Assalamu'alaikum, nama ku Dira seorang gadis kampung yang serba sederhana. Hampir tidak punya apa apa seperti gadis yang lain.
pagi pagi sekali aku sudah berangkat menuju ke sawah untuk berkerja. Sudah lama berkerja, aku merasa kelelahan lalu aku menghampiri sebuah pondok kecil tempat biasanya orang orang berteduh.
sambil duduk menikmati indahnya sawah ditambah angin yang segar, aku terfikir untuk keluar kota mencari kerjaan disana.
"Assalamu'alaikum, buk Dira udah pulang... buk.. buk.., Assalamu'alaikum"
aku mulai panik karena tidak ada balasan dari ibu. Aku menolak pintu, dan tiba tiba aku melihat ibu terbaring dibawah yang hanya beralas tanah.
"astaghfirullah,ibu!".
kepanikan melanda diri ku, segera ku memanggil bik Tuti. Rumah bik Tuti tidak seberapa jauh dari rumah ku. Hanya bik Tuti lah yang selalu menolong ku menjaga ibu, bik Tuti sudah seperti keluarga ku.
"Assalamu'alaikum, bik...bik Tuti."
"Wa'alaikumsalam, ada apa Dir ?"
"bik, ibu!"
aku bersama bik Tuti langsung bergegas menuju rumah ku.
"kenapa bik ? apakah sakit ibu kambuh kembali ?"
"hmm, begitulah Dira, manusia semakin tua, akan banyak sakit sakitan."
"bagaimana ini bik ? hanya Dira seorang anak ibu. Dira sudah berfikir untuk keluar kota mencari kerja buat perobatan ibu", ujar ku sambil melihat wajah orang tua ku yang terbaring tak berdaya itu.
"emang Dira mau pergi sama siapa ?"
"sendiri bik. Cuman yang Dira mikirkan, kalau Dira pergi siapa yang jagain ibu dirumah"
"Kalau begitu Dira pergi aja, biar bibi yang jagain ibu kamu"
"gak usah bik, Dira gak mau ngerepotin bibi, bibi juga banyak kerjaan, ngurusin anak anak lagi"
"Dira anak yang baik, insha Allah, ada jalanya, kalau gitu bibi pulang dulu. Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumsalam,makasih bibi"
malam telah tiba. Seusai shalat isya, aku pergi ke dapur untuk memasak buat ibu. Aku membuka wadah tempat simpanan beras, ternyata beras ditempat itu sudah habis. aku mengambil beras yang hanya setengah genggam itu lalu aku terduduk tak terasa air mata ku berjatuhan di pipi. Tak ku sadari ibu memasuki dapur, segera ku hapus air mata ku.
"nak, kenapa ?, beras udah abis ?, kamu gak usah masak kalau berasnya abis?", ujar orang tua itu dengan tersenyum kepada ku.
melihat senyuman orang tua ku, aku tak kuasa menahan tangis, akhirnya air mata ku bercucuran ke pipi.
"buk, kalau Dira gak masak, ibu mau makan apa ?"
"enggak usah nak, ibu gak lapar kok"
mulut boleh berbohong, tapi mata seorang ibu tidak bisa berbohong. Aku tau ibu kelaparan. Pagi tadi sebelum aku berangkat ke sawah aku tidak siapkan sarapan karena kehabisan beras, hanya segelas air yang ku letak dimeja.
"maaf buk, Dira anak yang tidak berguna untuk ibu.", ujar ku sambil berhamburan lari ke pelukannya.
"Dira gak boleh ngomong begitu, Dira itu satu satunya anak ibu yang sangat berguna."
"lo, ibu kenapa menangis."
"maaf nak, ibu gak bisa ngasih Dira apa apa seperti anak yang lain, yang bisa jalan jalan, punya ponsel."
