GADIS PEMILIK ASRAMA
Setelah kembali dari luar negeri, gadis itu berangkat menuju rumahnya yang bersatu dengan sebuah asrama tepatnya asrama itu adalah tempat khusus para santri laki-laki maupun perempuan. Walaupun asrama pengajian umat Islam, namun di sana juga ada beberapa anak-anak Kristen yang sering berkunjung ke sana baik berdoa maupun menginap karena tempat itu juga di sediakan gereja kecil.
Asrama itu di huni oleh puluhan orang namun tidak terlalu banyak dan walaupun begitu tempat itu damai dan tenteram. Anak-anaknya juga baik dan memiliki sopan santun, usia mereka sekitar anak SMA atau bisa di bilang masih remaja.
Omong-omong soal asrama tempat ini di kelola oleh kakak dari gadis yang kini sudah kembali dari luar negeri. Kakaknya adalah orang yang ramah, baik, cantik dan pintar. Namun walau begitu ternyata ia hanyalah anak angkat yang di asuh oleh keluarga pemilik asrama itu.
Sasha adalah putri kandung keluarga orang kaya di kota itu. Orang tuanya sibuk mengurus bisnis mereka masing-masing dan disisi lain Sasha fokus pada kuliahnya di luar negeri serta asrama yang dimiliki keluarga masih di pegang oleh kakak angkatnya yang bernama Mila. Namun kata papa dan mama, asrama itu akan diambil alih oleh Sasha karena Mila akan berfokus pada pekerjaannya menjadi guru.
Menjadi guru adalah keinginan Mila sedari kecil, namun selepas dirinya di berikan tanggung jawab untuk mengurus asrama Mila menjadi senang atas tugas itu dan bahkan ia merasa pekerjaan itu cocok untuknya. Namun ia sadar bahwa asrama bukan sepenuhnya miliknya ia hanya ditugaskan sebagai pengelola tempat itu.
Hubungan Mila dan Sasha sangat baik, kedekatannya seolah tidak pernah tercampur oleh kebencian apa pun. Walaupun dulu jarak mereka jauh namun walaupun begitu keduanya sering kali berkomunikasi satu sama lain.
Dan inilah Sasha sekarang, selepas keluar dari taksi ia segera masuk ke pekarangan asrama tersebut melalui gerbang sebelah kiri karena memang asrama itu memiliki gerbang atau pintu masuk dua yang satunya berada di sebelah kanan asrama.
Sambil menarik kopernya ia berjalan masuk ke dalam. Awal masuk ia langsung di tatap oleh para santri di sana di tambah mereka melihat dari atas sampai bawah seakan menilai penampilan Sasha sekarang.
Tempatnya sangat luas, di mana kakak ya?
Sasha tak menghiraukan tatapan heran mereka semua, karena ia langsung di temui oleh salah satu santri yang sepertinya sudah tahu akan kedatangannya. Bisik-bisik orang berbicara satu sama lain.
“Dia siapa ya?” tanya salah satu santri pada temannya.
“Katanya dia putri pemilik asrama ini, baru datang dari luar negeri.” Mereka semua pun akhirnya mengangguk dan melanjutkan aktivitasnya masing-masing.
Di antara mereka ada yang bersih-bersih, ada yang mengaji, ada yang sedang salat duha dan lain sebagainya.
“Nona Sasha ya?” tanya santri perempuan yang tadi menghampiri Sasha.
“Ah iya benar, kakak saya di mana ya?”
“Kak Mila lagi di kamarnya nona, sudah dua hari di sana dan belum keluar juga.” Ucapnya yang masih belum bisa dipahami oleh Sasha.
“Hah? Maksudnya gak keluar-keluar itu kenapa?”
“Nona jangan khawatir itu sudah menjadi kebiasaannya untuk lebih fokus berdoa dan beribadah di sana. Sesekali dia keluar untuk melihat keadaan kami.”
“Jadi dia tidak menyambutku?”
Santri itu ragu-ragu menjawabnya karena merasa tidak enak pada Sasha.
“iya nona, mari saya hantarkan Anda ke kamar.”
“Tidak perlu aku bisa sendiri, beritahu saja di mana kamarku.”
“Kamar nona ada lantai atas, ciri pintunya berwarna emas.” Jelas santri itu.
“Begitu ya, terima kasih.” Sasha melangkah pergi masuk ke dalam rumahnya.
“Sama-sama nona.”
Tempatnya luas, bagus, bersih juga. Kamar di mana ya, gerah banget ingin cepat mandi. Batinnya sambil menaiki tangga. Terlihat ia melihat pintu berwarna emas di samping kiri di lantai dua itu, ia lalu masuk ke dalam dan melihat kamar itu sangat sederhana.
Hanya terdapat kasur besar, kaca, lemari, meja pribadi dan jendela kamar yang besar. Jendela itu menghadap ke luar yang membuat cahaya masuk ke dalam sana. Warna kamar itu di dominasi wanra emas dan putih. Walaupun kecil tapi kamar itu sangat cocok dengan seleranya.
