"Haaaah, lelahnya. Akhirnya selesai juga semuanya." keluh Mira yang merasa lelah dari siang banyak sekali orang melahirkan di rumah sakit itu.
"Iya mbak lelah banget, rasanya punggungku mau putus." sambung Riri menimpali kata - kata Mira.
"Hei, RI apa kamu tau soal yang kemarin katanya ada orang yang bertengkar di lobby rumah sakit pagi - pagi?" tanya Mira yang mulai mengawali untuk bergosip.
"Tidak, memang kenapa mbak?" tanya Riri biasa saja.
"Aduh kau ini, selalu saja ketinggalan info. Kebanyakan baca novel sih jadi gak tau info terkini kan." Mira memukul Riri dan menghela nafas dalam mau memulai bergosip.
"Hai nona - nona cantik." tegur Maria yang baru keluar dari ruangan dan menuju ke ruang istirahat.
"Loh mana Tila mbak Ria?" tanya Mira sambil celingukan.
"Dia masih ke kantin, tadi ku suruh beli makanan dan cemilan buat teman kita bergosip. Kalian tadi mau bergosip kan? Ya kan,,, ya kan,,,?" ucap Maria dengan tatapan kalau gosip akan segerah dimulai.
Dan benar saja setelah mereka berkumpul berempat mereka pun mulai menggosipkan dan membahas segala bahasan. Gelak tawa mereka menghiasi ruang istirahat, pembahasan mereka terdengar sangat seru dengan ditemani es capcin dan dimsum kesukaan mereka berempat.
"Wah, apa lagi kalau sudah hot aduhai." ucap Maria dengan tertawa.
"Bisa saja, sampai nambah - nambah dong?" tanya Mira yang juga tertawa.
"So pasti itu kan yang dicari saat lagi dingin menyelimuti." sambung Tila yang menjadi bahan omongan dan candaan mereka karena baru saja menikah alias pengantin baru.
"Kalian suka banget bahasan seperti itu." Riri ikut bersuara setelah dari tadi hanya diam mendengarkan karena dari ke empat orang hanya dia saja yang belum menikah.
"Aduh, sayangku lupa jika di sini masih ada anak kecil, bayiku yang mungil dan rupawan." Maria meledek Riri yang masih singel.
"Hele, walau aku masih bayi tapi aku juga sudah sering melihat di rumah sakit ini, besar kecilnya milik orang - orang. Emangnya milik pasangan kalian sebesar dan sepanjang apa?" tanya Riri yang mulai mengimbangi pembahasan.
Mereka pun tertawa bersama lagi, dan bahasan mereka jadi makin seru kalau yang dibahas soal - soal yang menjurus. Hingga tak terasa waktu pun telah berlalu dan sudah waktunya untuk ganti sihf dengan yang jaga malam.
"Bay, semuanya ketemu lagi besok." teriak Mira yang sudah dijemput oleh suaminya.
"Aku duluan ya mbak Maria dan Riri." Tila juga pulang dengan suaminya.
"Akhirnya tinggal kita berdua ini mbak yang naik bus bersama." ucap Riri pada Maria.
"Iya, ayo keburu ketinggalan bis nanti karena sudah pukul 9 ini." Maria menarik tangan Riri menuju ke halte bis didepan rumah sakit.
"Hati - hati dijalan ya mbak, aku turun duluan." ucap Riri pada Maria dan dia pun turun lalu berjalan kaki menuju rumahnya.
Setelah sampai di rumah Riri langsung mandi dan merebahkan tubuhnya ditempat tidur, kebiasaan dia yang membaca novel sebelum tidur tak dilakukan karena saking lelahnya. Dia pun terlelap dengan sangat lelapnya karena sudah capek tadi habis menolong 3 persalinan sekaligus.
Keesokan paginya Riri bermalas - malasan untuk bangun karena dia sedang libur setelah 1 Minggu tak libur. Dan karena Riri tinggal sendiri di apartemennya jadi dia bisa berlaku sesukanya karena tak akan ada yang memarahinya.
"Ugh, lapar banget ya. Jam berapa ini?" Riri beranjak dari tempat tidurnya dan berjalan kearah dapur untuk membuat masakan.
Keseharian Riri adalah bekerja dan bermalas - malasan di rumah dengan membaca buku tentang pengobatan dan juga novel, seperti saat ini dia sedang membaca buku soal anatomi fisiologi tubuh manusia. dan juga tentang tata cara penyambungan tulang.
