Aku istri yang kau hianati, istri yang kau telantarkan. sadarkah dirimu wahai laki-laki yang disebut sebagai suami dan sebagai ayah?.
happy reading.....
Namaku Aira biasanya orang manggilku Bu Aira. Aku memiliki tiga orang anak, yang pertama namnya Diana usianya 22 tahun, yang kedua namanya Raka usianya 15 tahun dan yang terakhir namnya Andi usia 6 tahun. Aku berasal dari kota B, kota yang asri dan sejuk, kota yang mayoritas penduduknya sebagai petani jadi untuk perekonomian masyarakat sekitarku menengah kebawah.
Aku hanya seorang ibu rumah tangga yang setiap harinya hanya mengurus rumah, suami dan anak-anak, aku tak banyak mengeluh aku ikhlas menjalankan semua ini karena pada dasarnya perempuanlah yang mengurus semua kebutuhan suami dan anak-anak. Samiku pada awalnya hanya pekerja serabutan memang secara pendidikan dia cuma lulusan SMA. Tapi semua kami jalani dengan ikhlas hidup pas-pasan tidak menjadi masalah bagiku, yang terpenting keluargaku sejahtera.
Pada suatu hari suamiku berkata "Bu aku ingin mencoba untuk mengikuti calon sebagai anggota kepemerintahan, apa tidak apa-apa?"
Sejenak aku berfikir, aku tidak langsung menjawab sebab semua harus di pertimbangkan. Setelah beberapa saat aku berfikir dan mempertimbangkan segala kemungkinannya aku pun menjawab.
"Pak, untuk mencalon sebagai anggota kepemerintahan harus mempunyai skil dan harus bertanggungjawab, sebab itu adalah amanah yang menjadi tanggungjawab. Kalau bapak yakin dan mampu, ibu hanya bisa mendoakan dan mendung segala keputusan bapak agar semuanya berjalan dengan baik"
Bapak pun menanggapi perkataan ku "baiklah bu, doakan bapak agar bisa"
Amin.
Setelah merundingkan keinginan bapak untuk mengikuti pemilihan keanggotaan kepemerintahan, kami pun mulai menyiapkan segala halnya. Akubyang notabennya hanya ibu rumah tangga dan tidak mengerti masalah politik hanya bisa mendoakan yang terbaik buat suamiku.
Anak-anak dan saudara-saudara ku semua mendukung keputusan dari suamiku, kamu semua mendukung dan berusaha yang terbaik.
Dan pemilihanpun dilakukan, ternyata suamiku tidak terpilih. Namun semua tidak menjadi masalah bagi kami, suamiku terus berusaha pada pemilihan-pemilihan selanjutnya namun takdir berkata lain hingga beberapa kali suamiku tidak terpilih.
Hingga pada pemilihan terakhir terdengar desas-desus tetangga yang mengatakan kalau suamiku punya wanita simpanan, tentu hal itu menurutku bukanlah kebenaran aku percaya pada suamiku bahwa dia tidak akan melakukan itu. Lambat laun gosip itu mulai santer terdengar, akupun memberanikan diri untuk bertanya pada suamiku.
"Pak, ibu mendengar kabar dari beberapa tetangga kalau bapak kepergok jalan bareng cewek lain, mereka mengatakan kalau itu simpanan bapak, apa itu beneran pak?"
Aku mulai meneliti setiap air muka samiku dan aku menemukan sedikit sorot ketakutan di matanya, namun aku tetap tenang karena aku percaya pada suamiku. Aku bertanya hanya untuk meyakinkan hatiku agar tidak berburuk sangka terutama pada suamiku.
"Bu, bapak tidak mungkin selingkuh, ibu adalah wanita satu-satunya di hatiku. Kaulah bidadari ku dunia dan akhirat. Kaulah surgaku dan kaulah ibu dari anak-anakku tidak mungkin aku menghianatimu karena aku sangat mencintaimu".
Aku percaya dengan semua ucapan suamiku. Aku berfikir itu memang tidak benar dan mungkin gosip itu hanya untuk menghancurkan rumah tanggaku karena tidak menyukai keluargaku.
Anakku yang pertama sampai menanyakan hal itu kepadaku. Pada suatu sore Diana menemuiku "Bu, ada yang mau Diana biacarakan sama ibu".
"Diana Putri ibu mau menanyakan apa, sepertinya penting sekali?"
"Begini Bu, Diana sempat mendengar tetangga sebelah membicarakan bapak, katanya bapak punya simpanan di luar apa itu benar Bu?"
"Nak, kemarin ibu sudah menanyakan ke bapak katanya itu tidak benar."
"Tapi Bu?"
"Sudah jangan difikirkan ya. Semoga keluarga kita selalu di lindungi sama yang maha kuasa."
"Amin".
Setelah percakapan itu, Diana tidak lagi menanyakan hal itu lagi. Untuk kedua anak laki-laki ku mereka tidak pernah menanyakan biru mungkin karena usianyaasih kecil sehingga tidak tau akan omongan orang, atau memang tidak mau menanyakan hal itu.
