Bau segar pagi hari menerpa hidungku, kali ini aku duduk di pinggiran taman ditemani kicauan burung, merdu , tanpa aku sadari aku tersenyum sendiri. Bahagia rasanya menikmati pagi seperti ini sendiri.
Rutinitas yang itu-itu saja kadangkala membuat tubuh terasa penat. Dan aku tidak suka itu. Rasa bosan juga dapat mempengaruhi moodku pada saat aku mengerjakan sesuatu.
Aku menarik nafas dalam-dalam, sekali lagi bau pagi ini menenangkan pikiranku.
Beberapa hari yang lalu aku menerima telpon dari seseorang yang tidak aku kenal, aku menyebutnya begitu karena nomor itu tidak tersimpan di kontak hp ku.
Hari menjelang siang, aku berjalan meninggalkan taman menuju toko kue kesukaanku, sebut saja cake tiramisu, strawberry cheesecake dan puding coklat, aku membeli satu potong untuk masing-masing kue.
Dengan langkah riang aku pulang. Akhirnya, home sweet home, didepan pintu, chibi kucing kampung berbulu hitam putih menunggu dengan malas. Ketika pintu terbuka, ia dengan cepat melesat masuk dan pergi ke dapur, duduk dengan tenang menunggu makanannya datang.
Aku kembali tersenyum, aku memberikannya ikan pindang rebus yang sudah aku sisihkan tulangnya lalu aku campurkan dengan sedikit nasi. Chibi makan dengan lahapnya, setelah minum ia kembali tidur di kursi depan tv.
Aku tertawa geli, chibi adalah temanku yang setia, penghilang stress disaat pekerjaanku di kantor menumpuk.
Hp ku berbunyi, aku melihat ke layar hp, lagi-lagi nomor yang tidak dikenal. Aku mengangkatnya, dan berkata"halo, selamat malam".
"Malam Liya, apa kabar?", tanyanya.
"Siapa kamu?, darimana kamu tahu namaku?", tanyaku lagi.
"Ouch, sakit rasanya hatiku, kamu melupakanku, sedangkan aku selama ini mencari dirimu".
"Kau tahu, tidaklah mudah mendapatkan nomormu ini apalagi dari mulut teman sekantor mu yang bernama Dita, sungguh merepotkan", lanjutnya lagi.
Perasaanku tidak enak.
Dengan nada yang sedikit keras aku bertanya ," apa yang sudah kamu lakukan pada Dita?, jangan macam-macam kamu". Lenyap sudah bahagiaku hari ini.
Aku gemetar, baru kali ini aku merasakan takut yang luar biasa. Aku mengingat kembali semuanya dari mulai aku masih sekolah sampai saat aku sudah bekerja. Aku merasa tidak pernah menyinggung perasaan siapapun, aku selalu berhati-hati dalam berbicara dan bertindak. "Apakah ada yang terlewatkan olehku", aku berpikir dengan keras," rasanya tidak ada".
"Hai Liya, apakah kamu masih ada di sana?, mengapa sedari tadi aku tidak mendengarkan suaramu?, tenang saja untuk saat ini Dita aman bersamaku, ini hanya sementara lho, semuanya tergantung padamu", ancam lelaki itu.
Aku menutup mulutku agar tidak berteriak. Aku berusaha tenang.
"Begini, tolong maafkan aku, maafkan aku yang sudah melupakanmu, oleh karena itu maukah kamu menceritakan kembali perkenalan kita secara lengkap dari mulai waktu, tanggal dan juga tempat, aku sungguh sedikit lupa, aku juga ingin bernostalgia dengan cara mendengarkan ceritamu", jawabku dengan nada sedikit merayu.
"Kamu sedang tidak membodohi diriku kan?", tanyanya dengan nada curiga.
"Tentu saja tidak, aku hanya rindu mendengarkan suaramu, bercerita lah, aku akan dengan sabar mendengarkannya", rayuku lagi sambil mempersiapkan pensil dan kertas, aku akan mencatat semua perkataannya mengenai waktu dan tempat dimana kami bertemu dulu.