"gak buk, ibu gak perlu minta maaf, Dira seneng kok punya ibu yang baik seperti ibu, Dira gak butuh ponsel ataupun jalan jalan.", ujar ku sambil menghapus mutiara berlinang itu dari wajahnya.
aku ingin memberitahu ibu, kalau aku ingin keluar kota mencari kerja, namun aku aku merasa ini bukan waktu yang tepat bicara soal itu, karena ibu baru sehat. Mungkin lain kali saja.
pagi tiba. Seperti biasanya, pagi pagi sekali aku sudah berangkat ke sawah mencari rezeki.
"buk, Dira mau berangkat ke sawah dulu ya. Beneran ibu gak apa apa Dira tinggal sendiri ?"
"gak apa apa nak, ibu merasa udah enak badan kok"
"kalau gitu, Dira berangkat kerja dulu, Assalamu'alaikum", ku cium tangan itu lalu berangkat.
hati ku merasa keberatan meninggalkan orang tua itu sendiri di rumah. Namun, dengan hati yang kuat aku percaya tiada apa yang terjadi pada ibu dirumah. Aku memantapkan langkah menuju ke sawah.
"Dira, sampai kapan kamu mau hidup sengsara seperti ini, kalau kamu menikah dengan ku, kamu akan mendapatkan semuanya."
"ih, siapa juga yang mau menikah dengan bapak. Bapak tu harus mengurus istri bapak. Nah, itu istrinya dateng", ujar ku berbohong, lalu segera ku tinggalkan tempat itu.
pak Rid, sudah mempunyai istri masih aja genit, tapi takut juga sama istrinya.
sudah seharian kerja, seperti biasanya aku duduk di pondok kecil, sekali lagi aku terfikir untuk pergi luar kota. Seusai perkerjaan habis aku aku pun pulang. Kali ini aku mantapkan hati memberitahu ibu, akan niat ku berkerja ke luar kota.
"Assalamu'alaikum buk, Dira pulang"
"Wa'alaikumsalam, tumpen pulangnya awal"
"iya buk. Ini, Dira sebelum pulang singgah ngambil singkong di pinggir jalan, lumayan buat makan malam. Dira belum punya uang buat beli beras."
"gak apa apa nak, yaudah kamu mandi terus sholat ashar ya, ibu kupas singkongnya."
seusai makan malam aku dan ibu duduk sambil bercerita. Aku beranikan diri ngomong niat ku kepada ibu.
"buk, Dira mau. ngomong sesuatu sama ibu"
"ngomong apa ?"
"em- em..., begini buk Dira mau kerja ke luar kota, mungkin akan ada sedikit rezeki di sana, tapi Dira khawatir dengan kondisi ibu, kalau Dira gak ada siapa yang bakal jagaain ibu"
"Dira beneran mau kerja ke luar kota ? ibu risau. Tapi Dira harus janji sama ibu, Dira harus jaga diri baik baik."
"jadi beneran, ibu izinin Dira kerja ke luar kota ?", ujar ku yang penuh teruja.
"ingat pesan ibu, kamu harus bisa jaga diri."
"terimah kasih banyak buk", ku peluk erat erat tubuh ibu ku sebelum aku pergi ke kamar untuk beres beres.
sebelum matahari terbit, aku bangun mengambil wudhu untuk shalat subuh. Seusai shalat subuh aku menuju ke dapur untuk menyiapkan makanan buat ibu, masih ada sisa singkong kemaren lumayan buat makan, aku akan mengirimi uang bulanan ke ibu jika aku sudah mempunyai kerja nanti.
matahari sudah terbit, ibu pun telah bangun.
"eh, ibu udah bangun, ayo buk sini kita makan dulu"
seusai makan, aku mengambil tas ku lalu menggendongnya di bahu ku menuju pintu.
