📌ONESHOOT📌
Judul: Senja sampai fajar.
Cast: Kim Taehyung x Kim Yn
[Play music — Dusk Till Dawn🎶]
✨ Senja hingga fajar, itu sudah cukup untuk kita menghabiskan waktu sebelum akhirnya aku tiada–Kim Taehyung ✨
[Yn pov]
Ini bukan khayalan ku. Mau tahu bagaimana kisahku bersama kekasih ku 4 tahun lalu sebelum dia pergi? Bukan kisah panjang, bahkan bisa di bilang ini hanya momen semalam saja.
Sedikit menyedihkan. Hanya saja, rasanya aku tidak mau melupakan cerita ini, dan itulah yang membuatku termenung setiap malam.
Malam adalah hal yang aku benci. Bukan karena hantu atau apapun, namun malam itulah aku kehilangan orang yang kusayangi.
Semua berawal dari hari itu...
^^^
4 tahun lalu...
Sore itu, sekitar pukul 4 sore. Taehyung–yaitu kekasihku– merebahkan diri secara kasar di sofa ruang tengah. Yah, aku tahu betapa susahnya perjuangannya sebagai seorang CEO muda.
Jika bertanya, apa aku dan Taehyung tidur di satu apartemen? Jawabannya adalah tidak. Malah, dia sendiri yang datang kerumahku. Meninggal kan rumahnya sendiri, dan berakhir apartemen ku sebagai pelarian.
Dia bilang. "Jika sesuatu barang atau apapun yang sudah kau sentuh, rasanya sangat nyaman untuk di tiduri." Begitulah Ucapan nya.
Aku hanya tersenyum tipis menanggapi Ucapan nya. Taehyung kan memang begitu, suka menggombal.
"Taehyung~aa... Ayo makan dulu. Aku sudah masak tadi, mumpung masih hangat." Ucapku duduk di sampingnya.
Taehyung masih menutup mata, walau aku tau dia tidak tidur. "Yn-aa... Bawa kesini makanannya ya. Jangan lupa suapi aku, aishh... Aku pinjam kamar mu ya..." Jawabnya berdiri melenggang pergi ke arah kamarku.
Aku menggeleng kepala, tak habis pikir dengan sifat Taehyung. Walau begitu, aku setuju saja membawakan makanan ke kamarnya–eh, maksudnya kamarku.
Aku berjalan ke arah dapur untuk menyiapkan makanan. Setelah di rasa cukup, aku berjalan ke arah kamarku. Membuka nya dan mendapati Taehyung yang tidur terlentang, sepatunya di bawah kasurku, sedangkan dasi dan kemeja di gantungkan di kursi.
Aku mendekat. "Tae, bangun dulu. Ayo makan." Ucapku sambil menepuk pipi Taehyung.
Ini aneh, bahkan sangat aneh. Tubuh Taehyung terasa hangat, dan wajahnya pucat. Saat ku cek dahinya, ternyata dia demam.
Aishh... Inilah akibatnya dia Taehyung terlalu banyak bekerja keras. Aku menggoyangkan badannya perlahan, membuat dia mengeluh karena terganggu lalu menatap ku.
"Kau demam, Tae. Bagaimana bisa? Kan aku sudah bilang! Kalau lelah bekerja istirahat dulu!" Ucapku. Berusaha lembut walaupun dalam hati sudah merasa jengkel.
Ku lihat Taehyung tersenyum tanpa rasa berdosa. Lihat! Bahkan senyum kotaknya masih terpancar lebar walau dalam keadaan sakit begitu.
"Aigo... Kekasihku khawatir ya.." goda Taehyung sambil menarik hidungku pelan.
Aku menepis tangan nya kasar. "Aku serius!!! Jika terjadi sesuatu yang lebih parah bagaimana?!!" Tekanku.
Aku tidak sadar kalau aku sudah mengeluarkan air mata. Saat itu juga aku melihat Taehyung yang melunturkan senyumnya.
Yah, dia pernah bilang kalau tidak suka melihatku menangis. Namun aku menangis kan karena ulahnya.
"Maaf ya, dear. Aku janji tidak akan mengulang nya." Angkat Taehyung dengan senyum tulus. Di barengi dengan tangannya yang menyelipkan anak rambutku ke belakang telinga.