Kakak pasti sudah menyiapkan, dia sangat tahu aku menyukai warna emas. Tapi di sini tidak ada kamar mandi, tapi tidak apa yang penting aku suka kamar ini. Ganti baju dulu ah setelah itu mandi.
Seraya membuka bajunya ia menanggalkan baju dalaman dan celana saja. ia mendekati pinggiran ranjang dan dirinya terkejut setelah melihat beberapa santri laki=laki berbicara tentangnya.
“Hey kalian tahu tidak, tadi ada perempuan masuk ke sini katanya dia anak pemilik asrama ini. Dia cantik loh namanya sasha.”
“.......”
Mereka masih berbincang-bincang tentang dirinya, sontak Sasha mengerutkan dahinya setelah dua orang santri memanggil namanya dari luar jendela.
“Sasha.....” seru para santri itu.
Apa itu? Kenapa mereka memanggilku!!
Karena takut ia berpura-pura tidur di pinggir ranjang, anehnya ternyata tiga orang santri sudah berada di luar jendela kamarnya. Sasha kaget plus ia juga takut.
Kenapa mereka bisa ada di sana? Untuk apa mereka kemari? Beberapa pertanyaan muncul dalam benaknya.
Sasha yang masih memakai bra dan celana gemetar namun untungnya gorden di kamar itu tidak terbuka sepenuhnya tapi terlihat tembus panjang.
Tidak, aku gak boleh kalah sama mereka gila banget gak sihh mereka bisa ada di sana. Sini gue tunjukin tubuh gue biar lu semua tahu.
Sasha berpura-pura bangkit dari tidur dengan meregangkan tangannya ke atas. Para santri yang melihatnya melotot tak percaya sedangkan Sasha pura-pura tak melihat mereka. Para santri itu kabur setelah melihat Sasha berpakaian seperti itu.
Mungkin niat mereka tidak seperti apa yang di pikirkan Sasha tadi, walau dengan wajah yang terheran-heran Sasha akhirnya menghiraukan kejadian tadi seolah tidak pernah terjadi.
“Pengen mandi tapi gak punya kamar mandi. Kakak gak bisa di ganggu lagi mau mandi di mana lagi coba. Di kamar mandi mushola bisa kali ya, yaudah deh cobain dulu saja.”
Seraya memakai baju kimono dal mengikatnya ia pun keluar dari kamar dan turun dari tangga. Hal itu malah membuat para santri yang ada di rumah terkejut melihatnya toh Sasha tidak peduli akan hal itu.
Bajunya yang sebagian memperlihatkan tubuh atasnya pasti membuat semua orang bergunjing. Sambil melangkah ke kamar mandi mushola, ia beberapa kali di tatap oleh orang-orang yang melihatnya namun sekali lagi ia tidak peduli dan menghiraukannya. Setelah selesai mandi ia langsung pergi untuk melaksanakan salat duha.
Jujur saja orang-orang di sana merasa heran dan aneh melihat sikap dan perilaku Sasha. Dia memang cantik, kulit putih bersih, tinggi dan bertubuh ramping tapi dia aneh.
Setelah selesai salat ia langsung keluar dari mushola, dengan memakai celana hitam panjang dan kaos biasa ia berbincang pada salah satu santri di sana.
“Permisi.”
“Iya nona?”
“Panggil saja aku Sasha, o iya beritahu kakakku jika aku keluar sebentar menemui teman-temanku.” Ucap Sasha.
“Kalau begitu saya akan melaporkannya sekarang, ada lagi yang bisa saya bantu Sasha?”
“Tidak ada, terima kasih ya.”
“Sama-sama Sasha.”
Di samping itu ada seorang santri perempuan bersama temannya berbincang bersama saat melihat Sasha mengobrol.
“Namanya Sasha katanya dia anak pemilik asrama ini.” Jelas salah satu temannya.
“Kalau begitu kita harus bisa berteman dengannya, lumayan kan dia kaya.” Ujar Elis si santri paling jagoan.
Mereka pun muai mendekati Sasha yang mengobrol bersama santri tadi, kedatangan mereka di sambut baik oleh Sasha walau sebenarnya Sasha sedikit sibuk. Seperti biasa santri-santri berbicara seperti lintah darat, namun setelah Sasha bilang dirinya sibuk mereka pun mempersilahkan Sasha pergi dari sana.
“Ada yang harus aku lakukan, permisi.”
“Iya silakan Sasha.” Ujar Elis membuka jalan untuk Sasha.
Setelah pergi dari tempat itu, ia lalu bertemu dengan teman laki-lakinya yang bergeng motor. Mereka juga adalah anak orang kaya bisa dilihat sari penampilan mereka yang mencolok, motor gede yang mereka tumpangi selalu saja sama seperti mereka sudah janjian akan menggunakan motor seperti itu.
