Pagi ini hujan mengguyur tanah perkebunan, hujan begitu lebat sampai sampai semua pegawai tak bisa bekerja dengan baik. Ya sekarang uda mulai musim penghujan.
"Apa kau sudah gila. hah!" teriak kak Yudis padaku yang melakukan kesalahan karna menanam biji cabe dilahan yang salah.
"Maaf kak. aku tak tau kalo ini mau kakak pakai untuk menyemai tomat" jawabku sambil menunduk
"Aku atasanmu bukan kakakmu. panggil aku dengan sopan" jawabnya dengan ketus
"Baik pak" jawabku yang meringkuk takut.
"Bos" bentak kak Yudis lagi pada ku.
"I-iya bos" jawabku dengan suara bergetar karna takut setengah mati.
Kak Yudis dia adalah anak tunggal paman Arip dan Bibi Santi, yang akan menjadi pewaris dari perkebunan yang dikelolah keluar paman Arip. Aku adalah pegawai di perkebunan ini dan aku bekerja di perkebunan paman Arip uda dari sejak alm. orang tuaku.
Paman Arip menampungku di tempatnya karna dia merasa balas budi pada ayahku yang dulu menolongnya saat kesusahan, dan aku dianggap keponakannya sendiri.
"Dira, aku dengar katanya kamu ambil beasiswa ya" tegur pak Asep yang melihatku melintas
"Iya man Asep" jawabku dengan nada riang
"Hem. semoga berhasil ya Dira. man Asep tau Dira selama ini uda bekerja keras untuk itu" Jelas man Asep menyemamgati ku
"Iya man makasih" jawabku sambil senyum
"Iya iya aku juga do'ain semoga kamu sukses ya Dira" sambung Dodik pegawai perkebunan
"Terima kasih mas Dik" jawabku pada Dodik seraya memeluknya. Karna dia uda seperti kakak bagi ku. Tapi dia gak mau ku panggil dengan kata mas, katanya itu kurang akrap
"Perempuan jalang, suka nemplok pada pria sana sini" suara uang ku kenal dengan baik karna setiap hari selalu menghina ku, mencaci ku dan melampiaskan semua amarahnya pada ku
Ya suara itu adalah suara milik kak Yudis yang selalu menghina ku selama 3 tahun ini.
Alasan kak Yudis membenciku selama ini karna dulu waktu aku masih duduk di kelas 1 SMU aku pernah memfitnah dan membuat kak Yudis putus dengan kekasihnya, bahkan mengalami kecelakaan. Kebencian kak Yudis kepadaku tak hilang walau suda 3 tahun lamanya, dan setiap hari kebenciannya seraya semakin besar.
Hari - hari ku selama 3 tahun terakhir ini sangat menyiksaku. Hanya paman Asep yang selalu ada untuk ku dan mendukung aku.
Sudah 6 tajun berlalu dan aku sudah berubah, tapi tak ada yang percaya denganku. Bahkan bibi Santi dan kak Yudis semakin hari jadi semakin membenciku. Hanya paman Asep yang percaya denganku dan mendukungku.
Paman Asep selalu memintaku untuk bersabar dengan tindakan dan perlakuan bibi Santi dan kak Yudis. Paman bilang suatu hari pasti mereka akan melihat kebaikan ku dan aku uda berubah.
Hari ini hari pertamaku masuk universitas pertanian, dengan jalur beasiswa. Aku sangat bahagia dan aku dapat teman bernama Yani dan Bambang.
Hari - hariku di kampus sangat menyenangkan, aku mengikuti banyak sekali bidang olah raga, mulai dari renang, basket, bulu tangkis dan masih banyak lagi yang sekiranya bisa ku lakukan. Seperti saat ini Bambang mengajariku tari air.
Ting tong
"Hello saaaay" sapa Bambang begitu aku membukakan pintu untuknya
"Hahahaaaa.. hello" jawabku sangat senang saat melihat ke dua temanku datang
"Waoo.. Ra kau beli rumah dengan sangat besar" kata Yani
"Ya. aku masih mencicilnya" jawabku sambil berjalan mengambilkan minum untuk mereka
"Rumahmu nyaman sekali Zeyang" kata Bambang dengan suara centilnya, karna dia emang sedikit bencong.
