Bunyi gemerisik dedaunan menyerang telinga, angin sepoi – sepoi mulai memberikan rasa dingin pada tubuh. Terlihat seseorang yang menunggu lama di dekat gerbang sekolah membuka payung untuk anaknya yang tengah berjalan ke gerbang. Seseorang itu memberikan senyuman tulus pada anak itu, begitu pula sebaliknya. Itu adalah pemandangan yang membuat iri orang – orang yang sudah menjadi yatim, termasuk Tania.
Tan Tan.., pulang yuk?
Nggak, nanti aja.
Tania kembali menelungkupkan setengah wajahnya melihat keluar jendela, memperhatikan orang – orang yang berhamburan dengan payung jemputnya. Raut wajah orang tua yang cemas karena hujan semakin deras, anak – anaknya yang senang sudah dijemput dan siswa – siswi yang hanya menunggu hujan reda di depan halte bis, semuanya terlihat menyenangkan sekaligus menyedihkan bagi Tania.
Anwar yang melihat perempuan yang duduk didepannya ini pun langsung tahu bahwa raut wajah yang membingungkan itu sedang merindukan seseorang yang berharga. Tidak lama setelah ujian akhir selesai, ayah Tania meninggal dunia akibat kecelakaan saat hujan deras. Itulah kenapa ia selalu bersedih ketika hujan datang.
Setelah hujan agak reda dan sekolah mulai sunyi, Tania, Anwar, Mia, dan Shaka bergegas pulang menuju rumah masing – masing. Biasanya Tania dibonceng Anwar karena searah, sedangkan Mia dan Shaka memakai kendaraan masing – masing karena jarak rumah yang lumayan jauh.
Ya elah, jadi kobokan lagi dah ini helm. Kata Anwar dengan cemberut.
Pakai punyaku aja. Tania menyodorkan helm pinknya yang imut kepada Anwar.
Sementara yang lain menertawakan kekonyolan Anwar yang terus mengejek helm pink milik Tania yang sudah terpasang di kepalanya, perlahan Tania juga terbawa suasana dan mulai menghilangkan kesedihannya bersama sahabat – sahabatnya itu.
Sesampainya di rumah Tania dengan selamat, Anwar mengembalikan helm pink itu.
" Nih, sorry deh kalau bau pomade."
" Pakai aja sampai rumah, besok bakalan jemput lagi kan."
" Nggak apa – apa, toh udah deket juga. Bantah Anwar."
" DIPAKAI AJA SAMPAI RUMAH!!!"
Tania langsung bergegas menutup pintu pagar putihnya, ia langsung menuju rumahnya meninggalkan Anwar yang entah bagaimana ekspresinya setelah diteriaki seperti itu. Setelah itu di bukanya pintu coklat dengan aksen kayu yang sudah mulai pudar karena sudah lama ditinggali.
Bunda Maya memandang anak semata wayangnya itu dengan khawatir. Ia langsung menyambut kedatangan anaknya dengan pertanyaan – pertanyaan khas ibu rumah tangga yang penasaran kenapa anaknya baru saja pulang.
"Kamu kok baru pulang nak?"
" Tadi nunggu hujan reda dulu bun." Sambil mencium tangan ibunya, Tania menjawab dengan jujur.
Setelah agak di interogasi, Tania pun bergegas untuk bebersih dan menunaikan sholat ashar. Ia menggelar sajadah dan mengucapkan takbir diikuti dengan rukun shalat lainnya. Selesai shalat yang diakhiri dengan salam, Tania pun mulai mengangkat kedua tangannya dan mengucapkan do'a – do'a.
Bunda Maya masih sibuk dengan resep kue di tangan, ia kembali mencoba membuat kue – kue kering untuk penghasilan tambahan. Kerudungnya terlihat kotor akibat mentega yang tertempel, Tania yang melihatnya pun bergegas mendekatinya.
" Lagi buat apa bun?."
" Eh Nia, bunda lagi buat lidah kucing."
" HAAAH, bunda kok kejam sama kucing." Tania kaget.
" Aduuh anak bunda, bukan lidah kucing beneran, tapi ini loooh." Bunda Maya memperlihatkan buku resep online di tablet hitamnya.
Tania cengengesan diikuti bunda Maya yang tertawa kecil. Sore itu hujan semakin deras, tapi Tania merasakan kehangatan walaupun keluarganya tidak lengkap seperti sebelumnnya.
