Dering notifikasi pesan masuk terdengar singkat, Alana yang dalam posisi setengah sadar berusaha meraih ponselnya dengan kepayahan. Ponselnya yang sedang tersambung ke kabel pengisi daya, menyebabkan ponselnya berada pada titik terjauh yang bisa digapainya dari tempatnya tidur ke ujung meja belajarnya. Dia memang selalu mengisi daya ponselnya terlebih dahulu sebelum tidur agar besoknya, saat ia akan berangkat sekolah, daya ponselnya sudah terisi penuh.
"Siapa juga, sih, yang chat tengah malam begini?" Ia menggerutu ketika samar-samar ia melihat jam yang menunjukkan masih pukul 00.57 dari layar ponselnya.
Alana melempar ponselnya ke sembarang arah ketika menyadari jika Sarah lah yang menghubunginya. Sarah adalah sahabat terdekat Alana, bisa dikatakan cukup dekat untuk saling mengenal keluarga satu sama lain. Pikir Alana saat itu hanyalah Sarah hanya akan mengirimkan fotonya yang tengah buang air besar di kamar mandi seperti yang biasa dilakukan oleh Sarah.
Boleh dibilang, kebiasaan Sarah memang aneh, ia selalu mengirimkan foto apapun yang dilakukannya lalu menyisipkan pesan lokasi tempatnya berada kepada Alana. Alasannya hanya satu, agar Alana tahu posisi terakhir Sarah jika terjadi hal-hal mengerikan yang ditakutkan oleh Sarah. Menurut Sarah, tidak ada yang tahu kemalangan apa yang akan menimpanya dalam beberapa detik yang akan datang, menghubungi Alana adalah sebuah solusi.
Alana tidak berniat sedikit pun untuk membalas pesan Sarah, toh hanya sebuah laporan singkat seperti biasanya. Kalaupun ada hal penting, ia akan langsung membahasnya langsung dengan Sarah nanti di sekolah. Alana lebih memilih untuk kembali tidur.
Paginya, Alana berjalan dengan terburu-buru dari kamarnya menuju garasi mengingat jika ia mungkin akan datang terlambat ke sekolah karena ia yang terbangun lebih siang dari biasanya. Alex, kakaknya, sudah memasang wajah kesal saat adiknya menghampiri sambil memakai helmnya asal.
"Besok lagi, kalau lo jam setengah tujuh belum ada di garasi, gua bakal berangkat duluan! Lo naik angkot aja!" Alex terus mengulang kalimat yang sama selagi ia menancap gas motornya, yang sedang diomeli hanya diam saja karena ia tidak bisa mendengar apa yang Alex katakan.
Saat tiba di sekolah, Sarah langsung menyambutnya dengan seringai senyumannya yang khas, yang menurut Alana lebih terlihat seperti seekor macan yang akan menerkamnya. Tidak ada obrolan seperti biasanya, hanya ada Alana yang sibuk merapikan buku-buku pelajaran matematika dan Sarah yang sibuk memerhatikannya.
Sebelum guru matematika masuk, Alana memilih untuk membuka pesan yang dikirimkan Sarah. Sarah hanya mengirimkan foto sebuah rel kereta, dengan pesan singkat bertuliskan, "16.13, Stasiun Bekasi, tabrakan."
"Sar, maksud lo apa?" Tanya Alana yang merasa pesan itu terasa ganjil baginya.
"Maksudnya?" Sarah malah balik bertanya karena ia juga tidak mengerti mengapa Alana melemparkan pertanyaan itu.
"Foto yang lo kirim! Maksud lo apa?" Alana mulai merasa ketakutan sambil ia tetap memerhatikan foto yang dikirimkan oleh Sarah.
Sarah menarik paksa ponsel Alana, ia langsung menutup mulutnya untuk menutupi rasa terkejut dan juga ketakutannya. Ia menyerahkan kembali ponsel Alana sembarangan.
"Al, gue masih tidur jam segitu!" Sarah menjelaskan dengan gelagapan.
"Jangan bercanda, Sar!" Alana membentak Sarah yang wajahnya sudah berwajah pucat pasi karena ketakutan.
