu. Aku lebih bijak dan aku sudah mengalami pergeseran sikap yang baik. Banyak pelajaran dan hikmah yang akhirnya aku ambil dari cara Bintang menyayangiku. Aku mulai melepaskan perasaanku pada Bintang walaupun harus teramat pelan, lima belas tahun berlalu tapi belum terkikis habis hingga saat ini. Aku hanya merasa lebih ikhlas tidak sebodoh dulu yang terobsesi dengan segala tentangnya. Walaupun terkadang sesak saat mengingatnya masih sama. Tidak terasa ya, sudah lima belas tahun, aku bahkan menggeleng tidak percaya saat menuliskan ini. Rasanya begitu konyol menyadari rasa sesak di hatiku ini tidak berkurang sedikitpun.
Dulu suamiku bukanlah orang yang baik, entah kenapa aku bisa bersamanya. Pada akhirnya dia mulai menyakitiku, dia tidak setia. Sesuatu yang baru dalam hidupku adalah di selingkuhi. Tetapi, begitulah jodoh. Aku yang mudah bosan dan terus merasa hampa justru merasa tertantang dengan laki-laki yang berselingkuh. Aku memaafkannya, dia berselingkuh lagi dan aku kembali memaafkannya. Aku tidak masalah disakiti seperti itu, karena dalam hatiku ada perasaan Bintang yang masih kurasakan tulus menyayangiku hingga aku merasa tidak butuh dari yang lain lagi. Aku hanya penasaran dan terobsesi dengan suamiku dulu. Aku terima dengan hati terbuka sikap suamiku dulu, aku anggap itu hukuman atas kebodohanku dulu. Anehnya sesakit apapun perasaanku karena terus-terusan diselingkuhi akan segera sembuh hanya dengan memejamkan mata dan mengenang ketulusan perasaan dari seorang murid SMP yang pernah aku aku terima. Setiap perlakuan manisnya padaku selalu membuatku tersipu, aku tersenyum dan menangis karena rin... menyesal.
Hingga pada akhirnya suamiku sadar, bertaubat dan kami menikah. Aku tidak berkata dia bucinku sekarang, tapi keadaan benar-benar berubah terbalik. Walaupun sudah menjadi suami istri, tapi dia yang selalu jatuh bangun mengejar perasaanku. Ini bukan tentang mengganti dan digantikan, ini hanya masalah waktu. Seseorang yang menjadi masa depan dan seseorang yang entah kenapa masih saja hidup dari masa lalu. Aku lelah, aku ingin ikhlas melepaskannya. Aku ingin mengingatnya tanpa rasa yang istimewa.
Tentang Bintang, apa ini magic? Kenapa aku tidak bisa melupakanmu? Kenapa sedahsyat ini perasaanku? Padahal kita hanya bersama tidak lebih dari 4 bulan? Tidak cukupkan 15 tahun aku sesak dalam penyesalan? Apa yang aku cari darimu sebenarnya? Apa yang dia lakukan sampai aku membayar begitu mahal? Apa perbuatanku begitu menyakitkan? Apa kamu sangat tersakiti? Aku butuh penjelasan, tolong!