Tabitha, seorang gadis dari kalangan orang yang berada, dia punya segalanya.
Nilai di sekolahnya biasa saja, tidak ada yang istimewa, bisa dibilang standar. Tidak ada yang bisa dibanggakan. Hanya saja dia adalah anak yang rendah hati tidak sombong. Temannya banyak yang berasal dari kalangan menengah kebawah.
Tabitha merasa nyaman dengan semua itu, teman-teman yang satu level dengan dirinya banyak yang mencibir. Mereka mengatakan kalau Tabitha itu bodoh, mau saja di manfaatkan oleh kalangan di bawah mereka.
Ya, mereka menganggap bahwa teman Tabitha hanya memanfaatkan kekayaannya saja.
Mereka tidak tahu, bahwa justru teman-temannya itulah yang mengajarkan banyak hal kepada dirinya. Bahwa hidup itu perlu kerja keras, tidak selamanya kita berada di atas, roda sudah pasti berputar.
Hari itu Tabitha seperti biasa sibuk sendiri, entah apa yang dia lakukan, tapi yang jelas kamarnya penuh dengan segala jenis barang yang berserakan di lantai, apabila diperhatikan semua barang itu adalah barang bekas.
Mama Tabitha, Nyonya Hartono adalah seorang wanita apik dan bersih, alangkah terkejutnya ia ketika membuka kamar putri satu-satunya itu dipenuhi barang yang menurutnya tidak berguna.
"Tabitha?", Nyonya Hartono tidak bisa berkata-kata lagi, kepalanya tiba-tiba saja pusing.
"Bibi!", teriaknya sambil memijit pelipisnya.
"Ya nyonya", jawab Bibi Lastri yang tergopoh-gopoh berlari menemui majikannya tersebut.
"Ada apa Nyonya?", sahutnya lagi sambil menghadap Nyonya Hartono.
"Tolong bersihkan kamar Nona, aduh apa saja yang dia pikirkan, bukannya belajar, malah membuat kekacauan seperti ini", keluh Nyonya Hartono.
"Baik Nyonya", jawab Bibi Lastri sambil mengambil kantong plastik untuk membungkus semua barang yang dianggap nyonya nya itu sampah.
Tabitha yang baru pulang joging terkejut melihat kamarnya seketika bersih.
Pikirannya hanya tertuju pada satu orang yaitu siapa lagi kalau bukan Mami tercintanya.
Dengan tubuh yang masih bau keringat ia mendatangi Maminya yang saat itu sedang duduk cantik menikmati herbal teh dan sepiring kecil cemilan rendah kalori.
"Mami?, apa yang Mami lakukan pada barang-barang yang berada didalam kamar Tabitha?", tanyanya dengan nada yang lembut.
"Mami buang", jawab Nyonya Hartono dengan tenang.
"Mengapa Mami buang?, Tabitha membutuhkannya Mami, semua itu mau Tabitha olah menjadi barang yang berguna nantinya", jelas Tabitha.
"Apa putri kesayangan Mami ini kekurangan uang?, nanti Mami tambah uang sakunya, Mami tidak suka melihat barang-barang yang tidak berguna itu ada didalam rumah ini", kali ini Nyonya Hartono mengelus kepala putrinya itu sambil tersenyum.
Melihat usahanya bakalan sia-sia, Tabitha hanya menarik nafas panjang, dari pada berdebat dengan Maminya Tabitha akhirnya masuk ke dalam kamarnya dan mandi.
Mau tidak mau dirinya harus mulai dari awal lagi mengumpulkan barang bekas itu.
Beberapa hari ini Tabitha terlihat lebih sibuk daripada biasanya, sesekali ia terlihat belajar, itu dilakukannya apabila keesokan harinya akan ada ulangan dan ada tugas, selebihnya ia sibuk di workshop yang dibuatkan oleh papinya.
Di sekolah Tabitha tetap seperti hari-hari sebelumnya, hanya saja matanya bersinar penuh semangat mendengar sekolah akan mengadakan lomba daur ulang barang bekas. Pemenangnya akan mendapatkan sejumlah uang, yang terpenting pengusaha-pengusaha besar akan datang termasuk papi tercintanya.
"Akhirnya", gumam Tabitha masih dengan senyum yang terkembang di bibirnya.
Sepulang sekolah Tabitha berkumpul dengan teman-teman dekatnya. Mereka asik berdiskusi tentang lomba tersebut dan kira-kira kreasi seperti apa yang akan mereka hasilkan.