Aku berdecak kesal, lantas mengambil sup hangat yang aku buat tadi. "Kemari! Kau mau aku suapi kan?" Angkatku sambil mengaduk supnya. "Buka mulut, Tae."
Dia menurut, membuka mulutnya untuk mencerna sup hangat itu. Yah, sup adalah makanan tebaik jika ada seseorang yang demam.
Suapan ke 6, Taehyung menolak. Dia langsung membaringkan tubuhnya di ranjang ku dan menutup mata. Sedangkan aku langsung beranjak untuk mengambil kompres dan mencuci piring.
Namun saat aku hendak menjauh, Taehyung menghentikan langkahku dengan memegang pergelangan tanganku. Membuatku menoleh ke arahnya.
"Disini saja, dear. Aku rindu." Ucapnya manja. Akupun langsung mengulas senyum mendengar ucapannya.
Taehyung adalah 'The good of romantic boy'. Aku akui itu.
Aku langsung berjalan ke arahnya, dan merebahkan diri di sampingnya. Membuat Taehyung langsung tidur miring menghadap ku dan memelukku erat. Seakan takut jika dia kehilangan ku.
Entahlah, saat pelukan itu terjadi, fikiran aneh mulai menggelayuti otakku. Serasa aku mendapat firasat tak enak.
Aku membalas memeluknya. Ingin bicara namun terhenti saat dia mendahului ku mengucapkan kata-kata.
"Dear, maaf ya jika aku punya salah padamu. Aku tidak tau bagaimana harus minta maaf sekaligus berterima kasih padamu. Tapi aku bersyukur mendapatkan mu, Yn. Aku–" jedanya. Dia terlihat menghela nafas ragu, dan aku masih menatapnya.
"–aku tidak tau harus berkata apa. Tapi kau yang terbaik. Aku mencintaimu dan selamanya akan begitu, hatiku hanya untukmu, do you understand?" Sambung nya.
Mendengar itu, senyum ku terpancar tulus menatap Taehyung. Bagiku, Taehyung juga yang terbaik.
"I Know. Kau juga yang terbaik. Aku mencintaimu, Tae." Balasku.
Hal itu, membuat Taehyung tersenyum lembut padaku. Entah kenapa aku merasa tak enak saat melihat wajahnya yang semakin pucat saja.
"Tae... Kau baik-baik saja? Kenapa wajahmu tambah pucat? Aku panggil dokter ya.." tawarku panik.
Bukan bualan. Tapi kenyataan. Aku panik, Taehyung termasuk setengah hidupku. Dia adalah pengganti orang tuaku yang sudah tiada, sekaligus penyemangat ku. Tidak semudah itu aku mau kehilangan nya.
Aku lihat ia menggeleng pelan. "Aku butuh kau, Yn. Jadi biarkan aku memelukmu." Jawabnya.
Membuatku geram tentu saja, bagaimana bisa dia menggombal di saat-saat kepanikan ku begini. Aku ingin melayangkan protes, namun sudah kulihat Taehyung menutup mata dengan hembusan nafas yang teratur.
Oke, dia tidur.
(^_^)
Keesokan harinya, aku terbangun karena sesuatu menganggu pikiranku. Saat kulihat jam, menunjukan pukul 9 pagi.
DAN TAEHYUNG MASIH TIDUR???
Astaga, dia memang susah sekali bangun.
Ku goyang kan badannya pelan seraya memanggil-manggil namanya. Berharap dia mau menurutimu untuk bangun. Namun nihil, dia masih saja tidak bangun.
"Taehyung~aa... Ayo bangun!! Ini sudah siang!" Ucapku lagi dengan menggoyangkan badannya lebih kencang.
Namun tak ada sahutan sama sekali. Aku mulai was-was, aku tidak mau terjadi apapun yang lebih buruk. Taehyung demam, itu sudah cukup buruk untuk membuat ku khawatir.
"Ya!! Taehyung!! Bangun!!" Seruku lebih kencang.
Taehyung kenapa?
Kenapa tidak bergerak?
Kenapa dia diam saja?
Air mataku sudah turun dengan derasnya melewati pipi. Aku benar-benar panik, ku taruh jariku di bawah hidungnya. Berharap merasakan nafasnya masih berhembus. Tapi...
Dingin.
