"Gue capek ya harus nurutin semua yang lo mau, please stop it!" Seorang wanita mengomel sendiri saat keluar dari sebuah toko.
Namun, tak berselang lama seorang pria tinggi mengejarnya sambil berteriak, "Tunggu!"
"Stop! Jangan ikuti aku!" Wanita berbaju biru dongker itu merentangkan satu tangannya tanpa menoleh ke arah pria itu.
"Maafkan aku, Sayang." Pria berambut ikal itu terus mengejar dan berusaha meraih tangan sang wanita sambil meminta maaf.
"Lepaskan aku, Dri!" pekik wanita itu sambil menarik tangannya kasar.
"Aku minta maaf, Vivi Sayang," bujuk pria bernama Andri itu.
"Untuk apa? Semua yang kamu lakuin ke aku itu nyakitin aku, tapi kamu tetap merasa jadi korban dan aku yang salah, aku lelah dengan semuanya, Andri Irawan." Vivi berucap dengan emosi yang meluap-luap.
"Sebenarnya kamu ini kenapa, Vi? Aku bahkan tak merasa melakukan apapun pada kamu," ucap lelaki bertubuh tinggi itu.
"Oh gitu? Heh ... memang benar-benar sempurna, di sini aku kembali yang salah, kan?"
Andri mengembuskan nafasnya, lalu dengan lembut menarik tangan kekasihnya menuju kursi taman yang ada di sana. Pria itu memang pernah melakukan kesalahan fatal pada sang kekasih, lebih tepatnya calon istrinya.
Dua bulan lalu, Andri pergi ke acara reuni teman SMA-nya. Pria itu memberi tahu Vivi bahwa dirinya akan pergi reuni bersama teman-teman SMA-nya di sebuah resto yang terdapat tempat karaoke. Vivi sempat menolak, karena wanita itu sering mendengar kejadian tak menyenangkan jika pergi reuni. Namun, Andri tetap membujuk Vivi untuk mengizinkannya, sampai akhirnya Vivi pun mengalah.
Awalnya biasa saja, tetapi lama-kelamaan Andri jadi sering beralasan untuk pergi bersama teman-temannya itu, bahkan saat mereka pergi berdua pun, tiba-tiba Andri menerima telepon dan langsung mengajak pulang Vivi, lalu pergi bersama semua temannya itu.
Bahkan Vivi selalu menamakan 'Kencan Kejar Setoran' mengapa? Karena setiap kali Vivi pergi makan siang bersama Andri, tiba-tiba pria itu mengajak pulang, selalu seperti itu, bahkan mengemudikan mobil pun benar-benar seperti dikejar setoran, ngebut banget.
Sampai suatu hari, tiba-tiba Vivi menemukan foto Andri bersama wanita lain di ponselnya. Vivi tentu saja marah, bahkan Vivi ingin mengakhiri hubungannya bersama Andri, tetapi pria itu bersikeras bahwa semua itu kerjaan teman-temannya. Vivi benar-benar merasa bahwa reuni kekasihnya ternyata membawa dampak buruk bagi sang kekasih. Pria yang dulu setia, selalu terbuka kini berubah menjadi seseorang yang tak jujur dan selalu banyak alasan.
Sampai akhirnya, hari ini saat keduanya sedang pergi ke toko buku, tiba-tiba Andri melakukan hal yang sama dengan mengajak Vivi pulang karena harus pergi bersama teman-temannya. Kali ini emosi Vivi meledak, wanita cantik itu memarahi kekasihnya dan ingin mengakhiri hubungannya dengan Andri.
"Aku tahu saat ini yang ada dalam pikiran kamu, hati kamu itu cuma teman-teman toxic kamu, atau mungkin juga ada mantan kamu diantara mereka. Jadi mulai saat ini hubungan kita putus." Vivi mengucapkan kalimatnya dengan mantap, lalu beranjak pergi.
"Tunggu, Sayang. Please maafin aku, ini tadi rumah teman aku kebakaran katanya, rumahnya Cici," ucap Andri sambil menahan tubuh wanitanya agar tak pergi.
"Heh, aku nggak peduli mau rumah Cici, Caca, Cece sekalipun gue nggak peduli." Vivi mengeratkan rahangnya karena kesal.
"Silakan pergi ke rumah Cici mu itu, gue bisa balik sendiri, lepas!" Vivi menepis tangan Andri kasar lalu pergi dari sana.
Saat ini Vivi berada dalam taxi online, wanita itu masih terdengar menggerutu sendirian. "Mas, jangan dengerin saya ngomong ya, saya lagi latihan teater," ucap Vivi pada sang supir yang terlihat masih muda dan ganteng.
"Siap, Mbak."