Pulang dari sekolah Tabitha langsung mengganti baju dan kemudian kembali sibuk.
Nyonya Hartono sedikit khawatir dengan kesibukan Tabitha akhir-akhir ini, dia sering sekali melupakan makan siangnya.
Rasa khawatir ini dia sampaikan kepada suaminya. Seperti biasa suaminya hanya menyarankan untuk tidak mengganggu kegiatan putrinya itu, cukup kirimkan makanan kesukaan Tabitha ke ruang kerja nya saja.
Pak Hartono masih ingat seminggu yang lalu putrinya itu minta dibelikan mesin penggiling untuk menghancurkan botol plastik menjadi serpihan kecil dan kembali menjadi biji plastik. Dan biji plastik ini mempunyai nilai jual tinggi.
Untuk pengoperasian mesin ini pertamanya Tabitha harus diawasi oleh salah seorang anak buah papinya.
Tidak ada yang tahu, sudah beberapa bulan ini Tabitha banyak membantu perekonomian orang tua temannya yang tidak mampu, di usia yang masih belia ia mampu menciptakan lapangan kerja sendiri.
Pemulung sudah banyak yang mengenal putri konglomerat yang sangat rendah hati ini, mereka bersemangat mencari barang bekas untuk Tabitha karena Tabitha selalu membeli barang bekas dengan harga yang sedikit lebih tinggi dibandingkan dengan harga yang dibelikan oleh pengepul.
Tabitha sibuk merancang barang apa saja yang akan ia tampilkan pada saat lomba nanti.
Keesokan harinya, ia menyerahkan hasil rancangannya.
Dengan di bantu dengan beberapa orang tua temannya yang merupakan pengrajin dulunya, Tabitha mempercayakan pembuatan pernak pernik yang berasal dari botol bekas.
Sedangkan pembuatan pernak pernik dari kain bekas ia serahkan kepada ibu-ibu tentu saja dengan pengarahan dari Tabitha.
Kain bekas itu ia dapatkan dari pabrik konveksi, dari pada terbuang percuma Tabitha memintanya.
Tabitha melakukan semua itu tanpa bantuan dari papinya.
Berusaha sendiri walaupun pada awalnya banyak yang meremehkannya.
Hari lomba bahan daur ulang telah tiba. Semua pengusaha terkenal mendatangi sekolah Tabitha Termasuk papi dan maminya.
Teman teman Tabitha yang lainnya juga sama kreatifnya, ada yang membuat baju dari bahan kain perca, hasilnya sungguh indah, ada yang membuat pot yang cantik dari bahan botol plastik dan juga kaleng bekas.
Tapi dari semua itu yang paling menarik perhatian adalah karya hasil rancangan Tabitha, tampak dihadapan mereka bantal yang terbuat dari kain bekas, bentuknya yang cantik dan unik, juga ada lampu yang terbuat dari botol plastik bekas, agar tidak gampang rusak akibat panas dari bola lampu bagian dalamnya Tabitha lapisi dengan kain perca sehingga menghasilkan efek cahaya yang indah, serta ada juga pernak-pernik yang berasal dari koran atau kertas bekas yang apabila kita lihat sekilas berkesan mahal.
Barang yang dihasilkan kelompok Tabitha lebih banyak ragamnya dibandingkan dengan kelompok lain.
Para pengusaha yang melihat hasil karya Tabitha banyak yang tertarik dengan kreasinya, mereka berencana memanfaatkan barang bekas yang dihasilkan dari pabrik mereka menjadi barang yang bernilai tinggi dan mereka banyak yang meminta nasehat dari Tabitha.
Betapa bangganya Tuan dan juga Nyonya Hartono, anak yang terlihat biasa saja di bidang akademik ternyata mempunyai pemikiran yang luar biasa.
Lomba itu tentu saja dimenangkan oleh kelompok Tabitha. Uang yang didapatkan, Tabitha pakai untuk menambah modal usaha yang baru saja dirintis Tabitha dan teman-temannya.
Tabitha adalah seorang gadis yang pintar bukan?, kepintaran bukan hanya dilihat dari nilai raport yang tinggi, kepintaran juga bisa dilihat dari daya kreatifitas membuat sesuatu menjadi bernilai, atau juga kepintaran bisa di lihat dari bagaimana orang tersebut bisa membuat terobosan baru cara mudah mendapatkan uang dengan cara yang halal.
💰TAMAT💰