Dengan nada sedikit bangga dia menceritakan semuanya termasuk didalamnya alamat rumah perempuan yang bernama sama denganku.
Tanpa membuang waktu setelah selesai berbicara dengannya dan menjanjikan padanya bahwa aku akan menemui dirinya secepatnya, aku malam itu segera menuju ke alamat rumah yang katanya itu adalah rumahku.
Aku bersyukur bahwa alamat itu ternyata masih berada satu wilayah dengan tempat tinggal aku.
Sesampainya aku di rumah itu ada sedikit rasa familiar menyergap hatiku ketika melihat warna pagarnya, seperti ada perasaan dejavu. Aku mengetuk pintu rumah itu dan begitu pintu rumahnya terbuka aku terkejut melihat wajah yang ada dihadapan aku saat ini.
"Tante Ida?".
Wanita itu juga terperangah melihatku," Liya?, kamu Liya kan, anaknya Amira?", tanyanya lagi.
Aku menganggukkan kepalaku.
Sambil menangis ia memelukku.
"Masuklah, duduk dulu, Tante akan membuatkan minuman untukmu, jadi tunggu sebentar", katanya sambil bergegas masuk.
Aku memperhatikan ruang tamu yang terlihat sangat sederhana ini. Nuansa biru lebih banyak mendominasi warna perabotan di ruangan ini. Mataku lalu tertuju pada sebuah foto, seorang gadis manis berambut pendek dan berwarna hitam tersenyum menatap kamera sambil memegang boneka.
"Cornelia?", sekilas aku ingat dia adalah teman satu SMP ku, walaupun tidak sekelas kami berteman baik, Cornelia adalah anak yang ceria, sampai pada suatu ketika kami dikejutkan dengan berita bahwa ia sudah meninggal.
Tidak ada yang tahu apa penyebab dia meninggal, itu sebabnya aku merasa familier dengan warna pagar itu. Karena ketika aku datang ke pemakamannya warna pagar itu yang pertama kali menarik perhatianku.
Tante Ida datang membawa nampan yang berisi secangkir teh dan juga sepiring pisang goreng. Setelah meletakkan semuanya di atas meja, ia duduk di sampingku.
"Silahkan dimakan dan diminum, Tante cuma punya ini", katanya sambil mempersilahkan aku mencicipi hidangan tersebut.
"Sudah lama sekali ya semenjak Lia pergi, bagaimana kabar orang tuamu?", tanya Tante Ida.
"Alhamdulillah baik Tante, sekarang kedua orang tua Liya ada di kampung, mengurus sawah dan kebun peninggalan Kakek", jawabku sambil mencomot pisang goreng yang sedari tadi terlihat seperti menari-nari didepan bola mataku.
"Syukurlah, apa kamu sudah bekerja?, kalau sudah apa pekerjaanmu sekarang?", tanyanya lagi.
"Liya bekerja di bagian administrasi Tante, di perusahaan asuransi", jawabku.
"Seandainya Lia masih hidup, mungkin dia juga sudah bekerja seperti dirimu", katanya sambil menghela nafas.
"Tante, kalau boleh Liya tahu apa yang menjadi penyebab meninggalnya Lia?", tanyaku.
Tante Ida termenung sejenak, menatap wajahku dan lalu berkata," Baiklah, Tante rasa sudah tidak apa-apa apabila Tante menceritakannya sekarang".
"Lia meninggal karena kehabisan darah akibat pendarahan dikarenakan keguguran, Cornelia hamil, sampai akhir hayatnya ia tidak mau mengatakan siapa ayah dari anak yang dikandungnya".
"Sebenarnya ini aib bagi keluarga kami, oleh sebab itu keluarga kami menutup rapat-rapat mulut kami agar tidak ada seorangpun yang tahu", Tante Ida menjelaskan semuanya sambil menangis.
Tanganku terkepal, seketika rasa marah sekaligus sedih menghampiriku.
Karena waktu telah menunjukkan pukul 9 malam, aku pamit dan berjanji akan datang lagi sambil ziarah ke makamnya Cornelia.
