SUMPAH
Untuk kesekian kalinya, sophran terdengar berkoar. Mengintrupsi semua makhluk bernapas yang terdapat disana. Termasuk Gita, gadis dengan poni ke depan itu tengah sibuk berjuang antara hidup dan mati. Matanya dengan intens memindai dua halaman buku bermotif kotak penuh. Sedangkan tangan kanannya dengan lincah bergerak sesuai irama.
"Berisik, gak mungkin Gue bohong." Tegasnya, lalu menutup dua buku yang sejak lima menit tadi menarik atensinya. "Makasih contekannya, tambah cantik deh Mona." Lanjut Gita, sambil menyodorkan sebuah buku.
Mona hanya memutar bola matanya jengah. Pujian semacam itu sudah menjadi makanannya setiap hari. Sama, seperti Gita yang mencontek seluruh tugas miliknya, setiap hari juga. "Tapi gak masuk akal Git, masa Gue gak tau kalo dia seangkatan sama kita?"
Pandangan Gita otomatis memicing. Sedikit berpikir dan mencari kalimat apa yang tepat untuk diungkapkan. "Umm, bukan Cuma Lo sih, Gue juga baru tau." Diseruputnya jus jeruk itu dengan kuat. "Yang ini beda, susah Gue nyarinya."
"Jangan gitu dong," cegah Mona. Tidak mau sahabatnya ini menyerah. Belasan informasi pria ia dapat berkat gadis itu. Walaupun yang ini bukanlah sosok popular ataupun digandrungi. "Lo harus dapet akun sosmednya minggu ini."
Mendengar perintah tak masuk akal itu membuat Gita sedikit terlonjak. Bahkan, sampai menyemburkan sedikit minumannya ke sembarang arah. "Lo gila, kan Gue udah bilang ini susah. Lagian inceran Lo yang ini jarang keliatan."
Tubuh Mona sedikit dimajukan. Sedikit mengais udara dengan tangan, dengan maksud agar Gita mendekat. "Lo ingetkan tugas makalah dari Bu Erna, dikumpulinnya minggu ini juga lho." Bisiknya, sebagai ancaman pada Gita.
Tubuh gita mendadak lemas. Diembuskannya napas dengan kasar. "Oke-oke, Gue cari dalam minggu ini. Tapi tugas makalah sama puisi Gue, Lo yang ngurus." Ucapnya sambil melempar buku tugas lalu beranjak.
***
Koridor nampaknya sedang cukup sepi. Lihat saja sekarang Gita dengan frustasinya sedang menghentak-hentakkan kaki pada ubin. Sungguh menyebalkan, karena terlalu sibuk mencari informasi tentang pria incaran sahabatnya ia melupakan pembagian kelas lintas minat.
Sampai akhirnya tubuh ramping semampai itu sampai di tempat tujuan. Semakin memperlambat langkahnya saat ia tahu di kelas itu tak ada satu pun teman yang bisa diajak berkompromi. Di ajak mencontek maksudnya. Setelah entah bagaimana ia berpisah kelas lintas minat dengan Mona.
Netra bulat itu spontan membola. Memandang lekat satu objek yang dengan seriusnya tengah membaca buku. Birainya menyunggingkan senyum tipis, akhirnya, batin Gita lega. Mengetahui ternyata ada seorang yang memang ia incar satu kelas lintas minat dengannya.
Segeralah ia meraup benda pipih canggih berplasma dengan ukuran lima inci dari sakunya. Tanpa melunturkan sunggingan birai, jariya lincah menulis. "Mon, kerjain bener-bener makalah Gue."
***
Langkah gontai dengan tumpukan buku kini tengah menuruni setiap anak tangga. Gita, gadis itu dengan malas harus mengerjakan tugas linas minat seorang diri. Tidak mungkin ia meminta tolong pada Mona, kelasnya saja berbeda. Jadi, sebelum ia mendapat seorang korban untuk ia jadikan brainly, ia harus mengerjakannya sendiri.
"Hufft," rancau Gita, sambil membantingkan tumpukan buku di tangannya pada sebuah meja kayu di depat ruang keluarga.
"Tumben Lo belajar?" baritone itu sedikir menarik perhatian Gita. Pandangannya dialihkan pada seorang remaja seumuran dengannya tengah menyesap sekaleng soda. Itu dia, Gilang saudara kembar Gita. Namun, ada sesosok lain yang lebih menarik perhatiannya.
Perlahan Gita melangkahkan kakinya. Berjalan menuju sesosok yang menyita perhatian dan juga pikirannya kali ini. Tatapannya beralih pada Gilang. Berekspresi seolah bertanya. Siapa yang lo bawa sekarang?
Seolah paham dengan gelagat kembarannya, Gilang sedikit bersuara. "Oh kenalin, temen Gue, Andra."
***
"OMG OMG OMG!"
"Apaan sih Lo Git, masih pagi juga udah berisik." Sarkas Mona pada sahabatnya yang terlihat aneh tepat setelah bertemu di depan kelas.
Yang diajak bicara malah semakin aneh. Kini Gita malah degan antusias memeluk Mona. Oh Tuhan, sabarkanlah jiwa Mona dari sahabat yang aneh ini. "Mon Lo tau gak?"
"Ya enggak lah, bego Lo."
Gita sedikit berdeham, "dengar ya. Namaya Andra, tinggi badan 180 cm, berat badan 67 kg, tanggal lahir bisa Lo lihat di instagrammnya @Andra_ra." Jelas Gita panjang lebar yang langsung mendapat tatapan tak percaya dari sahabatnya itu.
