Gregetan ga sih kalau dalam seminggu di kampung tempat tinggal kita pasti ada saja yang kemalingan?, entah itu sendal, sepatu, baju, sepeda bahkan yang lebih parah adalah segitiga pengaman milik laki-laki atau perempuan. Semuanya itu adalah barang yang terletak di luar rumah.
Kalau di pikir-pikir itu maling mau buka toko kelontong kali ya.
Dari jajaran pejabat kampung dari yang namanya Pak RT, Pak RW sampai Lurah setempat dibuat kebingungan, bagaimana ini cara mengatasinya.
Ayahku yang bertugas sebagai keamanan kampung lebih lagi dibuat pusing tujuh keliling, warga kampung tidak bisa menyalahkan ayahku dikarenakan semua barang itu hilang pada saat hari masih terang, disaat semua orang banyak yang beraktifitas keluar rumah, baik itu ke sawah, bekerja, sekolah atau juga berbelanja.
Akhirnya dibuatlah aturan bahwa semua barang yang biasanya terletak diluar rumah apabila barang tersebut mempunyai nilai jual sebaiknya diletakkan didalam rumah, kebayang ga ribetnya yang punya rumah kecil dengan penghuni yang banyak.
Dengan peraturan baru tersebut akhirnya keamanan tercapai dikampungku.
Tapi rasa lega itu hanya sementara karena maling itu ganti beroperasi di malam hari. Benar-benar deh, hal ini yang akhirnya mengancam pekerjaan Ayahku sebagai penjaga keamanan kampung.
Akhirnya semua warga berembug atau bermusyawarah bahwa mulai saat itu warga juga ikut menjaga keamanan secara bergiliran dan hal ini secara tidak langsung mempengaruhi kestabilan dapur ibuku.
Ganti ibuku yang mulai uring-uringan, gaji ayahku yang bekerja sebagai tenaga bantu di peternakan Pak Haji Rozaq tidaklah seberapa.
Aku adalah anak pertama dari tiga bersaudara, adikku masih kecil-kecil, yang bersekolah baru aku dan adik keduaku, sementara yang paling kecil baru berumur lima tahun. Lagi lucu-lucunya menurut aku sih.
Melihat ayah dan juga ibuku bingung, aku putar otak, bagaimana cara aku membantu kedua orang tuaku. Walaupun aku adalah anak perempuan, aku punya hobi main ketapel, daya bidik ketapel ku bisa diacungkan jempol.
Apa guna ketapel? pasti kalian semua bertanya tentang hal itu, tentu saja untuk mengambil buah tanpa manjat, pasti kalian bertanya lagi, kan ada ada alat untuk mengambil buah berupa kayu panjang yang ujungnya berbentuk keranjang kecil?, iya itu kalau aku punya, kalau tidak?, jangan lupa aku ini anak perempuan yang paling benci sama yang namanya semut merah atau semut rang-rang.
Pembaca jangan bertanya lagi ya, mari kita teruskan ceritaku.
Jadi aku punya ide, aku akan naik ke atas atap bila malam menjelang, nah loh naik pohon buah ga mau tapi naik atas atap mau, bagaimana ini?, naik ke atas atap rumahku itu gampang, tinggal naik keatas kandang ayam yang sudah tidak terpakai, baru dari situ aku naik ke atas atap.
Tanpa setahu ibuku, disaat ayah mulai pergi ronda aku memulai aksiku, memakai celana panjang hitam, baju hitam dan tentu saja obat nyamuk oles, aku bersiap di atas atap. Malam pun menjelang, gelap juga pikirku, kasihan ayah.
Rasa kantuk mulai menyerang kedua mataku, aku lalu memukul pelan kedua pipiku, menyadarkan aku dari kantuk yang mulai menyerang. Untungnya malam itu udara tidak begitu dingin.
Aku mulai bersiap memperhatikan keadaan sekeliling, kegiatan ini memicu adrenalin ku, rasanya seru.
Tak berapa lama aku melihat pergerakan dari jauh pergerakan yang sepertinya mencurigakan, aku sedikit deg-degan, ada sedikit ragu, iya kalau itu maling kalau bukan? jangan-jangan itu ayahku, atau warga kampung yang lain.
Aku tetap memperhatikannya, nah loh, orang itu kok lihat kiri dan kanan, terus mengendap-endap ke rumah tetangga sebelahku yang baru saja beli ayam kemarin. Aku dalam kegelapan masih jelas melihat tingkah laku orang tersebut, ayam-ayam itu kemudian berisik sebentar dan anehnya ayam-ayam itu kembali tenang.
Tapi rupanya Pak Heri yang belum tidur curiga, ia lalu keluar dan mendapati ayamnya hilang lalu berteriak," maling, maling, maling!" dan berlari menuju ke arah yang berlawanan, tentu saja maling yang baru berjalan beberapa langkah yang saat itu tepat berada di depan rumahku kebingungan.
Warga mulai berdatangan, pada saat aku melihat gelagatnya yang ingin melarikan diri dengan tiga ekor ayam, aku pun bertindak, dengan sebuah batu lumayan besar, aku ketapel maling itu tepat dikakinya, dia pun tersungkur dan coba berdiri, melihat itu aku ketapel lagi kaki satunya, dan ia terjatuh lagi, ketika ia berdiri, ayahku, Pak Heri dan dua orang warga lainnya datang, maling itu di bawa ke rumah Pak RT.
Aku tersenyum puas, tidak sia-sia aku menunggu dan bersabar, lega rasanya, aku turun perlahan dan masuk ke dalam rumah, setelah membersihkan diri aku membaringkan diri disebelah adik-adikku, aku bahagia membayangkan wajah bahagia ibuku yang tidak lagi bingung tentang urusan dapur.
Keesokan harinya ayahku bercerita bahwa orang yang maling itu adalah orang kampung sebelah yang jadi pengangguran akibat pengurangan tenaga kerja. Kasihan juga sih, tapi mau bagaimana lagi, hukum tetap harus ditegakkan.
Semenjak hari ketika maling itu ditangkap ada sedikit cerita seram yang beredar di kampungku, katanya depan rumahku itu berhantu, maling itu bercerita ketika dia berada di depan rumahku tiba-tiba saja kedua kakinya sakit, sehingga ia tidak dapat berlari.
Warga kampung akhirnya banyak yang menghindari lewat depan rumah ketika malam menjelang. Aku tertawa, apa kata mereka kalau mereka tahu bahwa akulah pelakunya.
Kampung ku kembali aman, semua orang bahagia. Begitu juga keluargaku.
🌿TAMAT🌿
Cerita ini hanyalah karangan penulis semata, bukanlah kisah nyata, semoga dapat menghibur pembaca semua. selamat membaca.