"buk aku aku pamit ya, doain Dira, semoga mendapatkan rezeki yang banyak buat perawatan rumah sakit ibu"
"iya nak, pasti, ibu sentiasa doain yang terbaik buat anak ibu"
"bibi, Dira pamit ya, bibi tolong jagain ibu ya,"
terasa sangat berat meninggalkan ibu dan rumah ku. Namun demi ibu, aku harus pergi mencari rezeki agar ibu bisa sehat kembali.
beberapa jam perjalanan akhirnya aku sampai di kota.
" Ning, bangun udah sampai kota", ujar seorang yang aku ikuti mobil sayurnya menuju kota.
"makasih mas."
akhirnya aku telah sampai ke kota. Aku masih bingung harus mau kemana, aku melihat ada sebuah warung kecil di pinggir jalan dan menuju ke warung itu.
"mau makan, mbk ?"
"bagi air putih segelas aja"
setelah istirahat, badan pun terasa lebih ringan, lalu aku melanjutkan perjalanan mencari tempat kos kosan. Tiba tiba ada segerombolan preman yang nongkrong di tepi jalan, tempat yang ingin ku lalui, ku beranikan diri sambil memohon pertolongan kepada Allah, bismillah.
"Hay cantik mau kemana ?"
aku merasa jengkel dengan segerombolan preman itu.
"lepasin gak, tolong tolong !!"
beberapa kali aku meminta tolong, akhirnya sebuah mobil berwarna hitam berhenti tepat di depan aku dirampok sama preman preman itu.
"hey !, lepasin gadis itu", ujar si pria
"hey !, memangnya apa urusanmu dengan gadis ini ?", tanya si preman itu.
"brok."
tiga orang preman itu akhirnya dikalahkan oleh pria tadi, ketiga orang preman itu langsung lari berhamburan.
"terima kasih, mas", ucap ku dengan tertunduk.
"sama sama, mbak. Oiya ya, nama saya Aril, kalau boleh tau nama mbak siapa ?"
"nama saya Dira. Makasih ya mas, kalau gitu saya pamit dulu", ujar ku lalu bergegas pergi
"eh, bentar, bentar. ngapain kamu bawa banyak tas ?"
"saya dari kampung,mas. Saya ke kota nyari kerjaan. yaudah saya pamit"
"bentar mbk. kebetulan perusahaan saya lagi butuh seorang karyawan"
"beneran mas ?, Alhamdulillah"
pria itu hanya tersenyum melihat ku gembira.
"ini card saya, nanti langsung saja hubungi ya. Saya pamit dulu, Assalamu'alaikum"
"Wa'alaikumsalam"
"Alhamdulillah, akhirnya aku mendapatkan pekerjaan", ujar ku dalam hati.
aku lanjutkan perjalanan untuk mencari kos kosan. setelah sejam berjalan akhirnya aku menemui tempat kos kosan, tempatnya tidak terlalu besar, tapi lumayan buat ku sendiri.
"ini kuncinya, bayaran sebulan Rp 100 ya. Ingat jangan sampai telat bayar bulanan"
"iya buk, makasih"
azan isya telah berkumandang. Aku bergegas mengambil air wudhu. Kebetulan tempat kos kosan ku sangat dekat dengan musholla.
Alhamdulillah. setelah shalat, aku duduk di atas kasur yang tidak terlalu empuk itu. Aku melirik ke atas meja tempat card itu aku simpan, lalu aku mengambilnya dan membolak balik Card itu, aku membaca tulisan di card "perusahaan jaya."
"tampaknya dia adalah seorang yang kaya raya. udahlah, udah malam besok aja aku hubunginya."
pagi telah tiba. aku sudah beres beres, sudah sarapan, dan perkerjaan lainnya sudah selesai. Waktunya aku berangkat ke perusahaan yang pria itu katakan.
"permisi"
"iya mbak, ada yang bisa saya bantu ?"
tiba tiba seorang pria keluar dari arah pintu kamar CEO, siapa sangka yang keluar adalah pria yang menolong diri ku kemaren.
"biarkan dia masuk, silakan Dira, ikut saya"
"ternyata dia ingat nama ku", ujar ku dalam hati.
