Namanya Kim Doyoung, setauku, yang kudapat dari hasil telinga ke telinga anak-anak fakultasku dia blasteran Indonesia-Korea. Pantas saja memiliki wajah yang mirip dengan salah satu aktor yang main di salah satu drama yang pernah aku nonton.
Doyoung mahasiswa semester 5 di Fakultas Hukum, sedangkan aku Olivia Debbie, mahasiswi semester 3 di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik. Aku mengetahui Doyoung pertama kali saat masih menjadi Mahasiswa Baru setahun yang lalu, kejadian yang tidak akan pernah aku lupa di saat Doyoung tidak sengaja menabrakku, membuat novel yang baru saja kubeli dan kubaca jatuh ke tanah yang digenangi air. Dia berkali-kali meminta maaf kepadaku dan aku sebisa mungkin tersenyum dan mengatakan tidak apa-apa. Dan sialnya dia langsung dipanggil oleh salah satu temannya yang kebetulan kakak tingkat yang mengospekku sewaktu maba. Sejak saat itu, aku mulai tidak suka dengannya yang tidak bertanggungjawab.
________
Aku saat ini duduk di kantin sendirian, sembari menunggu pesanan, aku melanjutkan membaca novel yang sudah aku baca lima kali dan ini yang keenam kalinya. Aku mendengar suara-suara keributan di sekitarku, yang membuatku sudah tidak fokus membaca karena suara-suara itu memanggil nama Kim Doyoung.
Untung saja makanan yang kupesan beserta minumannya yang tak lain adalah es kopi sudah datang dan sudah terletak rapi di atas meja. Sebenarnya aku sedikit kesal, kenapa si mahasiswi-mahasiswi di sini pada suka teriak-teriak nama Doyoung. Padahal kan yang paling ganteng itu mahasiswa semester 5 Fakultas Psikologi yang bernama Lucas Argasetya. Tawa Lucas bisa membuat jantung aku hampir melompat keluar dari tempatnya, untung saja aku hanya bisa melihat dan mendengar tawanya dari jauh. Kalau dari dekat, bisa-bisa jantungku beneran udah melompat. Tentu saja Doyoung dan Lucas berbeda, Doyoung orangnya pendiam, sepertinya tidak terlalu suka berbicara, sedangkan Lucas yang aku lihat, jika dia ditemani bicara maka responnya bagus, bisa membuat lawan bicaranya juga ikutan tertawa. Sedangkan Doyoung? Dia saja jarang tersenyum.
Tak terasa makananku sudah habis, giliran aku meminum es kopi yang enak ini. Tapi di saat aku mengangkat tanganku dan mengarahkan cup es kopi, ada yang menyenggol tanganku sehingga cup itu terlempar ke lantai, untung saja tidak terkena orang lain, terutama engga kena novelku.
Aku menatap sebal orang yang menyenggol tanganku, orang itu adalah Kim Doyoung.
"Rese banget si lu, belum juga es kopi gue habis!" Kataku bersungut.
Respon dari Kim Doyoung adalah dia cuma menatapku, entah apa maksudnya. Aku udah sangat kesal dengan dia.
"Mau diganti berapa?" tanyanya dengan raut wajah polos.
Sialan! Hal itu langsung membuat mahasiswi di sekitarku menjerit.
"Gue engga butuh uang lu, sialan!" Aku berteriak di depan wajahnya, lalu mengambil novel beserta handphoneku di atas meja. Mengambil tasku dan segera pergi dari kantin, untung saja aku membayar lebih dulu makanan dan minuman yang kupesan.
________
Sepanjang jalan, aku terus mengumpati Kim Doyoung sialan itu, sudah dua kali aku sial karena bertemu dengan dia. Doyoung sialan, sialan. "𝘎𝘶𝘦 𝘦𝘯𝘨𝘨𝘢 𝘴𝘶𝘬𝘢 𝘴𝘢𝘮𝘢 𝘭𝘶! 𝘈𝘸𝘢𝘴 𝘢𝘫𝘢 𝘬𝘢𝘭𝘢𝘶 𝘬𝘪𝘵𝘢 𝘬𝘦𝘵𝘦𝘮𝘶 𝘭𝘢𝘨𝘪 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘬𝘦𝘵𝘪𝘨𝘢 𝘬𝘢𝘭𝘪𝘯𝘺𝘢 𝘥𝘢𝘯 𝘭𝘶 𝘣𝘶𝘢𝘵 𝘨𝘶𝘦 𝘴𝘪𝘢𝘭, 𝘮𝘢𝘬𝘢 𝘬𝘪𝘵𝘢 𝘩𝘢𝘳𝘶𝘴 𝘣𝘢𝘬𝘶 𝘩𝘢𝘯𝘵𝘢𝘮!" Aku berjalan ke halte bus sambil menghentakkan kakiku.