Tidak ada nafas apapun yang dia keluarkan. Ini membuatku was-was. Aku tidak mau ditinggalkan oleh orang-orang kesayangan ku.
Sudah cukup ayah dan ibuku yang pergi. Jangan Taehyung.
"Taehyung!! Jangan bercanda!!!" Dia masih tidak bangun. Membuatku semakin menjadi-jadi karena kulit tubuhnya serasa dingin.
Aku mengambil ponselku. Menghubungi Taera, adiknya Taehyung, untuk datang membantuku. Setelah berhasil menghubungi Taera dan dia berkata akan datang kerumah ku secepatnya.
Aku ingin membangunkan Taehyung lagi, tapi aku melihat sesuatu terjepit di di bawah lengannya.
Sebuah surat.
_*𝙏𝙤: 𝙆𝙞𝙢 Y𝙣.*_
_*𝘿𝙚𝙖𝙧, 𝙢𝙖𝙖𝙛𝙠𝙖𝙣 𝙖𝙠𝙪. 𝘽𝙖𝙣𝙮𝙖𝙠 𝙮𝙖𝙣𝙜 𝙖𝙠𝙪 𝙨𝙚𝙢𝙗𝙪𝙣𝙮𝙞𝙠𝙖𝙣 𝙙𝙖𝙧𝙞𝙢𝙪.*_ _*𝙈𝙚𝙢𝙖𝙣g 𝙨𝙚𝙣𝙜𝙖𝙟𝙖 𝙖𝙠𝙪 𝙢𝙚𝙣𝙮𝙚𝙢𝙗𝙪𝙣𝙮𝙞𝙠𝙖𝙣𝙣𝙮𝙖. 𝘼𝙠𝙪 𝙩𝙞𝙙𝙖𝙠 𝙞𝙣𝙜𝙞𝙣 𝙠𝙖𝙪 𝙠𝙝𝙖𝙬𝙖𝙩𝙞𝙧 𝙙𝙚𝙣𝙜𝙖𝙣 𝙠𝙚𝙖𝙙𝙖𝙖𝙣𝙠𝙪... 𝙙𝙖𝙣*_ _*𝙢𝙚𝙣𝙞𝙣𝙜𝙜𝙖𝙡𝙠𝙖𝙣𝙠𝙪.*_
_*𝙂𝙚𝙣𝙖𝙥 𝙨𝙚𝙩𝙖𝙝𝙪𝙣 𝙞𝙣𝙞, 𝙖𝙠𝙪*_ _*𝙢𝙚𝙣𝙖𝙝𝙖𝙣 𝙨𝙖𝙠𝙞𝙩 𝙙𝙞 𝙙𝙖𝙙𝙖𝙠𝙪*_ _*𝙠𝙖𝙧𝙚𝙣𝙖 𝙠𝙧𝙞𝙨𝙞𝙨 𝙥𝙖𝙧𝙪-𝙥𝙖𝙧𝙪. 𝙅𝙞𝙠𝙖 𝙠𝙖𝙪*_ _*𝙢𝙚𝙣𝙜𝙞𝙧𝙖 𝙖𝙠𝙪 𝙙𝙚𝙢𝙖𝙢, 𝙟𝙖𝙬𝙖𝙗𝙖𝙣𝙣𝙮𝙖 𝙞𝙮𝙖. 𝘼𝙠𝙪*_ _*𝙙𝙚𝙢𝙖𝙢 𝙠𝙖𝙧𝙚𝙣𝙖 𝙢𝙚𝙣𝙖𝙝𝙖𝙣 𝙨𝙖𝙠𝙞𝙩. 𝘽𝙚𝙧𝙪𝙨𝙖𝙝𝙖 𝙠𝙪𝙖𝙩*_ _*𝙙𝙞𝙙𝙚𝙥𝙖𝙣𝙢𝙪 𝙠𝙖𝙧𝙚𝙣𝙖 𝙩𝙞𝙙𝙖𝙠*_ *𝙢𝙖𝙪 𝙢𝙚𝙢𝙗𝙪𝙖𝙩𝙢𝙪 𝙠𝙝𝙖𝙬𝙖𝙩𝙞𝙧.*
