Aku, Kuncoro. Saat ini sudah malam dengan hujan rintik-rintik menemani. Dengan hanya mengenakan jaket dan celana jin panjang, aku hanya duduk dan tertunduk di bangku taman sendirian membiarkan rintik hujan mulai membasahi diriku.
Saat ini aku dalam keadaan bingung. Aku lupa semua hal sebelum ini. Aku juga sampai kepikiran kenapa tiba-tiba aku ada di taman ini.
Aku terus terdiam berusaha menelaah. Sedari tadi yang kurasa adalah sesuatu yang ada dalam diriku. Aku terus menahan sesuatu yang mulai bergejolak dari dalam tubuhku ini. Saat aku sedang menahan rasa itu, tiba-tiba bulu kudukku berdiri. Aku mendengar suara dari belakangku. Suara itu tidak jelas berkata apa.
Pandanganku mulai kunang-kunang. Suara dari belakangku datang lagi. Dengan terus menahan sesuatu dalam tubuhku, aku mencoba menoleh ke belakang.
Ah, ternyata itu hanya daun-daun tumbuhan yang terkena angin bercampur dentuman air hujan yang mengenainya. Aku mulai berhalusinasi.
Tubuhku mulai dingin. Aku mulai tidak merasakan apa-apa. Kehujanan, angin, di saat malam. Bukan, bukan karena hal itu. Jantungku mulai berdetak kencang. Dadaku terasa sesak. Jantungku...Jantungku terasa ditusuk benda tajam.
"Aaaa...."
Saat itu juga...
"HAH!?"
Ah, ternyata ini hanya mimpi...
Aku mencoba mengatur napasku. Masih di atas kasur, aku melihat jam di kamarku yang berada di dinding. Waktu menunjukkan pukul 12.00 malam. Aku menyingkap selimut dari badanku. Aku turun dari kasur. Aku berjalan ke arah pintu ingin keluar dari kamar untuk mengambil segelas air.
Mataku masih sayu. Saat sudah dihadapan pintu, kupegang gagang pintu dan kubuka pintu kamar untuk aku keluar. Aku lanjutkan langkah kakiku.
Terasa aneh...Apa ini? terasa dingin. Kakiku terasa tidak menapak pada apa-apa. Suasana gelap. Aku berusaha membaguskan kembali penglihatanku. Betapa kagetnya aku. Lantai rumah tidak ada. Aku melayang? Aku sudah terlanjur melangkahkan kaki. Aku tidak sempat berpegangan. Aku terjatuh ke liang yang gelap.
"Aaaaaaaaa...."
Saat itu juga...
"Hah!?"
Ah, ternyata ini hanya mimpi...
Aku mencoba mengatur napasku kembali. Masih terduduk di bangku taman dengan dibasahi rintik hujan, aku mulai tersadar. Tadi aku sempat tak sadarkan diri. Aku bermimpi di dalam mimpi.
Aku masih bingung. Apakah ini masih mimpi? Aku terus mengatur napasku. Pandanganku masih kunang-kunang. Tubuhku sudah mati rasa. Akupun tersungkur ke tanah dari dudukku.
BRUK!!
Di atas tanah aku merasakan rasa sakit yang begitu hebat. Sekujur kulitku terasa ditarik ke belakang.
"Aaaaarghh...."
Tubuhku mulai bergetar. Dengan sekuat tenaga aku berusaha untuk terus melawan rasa ini.
Tiba-tiba ada suara dering telepon.
TING TING TING
Suara itu berasal dari saku celanaku.
TING TING TING
Rasa ini tiba-tiba berangsur turun deranya, walau masih membuat tubuhku bergetar. Dengan bersusah payah aku coba mengecek sakuku. Saat telapak tangan kananku masuk ke dalam saku, aku merasa seperti memegang sebuah benda. Kutariklah suatu benda itu keluar dari sakuku.
Ternyata sebuah handphone. Pada layar handphone tampil informasi waktu. Menunjukkan sekarang pukul 12.00 malam.
TING TING TING
Dengan terus menahan getar pada tubuhku, aku memutuskan untuk menjawab panggilan pada handphone ini. Aku berharap hal ini bisa membantuku, atau setidaknya bisa tahu kondisiku dan memberitahu sebenarnya apa yang terjadi.
"Halo...?" ucapku.
Tidak ada suara menjawab pada telepon. Aku coba memanggil kembali.
"Halo...?"
TIT
Panggilan ditutup.
Siapa ini? Dalam benakku bertanya-tanya. Ia hanya menelepon tapi tidak menjawab. Kemudian panggilan ia tutup begitu saja.
Tiba-tiba sesuatu dari dalam diriku datang lagi. Masih sama, sesuatu ini mulai bergejolak dari dalam tubuhku.
"Argh...."
Aku terus menahannya. Pandanganku buram. Entah kenapa aku jadi sangat haus. Sangat lapar.
"Argh...."
DINGDUNG!
Handphone yang sempat terjatuh ke tanah dari genggamanku karena sedang menahan sakit, kucoba ambil kembali.
Ada notifikasi pesan pada layar.
"Argh...." aku masih kesakitan dengan tubuh bergetar.