_________
Belum juga sampai di halte bus, sudah ada yang menarik tas selempangku yang tersampir di bahu kiriku. Rese banget si orang-orang hari ini, gerutuku. "Oh, lu lagi!"
"Saya antar pulang." Doyoung sepertinya menawariku pulang bersama, tapi aku diam saja dulu.
"Kamu kenapa terus menghindari saya, Oliv?"
Aku masih diam. Aku melihat jam yang melingkar di pergelangan tangan kananku.
"Sudah tidak ada bus yang lewat jam segini, Oliv. Biar saya saja yang antar kamu pulang, lagipula kamu mau ketinggalan jam sholat maghrib?"
"Tadi gue mau niat baku hantam sama lu kalau kita ketemu yang ketiga kalinya dan gue sial lagi karena bus engga lewat-lewat." Aku memang bilang seperti itu kan tadi.
“Kamu ingat setiap pertemuan kita? Ya sudah kamu boleh mukul saya, baru saya antar pulang." Tak lupa Doyoung mengusap-usap pipinya dulu, entah untuk apa dia melakukan itu.
"Lu engga tau kalau gue pemegang sabuk hitam di karate?" tanyaku, karena bisa-bisa nanti aku masuk di komisi disiplin kampus kalau memukul Ketua BEM UI, Kim Doyoung.
"Engga kenapa-kenapa, asal kamu mau pulang bareng sama saya", jawab Doyoung.
𝙜𝙞𝙡𝙖!
"Otak lu kegeser? Kok ini lu jadi tukang paksa si, seolah-olah lu engga pernah ngelakuin kesalahan ke gue!"
"Iya ini saya menebus kesalahan saya ke kamu, diawali kita pulang tapi mampir ke toko buku untuk mengganti novel kamu yang jatuh dulu, sekalian saya juga mau cari buku lain. Nanti, sholat di dekat toko buku, sesudah itu kita mampir makan malam untuk mengganti minuman yang saya tumpahin. Baru saya antar sesudah makan, mau kan Oliv?" jelas Doyoung panjang lebar sambil tersenyum.
Aku berpikir untuk menerima ajakan Doyoung, lagipula dia hanya mengganti kerugian aku akibat ulahnya sendiri. Maka dari itu, aku naik ke atas motor gedenya.
"Pegangan, saya engga bisa mengganti kerugian jika nanti kamu jatuh dan kenapa-kenapa", ucap Doyoung, yang membuatku mau tak mau pegangan di jaketnya. Saat berpegangan, dia membawa tangan kiriku lebih dulu, kemudian tangan kananku untuk melingkarkan di pinggangnya.
_________
Pemikiran aku tentang Doyoung yang jarang tersenyum aku ralat, karena selama aku di toko buku dia terus saja tersenyum berjalan di sampingku. Bahkan saat kita selesai sholat, dia yang berdiri di samping motornya tersenyum saat aku melangkah keluar ke arahnya.
"Cantik."
Entah pendengaran aku yang salah atau engga, kata cantik keluar dari mulut seorang Doyoung.
Aku hanya diam saja sampai menunggu dia bersiap dengan motornya, aku memakai helm ke kepalaku.
"Tadinya saya berharap pengaman helmnya macet, biar saya bisa perbaiki dan melihat wajah kamu dari dekat", ucap Doyoung saat dia menjalankan motornya ke tempat makan.
Kuurungkan niatku untuk bertanya, karena saat ini aku lagi malas untuk berbicara dengan Doyoung.
Selama perjalanan ke tempat makan, Doyoung dan aku sama-sama diam sampai ke tempat makan. Doyoung lantas membuka helmnya, aku ikutan buka helm juga. Sesudah helm terbuka, Doyoung menggenggam tanganku menuju tempat duduk warung ayam geprek sederhana. Aku masih diam, mencerna semua kejadian hari ini atas sikap Doyoung yang tiba-tiba menjadi aneh.
"Suka ayam geprek kan? Mau level yang berapa? Level tertinggi di sini cuman 7", ucap Doyoung yang menjelaskan, sepertinya dia sering makan di sini sama pacarnya, karena dari yang aku dengar Kim Doyoung sudah sold out.
"Gue level 7", jawabku.