_*𝙅𝙖𝙣𝙜𝙖𝙣 𝙢𝙚𝙣𝙖𝙣𝙜𝙞𝙨 𝙮𝙖, 𝘿𝙚𝙖𝙧. 𝘼𝙠𝙪 𝙢𝙚𝙣𝙮𝙖𝙮𝙖𝙣𝙜𝙞𝙢𝙪,*_ _*𝙞𝙣𝙜𝙞𝙣 𝙢𝙚𝙣𝙞𝙣𝙜𝙜𝙖𝙡𝙠𝙖𝙣𝙢𝙪, 𝙮𝙖𝙣𝙜 𝙖𝙠𝙪 𝙞𝙣𝙜𝙞𝙣𝙠𝙖𝙣*_ _*𝙖𝙙𝙖𝙡𝙖𝙝... 𝙠𝙞𝙩𝙖 𝙝𝙞𝙙𝙪𝙥 𝙗𝙚𝙧𝙨𝙖𝙢𝙖 𝙙𝙖𝙣 𝙢𝙖𝙩𝙞*_ _*𝙗𝙚𝙧𝙨𝙖𝙢𝙖 𝙙𝙚𝙣𝙜𝙖𝙣 𝙥𝙤𝙨𝙞𝙨𝙞 𝙨𝙖𝙡𝙞𝙣𝙜 𝙢𝙚𝙢𝙚𝙡𝙪𝙠.*_
_*𝙏𝙖𝙥𝙞 𝙩𝙞𝙙𝙖𝙠 𝙗𝙞𝙨𝙖. 𝙆𝙚𝙣𝙮𝙖𝙩𝙖𝙖𝙣nya 𝙖𝙠𝙪𝙡𝙖𝙝 𝙮𝙖𝙣𝙜*_ _*𝙖𝙠𝙖𝙣 𝙥𝙚𝙧𝙜𝙞 𝙩𝙚𝙧𝙡𝙚𝙗𝙞𝙝 𝙙𝙖𝙝𝙪𝙡𝙪 𝙨𝙚𝙗𝙚𝙡𝙪𝙢 𝙙𝙞𝙧𝙞𝙢𝙪. 𝙎𝙚𝙗𝙚𝙡𝙪𝙢*_ _*𝙠𝙞𝙩𝙖 𝙢𝙚𝙣𝙟𝙖𝙡𝙞𝙣 𝙝𝙪𝙗𝙪𝙣𝙜𝙖𝙣 𝙠𝙚 𝙟𝙚𝙣𝙟𝙖𝙣𝙜 𝙥𝙚𝙧𝙣𝙞𝙠𝙖𝙝𝙖𝙣.*_
_*𝙅𝙖𝙙𝙞 𝙖𝙠𝙪 𝙢𝙚𝙢𝙪𝙩𝙪𝙨𝙠𝙖𝙣 𝙪𝙣𝙩𝙪𝙠 𝙩𝙪𝙩𝙪𝙥 𝙝𝙞𝙙𝙪𝙥, 𝙠𝙖𝙧𝙚𝙣𝙖*_ _*𝙩𝙞𝙙𝙖𝙠 𝙨𝙖𝙣𝙜𝙜𝙪𝙥 𝙢𝙚𝙣𝙖𝙝𝙖𝙣. 𝘼𝙠𝙪*_ _*𝙢𝙚𝙢𝙚𝙡𝙪𝙠𝙢𝙪 𝙪𝙣𝙩𝙪𝙠 𝙢𝙤𝙢𝙚𝙣𝙩 𝙩𝙚𝙧𝙖𝙠𝙝𝙞𝙧 𝙠𝙞𝙩𝙖.*_
_*𝙆𝙖𝙪 𝙞𝙣𝙜𝙖𝙩, 𝙙𝙖𝙧𝙞 𝙨𝙚𝙣𝙟𝙖 𝙠𝙚𝙢𝙖𝙧𝙞𝙣 𝙨𝙖𝙢𝙥𝙖𝙞 𝙛𝙖𝙟𝙖𝙧*_ _*𝙨𝙚𝙠𝙖𝙧𝙖𝙣𝙜, 𝙞𝙩𝙪 𝙨𝙪𝙙𝙖𝙝 𝙘𝙪𝙠𝙪𝙥 𝙬𝙖𝙠𝙩𝙪 𝙪𝙣𝙩𝙪𝙠 kita*_ _*𝙢𝙚𝙣𝙜𝙝𝙖𝙗𝙞𝙨𝙠𝙖𝙣 𝙬𝙖𝙠𝙩𝙪 𝙗𝙚𝙧𝙨𝙖𝙢𝙖 𝙨𝙚𝙗𝙚𝙡𝙪𝙢*_ _*akhirnya 𝙖𝙠𝙪 𝙥𝙚𝙧𝙜𝙞.*_
_*B𝙚𝙧𝙞𝙠𝙖𝙣 𝙖𝙠𝙪 𝙢𝙤𝙧𝙣𝙞𝙣𝙜 𝙠𝙞𝙨𝙨*_ _*𝙨𝙖𝙖𝙩 𝙠𝙖𝙪 𝙗𝙖𝙣𝙜𝙪𝙣 𝙣𝙖𝙣𝙩𝙞.*_ _*𝙒𝙖𝙡𝙖𝙪 𝙖𝙠𝙪 𝙨𝙪𝙙𝙖𝙝 𝙩𝙞𝙙𝙖𝙠 𝙗𝙚𝙧𝙣𝙮𝙖𝙬𝙖.*_ _*𝘼𝙠𝙪 𝙟𝙪𝙜𝙖 𝙢𝙚𝙣𝙞𝙣𝙜𝙜𝙖𝙡𝙠𝙖𝙣 𝙠𝙖𝙡𝙪𝙣𝙜*_ _*𝙥𝙚𝙧𝙖𝙠𝙠𝙪 𝙙𝙞 𝙡𝙖𝙘𝙞 𝙣𝙖𝙠𝙖𝙨, 𝙨𝙚𝙗𝙖𝙜𝙖𝙞 𝙠𝙚𝙣𝙖𝙣𝙜𝙖𝙣*_ _*𝙙𝙖𝙧𝙞 𝙠𝙪 𝙪𝙣𝙩𝙪𝙠𝙢𝙪.*_
_*𝘼𝙠𝙪 𝙢𝙚𝙣𝙘𝙞𝙣𝙩𝙖𝙞𝙢𝙪, 𝙨𝙪𝙣𝙜𝙜𝙪𝙝.*_ _*𝙅𝙖𝙣𝙜𝙖𝙣 𝙢𝙚𝙣𝙖𝙣𝙜𝙞𝙨 𝙮𝙖... 𝙖𝙠𝙪 𝙩𝙞𝙙𝙖𝙠*_ _*𝙧𝙚𝙡𝙖, 𝙖𝙠𝙪 𝙖𝙠𝙖𝙣 𝙨𝙖𝙣𝙜𝙖𝙩*_ _*𝙢𝙚𝙢𝙗𝙚𝙣𝙘𝙞 𝙙𝙞𝙧𝙞𝙠𝙪 𝙟𝙞𝙠𝙖*_ _*𝙖𝙞𝙧𝙢𝙖𝙩𝙖 𝙢𝙪 𝙟𝙖𝙩𝙪𝙝 𝙨𝙞𝙖-𝙨𝙞𝙖.*_ _*𝘼𝙥𝙖𝙡𝙖𝙜𝙞 𝙞𝙩𝙪 𝙠𝙖𝙧𝙚𝙣𝙖 𝙙𝙞𝙧𝙞𝙠𝙪.*_
