Aku berdiam diri di kamar setelah menerima pesan singkatnya yang mengatakan bahwa hubungan kami tidak bisa lagi dilanjutkan. Sempat aku memintanya untuk tetap tinggal dan melanjutkan hubungan kami. Namun, dia tidak membalas pesanku lagi, aku menghubunginya lewat telepon tapi dia tetap mengabaikanku.
Keesokan hari, aku bertekad ke rumahnya untuk mempertahankan hubungan kami, tapi yang kudapat adalah jawaban penolakan dari bundanya. Aku berjalan melewati pagar rumahnya dengan keadaan mata yang sudah memerah karena menahan air yang sedari tadi memaksa untuk keluar. Saat aku menutup pagar, ada sepasang perempuan dan laki-laki yang sedang berdiri di sampingku.
"Arnold!" seruku sedikit senang dengan keberadaannya.
Aku kembali bersedih saat Arnold tidak menanggapiku, malah samakin merapatkan pinggang perempuan itu ke sampingnya.
Tanpa sepatah kata, Arnold membawa perempuan itu masuk ke rumahnya dan menutup rapat pagar itu. Perginya bagaikan badai yang mengerikan bagiku, kukira sosoknya adalah sumber kebahagiaan dan tempatku berpulang. Namun, sekarang aku kehilangan sumber kebahagiaan dan tempatku berpulang. Hatiku sakit, remuk dan patah.
Sekarang aku tau, sekuat apapun aku memintanya untuk tetap berada di sini bersamaku, dia memilih untuk pergi dengan perempuan yang lain.
_______
Aku pulang ke rumah, di rumah keadaan juga semakin parah.
Suara ayah yang berteriak sudah terdengar dari pintu. Kepalaku rasanya dihantam dengan batu yang sangat besar. Ayah memarahi ibu karena menu makan siang hari ini hanya tempe goreng lagi, setiap hari memang seperti itu menunya. Ayah banyak mau, tapi dia hanya berdiam diri di rumah tanpa menghasilkan uang sepeser pun. Hanya menjadi beban ibu saja, padahal harusnya dia yang bertanggungjawab atas menafkahi ibu dan aku.
"Ayah bisa diam tidak!" teriakku yang sudah muak. "Kalau Ayah engga mau makan, yasudah Ayah kerja cari uang. Jangan mau asal enaknya aja dong, dikira Ibu engga capek apa!"
Ibu menghampiriku, "Jangan berbicara lagi, Nak", ucapnya yang ketakutan.
Aku mengabaikan ibu, hatiku sudah hancur sekarang. "Ayah muak kan? Aku lebih muak dengan kelakuan Ayah!"
Mungkin emosi Ayah sudah memuncak, dia menamparku dengan keras. Menyebabkan pipi sebelah kananku memerah.
Aku mengelusnya, merasakan sakit. Tapi tetap, yang paling sakit sekarang masih hatiku
"Tampar aku, Yah! Cuma itu yang Ayah bisa lakukan sama kami!" teriakku di depan wajahnya.
Belum sempat Ayah melayangkan tamparannya lagi, Ibu sudah lebih dulu berdiri di tengah-tengah kami berdua.
"Jangan sakiti anakku lagi! ucap Ibu, Kamu sekarang masuk kamar ya, Nak. Bersih-bersih dulu, nanti kamu keluar makan siang," perintah Ibu dan aku menurutinya kali ini karena Ibu tadi sudah melawan Ayah sedikit.
Aku masuk ke kamar, merebahkan badan ke atas kasur. Menangis tanpa suara adalah kebiasaanku selama ini, aku melihat pergelangan tangan kiriku yang sudah banyak bekas garis.
Aku mengusap pergelangan tanganku, lalu mengambil benda tajam yang ada di laci. Aku menggaris pergelangan tanganku lagi, tadinya hanya dua. Tapi hatiku sangat sakit hari ini, jadi aku menambahkan garis lagi.
Darah sudah mengalir sampai ke bajuku, kenapa rasanya hatiku sesakit ini?
________
Teleponku berbunyi, tertera nama bundanya Arnold di sana. Aku mengangkatnya.
Bunda Arnold mengucapkan salam dari seberang sana, maka aku membalas salamnya.
Bunda Arnold mengabarkan kalau Arnold kecelakaan saat mengantar Kara, perempuan yang tadi ke rumahnya. Rupanya, Kara adalah anak dari teman bundanya Arnold.
Maka saat ini juga duniaku hancur, aku tidak menyumpahi apa-apa untuk Arnold, kenapa malah aku mendapat kabar seperti ini.
Aku segera memakai jaket dan mengambil kunci motor, berlari sekencang mungkin untuk sampai ke motorku. Mengabaikan panggilan Ibu yang tadi sempat aku dengar.
Aku mengendarai motor dengan cepat menuju rumah sakit, tak peduli bunyi klakson pengendara lain yang kesal terhadapku. Tidak lama aku sampai di rumah sakit, karena cukup dekat dengan lokasi rumahku. Aku berlari di koridor rumah sakit, mencari ruang rawat Arnold.
