Terlalu sejuk air kamar mandi. Ku teteskan pada hidungku, yang bergetar seluruh tubuhku. Apalagi memandang wajahku di kaca kamar mandi terlalu banyak tulang. Aku kurus kerempeng. Semua orang tahu kalau aku suka makan. Mengapa aku tak bisa gemuk seperti orang-orang? apa aku cacingan? Sepertinya aku Medical Check up sudah ke lima kali dan hasilnya tidak ada gangguan apapun. Cuma alergi makanan laut saja. Aku tak menyadari, hari ini aku bangun terlalu pagi. Sekolahku mulai jam 9 pagi. Aku bangun jam 5 pagi. Kesal sekali, barusan mimpi bangun kesiangan, ternyata kepagian. Ah, sudah lupakan. Aku berjalan ke dapur usai mandi. Ku buka kulkas, stok oatmealku habis. Aku prediksi, ini ulah Himawari, adikku yang sok imut nan manja. Tak apalah, aku sarapan nasi ayam saja. Kupanasi microwave, kumasukkan nasinya. Tinggal menunggu 20 detik.Wah, jadi juga. Enak juga rasanya.Jarang aku makan nasi ayam seperti ini. Biasanya paling suka sarapan oatmeal dengan jamur panggang. Kenyang juga makan nasi ayam. Aku tak perlu mencuci piring. Aku makan langsung dari kemasan. Dasarnya, aku anak yang malas gerak. Kecuali dalam hal menggambar.Yah, itu rutinitasku dikala kurang kerjaan.
Aku sudah mempersiapkan seragamku. Aku berencana berangkat sekolah pukul 8. Jarak dari rumah ke sekolahku terlalu dekat. Kalau digambarkan, seperti anak SD menendang bola hingga ke gawang, dekat banget. Mentang-mentang terlalu dekat, aku sering molor. Rumahku sering dibuat untuk membolos oleh para senior disekolahku. Ibuku adalah penjual takoyaki, jadi menurutku, rumahku cocok dijadikan tempat membolos. Jika ada sidak oleh pihak sekolah, mereka yang membolos akan naik ke lantai atas. Mereka merasa bahwa balkon atas aman untuk membolos. Meskipun ibuku mengijinkan mereka untuk bersembunyi, ibuku melarangku untuk membolos. "Pendidikan adalah yang paling penting, nak." Setiap aku tidur, ibuku selalu membisikkan itu ditelingaku. Ibuku ingin agar aku menjadi perempuan yang mandiri. Ibu pernah bilang, jangan malu untuk berbisnis. Makanya, aku sering membantu ibu menjual takoyaki. Aku nakal sedikit dalam menjual. Ibuku menjual 5 yen, saat aku yang menjaga, aku menjualnya 8 yen. Kadang ayahku tertawa melihat ulahku. Dan ini adalah rahasiaku dan ayahku.
Aku asik menonton film action di laptop. Film sudah mau happy ending, si Taigaa malah menelfonku. Taiga adalah temanku sebangku. Dia terkenal sebagai ratu gosip di kelasnya.
"Sawagashii hibi ni waraenai kimi ni
Omoitsuku kagiri mabushii asu wo
Akenai yoru ni ochite yuku mae ni
Boku no te wo tsukande hora......" Itu adalah ringtone panggilan di ponselku.
"Halo Taigaaaa, .......ngapain kamu."
"Halooo, Yumeko. Aku ada berita lohhh, kamu mau denger gaaakk???"
"Nyehhh, Kirain tugas."
"Ahahahhhaa, kau ini, dasar Yume-Nyehh, jadi gini. Nanti ada murid baru di kelas kita. Dia keponakan dari Ibu Yoshiida."
"Apa katamu??? Ibu Yoshiida, guru memasak yang banyak omong itu? ahh, pasti keponakannya banyak omong juga."
"Aku tidak tau soal itu. Yang jelas dia juara matematika se Kyoto. Dia juga pemain basket."
"Oh,gitu ya nyeh..."
"Ihh, kamu gak asik kalau diajak menggosip "
"Bukan gak asik. Aku cuma gak peduli."