*Lelah hati yang tak kau anggap andai saja...(suara nada dering hanpon Riri).
"Ya halo mbak Ria ada apa?" tanya Riri saat mengangkat sambungan telepon itu yang ternyata dari Maria.
"Ri apa kamu bisa datang rapat hari ini? Karena banyak orang yang merekomendasikan kamu untuk menjadi kepala ruangan yang baru tahun ini." jelas Maria pada Riri.
"Maaf mbak aku tak tertarik, tolong Kasikan pada yang lainnya saja yang lebih senior dari ku." tolak Riri karena dia gak mau repot mengurus banyak hal ini dan itu.
"Tapi kepala rumah sakit juga setuju kalau kamu yang menjadi kepala ruangan yang baru." jelas Maria lagi mendesak Riri untuk mau menerima jabatan itu.
"Tidak, tidak aku tak mau mbak. Aku benar - benar gak mau. Maafkan aku tolong sampaikan pada semuanya ya mbak aku gak mau. Kalau kalian memaksa aku akan pergi dan menghilang." jawab Riri bersih keras menolak tawaran untuk menjadi kepala ruangan.
"Mereka ini ada - ada saja." gumam Riri dan dia kembali kekamarnya untuk bermalas - malasan lagi sambil membuka hanponnya untuk membaca novel kesukaannya.
Setelah selesai membaca sampai selesai episode novel kesukaannya Riri mencari lagi novel baru yang menarik dan enak untuk dibaca. Riri mengsecrool hanponnya untuk mencari lagi novel yang menarik.
"Hah, gak ada yang menarik. Sebaiknya aku mandi dan pergi mencari bahan makanan untuk makan malam nanti." Riri langsung beranjak dari tempat tidurnya setelah selesai mandi Riri langsung pergi ke supermarket.
Setelah selesai belanja dan membaca majalah didepan supermarket Riri pun pulang untuk masak makan malam. Dan setelah selesai Riri kembali mandi untuk bersantai lagi.
"Ya ampun apa ini, sepertinya menarik novel ini." gumam Riri yang merasa tertarik setelah membaca sinopsis dari sebuah novel di hanponnya.
"Apa - apa an sih dia kejam banget sama tunangannya. Padahal tunangannya tak bersalah, karena dia dimanfaatkan oleh ayah dan juga saudara - saudaranya. Ngeselin tak diselidiki dulu, dasar orang jaman dulu masih primitif dan tak ada teknologi seperti dunia sekarang." gerutu Riri kesal yang membaca cerita peran utama pria langsung memberikan hukuman mati pada tunangannya karena sebuah kesalahpahaman saja.
"Ah, tidur ah lanjut besok bacanya." Riri pun mulai siap - siap tidur dan menghayalkan kalau seandainya dia jadi pemeran utama wanita dalam novel yang baru saja dia baca dengan rasa kesal karena tindakan peran utama prianya.
"Ugh, sakit sekali. Tubuhku rasanya sangat berat dan sakit di sekujur tubuh apa aku salah tidur?" gumam Riri yang perlahan tersadar dari tidurnya.
"Putri, anda sudah bangun?" tanya seseorang dan itu membuat Riri kaget, dan langsung bangun serta duduk dengan tegap.
"Aku dimana ini?"
Riri mengerjab berkali - kali dan melihat sekeliling adalah benda - benda asing yang sepertinya pernah dilihat atau disebutkan dan Riri kenali karena telah mengingat apa yang Riri baca sebelum tidur semalam.
Riri seolah menyadari sesuatu, dia bangun dan mencari sesuatu yang bisa dia gunakan untuk bercermin. Hingga Riri menemukan air dalam baskom, Riri menatap pantulan wajahnya dan berusaha untuk menetralkan rasa terkejudnya karena dia masuk dalam novel yang dia baca dan lebih lagi menempati tubuh Putri Yourina yang akan meninggal ditangan tunangannya sendiri.
"Aaaarrgh.!" Riri berteriak keras dan mencobak memukul dirinya sendiri ingin memastikan kalau itu semua hanyalah sebuah mimpi karena semalam dirinya sedang membayangkan kalau dia menjadi pemeran utama wanita dalam novel yang dia baca dan akan menghindari kematian.
"Bagaimana aku bisa masuk ke sini? Sekarang bagaimana caranya aku kembali ke dunia ku lagi?" Riri tertunduk dengan lemas.
Bersambung...