Kisahnya akan menjadi sebuah cerita di kehidupan yang akan datang. Kisah antara aku dan dia di waktu kami masih bersama.
Namanya adalah Brian, laki-laki baik yang pernah aku cintai mungkin sampai saat ini. Kami tidak berpisah walau kata putus pernah ada.
Sebelum kepergiannya, Brian memutuskan hubungan dengan ku tanpa alasan yang jelas.
Bahkan aku berfikir dia lebih memilih wanita yang lebih cantik dari ku. Tetapi setelah 1 tahun berlalu aku baru tau sebuah kenyataan pahit.
"Kita putus ya Sel," ucap Brian memutuskan hubungan.
"Kenapa? Ada apa? Apa aku salah?"
Pertanyaannya yang beruntung itu membuat Brian tidak bisa berkata bahkan dia tidak mau memberi tahu alasan pasti.
Puk ... puk ....
"Jaga dirimu baik-baik ya sayang."
Muach.
Brian mengecup kening ku, lalu pergi dan masuk ke dalam mobil hitam kesayangannya.
"Ada apa ini?" lirihku.
Air mata ku tiba-tiba saja mengalir deras tanpa sebab, sakit sekali rasanya di dalam lubuk hati ini.
"Apa kau tega meninggalkan ku sendirian? Apa kau tega menghancurkan hubungan kita yang sudah lama?"gumamku
"Apa kau tidak lagi mencintai ku? Brian apa alasan mu memutuskan hubungan kita?" tanya ku lagi.
Aku hanya bisa tertunduk di bawah sebuah pohon besar sembari menangis sejadi-jadinya.
Padahal cuaca hari ini sangat cerah, bahkan matahari saja membakar kulit ku tetapi tiba-tiba saja awan cerah berubah menjadi mendung.
Tangisan di bawah derasnya hujan pun terjadi. Aku tidak peduli dengan tubuhku yang basah kuyup dan aku tidak peduli setelah ini aku akan sakit atau tidak.
Sesampainya di kontrakan, aku langsung mengurung diri ku di kamar mandi. Menatap cahaya lampu yang tergantung di langit-langit.
"Apa dia sudah menemukan yang lebih baik dari ku?" tanya ku pada seluruh benda yang ada di ruangan ini.
Soorrr....
Keran air sengaja aku buka agar teman ku yang berada di kontrakan ini mengira aku sedang mandi.
1 jam berlalu.
"Kayaknya Selena lagi di kamar mandi kan? Kok udah dua jam, eh satu jam gak keluar-keluar sih? apa jangan-jangan dia ...."
Tok ... tok ... tok ....
"SELENA! SELENA!" teriak temanku.
Tubuhku sudah tak kuat lagi untuk membuka pintu ini, tubuhku sudah kaku kedinginan, entah aku akan selamat atau tidak. Aku pun tidak tahu.
Saat mataku mulai terpejam suara bising menghampiriku.
Brak....
"SELENA."
"Tolong bawa dia ke kamar."
Satu hari kemudian.
Aku mulai membuka mata , tetapi cahaya begitu terang apa mungkin aku sudah berada di surga?
Tetapi ... Plak ....
Teman ku menampar pipi sebelah kanan. Dan seperti biasa omelan panjang pun terjadi.
"SELANA! APA KAU BODOH? MENGAPA KAU MELAKUKAN INI? HAH? SUDAH KU KATAKAN, JIKA KAU MEMLIKI MASALAH CERITALAH KEPADA KU!"
"Ria, aku baru saja bangun apa kau harus mengomeliku? Kepala ku masih sakit tetapi kau malah menamparku."
"Itua karena dirimu ceroboh, dasar bodoh!"
Aku baru tau kalau aku sekarang berada di puskesmas rawat inap dan sudah seharian aku berada disini.
Bahkan Ria bilang aku sudah seharian pingsan dan selalu menyebut nama Brian. Ria sudah menebak, pasti ada sesuatu yang terjadi antara kami berdua.
Aku pun langsung menceritakan yang sebenarnya ke Ria dan Ria pun langsung memeluk tubuh ku dengan erat agar aku tidak merasa sendiri.
"Kau bodoh Selena, aku ada disini. Aku akan membantumu melewati semuanya."
"Iya, terimakasih ya Ria."