“Sasha ayo naik.” Ujar salah satu teman laki-laki Sasha. mereka ada enam dan semuanya rata-rata tampan dan bertubuh tinggi.
Tanpa banyak basi-basi Sasha naik ke atas motornya dan mereka pun langsung pergi dari sana. Apa yang mereka lakukan ternyata bukanlah hal yang baik mereka melakukan balap liar di jalanan yang sepi walau pertandingan itu hanya berenam tetap saja itu adalah perilaku yang buruk.
Bunyi sirine polisi menghentikan aktivitas mereka semua. Mereka lari dengan motornya menuju rumah Sasha.
“Kita akan mengantarmu setelah itu kami semua akan pergi.” Kata temannya Sasha.
Dan benar saja setelah mereka sampai di rumah Sasha mereka langsung kembali ke rumah masing-masing.
“Sasha jaga dirimu baik-baik.” Temannya yang tadi membonceng Sasha pergi sambil melambai tangan.
Setelah mereka semua pergi bunyi sirine mobil polisi semakin mendekat, karena hal itu Sasha lari ke belakang tepatnya ia melihat jendela kamar kakaknya Mila yang tertutup rapat.
“Kak Mila buka jendelanya cepat.” Teriak Sasha dari bawah sana.
Mendengar teriakan adiknya itu Mila langsung membuka jendelanya dan melihat Sasha yang masih berada di bawah sana.
“Kak bantu aku naik ke sana cepat.”
“Ada apa? kenapa kau ketakutan begitu.”
“Kak jangan banyak tanya cepat bantu.”
“Pergi saja ke mushola sekalian tenangkan dirimu di sana.” Ucap Mila memberi solusi.
“O Ya kau benar juga, kalau begitu sampai jumpa.”
Sambil lari dengan kencang Sasha masuk kembali ke halaman Mushola di mana masih ada para santri di sana. Di samping itu Mila melihat mobil polisi melawati jalan depan rumahnya, walau Mila heran ada apa tapi ia langsung menghiraukannya dan lanjut berdoa di dalam.
Di sisi lain Sasha sudah sampai di mushola dengan nafasnya yang masih tidak teratur seorang pria memanggil namanya. Dia adalah Bobi teman Sasha yang sudah menjadi dokter, walaupun tubuhnya gendut Bobi adalah teman Sasha yang paling ceria pasangan Bobi namanya Sheila dan mereka sudah menikah.
“Sasha.” Panggil Bobi.
Sasha mendongak lalu ia tersenyum dan menghampiri Bobi dan memeluknya seperti kakaknya sendiri.
“Bobi.” Sasha memeluk erat Bobi dan ada Sheila di sampingnya sembari tersenyum pada Sasha.
Shila dan Sasha berpelukan hangat dan langsung mengobrol ria satu sama lain.
“Kau datang mencariku?” tanya Sasha dengan semangat.
“Ayah dan ibumu memberitahu kami kalau kau sudah kembali dari uar negeri, dia juga memberitahu kau akan tinggal di asrama ini.”
“Hauh ternyata ayah dan ibu.”
“Aku sudah lama tidak kemari dan belum pernah melihat kakakmu. Di mana dia sekarang?”
Sasha pun menjelaskan dan mereka bertiga berbincang kembali dengan para santri yang juga ikutan bergabung, canda tawa menghiasi tempat itu di antar mereka juga sedang di beri istirahat untuk bermain. Entah diberikan kembali ponsel mereka atau hal lainnya.
Di samping itu, ternyata teman geng laki-laki Sasha kembali datang ke rumah. mereka memarkirkan motornya dan mulai duduk di salah satu tempat duduk di sana.
“Itu suara Sasha bukan?” tanya salah satu mereka karena tawa Sasha dan para santri lainnya terdengar jelas sampai tempat mereka duduk.
"Kau cek sana aku tidak mau.”
“Aku juga, malu aku sama santri di sana.” Ujar salah satunya lagi membuat suasana mereka hening seketika.
Di balik itu Sasha merasakan kedatangan mereka, Sasha mulai mendekati tempat parkiran itu dan dengan pelan-pelan ia melihat siapa saja yang datang. Sasha terkejut karena benar dugaannya, teman pria mereka ada di sana. Ia tersenyum lalu mengajak mereka untuk masuk ke dalam.
Setelah suasana asrama di sana semakin menyenangkan, gelak tawa terdengar karena sebelum Sasha datang tempat itu sepi seperti semua penghuni bersedih hati. Namun kedatangannya alhamdulillah membawa kebersamaan di antara mereka semua.
Kata-kata mutiara
“Kebersamaan adalah hal yang harus kita jaga, baik kita berbeda budaya tetap harus seperti Bhineka Tungga Ika.”
“kebersihan lingkungan juga harus kita jaga sama seperti kita menjaga akhlak kita.”
“Penampilan harus sesuai dengan lingkungan, harap jaga kesopanan di asrama.”
“Balap liar adalah hal yang buruk tapi jangan pernah menghilangkan solidaritas kita.”
TAMAT