_*𝙏𝙚𝙧𝙞𝙢𝙖 𝙠𝙖𝙨𝙞𝙝 𝙖𝙩𝙖𝙨 2 𝙩𝙖𝙝𝙪𝙣 𝙮𝙖𝙣𝙜 𝙠𝙞𝙩𝙖 𝙟𝙖𝙡𝙖𝙣𝙞.*_ _*𝙆𝙖𝙪 𝙮𝙖𝙣𝙜 𝙩𝙚𝙧𝙗𝙖𝙞𝙠,Yn. 𝘼𝙠𝙪 𝙩𝙞𝙙𝙖𝙠 𝙗𝙞𝙨𝙖*_ _*𝙢𝙚𝙣𝙜𝙪𝙣𝙜𝙠𝙖𝙥𝙠𝙖𝙣 𝙠𝙚*_ _*𝙞𝙣𝙙𝙖𝙝𝙖𝙣𝙢𝙪 𝙡𝙚𝙬𝙖𝙩 𝙠𝙖𝙩𝙖-𝙠𝙖𝙩𝙖*_ _*𝙖𝙩𝙖𝙪 𝙩𝙪𝙡𝙞𝙨𝙖𝙣 𝙨𝙚𝙢𝙖𝙩𝙖. 𝙏𝙖𝙥𝙞 𝙠𝙖𝙪 𝙞𝙣𝙙𝙖𝙝,*_ _*𝙖𝙠𝙪 𝙢𝙚𝙣𝙘𝙞𝙣𝙩𝙖𝙞𝙢𝙪.*_
_*𝘽𝙖𝙝𝙖𝙜𝙞𝙖 𝙮𝙖, 𝙟𝙖𝙣𝙜𝙖𝙣 𝙠𝙚𝙘𝙚𝙬𝙖𝙠𝙖𝙣 𝙖𝙠𝙪.*_ _*𝙅𝙖𝙣𝙜𝙖𝙣 𝙥𝙚𝙧𝙣𝙖𝙝 𝙢𝙚𝙣𝙖𝙣𝙜𝙞𝙨 𝙝𝙖𝙣𝙮𝙖*_ _*𝙠𝙖𝙧𝙚𝙣𝙖 𝙢𝙚𝙣𝙜𝙚𝙣𝙖𝙣𝙜𝙠𝙪.*_ _*𝘿𝙖𝙣... 𝙟𝙖𝙜𝙖 𝙖𝙙𝙞𝙠𝙠𝙪 𝙮𝙖. 𝘼𝙠𝙪 𝙢𝙚𝙣𝙮𝙖𝙮𝙖𝙣𝙜𝙞𝙢𝙪 𝙙𝙖𝙣 𝙏𝙖𝙚𝙧𝙖.*_
_*𝙄 𝙇𝙤𝙫𝙚 𝙔𝙤𝙪, 𝘿𝙚𝙖𝙧.*_
_*~𝙆𝙞𝙢 𝙏𝙖𝙚𝙝𝙮𝙪𝙣𝙜*_
_03.30 A.M_
03.30 a.m. Berarti fajar tadi. Taehyung benar-benar meninggalkan ku. Aku sendirian lagi, aku tidak punya siapa-siapa yang bisa ku andalkan.
AKU MENYAYANGI TAEHYUNG, TAPI DIA MENINGGALKAN KU!!
Salah apa aku? Aku rasa Tuhan benar-benar tidak adil padaku. Apa Tuhan marah saat menciptakanku? Kenapa semua ini harus terjadi padaku.
"Taehyung!! Hiks~"
Aku memeluk pria itu dengan sesegukan, sekilas mencium bibirnya, kening, dan pipi, serta hidung. Seperti Yang dia minta. Morning kiss.
"Taehyung..."
Saat itu pula, Taera datang dengan air mata berlinang mendapati sang kakak yang terbaring tak bernyawa di pelukanku. Sedikit cerita, Taera dan Taehyung juga sudah di tinggal oleh orang tua nya. Sama sepertiku.
"Oppa... Hiks... Kau kenapa??"