"Mas, ayam geprek dan nasinya dua. Yang satu level 7 yang satu level 5 saja. Minumnya es teh dua." Doyoung memesan untukku juga.
_________
Pegangan Doyoung dari tanganku belum terlepas. "Doy, lepasin. Nanti ada yang lihat terus laporin ke cewek lu gimana." Aku memang sedikit takut untuk dilabrak dengan pacarnya Doyoung yang katanya mahasiswi cantik Fakultas Ekonomi dan Bisnis.
"Dengar rumor darimana? Saya saja belum nembak kamu, masa sudah punya pacar. Atau kamu mau jadi pacar saya mulai dari sekarang?" Ini si Doyoung ngajak aku pacaran kayak ngajak aku makan ayam geprek doang.
"Oh pantas sikap lu aneh, ternyata suka sama gue? Sejak kapan, Doy? Kita aja jarang banget ngobrol, ketemu aja baru tiga kali."
"Saya perhatiin kamu dari awal kita ketemu, maaf banget karena novel kamu rusak karena saya. Sejak itu saya perhatiin kamu terus-terusan, dari yang kamu sering sendirian di perpustakaan mengerjakan tugas atau hanya sekedar tidur di sana dan saya selalu nunggu kamu sampai bangun. Saya yang memaksa bang Kai untuk minta line kamu, instagram kamu juga. Tapi aku engga sampai untuk follow kamu."
"Padahal kan follow aja bisa, lumayan nambah followers gue dari kalangan selebgram." Dia tertawa karena perkataanku, aku juga jadi ikutan tertawa.
"Jadi, gini rasanya ngobrol dan ketawa bareng ketua BEM UI?" tanyaku.
"Jadi, kamu suka ngobrol bareng saya?" tanya Doy balik.
"Lumayan", jawabku singkat.
_________
Sepertinya dia ingin ngobrol bareng denganku lagi, tetapi pesanan kita sudah datang. Doyoung langsung menukar ayam geprek level 7 ku dengan ayam geprek level 5 nya.
"Doy, lu salah ngambil. Itu ayam geprek pesanan gue, protesku. Nanti perut lu sakit karena kepedesan, Doy."
"Daripada kamu yang sakit, mending saya saja, Oliv".
Mau tak mau, aku yang mengalah karena Doyoung ini tipe orang yang suka debat dan sulit untuk dikalahkan.
_________
Setelah makanan kita berdua habis karena kita berdua fokus makan tanpa mengobrol, mungkin Doy tau aku engga suka kalau makan terus diajak ngobrol, bisa-bisa aku engga makan makanan itu.
Sepeninggalan kami berdua dari warung makan ayam geprek, kami berdua sama-sama terdiam di atas motor menuju jalan pulang dan sampainya kami berdua di depan rumahku, sudah ada berdiri seorang Manggala Cakrawala dengan gagahnya sambil melipat kedua tangannya di depan dada. Aku hanya tersenyum, semoga saja Doyoung kapok ke rumahku untuk kedua kalinya.
"Ingat pulang juga ya, kamu", ucap Manggala.
"Maaf, tadi saya mengajak Oliv sholat dan makan malam dulu", jawab Doyoung. Manggala langsung tertawa pelan menanggapi, kemudian Doyoung juga ikut tertawa.
"Sudah lama kita engga ketemu ya, Doy. Apa kabar?" tanya Manggala. "Sekarang dekatin Oliv nih?"
"Kabar baik, seperti yang lu lihat sekarang Gal. Boleh kan nih?"
"Gue sih boleh-boleh aja, asal lu dan Oliv dapat gelar sarjana dulu."
"Abang, apa-apaan sih", ucapku kesal, bisa-bisanya dia jawab kayak gitu.
Doyoung tersenyum. "Tunggu gue beberapa tahun lagi ya, Oliv."
Setelah mengucapkan kalimat itu, Doyoung pergi dari hadapanku dan juga Abang Manggala.
_________
Apa yang diucapkan oleh Doyoung tempo dulu terbukti, Doyoung datang ke rumah dan memintaku ke mama dan papa, beserta Manggala. Dengan menyandang gelar sarjana dan sudah berpenghasilan, Doyoung juga berjanji akan membahagiakan dan menjagaku seumur hidupnya. Dan tanpa berpikir kedua orang tuaku menerima lamarannya.
Aku dan Doyoung ditambah kedua buah hati kami kini hidup berbahagia dengan keluarga kecil. Tuhan memberiku sosok imam yang baik seperti Doyoung mungkin buah dari pahalaku. Atau mungkin Tuhan sudah menakdirkan Kim Doyoung bersamaku.