"Sudah ayok berangkat nanti telat." ajak ku yang mau ke kampus bareng.
"Hey ada apa kok rame sekali?" tanyaku pada kedua sahabatku itu
"Eh copot. hus kau ini bisa gak sih gak usah bisik di telinga bikin aku merinding bulu roma" jawab Bambang yang terkejut karna pertanyaan ku
"Ya elah, kan aku baru nyampek gak tau apa yang terjadi" jawabku sambil memonyongkan bibir
"Uda deh say gak usah monyong gitu bibirnya jadi pengen ku kecup" jawab Bambang
"Katanya ada kakak - kakak Magester yang dulu cuti sekarang mereka masuk dan mau menyelesaikan setudinya" jawab yuni
"Oh. terus kenapa jadi rame dan berkerumun gitu?" tanyaku bingung
"Kayak kagak tau ulah cewu cewi centil aja. ya uda pastilah mau cari perhatian dari si kakak - kakak senior kece" jawab Bambang dengan nadanya yang khas
Ya hari - hariku dan ke dua sahabatku ini selalu berputar di olah raga, perpustakaan dan laborat. Kami tak pernah sekalipun peduli dengan hiruk pikup suasana kampus yang selalu heboh akhir - akhir ini karna kakak - kakak senior itu.
Pagi ini suasana kantin sangat lowong dan sepi, aku yang duduk diujung deket jendela terkantuk-kantuk karna habis bergadang ngerjain tugas. Ku tundukkan kepalaku di atas meja dengan berbantalkan tangan.
Ku buka mata saat ku dengar suara kedua sahabatku. Saat hendak berdiri tubub ku terhuyung karna kakiku merasa lemas. Bambang langsung menggendongku dan membawaku ke parkiran, kami bertiga menuju rumahku.
Setelah sampai di rumah aku istirahat, larena kalau lagi capek aku suka merasa lemas dikedua kakiku. Dan kedua teman ku itu pulang setelah mereka mengantarkan aku pulang dan memastikan aku baik - baik saja.
Ting tong, ting tong, ting tong
"Hey. iya tunggu sebentar, jangan dipencet lagi aku bukain iya iya" jawabku kesal sambil lari ke arah pintu
ceklek
bruk
"Auw" aku terpekik saat tubuhku tiba tiba didorong begitu ku bukain pintu
"Apa kau tuli, gak denger aku dari tadi pencet bel dan berdiri di luar dengan sangat Lama. Atau kau sengaja gak mau buka pintu dengan cepat karna tau yang dateng adalah aku" cercahnya tanpa henti
"Ma... ma.. maaf karena tadi aku masih mandi jadi aku... " jawabku terhenti karena jujur aku takut dan juga bingung dari mana kak Yudis tau alamat rumah ku ini.
"Apa kau tidak punya kewaspadaan pada orang. kau buka pintu tanpa pakek baju dulu. atau kau ingin menggodaku, karna tau yang datang adalah aku" sambungnya panjang lebar sebelum aku menyelesaikan kalimatku.
Dan sejak saat itu kak Yudis jadi ikut tinggal di rumah ku itu, dengan alasan menjaga dan mengawasi aku selama aku jauh dari rumah. Namun anehnya kak Yudis jadi sering mengatur aku.
Aktifitas ku di kampus pun tidak lagi semenyenangkan dulu. Aku baru tau kalau kak Yudis adalah salah satu dari senior magister yang ambil cuti yang selalu diributkan semua mahasiswa cewek.
Baik di kampus atau di rumah kak Yudis selalu mengaturku. Dia melarang ku deket dengan pria manapun dan melarang ku main dan pulang ke rumah larut malam, saat di kampus dia terus mengawasi ku bahkan tak segan - segan menarik ku pergi saat aku bicara atau bergaul dengan teman cowok, alasannya karna disuruh paman atau ayahnya untuk menjagaku.
Aku sangat kesal, karena menurut ku kak Yudis sudah sangat keterlaluan. Aku pulang tanpa menghiraukan dia yang terus saja memanggil ku, dan hari ini aku bertengkar sangat hebat dengan kak Yudis di rumah.
"Dengarkan kalau orang lagi bicara" kata kak Yudis padaku yang ternyata mengikuti aku pulang.