" Tadi di bonceng Anwar lagi?."
" Iya bun."
Bunda Maya diam, lalu bertanya, " Kalian pacaran?"
" E..enggak lah bunda, aku sahabatan aja."
" Maaf ya Nia, bunda belum bisa beliin kamu kendaraan. Bunda makasih banyak sama Anwar, tapi bunda pesan supaya Tania jangan berlebihan. Tania ngerti kan?."
" Siap bunda, lagian Anwar kan bukan tipe Tania."
" Oh ya, Tania sukanya yang gimana."
" Oppa – oppa Korea dong." Tania tertawa.
Keesokan harinya Anwar tak kunjung datang, Tania menunggu di depan pagar putihnya seperti biasa. Di rogohnya tas berisi buku – buku pelajaran untuk mencari handphonenya. Dicarinya nomor kontak Anwar, namun tak kunjung ada yang mengangkat. Merasa kesal karena lama menunggu, akhirnya Tania memutuskan untuk jalan kaki dan melihat – lihat angkot yang menuju ke sekolahnya.
.
.
.
" Loh..loooh, Tania sini cepetan."
Mia menarik Tania yang baru saja menginjakkan kaki dari angkot secara paksa. Setelah bayar biaya angkot, Tania pun mengikuti Mia yang sedari tadi menunggunya di depan gerbang sekolah dengan menyilangkan tanganya.
" Ada apa Mi?"
" Tuuh." Mia menunjuk seseorang yang sedang memarkirkan kendaraan.
" Anwar." Ucap Tania heran.
" Iya itu Anwar, terus sama cewek lagi."
" Cewek?"
Mia mengarahkan pandangannya ke perempuan berambut pirang ombre, menunjukkan cewek yang ia maksud. Tania pun melongo karena jujur saja, parasnya yang cantik membuat yang lain pun menatapnya dengan kagum.
Saat Mia menyadarkan Tania yang sedang bengong, Shaka mengejutkan keduanya terlebih dahulu.
" DOORR."
Keduanya langsung menlancarkan pukulannya ke arah Shaka karena kaget. Shaka meminta ampun dan seketika itu juga keduanya berhenti, lalu mereka bertiga tertawa tanpa menghiraukan Anwar yang sedari tadi melihat mereka.
" Hari ini bawa makan apa Tan?" Tanya Mia yang sedari tadi mengharap – harap bunyi bel istirahat berbunyi.
" Biasa, bawa nasgor bunda."
" Ngiler euy."
Setelah ujian akhir selesai, biasanya sekolah kami mengadakan pengulangan atau remedial bagi siswa – siswi yang tidak mencukupi nilainya untuk lulus. Namun, Alhamdulillah Tania dan Mia sejauh ini tidak ada nilai anjlok karena rajin belajar.
.
" Tan, jujur deh. Berantem ya sama Anwar?"
" Duh Mia, nggak lah. Semalam baik – baik aja kok."
" Kok dia jadi menjauh gitu sih sama kita?" Tanya Mia keheranan.
" Puber kali, biarin aja deh." Ucap Shaka yang tiba – tiba lagi ada di belakang mereka.
Tania juga sebenarnya memikirkan perubahan yang terjadi pada Anwar, lalu teringat kembali dengan kejadian kemarin. Ia berpikir karena bentakannya semalam Anwar jadi berubah dan tidak mau berteman dengannya lagi.
Si pirang ombre kembali membuat seluruh siswa di kantin heboh. Diketahui bahwa ia adalah anak dari pak Bambang si kepala sekolah menyebar luas dengan cepat karena popularitasnya. Tidak heran jika banyak yang menyukainya, begitupun dengan Anwar.
Permisi, di sini sepertinya masih kosong satu?
" Nggak ah, udah penuh penuh." Bantah Mia yang entah kenapa jadi sensitif.
Shaka terdiam, lalu perempuan itu tetap mengharapkan satu tempat duduk itu.
" Duduk saja." Tania memecah keheningan dan ke awakward-an suasana.
Mereka tetap makan dalam keheningan, Tania jadi tidak enak dengan Mia yang sedari tadi merengut dan entah kenapa Shaka juga jadi diam seribu bahasa. Tania bingung harus melakukan apa selain menghabiskan makanan dan minumannya dengan cepat.