Vivi pun mulai mengeluarkan unek-unek dalam hatinya. "Giliran keluarga gue aja ada yang sakit atau kena musibah, mana ada dia peduli, malah cuma bilang minta maaf nggak bisa datang. Dih so sibuk banget. Kesel gue sumpah."
Vivi mengepalkan kedua tangannya.
"Tapi giliran si Cici, si Ahmad, si Jaka, si Didin, si Kiki pasti sibuk banget sampai lupa kalau gue masih ada di hadapan dia, sepenting itukah mereka, sampai lupa kalau ada yang lebih wajib dari sekedar teman?" Vivi mulai mengusap pipinya yang mulai basah.
Setelah hatinya sedikit tenang, Vivi pun menarik nafasnya dalam dan mengembuskannya pelan. Lalu kembali menatap sang supir yang saat ini masih fokus pada jalanan di depan, walaupun sebenarnya sang supir juga mendengar dengan jelas keluh kesahnya.
"Mas, kalau ngadain reuni yang bener ya kalau udah punya pacar, ajak pacarnya, kalau udah punya anak istri, ajak mereka juga, biar nggak jadi reuni toxic," ucap Vivi dengan serius.
"Siap, Mbak. Maaf nih pengalaman pribadi kayanya?" tanya sang supir hati-hati.
"Ng-nggak sih, ini kan aku bilang lagi latihan teater, nah ini tentang reuni toxic gitu, Mas," jawab Vivi terbata.
"Iya sih, Mbak. Temen-temen saya malah banyak yang ancur rumah tangganya gara-gara reuni," ucap sang supir.
"Tuh kan, bener. Udah Mas jangan ngadain reuni pokoknya ya." Vivi makin meyakinkan hingga membuat sang supir terkekeh.
Namun, tak berselang lama mobil berhenti tepat di sebuah rumah dengan gerbang warna putih.
"Eh, kok berhenti, Mas. Jangan macam-macam ya!" Vivi mulai beringsut dan hendak membuka pintu mobilnya.
"Lo di aplikasi di sini, kan?" Sang supir memperlihatkan ponselnya pada Vivi.
Saat Vivi menoleh ke arah luar, ternyata dia memang sudah sampai di rumahnya.
"Eh, iya ini rumah saya, maaf, Mas. Saya kasih bintang 7 deh buat, Masnya." Vivi tersenyum pada sang supir untuk menutupi malunya.
"Waduh puyeng dong kalau bintang 7, 5 aja deh, Mbak, udah cukup banget."
***
Andri makin menjadi dengan semua teman toxicnya, apalagi saat ini tak ada yang menghubunginya, biasanya Vivi selalu memberi pesan atau sesekali meneleponnya. Namun, lama-kelamaan perasaan hampa mulai dirasakan Andri, karena saat ini tidak ada lagi yang peduli pada dirinya, tidak ada yang mengingatkan dirinya untuk sekedar mengucapkan jangan lupa makan, jangan lupa istirahat, jangan lupa mandi. Hidup Andri berubah drastis, tak beraturan bahkan orangtuanya juga sudah kewalahan untuk mengingatkan putranya.
Hingga suatu hari, tiba-tiba salah satu temannya bertengkar dengan teman lainnya, dan Andri pun melerai keduanya. Namun, fakta baru mulai terbuka, ternyata Ahmad hanya ingin memisahkan Andri dari Vivi, karena pria itu merasa iri dengan kebahagiaan Andri. Karena memiliki kekasih yang sangat perhatian dan mencintainya dengan tulus. Sementara dirinya dengan sang kekasih selalu sibuk dengan kerjaan masing-masing. Maka setiap kali Andri pergi jalan dengan Vivi, Ahmad selalu berusaha mengganggunya dengan mengajaknya ke tempat lain.
Andri marah, kesal dan malu dengan apa yang sudah ia lakukan pada Vivi selama ini hanya gara-gara reuni yang berkedok kekompakan sahabat, ternyata malah membuat hubungannya dengan sang calon berakhir sia-sia.
Pria itu pun pergi tanpa pamit, dan ia bertekad untuk mendapatkan Vivi kembali. Namun, untuk menghubungi wanita pujaannya saat ini, Andri masih merasa malu, sehingga ia mendekati orang tua Vivi agar kembali mendapatkan putrinya.
"Makanya jangan melupakan apa yang sudah menjadi milikmu, hanya karena merasa ada yang lebih dari milikmu. Padahal semuanya semu. Yang pasti-pasti aja deh, kalau hidup." Perkataan itu terlontar dari mulut papa Vivi.
Andri pun berusaha mendapatkan Vivi kembali dengan segala cara, walaupun saat ini wanita cantik itu masih tak acuh pada dirinya.
"Benar-benar reuni toxic, nyesel gue pergi reuni."
Tamat
Pilihlah yang tulus bukan yang modus, biar nggak rakus, nanti kurus eh.. happy reading