"Tapi apa maksudnya itu? Kenapa semua kegiatanku dilarang? Emang apa hak mu melakukan ini padaku?! Aku bisa mengurus hidupku sendiri" bentak ku kesal dan memberanikan diri melawannya.
"Mengurus sendiri?" kata kak Yudis seolah mencibirku
"Sebaiknya kamu urus urusanmu sendiri dan aku akan urus urusan ku sendiri" kata ku sambil melangkah pergi mau masuk kamar.
sraaaak... bruk
cup
"Apa kau masih menyukaiku? Kenapa kau mencium ku" kata kak Yudis padaku seolah menghina ku
Kalimatnya itu membuatku kesal, dia yang menarik ku dan tanpa sengaja aku yang terjatuh mencium bibirnya. Aku bangkit dan pergi meninggalkannya
"Aku tak akan pernah membiarkanmu" kata kak Yudis padaku dan mengikuti langkah ku.
"Kamu gak punyak hak melarang ku" jawabku dengan berteriak.
"Aku berhak. Itu sebabnya aku melarang mu" bentaknya padaku
"Tidak. ini adalah hidup ku" jawabku sama kerasnya
"Hem. aku tau kamu masih menyukai aku dan ini hanya akal - akalanmu saja" jawabnya dengan percaya diri
"Maaf bos tapi aku uda gak ada rasa sama bos" jelas ku melangkah masuk kedalam kamar ku.
"Bagaimana mungkin. kau yang dulu begitu tergila - gila pada ku" katanya lagi
"Karna dulu aku masih kecil dan belum begitu tau soal cinta" jelas ku
"Kau sudah tak menyukai ku?" tanyanya pada ku
"Tidak" jawab ku tegas
"Tidak, kau masih menyukai ku" jawabnya lagi dan bikin aku semakin kesal.
"Aku akan cari tau jawabannya dengan caraku sendiri, dengan begitu aku akan tau kalau kau masih tak berubah atas cinta mu pada ku" jelasnya yang bikin aku makin bingung.
"Terserah.!" jawabku dan mau menutup pintu kamar, namun ditahan oleh tangan kak Yudis.
"Mau apa lagi?!" teriak ku dengan kesal.
cup,,, cup,,, cup
Kak Yudis mencium ku dan menahan tubuh ku di dinding agar aku tak berontak, pertahanan ku runtuh karna ulahnya. Semakin lama aku semakin terbawah dan menikmati ciumannya, ku lihat ada senyum kemenangan dibibirnya.
"panggil namaku. Aku ingin dengar kau memanggil namaku" pintanya padaku tanpa melepaskan ciumannya.
"kak,,, Yu.. yudis" jawab ku terbata
"Aku mencintaimu sayang" katanya sambil mengusap kepalaku
"..." aku tak menjawab
"Kau malu, atau kau tak percaya dengan pernyataan ku ini sayang?" tanyanya pada ku
"..." lagi - lagi aku terdiam tak menjawab
cup
kali ini ciumannya sangat lembut dan dalam, seolah dia menuntut dan berusaha merengkuh tubuhku dalam pelukannya dan ciumannya.
"Kau adalah wanita milik ku mulai saat ini, dan tak akan ku biarkan kau berpaling dari ku. Kau hanya boleh melihat dan mencintai aku seorang." kak Yudis menatap ku, "Semua yang ada pada dirimu adalah hak ku, hanya hak milik Yudis seorang." ucapnya lagi yang membuat aku. semakin bingung.
"Aku mencintaimu sayang, sangat mencintai seorang." ucapnya lagi dan memasangkan sebuah kalung yang disana ada sebuah cincin yang terpasang.
"Aku akan menikahi mu setelah lulus kuliah, dan cincin ini adalah tanda cintaku jangan sampai hilang. Jaga baik - baik, seperti kau menjaga tubuh dan hatimu untuk ku, ok Baby." ucapnya dan mengecup keningku dengan sangat lama.
Aku masih termenung tak percaya, "Orang yang dulu sangat membenciku dan ingin sekali menyingkirkan ku, secara tiba - tiba menyatakan perasaannya dan juga melamar ku." gumam ku menyentuh cincin yang terpasang dileherku.