Sepulang sekolah, Tania tidak melihat Anwar. Biasanya mereka berempat sudah ada di parkiran sambil bercanda gurau. Terlihat sekali bahwa ada yang tidak beres dengan Anwar hari ini. Shaka menawarkan boncengan, begitupun dengan Mia.
" Kalian kan jauh banget, nggak usah deh." Tolak Tania.
" Nggak kok Tan." " Santai aja lah." Jawab keduanya berbarengan.
" Oh iya, aku kebetulan mau jemput bunda di pasar. Aku naik angkot aja."
Mereka berdua sepertinya percaya dengan kebohongan yang Tania buat. Sebagai orang yang tidak enakkan, Tania lebih memilih berbohong daripada harus merepotkan orang – orang baik itu.
Satu persatu siswa – siswi berhamburan keluar sekolah, menyisakan yang belum ada jemputan dan menunggu angkot datang. Tania beberapa kali memperbaiki kerudung putihnya karena angin sepoi – sepoi kembali datang seakan menandakan hujan akan datang.
" HUUUATCHUUUH....."
Terdengar suara bersin dari arah samping, Tania pun menengok ke arah suara itu. Terlihat anak kecil berpakaian lusuh sedang menatap jalanan sambil mengusap – usap hidungnya dengan tangan yang mungil.
" Payung kak?"
Ternyata dia adalah pekerja ojek payung. Dengan tubuh sekecil itu ia terlihat kuat, entah kenapa Tania jadi senyum dan meng – iyakan tawaran anak tadi. Mereka pun beranjak dari halte bis yang sudah tidak beroperasi itu. Tidak jauh dari tempat mereka beranjak, hujan tiba – tiba turun dengan deras.
Anak itu membukakan payung berwarna hijau besar itu dengan tergesa – gesa, mungkin karena melihat Tania yang sudah terlanjur sedikit basah atau dirinya juga tidak mau terkena hujan. Setelah terbuka, Tania langsung menyambut payung itu dengan ramah.
" Dik, rumah kakak lumayan jauh loh."
" Sudah biasa kak, kaki saya kuat kok."
" Oalaah, semangat sekali. Nanti kakak kasih kue deh buat kamu."
" Beneran kak?"
Mata anak itu berbinar – binar mendengar Tania akan memberikan kue. Tania tertawa kecil melihat sosok anak dengan semangat itu. Tania dari dulu ingin sekali mempunyai adik, tetapi Allah belum memberinya rezeki itu.
Angin kembali sepoi – sepoi, kali ini agak kencang. Tania dan anak kecil itu belum juga sampai karena harus berhenti sebentar untuk melewati angin yang kencang. Tania agak kedinginan, ia tidak membawa jaket.
Tania menggosok – gosokkan tangannya agar tetap hangat, sesekali ia melihat anak kecil itu. Tatapan anak itu terus memandang jalanan seakan menantang, ia tidak memperlihatkan rasa kedinginan sama sekali seakan sudah biasa.
" Kak, anginnya sudah tidak kencang."
" Ooh.. iya."
Mereka berjalan kembali menuju rumah Tania. Menghabiskan waktu dengan bertanya – tanya tentang kehidupan anak kecil itu. Anak kecil itu sedikit tertutup, namun Tania yang ramah mampu membuatnya nyaman.
WUSSHHHH....
Tania lengah, payung milik anak itu terbang terbawa angin. Anak itu kaget dan langsung berlarian mengejar payung itu. Mau tidak mau Tania mengikuti anak itu tanpa menghiraukan hujan yang tengah turun.
"Annisa tunggu kakak." Teriak Tania.
Anak itu tetap acuh dan mengejar payungnya, Tania yang merasa bersalah itu pun juga tetap mengejar anak itu. Payung itu adalah peninggalan ibunya ketika ia meninggalkannya di sebuah tempat. Dari ceritanya yang singkat, anak itu terus mencari ibunya dengan payung itu.
Sampai ke tengah jalan yang kosong, payung itu berhenti terbang. Seolah sudah menjadi takdir, anak itu mendapatkan kembali payungnya. Tania yang melihat itu terharu sekaligus senang.