________
Akhirnya aku melihat bunda Arnold yang menangis di kursi sendirian, aku menghampirinya.
Bunda Arnold melihatku dan sedikit tersenyum. "Berlin, kamu kenapa sayang?" tanya Bunda Arnold.
Aku melihat keadaanku yang berantakan dan cepat-cepat menyembunyikan tangan kiriku di saku jaket. "Aku engga kenapa-kenapa kok, Bun."
"Apa benar yang sering dikatakan Arnold kalau kamu sering melukai pergelangan tanganmu?" tanya Bunda.
Aku kesusahan untuk menjawabnya, aku tetap diam lalu menunduk dan menggigit bibirku.
Bunda mengeluarkan tangan kiriku dari jaketku. "Kenapa kamu lakukan ini, Ber? Apa semua karena Arnold?"
Aku menggeleng, "Engga, Bun. Bukan karena Arnold."
"Terus karena apa sayang?"
"Aku juga enggak tahu, Bunda."
Untung saja dokter keluar dari ruang rawat Arnold. Bunda dan aku sama-sama berdiri dan menghampiri dokter.
"Bagaimana keadaan anak saya, dokter?" tanya Bunda.
"Kondisi pasien sangat parah, pasien banyak kehilangan darah dan juga membuat tulang betisnya bergeser. Ada gumpalan darah di otaknya." Jawab sang dokter.
Penjelasan dokter membuatku luruh ke lantai, menangis dengan kencang sambil meninju-ninju dadaku agar sesaknya tidak terasa.
Aku mendengar suster yang baru keluar mengatakan kondisi Arnold gawat. Setelahnya dokter dan suster masuk lagi ke dalam, lalu bunda memelukku erat.
Jangan hukum Arnold seperti ini, Tuhan. Kumohon, batinku berdoa memohon ke Tuhan.
Aku melepaskan pelukan bunda dan mengintip ke dalam. Aku mengutuk diriku karena melihat monitor menunjukkan kami kehilangan Arnold saat ini juga,
Aku pingsan, tak sadarkan diri.
___________
Hari-hari berikutnya tanpa Arnold terasa sepi dan hambar, tak ada lagi yang menemaniku kemana-mana padahal aku takut sendirian, tak ada lagi yang rela membelikanku makanan tengah malam mengingat aku yang sering kelaparan, tak ada lagi yang menemaniku begadang mengerjakan tugas dan tak ada lagi Arnold yang melontarkan kata-kata menenangkan hatiku.
Aku ingat kata-katanya saat pertama kali dia melihat darah di pergelangan tanganku.
Rumah kamu mungkin hancur, tapi jangan sampai kamu ikutan menjadi manusia yang hancur.
Kata-kata yang sering dia ucapkan saat aku melakukannya lagi.
𝘒𝘢𝘮𝘶 𝘣𝘰𝘭𝘦𝘩 𝘮𝘦𝘳𝘢𝘴𝘢 𝘩𝘢𝘯𝘤𝘶𝘳, 𝘵𝘢𝘱𝘪 𝘤𝘶𝘮𝘢 𝘩𝘢𝘳𝘪 𝘪𝘯𝘪. 𝘉𝘦𝘴𝘰𝘬 𝘩𝘢𝘳𝘶𝘴 𝘣𝘢𝘯𝘨𝘶𝘯 𝘱𝘰𝘯𝘥𝘢𝘴𝘪 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘭𝘦𝘣𝘪𝘩 𝘬𝘶𝘢𝘵 𝘭𝘢𝘨𝘪.
Kemarin juga aku menerima surat dari Arnold, bundanya menemukan surat itu di dalam laptop Arnold. Aku membuka surat itu, membacanya sambil berlinangan air mata.
𝐃𝐞𝐚𝐫 𝐁𝐞𝐫𝐥𝐢𝐧, 𝐬𝐚𝐲𝐚𝐧𝐠
𝐊𝐚𝐦𝐮 𝐚𝐤𝐚𝐧 𝐛𝐚𝐜𝐚 𝐬𝐮𝐫𝐚𝐭 𝐢𝐧𝐢 𝐬𝐞𝐭𝐞𝐥𝐚𝐡 𝐚𝐤𝐮 𝐩𝐞𝐫𝐠𝐢 𝐲𝐚. 𝐌𝐚𝐚𝐟 𝐬𝐚𝐚𝐭 𝐭𝐞𝐫𝐚𝐤𝐡𝐢𝐫 𝐚𝐤𝐮 𝐦𝐞𝐦𝐛𝐮𝐚𝐭𝐦𝐮 𝐬𝐚𝐤𝐢𝐭, 𝐦𝐮𝐧𝐠𝐤𝐢𝐧 𝐤𝐚𝐭𝐚 𝐦𝐚𝐚𝐟 𝐞𝐧𝐠𝐠𝐚 𝐚𝐤𝐚𝐧 𝐜𝐮𝐤𝐮𝐩. 𝐓𝐚𝐩𝐢 𝐤𝐚𝐦𝐮 𝐭𝐢𝐝𝐚𝐤 𝐛𝐨𝐥𝐞𝐡 𝐦𝐞𝐧𝐚𝐧𝐠𝐢𝐬 𝐥𝐚𝐠𝐢, 𝐣𝐚𝐧𝐠𝐚𝐧 𝐦𝐞𝐦𝐛𝐮𝐚𝐭 𝐠𝐚𝐫𝐢𝐬-𝐠𝐚𝐫𝐢𝐬 𝐬𝐢𝐚𝐥𝐚𝐧 𝐢𝐭𝐮.