10 bulan berlalu.
"Aku berhasil move on dari hubungan yang sudah kami bina selama 5 tahun. Walau belum sempurna tetapi aku bisa bilang aku berhasil move on."
~▪︎~
Cafe Antariksa.
Cafe pertama yang pernah aku datang selama aku hidup dan Cafe ini adalah Cafe saksi cinta antara aku dan Brian.
"Halo nona, selamat datang."
"Mau pesan apa nona?"
"Seperti biasa," ucapku ke pada pelayan Cafe.
"Baiklah nona silahkan menunggu."
Mojitos, Spaghetti Bolognese dan Crofel coklat. Itulah makanan yang sering kami pesan saat bersama.
"Silahkan di nikmati nona."
"Terimakasih."
Rasa makanannya tetap sama, tetapi suasanya sedikit berbeda. Sendiri tidak ada pasangan yang dapat menemani ku kemana saja yang aku mau.
'Apa kabar kau sekarang Bri?' tanya ku dalam hati saat menghantap makanan ini.
"Enak?" tanya seseorang di balik tubuhku.
Mataku membulat besar, mungkin air mataku bergenilang. 'Brian,' umpatku dalam hati.
Saat aku menengok.
"Hay," sapa hangat dari Viko teman akrab Brian.
Aku tidak kembali menyapanya, aku hanya diam dan kembali makan makanan ku.
Dreet ....
Duk ....
"Tumben sendirian? Brian mana?" tanya Viko penasaran.
"Udah putus."
"Hah? Serius kapan?"
"10 bulan yang lalu."
"Tapi Brian gak bilang ke gua kalo kalian putus."
"Gak tau."
"Gua serius Sel, waktu gua tanya 'Selena mana?' dia bilang 'Ada' terus gua bilang lagi 'Kalian putus?' terus Brian jawab 'Enggak' gitu."
Begitulah percakapan singkat yang Viko peraktikan. Keheningan pun terjadi beberapa menit sampai akhirnya Viko memberi tau sesuatu.
"Brian masuk rumah sakit 4 bulan yang lalu."
"Apa? Dimana? Sakit apa?"
"Kan udah gua duga," ejek Viko.
"Brian mengidap kanker, gua belum tau kanker apa. Tapi yang pasti dia ada di Singapura sekarang. Lagi kemoterapi di sana."
"Stadium berapa?"
"Gua belum tau. Gua mau cari informasi lebih lanjut lagi dan kalau Gua udah tau nanti gua hubungi lo."
"Terimakasih."
Bagaikan petir yang menyambar di siang bolong, Selena hanya bisa meratapi nasibnya kekasihnya itu.
'Apa ini penyebab Brian memutuskan aku?'
2 Bulan kemudian,
Aku mendapatkan sebuah kabar dari Viko kalau ternyata Brian mengalami kanker Hati stadium akhir.
Tubuhku seketika melemas, terjatuh di lantai kamar sembari menangis.
Tanpa pikir panjang dan mau tidak mau aku harus menemuinya di Singapur.
Aku pun memaksa atasanku untuk memberikan cuti kerja selama seminggu demi Brian.
"Lo bareng gua perginya," ucap Viko.
Aku hanya mengiyakan saja dan tepat pukul 11.00 pm aku dan Viko sampai di bandara Singapura.
"Kita langsung ke rumah sakit kan?" tanya ku ke Viko.
"Iya, kita runggu temen gua dulu ya."
Singkat ceritanya, aku dan Viko menghampiri Brian di rumah sakit. Aku melihat tubuhnya telah terpasang alat bantu entah apa.
Tetapi saat aku menghampiri Brian, dia masih memasang wajah bahagia, bahkan senyum pun terpancar di wajahnya.
Aku pun langsung memeluknya dengan erat dan bisikan terakhir dari Brian pun tersampaikan.
"Aku masih mencintaimu, maaf aku selama ini berbohong kepadamu. Aku tidak mau merepotkanmu, apa lagi sampai membuatmu menangis."
"Maaf jika aku sudah membuat air mata berharga mu itu jatuh. Aku merelakan kau pergi, berbahagialah dengan laki-laki pilihanmu."
"Aku akan ada disisimu Selena."
Dan setelahnya Brian meninggal tepat di pelukanku.
-End-