Hingga pada suatu hari hal yang tidak terduga dan yang pernah aku bayangkan terjadi. Semua bermula dari penuturan putri ku.
"Bu, ... Panggil Diana pada ibunya dengan mata berkaca-kaca."
"Kenapa nak?" Tanya ibu Aira pada putrinya.
"Bu, aku tidak sengaja mendengarkan bapak menelfon seorang wanita, awalnya aku anggap itu paling teman bapak, lama kelamaan kok ayah bicara ngajak ketemu di tempat biasa dan bapak memanggil orang itu dengan sebutan sayang"
"Astagfirullah, beneran kamu nak?"
"Beneran Bu, Diana tidak bohong".
Hatiku hancur, duniaku seakan runtuh. Semua perkataan suamiku yang mengatakan kalau berita tentang selingkuhnya dia itu tidak bener semuanya bohong. Aku memantapkan hatiku untuk bertanya. Kebetulan suamiku sedang ada di rumah.
"Pak, ibu mau menanyakan sesuatu, tapi bapak harus jawab dengan jujur tidak boleh ada yang di tutupi"
"Ibu mau nanya apa sih kok serius sekali". Kulihat suamiku masih santai seperti tidak terjadi apa-apa.
"Kata Diana menelfon seorang perempuan dan ngajak bertemu sama bapak dan memanggil sayang?"
Kulihat suamiku mulai berubah dudukpun dia tidak tenang. Akubterus mendek dia untuk jujur, dan pada akhirnya..
" Bu, maaf memang benar bapak punya seorang yang bapak sukai"
" Ya Allah, apa bapak sadar dengan yang bapak ucapkan? Apa bapak tidak memikirkan perasaan ibu dan anak-anak? Apa bapak tidak ingat usia?apa selama ini yang ibu lakukan kurang, jawab pak jawab?"
Aku menangis sejadi-jadinya, suamiku diam mungkin memikirkan apa yang harus dia sampaikan kepadaku.
"Bu, maaf"
Hanya itu yang keluar dari bibirnya, setelah itu dia meninggalku sendirian yang sedang menangis.
Hari-hari kami lalui tapi tidak seperti semula. Suamiku mulai berubah. Dia sudah tidak mempedulikan ku dan anak-anak. Sering suamiku keluar pagi pulang malam. Aku tidak tau dia kemana. Setiap aku tanya jawabnya selalu bilang bukan urusanku.
Dan sudah satu tahun kita pisah ranjang, seakan dia tidak ingin berdekatan dengaku, hatiku semakin sakit. Ingin aku bertanya bagaimana kelanjutan rumah tangga ini.
Aku tidak tahan di cuekin aku pun bertanya pada suamiku. "Kenapa bapak tidak pernah mau tidur seranjang dengan ibu?"
Kulihat dia melihatku dari atas sampai bawah, lalu dia menjawab " ibu sadar dong, badan gemuk, perut buncit, bau, jelek"
"Ya Allah bapak!!!"
Sungguh aku tidak menyala atas semua ucapannya, aku sadar bahwa aku memang tidak cantik, badanku gemuk. Namun, apa dia tidak sadar aku gemuk juga karena mengandung anak-anaknya, melahirkan dan mengurusnya. Aku jelek tidak bermake-up karena aku tidak diperbolehkan oleh suamiku untuk memakai bedak, gimana merawat diri sedangkan aku harus memastikan apa yang di butuhkan anak-anak dan suamiku terpenuhi. Aku tidak pernah di kasi uang lebih untuk membeli skincare. Giamna mukaku mau glowing kalau tiap hari bergelut dengan dapur tanpa ada perawatan. Sunggu teganya dia.
Aku bertahan sampai sekarang karena aku memikirkan anak-anak. Bagaimana kalau aku berpisah dengan suamiku, nasib anak-anak bagaimana sedangkan mereka masih membutuhkan bimbingan bapak ibunya. Walaupun aku sadar bapak anak-anak tidak sepeduli itu. Tapi aku harus bertahan demi mereka.
Pernah suatu hari aku di tampar sama suami ku karena aku tidak mengizinkannya untuk menikah lagi. Namun bagaimanapun kerasnya aku melarang dia menikah tetap aku tidak sanggup. Banyak dari mereka memang iba dan kasian atas nasibku, terutama anak-anaku aku tau mereka ingin melarang bapaknya namun semua akan sia-sia. Anak-anak selalu menangis dikala malam, hatiku tambah remuk rebam atas semua ini.
Puncaknya pada tangal 10 Desember 2016, suamiku menikahi selingkuhannya, aku diam menyaksikan itu. Tidak ada lagi rasa dihatiku semuanya hancur, sebenarnya aku lelah dengan dengan semua ini, aku ingin mengakhirinya namun lagi-lagi terhalang dengan pemikiran tentang anak-anak. Semua aku pendam sendiri badan yang awalnya gemuk sekarang sudah kurus tidak seperti dulu. Aku selalu berdoa kepada Tuhan, aku minta keadilan dengan keadaanku saat ini. Haruskan aku memperjuangkan suamiku lagi? Atau aku diam saja? Aku menunggu akhir dari jalan hidup ini.