Sarah bersusah payah mengambil ponselnya dari dalam saku kemejanya dan berusaha membuka pesan antara ia dengan Alana. Ia lalu menunjukkan pesan terakhir yang dikirimkannya sebelum tidur, swafotonya dan sebuah pesan kalau dia berada di dalam kamar tidurnya.
"Lo nggak hapus fotonya, kan?" Alana skeptis.
"Nggak, Al! Sumpah!" Sarah berusaha membela dirinya.
Hari itu, Sarah dan Alana tidak berhenti membicarakan apa maksud pesan yang didapatkan oleh Alana. Mereka berusaha menghubungkan poin-poin penting dari pesan itu. Stasiun, tabrakan, dan sore hari. Sebenernya mereka sama-sama tersadar jika pesan itu seolah datang dari masa depan dan memberitahu mereka apa yang akan terjadi. Tapi baik Alana maupun Sarah, tidak ada yang berani mengatakannya, mereka takut jika apa yang mereka pikirkan benar. Hari itu, mereka memutuskan untuk pulang bersama, setidaknya untuk jaga-jaga jika pesan itu benar terjadi.
Menjelang pulang sekolah, Sarah tidak hentinya menangis. Sejujurnya ketakutan itu terus menghantuinya. Tapi mereka tetap memilih untuk pulang, lagipula waktu masih menunjukkan pukul dua siang, dan perkiraan Alana, seharusnya Sarah sudah tidak lagi berada di stasiun bekasi saat pukul empat sore.
Saat di stasiun, Alana yang biasanya berpisah dengan Sarah karena mereka harus menaiki kereta dengan tujuan berbeda, siang itu Alana memutuskan untuk menemani Sarah yang masih ketakutan terlebih dahulu. Perjalanan berjalan lancar seperti biasanya pada awalnya, tapi d tengah perjalanan, kereta mereka harus terhenti karena ada masalah sinyal yang tertahan dari stasiun selanjutnya. Sarah tidak bisa menunggu dengan tenang. Sampai akhirnya, kereta mereka pun tiba, tanpa disangka mereka tiba tepat pukul empat sore.
"Sar, gue rasa lo harus jaga diri lo dari sini, kereta menuju rumah gue sudah mau datang, Sar, lo nggak apa-apa, kan?" Tanya Alana dengan ragu.
"Gue nggak apa-apa, lo juga hati-hati di jalan, ya?" Sarah menjawab dengan sama ragunya.
Mereka saling melambaikan tangan sebelum mereka berpisah. Alana pun kembali menaiki kereta yang akan membawanya pulang. Saat di perjalanan, Alana menerima pesan baru dari Sarah. Baru Alana akan bernapas lega karena berpikir jika ketakutan mereka hanyalah sebuah ketakutan tak berarti, ia harus dikejutkan dengan kiriman gambar dimana Sarah yang sudah berlumuran darah di seluruh wajahnya.
"AH!" Alana berteriak dengan kencang sampai mengejutkan seluruh penumpang kereta.
Setelah itu, Alana langsung berhenti pada stasiun berikutnya dan meminta Alex untuk datang agar ia bisa segera menghampiri Sarah yang sedang dibawa ke rumah sakit. Alex yang mendengar kabar Sarah dalam keadaan tidak baik-baik saja pun, langsung menghampiri Alana dan menemaninya untuk datang ke rumah sakit.
Tapi saat Alana tiba di rumah sakit, nyawa Sarah sudah tidak tertolong. Alana terus mengikuti prosesi pemakaman sarah dengan perasaan bersalah yang membebaninya.
Semenjak saat itu, Alana tidak berhenti mendapatkan pesan-pesan kematian dari orang terdekatnya walaupun Alana sudah mengganti ponsel dan juga nomor ponselnya. Dan pesan itu selalu diterimanya di jam yang sama, yaitu 00:57. Alana juga sudah memberitahu Alex apa yang terjadi, mereka sudah melakukan berbagai upaya untuk menghentikan pesan itu, tapi tidak ada satupun cara yang berhasil.