"Benerankan? Lo gak bohong? Lo dapet dari mana?" Teriak Mona yang merusak koklea siapapun yang mendengar.
Gita tak bisa menyembunyikan senyumnya. Rasanya ia ingin berteriak, kesenganngannya sudah di ubun-ubun. Tugas makalah dan puisi tak perlu ia pikirkan. "Jadi gini, ternyata dia itu temennya Gilang."
Mendengar itu pun Mona juga tak dapat menyembunyisan senyumnya. "Oh Tuhan, makasih udah kirim teman seberharga Gita." Setelah itu dengan spontan memeluk pinggang ramping sahabatnya.
"Udah ah, males Gue lama-lama dipeluk Lo." Tegas Gita tiba-tiba lalu mendorong tubuh Mona. "Kalo Lo tau, Gue harus ngilangin rasa malu buat dapetin akun itu."
Pernyataan Gita hanya dibalas senyum menggoda oleh Mona. "Gak papa, setimpal sama maklah yang Gue buat." Timpalnya sambil menepuk-nepuk bahu Gita dan kekehan yang tak bisa Gitahan.
Sedangkan Gita hanya tertunduk lemas. Duduk pada salah satu kursi kelas. Seperti biasa, ia akan mengeluarkan buku tugas lalu membongkar tas temannya. Namun kali ini kegiatan menconteknya tak sekhusyuk biasanya. Pikirannya masih saja melayang-layang ke jadian tadi malam. Dengan tak tahu malu ia seperti gadis bodoh minta diajari pada Andra.
"Ya ampun Gita lihat, Gue langsung di follback sama Andra." Heboh Mona sedikit mengguncang-guncang tubuh Gita. Dan "Gue udah di follback duluan bego'" batin Gita.
***
Siang yang menyengat, dua sahabat itu tengah asyik mendinginkan pikiran di pojok kantin. Cukup strategis karena dekat dengan kulkas dan jauh dari pandangan. Ketenangan mereka mendadak hilang setelah dengan tidak tahu diri Mona tiba-tiba histeris setelah sepasang mata elang menatap kea rah mereka. Tidak, kea rah Gita sebenarnya, Mona hanya ge er. Dia lihat Gue bego' batin Gita sambil membalas tatapan ramah Andra dengan kecut.
"Lo suka banget ya, sama tuh cowo?" Tanya Gita setelah melihat gelagat sahabatnya yang sangat aneh. "Gak biasanya Lo kaya gini."
Anggukan mantap dilakukan Mona. "Ho'oh, sukaaa banget, padahal dia bukan tipe Gue." Jelasnya yang hanya dibalas senyum masam oleh Gita.
"Yang ni jangan Lo sakitin ya Mon."
"Hah? Emang kenapa Git?"
"Enggak sih, Cuma susah aja Gue nyari infonya." Ucap Gita santai lalu meraup tas pada salah satu kursi. "Gue cabut ya, guru lintas minat gue killer."
***
Penejalasan guru kali ini tak ada yang ia pahami. Seperti biasa sih ia tidak paham. Tapi kali ini berbeda, penjelasan guru dan apa yang ia pikirkan masalahnya.
Bayangan semalam masih terngang di benak Gita. Bagaimana cara pria itu tersenyum. Menjawab pertanyaan bodohnya. Mengajari dengan sabar, bahkan pria itu menjelaskan sesuatu yang tak ia tanyakan. Seperti tiba-tiba berbicara, Aku suka cewe tomboy atau seneng ya kalo punya pacar minta diajarin. Lama-lama Gitakan baper, secara diakan wanita juga.
Apalagi saat di kantin tadi. bukan hanya karena senyum pria itu, tapi karena pesan yang dikirmnya juga. Abis ini lintas minat, jangan telat ya, nanti Aku laporon Gilang lho!
Bukan tanpa alsan, ia sangat bimbang. Jika biasanya ia akan langsung memberikan respon positif terhadap pria yang menari perhatiannya dalam tanda kurung baik. Tapi kali ini berbeda, pria yang baik dan menarik perhatiannya ternyata juga disukai oleh Mona, sahabat karibnya. Sahabat sejak kecil, bahkan saat mereka masih menjadi pengabdi alay dan cabai.\
Lamunan Gita mendadak buyar setelah gebrakan meja yang dilkukan Mona. Kelas lintas minat sudah sepi. Berarti semua makhluk hidup seudah pulang, dan dia keasyikan melamun. "Git, tadi Gue ngobrol sama Andra."
Mendenagr itu Gita hanya mengangguk-angguk normal. Pantas saja tadi netranya tak melihat Andra. Dia yang menyuruh orang lain hadir tapi dia juga yang bolos.
"Lo mau ejlas sesuatu ke Gue Git?" Tanya Mona sinis, yang hanya dibalas ekspresi kenapa sih Lo. Tiba-tiba Mona sedikit berteriak. "Gue tau tabiat Lo Git."
"Kenapa Mon," tanya Gita semakin bingung.
"Gue tau Lo satu kelas lintas minat sama Andra." Jelas Mona yang dengan enteng Gita membalas, "kan Lo gak tanya."
"Gue juga tau semalem Andra tempat Lo dan kalian belajar bareng." Lalu Gita hanya menajwab, "kan Gue udah bilang dia temen Gilang."
"Gue juga tau Lo chat sama Dia." Gita mengembuskan napas kasar, "kan biar Gue mudah dapat informasinya bego'"
Teegas Gita sambil memutar bola matnya malas. Hendak beranjak namun Gitahan oleh sahabatnya. "Iya Gue bego' sampe gak tau Lo juga suka sama Andra."
Dan entah apa yang akan terjadi selanjutnya setelah kejadian itu.