Aku bisa mendengar rancauannya, dia dan aku sama-sama hancur. Sama-sama kehilangan, Dan sama-sama terkejut. Sama-sama tak bisa melupakan kenangan buruk ini.
Aku segera beranjak, mengambil kalung yang di maksud Taehyung di laci nakas. Lalu menangis memeluk kalung itu.
Ini berat. Sungguh.
(^_^)
4 tahun kemudian. (Sekarang)
Usiaku sekarang sudah 26 tahun, dan Taera sudah berusia 23 tahun. Gadis itu menjadi CEO pengganti Taehyung.
Seperti janji, aku sudah merawat Taera dengan baik. Dia jadi gadis dewasa dan tegas, walau begitu entah kenapa jika bersamaku dia jadi manja.
Katanya, "Kak Yn ini seperti sosok Tae Oppa bagiku. Dia merawatku dengan sabar, sama seperti Kak Yn memperlakukan ku. Aku bersyukur dapat Kak Yn." Itulah yang di katakan Taera.
Entah kenapa setelah mendengar itu, aku jadi rindu Taehyung. Aku belum bisa melupakannya sampai sekarang. Aku terlalu mencintainya.
Bahkan surat terakhir yang dia tulis masih ku simpan baik-baik. Tidak mau benda itu lecet sedikitpun. Jadi, aku simpan di kotak khusus kenangan Taehyung.