Anak kecil itu tersenyum ke arah Tania, ia mengangkat payungnya dengan bangga seperti mendapat piala. Namun, tiba – tiba ada lampu sorot yang menerangi anak itu. Tania menyuruhnya untuk menjauh, tetapi tidak di dengar oleh anak itu karena hujan yang deras menutupi pendengaran.
" Ya Allah, bantu Tania." Tanpa pikir panjang ia berlari ke arah anak itu.
BRUUGGHH...
Anak kecil itu tak kuasa menahan tangis, membuat orang – orang yang mendengarnya berkerumun. Darah mengucur dari kepala hingga kaki Tania, saat itu ia melihat beberapa orang dengan pandangan blur lalu seketika penglihatannya menjadi hitam.
Dengan cepat mobil ambulance datang, para perawat mengangkat Tania yang sudah kelihatan kritis. Annisa si ojek payung itu pun juga dibawa karena ada luka – luka disekitar tubuhnya. Ia menangis sepanjang perjalanan, padahal perawat yang lain sudah membujuknya supaya jangan menangis.
Sesampainya di rumah sakit, Tania dilarikan ke UGD karena pendarahan. Gadis kecil itu menunggu di depan pintu UGD sambil membawa payung hijau dan tas Tania. Ia terisak – isak menangisi Tania yang sedang dirawat. Dilihatnya payungnya berulang kali, berulang kali juga dia cemberut ingin menangis kencang lagi.
Gadis kecil itu meringkuk kedinginan sambil menangis, menunggu Tania dengan setia. Padahal ia bisa saja tidak menunggunya, tapi entah kenapa kakinya tidak mau beranjak dari tempat itu.
.
.
Bunda Maya hanya terdiam melihat pintu UGD yang masih tertutup dengan rapat. Ia diberitahu bahwa anaknya kecelakaan oleh seorang kenalan yang mengetahui Tania adalah anaknya. Air matanya tumpah seketika berpikir akan melihat anaknya yang terluka. Ia beristigfar dan membaca doa agar hatinya tenang.
" Ya Allah selamatkan anak hamba Ya Allah." Bunda Maya menangis lirih.
Bunda Maya yang tengah berdoa untuk Tania melihat ada anak kecil tengah meringkuk dengan baju yang basah. Bunda Maya pun menghampiri anak itu dengan mata masih berkaca – kaca, namun dipaksa tegar.
" Nak, nak." Panggil Bunda Maya ramah.
Hiks..hiks..
" Kamu kenapa nak?"
" Kakak itu.....sayaa...." Terbata – bata gadis kecil itu menjawab dengan mata yang berkaca - kaca.
Tepat saat ingin bertanya – tanya kepada anak itu, bunda Maya melihat dokter yang merawat Tania membuka pintu. Bunda Maya langsung menyerang dokter itu dengan pertanyaan – pertanyaan mengenai anaknya, si gadis kecil juga menyelinap mendengarkan orang – orang dewasa itu berbincang.
" Bagaimana anak saya dok?"
" Mohon maaf bu, sepertinya kita harus membicarakannya di ruangan saya."
Bunda Maya menghela napas berat sambil menahan – nahan emosinya yang campur aduk. " Baik dok."
" Saya ingin melihat kakak." Annisa menarik – narik celana dokter itu dengan lemah.
Dokter tersenyum dan menyuruh perawat menggantikannya baju dan memberikan obat kepada anak itu. Awalnya Annisa tidak mau, tapi karena dokter berkata bahwa setelah itu dia bisa bertemu dengan Tania, ia pun mengangguk menuruti.
.
.
" BUTA DOK???"
Tangis bunda Maya tumpah, ia tak kuasa menahan lagi tangisnya. Seorang istri yang baru saja ditinggal suami dan sekarang anaknya mengalami kejadian yang sama membuatnya lemah tidak berdaya. Tidak satupun keluarganya yang bisa ia jaga, pikirnya.
Ia keluar dari ruangan dokter dengan perasaan sangat sedih dan segera mendatangi anaknya yang terbaring lemah di kasur rumah sakit. Perlahan diusapnya tangan Tania yang putih pucat dengan infus di tengah. Ingin rasanya menangis kembali, namun bunda Maya mengurungkannya karena takut terdengar oleh Tania.
" Bunda?" Suara lirih Tania memanggil.
" Sayang, sudah bangun?" Sahut bunda Maya dengan suara bergetar menahan tangis.