"iya, iya baik pak."
kami berbicara di kamar CEO.
"apa yang bisa kamu lakukan Dira, apakah kamu bisa duduk dengan mengetik komputer ?"
"maaf pak saya tidak bisa karena saya hanya gadis desa, kalau bapak mau, saya bisa menjadi pembantu di perusahaan ini. apa aja pak, saya mohon, saya sangat butuhkan perkerjaan."
"baiklah kamu di terima sebagai pelayan di perusahaan ini."
"makasih pak, maksih banyak"
setelah aku di terima di perusahaan itu hati ku merasa sangat senang, aku sangat sangat bersyukur.
hari hari telah berlalu, mungkin sudah ada tiga bulan aku pekerja di perusahaan itu. aku merasa rindu dengan ibu dan suasana di kampung. aku ingin menelfon ke sana.
"Assalamu'alaikum, bik Tuti, apa Khabarnya bik ? Dira rindu sama ibu, ibu Dira baik baik aja kan ?"
"Alhamdulillah, bibi sama ibu kamu baik baik aja, jangan khawatir, Dira sendiri bagaimana di kota, baik baik aja kan ?"
"Alhamdulillah bik, Dira baik baik aja, oiya bik Dira gak bisa lama lama soalnya Dira masih ada kerjaan. Titib salam buat ibu ya bi. Assalamu'alaikum"
"Wa'alaikumsalam."
aku mematikan telfon lalu kembali berkerja, tidak lama kemudian pak Aril memanggil ku.
"permisi pak, bapak manggil saya ?"
"iya, silakan masuk, silakan duduk"
"ada yang saya mau omongin ke Dira"
"apa ya pak ?", jantung ku berdenyut kencang saat itu, aku takut kalau kalau pak Aril ingin memecat ku.
"begini Dira, besok kami gak perlu dateng kerja."
"kenapa pak ? saya di pecat ?"
" enggak, kamu gak perlu dateng besok, kamu bersiap aja pukul 10 pagi, nanti saya Dateng ke sana."
"iyk- iya pak, baiklah", aku bingung
sudah pagi, jarum jam sudah menunjukkan pukul 10. Tiba tiba sebuah mobil berhenti diluar, aku mengintip dari jendela, itu mobilnya pak Aril, segera ku keluar.
pak Aril menatap ku terus menerus, aku menjadi malu dengan tatapan matanya.
"Assalamu'alaikum pak, saya sudah siap emang kita mau ke mana?", ujar ke dengan penasaran.
"wa'alaikumsalam, Dira mulai sekarang kamu manggil saya Aril aja, gak usah manggil pak lagi."
"baik pak, eh mas Aril."
dia hanya tersenyum, aku memanggilnya dengan kata Aril. Aku tidak biasa memanggilnya dengan kata Aril saja, aku masih terasa gugup.
akhirnya kami sampai ditempat tujuan. Dia menutup mata ku menggunakan kain hitam, lalu menuntun ku berjalan ke suatu tempat. akhirnya kamu pun sampai dan Aril sendiri yang membuka kain yang menutupi mata ku.
aku terpaku dengan apa yang ada di depan dan di keliling ku, pemandangan yang benar benar indah. Untuk sejenak aku merasakan seperti seorang ratu. Sebuah meja hidangan dengan lilin dan mawar merah diatasnya. aku benar benar terkejut dan masih tak percaya dengan apa yang aku lihat.
"ayo Dira, silakan duduk", Aril mempersilakan aku duduk.
aku memandang sekeliling ku yang sangat indah itu
"wah, ini benar benar indah Aril."
Aril hanya tersenyum, lalu dia mengeluarkan kotak kecil berwarna merah berbentuk hati. aku kaget itu adalah sebuah cincin tunangan.
