Setahun terakhir ini, aku mempunyai seorang teman online. Berawal dari ikut lomba cerpen, perlahan tapi pasti, dia menjadi temanku.
Awalnya, aku tertarik baca cerpen buatannya yang dia post di aplikasi ini buat ikutan lomba. Aku tertarik karena dia bikin cerpen yang genrenya teen dan menggunakan setting Jepang. Karena saat itu, aku awal-awalnya jadi otaku.
Aku benar-benar takjub dengannya. Beberapa kali dia memang event membuat cerpen. Topik yang menarik dan gaya bahasa yang santai serta mudah dipahami—menurutku. Sekarang, dia sudah hampir membuat dua ratus cerpen!
Aku mencoba melihat profilnya. Di situ, aku baru tahu kalau dia ternyata juga bikin novel. Dan yah. Novel teen ber-setting Jepang. Aku berminat membacanya.
Dulu, novelnya pernah beberapa kali ganti judul. Yang pertama itu 'Aishiteru'. Judul kedua 'Shiawase'. Dan yang ketiga—masih digunakan sampai sekarang—judulnya 'Ai to Shiawase'.
Novelnya tak kalah bagus. Aku mulai memasukkannya ke favorit. Kucari nama akun Instagram yang tertera di deskripsi novelnya. Ketemu. Aku pun memberanikan diri menyapanya lewat fitur DM.
"Halo Miku."
"Haloo kak."
Eh, dia membalas DM-ku? Setelah menerima balasannya, aku pun melanjutkan pembicaraan. Sekedar berkenalan atau membahas tentang novel dan cerpen. Awalnya sih agak canggung karena belum tahu usia kami.
Setelah kurasa pembicaraan sudah nggak terlalu canggung, aku memberanikan diri buat nanya umurnya. Ternyata dia seumuran! Efeknya, kami makin akrab dan nggak canggung-canggung banget kayak dulu.
Sejak saat itu, kami sering berkomunikasi meskipun tidak lewat telpon—jadi, aku belum tahu suaranya dia—menurutku dia orang yang ramah.
"Kalo boleh tau, Miku orang mana?"
"Aku orang Jatim," balasnya.
Dia tinggal di daerah yang teramat jauh dari tempatku. Sangat kecil peluangnya untuk kami bisa bertemu langsung. Jaraknya bahkan lebih dari seribu kilometer. Tapi, itu tak menjadi masalah bagi kami untuk tetap berteman.
Hingga, tibalah hari di mana dia berulang tahun.
"Selamat ulang tahun, Miku!" aku mengucapkan selamat ulang tahun. Aku juga mengirimkan beberapa gambar anime yang sedang berulang tahun lewat fitur PC di aplikasi Mangatoon ini.
"Eh? Ara inget rupanya."
Begitu balasnya. Aku merasa kalau dia senang begitu aku mengucapkannya meskipun secara online.
Hari demi hari berlalu. Hingga ketika aku ulang tahun, dia juga melakukan hal yang sama. Malam itu, aku sangat senang. Aku juga … pernah bertukar foto dengannya. Kami semakin akrab saja. Tentu aku sudah mengetahui nama aslinya. Aku tidak akan menyebutkannya untuk menjaga privasinya.
Hampir setahun kami berteman. Aku semakin takjub dengannya setelah tahu kalau karyanya telah dikontrak. Benar-benar hebat. Karya pertamanya yang dia buat saat pandemi, berhasil menarik banyak pembaca.
Saat dia membuat grup chat, aku tahu kalau hampir semua penggemar novelnya bergabung di grup itu. Di situ, teman-temannya semakin banyak. Yah, aku tahu dia orang yang mudah bergaul, tidak sepertiku yang kadang-kadang pemalu.
Semakin hari, dia semakin sibuk. Membuat novel, ikut event cerpen, belum lagi sekolah daring yang pasti banyak tugas. Aku takjub dia bisa menyelesaikan semua itu tepat waktu. Dia bisa mengetik cepat dengan sangat sedikit typo.
Kadang-kadang, aku menyempatkan diri untuk menyapanya. Miku masih online nggak? Miku lagi apa? Miku sehat-sehat 'kan? Hati-hati ya, soalnya sekarang masih banyak virus.
Kurang lebih begitu aku menyapanya. Dia membalasnya seperti biasa, bahasa yang santai dan nyaman kubaca.