" Bagaimana si Annisa bun?"
" Siapa itu nak?"
" Anak kecil yang sama Tania tadi bun."
Annisa yang tidak tahu dirinya dibicarakan itu pun datang dengan tangisan melihat Tania sudah sadar. " Kakaaaak....."
" Annisa, maafin kakak ya. Tadi hampir aja kehilangan payung kamu."
Annisa menangis sejadinya, melihat Tania yang mengkhawatirkan dirinya. Begitu pun bunda Maya yang tak kuasa mellihat kebaikan anaknya sendiri. Perlahan bunda Maya melangkahkan kaki menuju mushola rumah sakit. Rasanya ia ingin berdoa untuk kesembuhan Tania dan juga keberanian untuk memberitahu Tania atas kondisinya.
.
.
Anwar bergegas menuju ruangan yang ditunjukkan perawat. Ia meninggalkan acara makan malam keluarga karena saat ingin mengembalikkan helm Tania, tak sengaja ia mendengar informasi bahwa Tania mengalami kecelakaan. Anwar merasa sangat bersalah dan menyesal sudah memberikan kesan buruk pada Tania.
"Assalamu'alaikum."
" Wa'alaikumsalam." Jawab lirih dari sosok Tania yang terbaring.
Anwar dihentikan oleh anak kecil yang membentangkan tangan kecilnya. Ia tidak diperbolehkan melihat Tania yang sedang dalam keadaan tidak memakai hijab. Anwar tersenyum, ia membenarkan larangan itu, karena Tania adalah wanita yang tak pernah membuka hijabnya di depan yang bukan mahramnya.
Bunda Maya yang melihat Anwar pun langsung mengajak keluar dan sedikit mengobrol. Anwar pun menceritakan kenapa ia bisa mengetahui kejadian hari ini. Ia juga meminta maaf kepada bunda Maya dengan penuh penyesalan karena sudah membuat Tania harus mengalami kejadian naas seperti itu.
" Takdir nak, bunda tidak menyalahkan Anwar atas hal ini."
Anwar terdiam, dirinya sungguh suka dengan kehangatan keluarga Tania. Tidak seperti keluarganya yang tidak ada kehangatan, hanya ada peraturan dan ketentuan.
.
.
Anwar sangat terkejut ketika melihat orang tuanya datang ke rumah sakit. Anwar dimarahi ayahnya karena sudah meninggalkan makan malamnya bersama kepala sekolah. Namun, ibu Anwar malah tertarik dengan anak kecil yang sedang mengintip di balik jubah bunda Maya.
" Ica?"
Sontak ayah Anwar yang sedang memarahi Anwar melihat istrinya yang sepertinya kumat lagi. Kehilangan anak membuat wanita itu berhalusinasi setiap melihat anak kecil. Namun, kali ini ibunya Anwar tidak berhalusinasi. Anaknya memang seseorang yang mengintip di balik jubah bunda Maya.
Annisa tanpa ragu memeluk ibunya yang memang sedari dulu dicarinya. Ia tidak pernah melupakan kalung liontin setengah yang menjadi ciri khas ibunya itu. Annisa pun mengambil separuh dari liontin itu yang ia kaitkan dikawat di dalam payung hijaunya.
Keduanya menangis, begitu juga bunda Maya yang terharu dengan suasana tersebut. Ayah Anwar yang dulunya meremehkan Tania dan keluarganya sekarang sangat malu. Ia meminta maaf kepada bunda Maya dan akan membiayai seluruh pengobatan Tania.
Anwar juga dibebaskan dari perjodohan sepihak karena Annisa sudah ditemukan. Perjodohan itu sebenarnya bukan untuk Anwar atau perusahaan ayahnya, melainkan memberikan seorang cucu kepada ibunya yang sakit mental karena kehilangan anaknya.
Tania mengetahui keadaanya yang buta dan itu tidak membuatnya putus asa. Ia sudah melakukan sebuah kebaikan dengan rasa ikhlas. Kebaikan yang didasari rasa ikhlas itu akan menumbuhkan kebaikan pula bagi yang melakukannya. Walaupun harus kehilangan sesuatu, Tania selalu merasa ikhlas. Pikirnya, di dunia ini tidak ada yang abadi dan yang abadi hanya ada pada Allah SWT.
Tamat.