"Dira maukah kamu menikah denganku, menjadi pendamping ku dunia dan akhirat ?"
aku tercengang melihat Aril, aku tidak tau mau ngomong apa, aku benar benar merasa ini bagaikan sebuah mimpi.
"Dira ?", sekali lagi Aril menanyaiku.
"iyk- iya, Aril, Dira mau menjadi istri Aril."
"Alhamdulillah, kalau gitu besok kita ke kampung kamu."
"lho, kok Dira mukanya kayak gak seneng aja ?"
"sejujurnya Dira seneng banget. tapi Dira hanya gadis desa yang gak punya apa apa, Dira bukan seperti gadis gadis yang lain, hidup Dira susa"
"Dira, aku mencintaimu apa adanya, aku tulus mencintaimu, aku tidak memandang harta mu melainkan kecantikan akhlak mu." tutur Aril.
paginya aku bersiap dengan rapi namun tetap sopan dan simpel layaknya gadis desa biasa. Aku duduk depan rumah sembari menunggu datangnya Aril. Pagi ini Aril akan membawa ku menemui kedua orang tuanya. Hati ku sangat denk dekan. Aril telah tiba.
dimobil..
"kamu kenapa Dir ?"
"engak da papa, cuma Dira ngerasa takut aja"
"Dira, gak usah takut, mama sama papa aku baik kok", ujar Aril untuk menenangkan diri ku.
kami telah tiba di rumah Aril. dek dekan ku semakin menjadi jadi, tapi aku Cuba untuk menenangkan diri ku.
Tok tok tok, bunyi ketukan pintu.
"Assalamu'alaikum, ma"
wanita itu keluar dari dalam jantung ku melaju kencang.
"Wa'alaikumsalam."
"perkenalkan ini Dira"
"oh, Dira, silakan masuk dulu, kita ngobrol di dalam."
"Dira dari mana?"
"saya hanya seorang gadis desa buk, perkerjaan saya hanya seorang pesawah, maaf buk, kalau ibu gak menerima saya gak apa apa, karena saya sadar siapa saya dan siapa Aril", ujar ku gugup.
dengan senyum, ibunya berkata, "nak, tante baru kali ini liat Aril, anak tante segembira ini, sebelumnya dia hanya pikirin kerjaan,namun hari ini Dira berhasil mengambil hati Aril. tante gak peduli kerjaan kamu apa, kamu dari desa yang terpenting perkerjaan yang halal, sayang sama orang tua dan keluarga", jelas mama Aril.
Alhamdulillah, aku merasa tidak takut dan tidak gugup lagi.
akhirnya kami pergi ke desa ku. Aku sangat merindukan ibu, tidak sabar rasanya ingin memeluk ibu erat erat. akhirnya kami telah sampai di rumah ku.
" Assalamu'alaikum buk, ibu, buk."
"wa'alaikumsalam, Dira ini siapa", ujar ibu keheranan.
"perkenalkan buk, saya Aril tunangan Dira"
dengan kaget ibu ke memeluk ku dan aku pun memeluk ibu erat erat. terjadilah pertumbuhan air mata diantara rindu ku dan kegembiraan ibu ku.
beberapa Minggu telah berlalu. Akhirnya kesepakatan keluar Aril dan Keluarga ku merestui hubungan kami.
pernikahan kami pun berlangsung di desa kecil ku, yang hanya di hadiri keluar Aril dan keluarga kecil ku.
seusai pernikahan, Aril memutuskan untuk tinggal sementara di desa ku. sebelum ia pulang ke kota dan mengurus perkerjaan dan mengambil cuti.
selesai acara pernikahan kami pun membersihkan diri lalu masuk ke kamar kecil ku. menunaikan shalat bersama sehabis itu kami berdua membaca ayat Al Qur'an.
setelah beberapa tahun membina rumah tangga hidu kami bahagia dan kami dikaruniai dua orang anak, putra dan putri yang sangat mungil. Aku dan Aril sangat bahagia.
cerita by: Dewi03