Dengan terus berusaha melawan sakit di atas tanah, kucoba melihat isi pesan. Betapa bingungnya aku. Pada pesan tertulis:
"Kemajuan bergantung padamu. Semoga berhasil."
Isi pesan ini sungguh aneh bagiku. Aku tidak tahu apa maksudnya.
"Haaaargh...," aku merasa ingin berlari. Adrenalinku begitu tinggi. Lapar...Haus...
Dari mataku keluar darah. Aku merasa tidak bisa menutup rapat mulutku. Gigiku...Ada apa dengan gigiku. Gigi-gigiku terasa meruncing.
"WAAAAAAARGH...."
Tiba-tiba saja...
BIP!
Suara pintu terbuka.
Masuklah 5 orang dengan pakaian putih-putih tertutup dari kepala sampai kaki.
"Siapa...?" tanyaku kepada lima orang yang menghampiriku, "Siapa kalian!? Mau kau apakan aku!? Lepaskan!!! Argh...."
Kelima orang itu mengangkat tubuh Kuncoro yang sedang kesakitan di tanah. Menaruhnya di atas ranjang pasien dan mengikatnya kencang dengan rantai. Setelah siap, Kuncoro langsung dibawa pergi.
"Pasien sedang dibawa...," ujar salahsatu dari kelima orang yang membawa Kuncoro pada sebuah alat komunikasi digenggamannya.
Setelah melewati pintu, Kuncoro baru sadar ia dibawa keluar dari sebuah ruangan. Kenapa bisa? Ada apa ini? ia merasa sedang tidak ada di dalam ruangan sejak tadi. Ia merasa ada di taman bukan di dalam sebuah ruangan.
Ya, Kuncoro dibawa keluar dari Ruangan Alam Buatan. Di dalam ruangan ini, dengan teknologi yang canggih bisa tercipta berbagai cuaca. Berada didalamnya sensasinya benar-benar nyata. Benar-benar teknologi mutakhir dan canggih.
"Mau dibawa ke mana aku!? Argh...," ucap Kuncoro yang terus meronta, terikat di atas ranjang pasien.
Dengan langkah yang sangat cepat, di sebuah lorong kelima orang dengan pakaian putih-putih tertutup dari kepala sampai kaki itu membawa tubuh Kuncoro yang terbaring terikat di atas ranjang pasien.
DRAP! DRAP! DRAP!
Kuncoro sempat melihat jam pada dinding lorong. Waktu menunjukkan pukul 12.00 malam.
Sampailah kelima orang tadi membawa Kuncoro pada sebuah ruangan. Mereka langsung dengan cepat memasukkan Kuncoro ke dalam sebuah ruangan kaca yang bening.
"Aaaaargh...Siapa kalian!? Lepaskan aku!!" Kuncoro terus berteriak dan meronta di atas ranjang.
Setelah siap, kelima orang dengan pakaian putih-putih tertutup dari kepala sampai kaki meninggalkan Kuncoro di ruangan kaca tersebut.
"Argh...." Kuncoro terus menahan sakitnya dengan perawakannya yang sudah tampak berubah mengerikan. Gigi-giginya meruncing, kukunya menajam, urat-urat ditubuhnya begitu menonjol, dan kulitnya menjadi sangat merah. Dari mata, hidung, dan telinganya pun mengeluarkan darah.
Di luar ruangan kaca tampak seorang pria sedang berdiri memerhatikan kondisi Kuncoro di atas ranjang pasien yang terus meronta.
Sehari sebelum saat ini.
Di sebuah sel Penjara Kota. Malam hari. Pada jam, waktu menunjukkan pukul 12.00 malam. Kuncoro hanya terduduk di lantai dan menyandarkan punggungnya di tembok sel tahanan. Ia sedang meratapi nasibnya saat ini. Ia adalah terpidana mati yang sedang menanti hukuman matinya yang tinggal beberapa jam lagi.
Di akhir waktu hidup Kuncoro, Petugas Penjara membolehkan Kuncoro memegang sebuah handphone. Walau begitu, Kuncoro hanya terus memegangi handphonenya saja tanpa melakukan apa-apa. Pikirannya begitu berat. Untuk pasrah begitu susah. Kuncoro larut dalam kesedihan dan ketakutan atas ajalnya yang tinggal terhitung beberapa jam lagi.
Di tengah keputusasaannya, tiba-tiba ada panggilan masuk pada handphone-nya.
TING TING TING
Kuncoro begitu kaget. Kenapa sampai ada yang bisa meneleponnya, siapa sebenarnya orang di balik panggilan ini. Kuncoro pun mencoba mengangkat panggilan itu.
"Halo...," ucap Kuncoro.
Tidak ada jawaban.
Kuncoro mencoba lagi.
"Ha..."
Belum selesai ia berbicara, langsung saja telepon ditutup oleh si penelepon.
TIT!
Kuncoro pun bingung dibuatnya.
Tak lama ada notifikasi pesan masuk pada handphone-nya.
DINGDUNG!