Sesampainya di rumah, setelah membersihkan diri dan memberi makan Chibi, aku duduk di meja makan sambil merenung.
Hp ku berbunyi dan aku sudah bisa menebaknya dari siapa.
"Halo", jawabku.
"Bagaimana?, kapan kamu bersedia menemui diriku, ingat kalau sampai kamu menelepon polisi aku akan menghabisi sahabatmu ini, aku sungguh sangat merindukan dirimu", kata lelaki itu.
"Besok, sepulang aku bekerja, aku akan menemui dirimu, aku ingin bicara dengan Dita, berikan hpmu padanya", kataku lagi, lalu terdengar suara lirih memanggil namaku," Liya, aku sudah tidak kuat, laki-laki ini gila, dia menyakitiku, cepatlah kemari", tangisan Dita mengiris hatiku.
"Apa yang kau lakukan pada sahabatku!, kalau sampai kau melecehkannya aku tidak akan memaafkan dirimu", aku sudah tidak tahan lagi, ingin sekali aku menghajar lelaki brengsek ini.
"Tenang, aku hanya bermain-main sedikit saja, lagipula sahabatmu ini bukanlah tipeku", jawabnya dengan tawa yang mengejek.
"Besok jemput aku, aku akan mengirimkan alamat kantorku", jawabku.
Setelah dia memutuskan pembicaraan, aku segera memberikan alamat kantorku.
Besoknya lelaki itu sudah menungguku di parkiran kantor, aku tidak dapat melihat wajahnya karena tertutup helm, sedangkan aku sengaja menutup sebagian wajahku dengan masker.
Dia membawaku ke kawasan sepi penduduk, hanya terlihat satu atau dua rumah di wilayah itu dan juga jaraknya berjauhan.
Aku di bawa masuk kesebuah bangunan yang terlihat seperti gudang. Di dalamnya aku melihat Dita terduduk lemas dengan tangan dan kaki terikat, dan yang mengerikan lagi di bagian leher dan dadanya terdapat luka memar.
Aku membuka helm dan masker ku, lelaki itu juga sudah membuka helm dan juga jaketnya.
Terlihat wajahnya biasa saja, malah lebih berkesan kampungan.
Ia masih sibuk merapihkan tempat tidur yang terletak di ruangan itu.
Aku berjalan mendekatinya," hei, b*******, lihat aku, apakah aku terlihat seperti Lia dimata mu?, kamu salah mengenali orang, dasar lelaki s*****", aku langsung mengarahkan bogem mentah ke wajahnya.
Darah mengalir keluar dari hidungnya.
Kembali aku melancarkan tendangan ke badannya, menonjok perutnya, serangan bertubi-tubi aku arahkan padanya. Dia tidak dapat mengelak serangan dariku.
"Ampun, aku menyerah", ia terbaring lemah sambil memegang perutnya.
"Wanita yang kamu cari itu Cornelia, sedangkan aku adalah Liya Agatha, dan itu jelas-jelas beda!", teriakku sambil menendang tubuh laki-laki itu lagi.
"Cornelia sudah meninggal, dia meninggal karena pendarahan saat melahirkan anak hasil perbuatan mu, puas kamu sekarang", aku meninggalkan lelaki itu yang saat ini duduk tak berdaya.
Aku mendekati Dita, melepaskan ikatannya, dan membawanya keluar dari gudang itu.
Sebelum ke luar, aku berkata padanya dimana tempat Cornelia dimakamkan.
Aku dan Dita pergi dari gudang itu dengan membawa motor milik lelaki itu, aku tidak peduli, yang aku pikirkan saat ini adalah pergi dari tempat itu secepatnya, karena sebentar lagi hari akan menjelang malam.
Di gudang lelaki itu sambil menahan sakit berjalan ke tempat tidurnya. Saat ia akan membaringkan tubuhnya terdengar suara yang dikenalnya, suara itu adalah suara Cornelia, ia melihat ke sebelahnya dan ada Cornelia dengan wajah yang mengerikan, saat itu juga lelaki itu tidak bisa bernafas.
Lama-kelamaan tubuh lelaki itu tidak bergerak lagi.
📱TAMAT📱