Pernah aku menyimak obrolan di grup chat-nya. Saat dia mengobrol dengan teman-temannya, mereka dan Miku terkesan lebih akrab daripada aku dengannya.
Aku … seperti cemburu. Mengingat bahwa dia adalah teman akrabku satu-satunya di aplikasi ini. Bahkan aku pernah memimpikannya.
Aku pernah bermimpi bertemu dengan Miku di dekat kantin sekolah. Aku mengobrol dengannya.
"Miku kenapa kamu bikin akun IG dua?" entah aku dapat topik dari mana, aku bertanya begitu saja.
"Aku … cuma takut, Ara." begitulah jawabnya. Entah benar atau tidak, sayangnya, aku langsung terbangun. Aku bahkan belum sempat menanyakan alasannya lebih lanjut. Aku tidak tahu apa yang dia takutkan.
Awal-awal tahun 2022, aku memutuskan untuk membuat novel baru. Dia membacanya—maraton lebih tepatnya. Aku tersenyum setiap kali membaca komentar-komentarnya. Setiap kata yang dia ketik membuatku bahagia.
Belum lama ini, aku memberanikan diri berinisiatif untuk meminta nomor hp-nya. Dia mengizinkannya dan kami pun bertukar nomor. Tapi sayangnya, tidak sampai sebulan, nomornya itu tak bisa dihubungi. Dia bilang HP-nya rusak. Yah, aku mengerti kok. Selain dengan itu, kita kan masih bisa tetap berkomunikasi.
Saat aku sakit, dia adalah temanku yang pertama menanyakan keadaanku. Malam-malam, saat aku sedang nonton TV sendirian, dia chat aku lewat aplikasi ini.
"Ara? Ara lagi sakit ya?"
"Iya, nih. Batuk sama flu. Aku takut, gejalanya kayak omicron."
"Ara udah minum obat, 'kan?"
"Udah kok."
"Sebenarnya aku mau ngajak kamu bikin cerpen tentang kita. Tapi, kamu masih sakit, jadi … kamu istirahat aja biar cepat sembuh."
"Iya, Miku. Miku jaga kesehatan ya."
Aku senang dia perhatian denganku. Sangat senang. Saat itu adalah saat-saat terparahnya pandemi. Banyak orang yang sakit, entah dari mana, aku ikut kecipratan. Bahkan teman-temanku di dunia nyata saja tidak seperhatian dia. Entah mengapa, aku dan mereka sering canggung saat mengobrol secara langsung.
Aku dan Miku—yang bahkan belum pernah bertemu langsung—saja bisa akrab setelah tahu kalau kami seumuran dan kami juga satu angkatan—sama-sama kelas 9 waktu itu—sekarang kami sudah lulus SMP.
Saat dia tidak online, aku kesepian. Di aplikasi ini, dia adalah satu-satunya teman akrabku.
Hubungan kami itu seperti Nozomi dan Mizore di anime Liz to Aoi Tori. Dia seperti Nozomi yang ceria, berbakat dan mudah bergaul. Sedangkan aku seperti Mizore yang pendiam dan sulit mencari teman. Bedanya, kami itu teman online.
Sebenarnya, aku punya alasan saat membuat cerpen ini. Sebelumnya, Miku 'kan pernah mengajakku membuat cerpen tentang aku dan dia, hanya saja, dia … hmm, gimana ya? Susah jelasinnya. Jadi, aku berniat bikin cerpen ini buat dia.
Sebenarnya, sekarang itu hari ulang tahunnya yang kelima belas. Aku membuat cerpen ini sebagai kejutan untuknya, sekalian memberitahu tentang yang aku rasakan selama berteman dengannya.
Belakangan ini, sepertinya dia nggak online. Sebenarnya aku sering bolak-balik lihat profilnya, apakah Miku bikin cerpen, novel atau post yang bisa nandain kalau dia online. Tapi, udah lama sejak dia bikin post terakhir kali.
Yah, kayaknya segini aja. Semoga dia suka. Aku harap dia suka. Maaf kalau bahasanya agak berlebihan.
Kalo kalian yang baca ini menganggap hubungan kami lebih dari sahabat, itu terserah kalian. Intinya, dia itu tetap teman online-ku yang terbaik.
Otanjoubi omedetou, Miku-chan.
—Ara—
Cover : Pinterest (anime Liz to Aoi Tori)