Masih merasa aneh, Kuncoro mencoba membuka pesan dari nomor tidak dikenal itu. Isi pesan adalah:
"Aku bisa menyelamatkanmu dari hukuman mati. Permasalahannya, kau harus bekerja untukku. Hanya ini kesempatanmu. Aku harap kau tidak menolaknya. Jika setuju, cukup balas pesan ini. Jika tidak, tidak perlu kau balas. Kutunggu 3 menit dari sekarang."
Membaca isi pesan sungguh membuat Kuncoro bingung. Perasaannya bercampur aduk antara senang dan masih tidak percaya. Karena merasa sudah tidak punya harapan dan ingin terus hidup, Kuncoro tidak memikirkan apakah ini sebuah guyonan atau bukan. Ia membalas pesan itu dengan menyetujui isi pesan tersebut.
Pagi pun datang. Tubuh Kuncoro gemetar karena waktu eksekusinya sekarang.
SREEEET
Bunyi pintu jeruji terbuka.
Kuncoro berkeringat dingin. Ia tahu, suara itu adalah pintu jeruji di lorong yang terbuka. Pasti petugas sedang berjalan keselnya untuk menjemputnya dan membawanya ke ruang eksekusi.
Masih terduduk di lantai dan menyandarkan punggungnya di tembok sel, Kuncoro begitu heran. Siapa orang berpakaian rapi ditemani petugas penjara yang berdiri di depan selnya
SREEEET
Petugas membuka pintu sel Kuncoro.
"Ayo, bangunlah...," ujar pria berpakaian rapi dengan jas, dalaman kemeja putih, dan bercelana panjang bahan sambil memberikan senyum kepada Kuncoro, "Aku, Kiriaji. Aku diperintah untuk menjemputmu. Tempatmu bukan di sini sekarang."
Petugas pun membantu Kuncoro berdiri. Kini Kuncoro keluar dari penjara dan selamat dari hukuman matinya.
Saat ini.
Kiriaji yang berdiri di depan ruangan kaca, terus melihat dengan saksama perubahan mengerikan pada wujud Kuncoro.
"........."
"WARGH!! WARGH!! WARGH!!" suara ganas Kuncoro di dalam ruangan kaca.
Terlihat, berangsur-angsur tubuh Kuncoro mulai lemas. Kiriaji yang sedang memerhatikan di luar, mulai tampak cemas dibuatnya. Sedikit demi sedikit tubuh Kuncoro mulai tidak meronta. Sayangnya, tak lama pada alat pemeriksaan rekam jantung, jantung Kuncoro terdeteksi sudah tidak berdetak lagi.
TIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIT
Bunyi suara pada alat pemeriksaan rekam jantung.
Kuncoro pun telah mati.
Kiriaji yang berada di luar ruangan kaca begitu kecewa. Ia pun segera mengambil handphone-nya pada saku celananya. Ia menelepon pimpinannya untuk melaporkan hal ini.
"Halo, pak...," ucap Kiriaji pada telepon, "...subjek-17 gagal. Hanya dalam waktu 5 menit ia mati."
"Hmmm...," suara pria membalas perkataan Kiriaji pada telepon, "...terimakasih laporannya. Tetap teruskan proyeknya."
"Baik, pak," pungkas Kiriaji mengakhiri pembicaraan pada telepon.
Kiriaji pun pergi meninggalkan ruangan. Ia pergi meninggalkan tubuh Kuncoro di atas ranjang pasien di dalam ruangan kaca begitu saja. Diikuti 5 orang dengan pakaian putih-putih tertutup dari kepala sampai kaki masuk ke ruangan kaca dan langsung membakar jasad Kuncoro dengan alat penyembur api.
FFUUUUUUSSHHH
Ternyata, Kuncoro adalah kelinci percobaan di sebuah laboratorium rahasia bawah tanah. Sungguh miris nasib Kuncoro. Ia memang selamat dari hukuman matinya tapi oleh pihak yang menyelamatkannya, ia hanya dimanfaatkan. Dengan embel-embel dipekerjakan di laboratorium dan akan mendapat imbalan besar, ternyata selama ini Kuncoro hanya diperalat. Selama ini Kuncoro dijadikan bahan percobaan oleh Kiriaji dan lainnya yang terkait atas proyek mereka. Hal ini tanpa diketahui oleh Kuncoro sendiri yang dengan polos hanya manut saja. Sungguh miris kisah Kuncoro. Ia bagai keluar dari mulut singa masuk ke mulut buaya. Sama-sama sial juga. Demikianlah kisah dari Kuncoro, terpidana mati yang diselamatkan hanya untuk menjadi bahan percobaan pada sebuah proyek yang misterius di laboratorium rahasia bawah tanah.
Tamat.
=================================
PERINGATAN: Ini adalah cerita fiksi. Jika ada kesamaan nama dlsb tidak ada sama sekali niat mendiskreditkan dlsb. Ini semata hanya hiburan.
By the way, cerita ini masih ada ketersambunggan -cerita sampingan- dengan novelku ☺.
Penasaran dengan novelnya? Silakan mampir dinovelku dengan judul: BACK FROM THE DEAD.
Terimakasih sudah mau mampir, baca, dan memberikan dukungan. Sukses untuk kalian semua ☺.