𝐁𝐞𝐫𝐥𝐢𝐧, 𝐭𝐨𝐥𝐨𝐧𝐠 𝐣𝐚𝐠𝐚 𝐤𝐞𝐬𝐞𝐡𝐚𝐭𝐚𝐧 𝐤𝐚𝐦𝐮, 𝐣𝐚𝐧𝐠𝐚𝐧 𝐬𝐚𝐤𝐢𝐭-𝐬𝐚𝐤𝐢𝐭 𝐭𝐞𝐫𝐮𝐬, 𝐦𝐚𝐤𝐚𝐧 𝐝𝐚𝐧 𝐦𝐢𝐧𝐮𝐦 𝐲𝐚𝐧𝐠 𝐛𝐚𝐧𝐲𝐚𝐤, 𝐢𝐬𝐭𝐢𝐫𝐚𝐡𝐚𝐭 𝐲𝐚𝐧𝐠 𝐜𝐮𝐤𝐮𝐩, 𝐣𝐚𝐧𝐠𝐚𝐧 𝐛𝐞𝐠𝐚𝐝𝐚𝐧𝐠 𝐭𝐞𝐫𝐮𝐬, 𝐚𝐤𝐮 𝐞𝐧𝐠𝐠𝐚 𝐧𝐞𝐦𝐞𝐧𝐢𝐧 𝐤𝐚𝐦𝐮 𝐥𝐚𝐠𝐢. 𝐒𝐞𝐦𝐚𝐧𝐠𝐚𝐭 𝐤𝐮𝐥𝐢𝐚𝐡𝐧𝐲𝐚 𝐲𝐚, 𝐣𝐚𝐧𝐠𝐚𝐧 𝐬𝐮𝐤𝐚 𝐛𝐨𝐥𝐨𝐬. 𝐊𝐚𝐥𝐚𝐮 𝐤𝐚𝐦𝐮 𝐤𝐚𝐧𝐠𝐞𝐧 𝐬𝐚𝐦𝐚 𝐚𝐤𝐮, 𝐝𝐨𝐚𝐢𝐧 𝐚𝐣𝐚. 𝐀𝐤𝐮 𝐛𝐚𝐤𝐚𝐥𝐚𝐧 𝐣𝐚𝐠𝐚 𝐤𝐚𝐦𝐮 𝐝𝐢𝐬𝐢𝐧𝐢. 𝐉𝐚𝐧𝐠𝐚𝐧 𝐥𝐮𝐩𝐚 𝐦𝐞𝐧𝐚𝐛𝐮𝐧𝐠 𝐣𝐮𝐠𝐚, 𝐚𝐤𝐮 𝐮𝐝𝐚𝐡 𝐛𝐢𝐥𝐚𝐧𝐠 𝐤𝐞 𝐁𝐮𝐧𝐝𝐚 𝐮𝐧𝐭𝐮𝐤 𝐧𝐠𝐚𝐬𝐢𝐡 𝐤𝐚𝐦𝐮 𝐬𝐞𝐬𝐮𝐚𝐭𝐮. 𝐍𝐚𝐧𝐭𝐢 𝐤𝐚𝐦𝐮 𝐤𝐞 𝐫𝐮𝐦𝐚𝐡 𝐝𝐚𝐧 𝐤𝐞 𝐤𝐚𝐦𝐚𝐫 𝐚𝐤𝐮 𝐲𝐚.
𝐒𝐮𝐝𝐚𝐡 𝐜𝐮𝐤𝐮𝐩 𝐢𝐬𝐢 𝐬𝐮𝐫𝐚𝐭𝐧𝐲𝐚, 𝐚𝐤𝐮 𝐞𝐧𝐠𝐠𝐚 𝐩𝐚𝐧𝐝𝐚𝐢 𝐦𝐞𝐫𝐚𝐧𝐠𝐤𝐚𝐢 𝐤𝐚𝐭𝐚 𝐬𝐞𝐩𝐞𝐫𝐭𝐢 𝐤𝐚𝐦𝐮.
𝐎𝐫𝐚𝐧𝐠 𝐲𝐚𝐧𝐠 𝐬𝐞𝐥𝐚𝐥𝐮 𝐦𝐞𝐧𝐲𝐚𝐲𝐚𝐧𝐠𝐢𝐦𝐮, 𝐀𝐫𝐧𝐨𝐥𝐝.