Kalung Taehyung yang di berikan padaku, masih setia aku pakai. Bahkan tak mau melepaskannya.
Kini aku sedang memasak makan malam untuk Taera. Biasa, anak itu akan pulang jika sudah menunjukan pukul 6 sore.
Sekarang aku tidak sendiri, Park Jimin. Saudara Taehyung mengajak ku untuk menjalin hubungan bersama. Dia mengaku menyukaiku sejak pertama aku pacaran dengan Taehyung.
Tapi aku tolak. Aku sudah meyakinkan kalau Jimin itu hanya terobsesi padaku. Hatiku tidak akan pernah terganti oleh siapapun selain Taehyung.
(^_^)
Author POV!
Pria berbaju serba putih dengan cahaya mengelilingi seluruh tubuhnya itu memandang kearah depan dengan tatapan layu.
Matanya tak pernah berhenti memperhatikan wanita yang dia cintai mondar-mandir menyiapkan bahan makanan untuk kepulangan adiknya.
Sesekali dia tersenyum lemah melihat Yn yang nampak sibuk dengan pekerjaannya. Ya, selama dirinya tiada, Yn di paksa Taera untuk tinggal dengannya.
Taera juga menyayangi Yn seperti Yn menyayangi kakaknya.
Pria itu—taehyung. Masih menatap Yn dengan sedu. Kekasihnya ini masih sama, yang beda hanyalah rambut yang dulu pendek kini sudah memanjang dan... Tingginya sedikit bertambah.
Taehyung menyesal meninggalkan Yn Hanya saja, ini sudah perintah Tuhan untuk dirinya kembali ke hadapan yang maha kuasa.
"Kak Yn!! Taera lapar!!"
Taehyung menoleh pada sosok gadis yang bernotabe sebagai adik nya. Dia terkekeh kecil saat melihat Taera yang memeluk Yn dengan manja.
"Iya, sebentar lagi jadi." Jawab Yn.
Taehyung terdiam, suara Yn juga berubah. Yang dulunya lengking, sekarang suaranya penuh dengan kasih sayang dan keibuan. Sangat lembut.
Pria itu mengukir senyum lagi.
"Kak, Taera rindu Tae Oppa..." Lirih gadis itu. Sukses membuat Taehyung melunturkan senyumnya. Memandang sedu ke arah sang adik yang memeluk Yn.
Yn diam, dia hanya membalas Taera dengan usapan di kepala. "Kakak juga rindu..." Jawab Yn lirih, namun masih di dengar oleh Taehyung. "Tapi tidak mungkin jugakan kalo Tae Oppa kembali. Dia sudah bahagia dengan Tuhan. Setidaknya Tae Oppa sudah tidak merasakan sakit lagi kan." Angkat Yn. Membuat Taera diam seketika.
Dia menatap Yn sambil mengerucutkan bibirnya. Membuat Yn terkekeh penuh paksa. "Mandi dulu sana. Setelah itu makan.." suruhnya yang di angguki oleh Taera.
Selepas kepergian Taera, Yn memegang kalung Taehyung dan terduduk di lantai. Menangis sejadi-jadinya namun berusaha Tidak mengeluarkan suara.
"Taehyung~aa, kenapa kau tidak pernah datang menjenguk ku eoh.." ucap Yn lirih. "Jika kau ada di sini, setidaknya kau perlihatkan dirimu." Lirihnya lagi. "Kau tidak kasihan pada Taera huh?"
Taehyung memasang senyum miris. Sungguh dia tidak mau Yn membuang air matanya sia-sia hanya untuk mengenang dirinya. Dia ingin, Yn menganggap itu kenangan bahagia. Walau sebenarnya itu sangat menyakitkan.
Taehyung berjalan ke arah Yn dan berjongkok di hadapannya. Walau Yn tidak melihat.
Chu~
Taehyung mengecup kening Yn, lalu tersenyum. Sedangkan Yn mulai mendongak kepalanya dengan ekspresi aneh, lalu berdiri dengan memegang keningnya.
"S-siapa yang..." Ujarnya gagap. Dia merasa ada yang menciumnya. "Kau di sini? Tae?" Lirihnya.
Taehyung tersenyum lembut. "Aku selalu disini. Bersamamu."
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
THE END 💜