"Kamu nihh, terlalu benci sama bu Yoshiida. Ya sudah, kamu siap-siap aja berangkat sekolah. Kita berangkat sama-sama."
"Okeee.Siap nyeh..."
"Nyeh...nyeh...nyeh....nyeeeehhh."
Dia selalu meledekku. Durasi 25 menit aku telpon yang tak penting dengannya. Apa mungkin aku kena virus gosip darinya. Tak mungkin-tak mungkin. Yumeko Misaki tetap cuek dan dingin. Itu prinsipku agar tak ada yang macam-macam denganku. Aku lanjut ke happy ending film tadi. Ah, aku baper melihatnya. Kok bisa action berujung romance. Aku sudah puas menonton film. Aku harus berangkat sekolah.
#Di sekolah
Benar-benar masih sepi. Kita terlalu pagi untuk berangkat. Kita bingung mau ngapain. Kita berjalan-jalan mengelilingi sekolah, dan foto selfie di bawah pohon cery. Banyak hal random yang kulakukan bersamanya. Mulai dari pakai masker saat jam kosong, sampai memanggil orang yang tidak kita kenal. Semakin memalukan, maka semakin seru buat kita. Aku jadi ingat, saat dia menggoda anak kecil di supermarket, kita langsung diteriaki oleh bapaknya. Kita dikatain kurangajar. Hahaha, menurutku lucu saja.
Kita memutuskan untuk singgah di perpustakaan. Aku senang saat perpustakaan sepi. Aku bisa baca buku sepuasnya. Niatku membaca buku, tapi si Taiga mengajakku bergosip soal masalah guru olahraga. Namanya pak Tsuken, seminggu yang lalu dia habis ditangkap polisi. Katanya dia melakukan tindakan korupsi. Pantas saja kita disuruh membayar uang gedung dua kali, bangkainya ketemu juga. Guru yang paling menyebalkan. Dia pernah mendorongku saat roll depan. Akibatnya, leherku menjadi nyeri. Sangat nyeri. Aku senang, mendapati kabar kalau dia dipenjara. Salah sendiri memang.
Terdengar suara orang membuka pintu. Kita langsung fokus ke arah pintu. Kulihat anak laki-laki berpakaian rapi, berbadan tinggi, berkacamata. Aku yang melihat merasa bahwa anak itu culun. Dia sangat sopan, saat memberi salam pada petugas perpustakaan. Suaranya begitu halus. Tatapannya seperti anak jenius. Sayang, jalannya begitu oleng. Aku bertambah muak melihatnya.
"Yume, coba lihat, aneh banget dia." Bisik Taigaa di telingaku.
"Eh, iya. Dia siapa ya, aku gak pernah lihat sebelumnya."
"Iya-ya, aku juga. Mungkin itu junior yang terlalu rajin. Makanya dia kepagian, kalau kita kan tumben-tumbenan."
"Ho-oh, mungkin dia junior kutubuku. Tinggi, kayak menara Tokyo." Kataku sambil tertawa kecil.
"Hahahahh, ishh,kamu ini. Udah lah, gak usah body shimering."
"Body shaming bodohh." Aku ngegas kali ini.
"Dahlah.."
"Nyeh...."
"Ding-Dong-Ding-Dong. Saatnya jam pertama dimulai, seluruh siswa diharapkan berbaris rapi di depan kelas untuk memulai pelajaran."
Saat dibuat bergosip, waktu terasa lebih cepat. Aneh dengan keadaan. Saat pelajaran matematika, 10 menit terasa 10 jam. Aku sudah di depan kelas. Aku sudah berbaris sesuai ketinggian. Kento, kapten kelasku memimpin baris dengan suara lantangnya. Kita semua masuk kelas. Kita tinggal menunggu guru seni budaya. Bu Hakito, guru kita berpesan bahwa dia agak datang terlambat. Kelas kami rusuh, sudah 30 menit guru tidak datang. Tomoo, si tukang bar-bar memutar musik DJ. Sontak, satu kelas berjoget heboh dibuatnya. Yasasi, si tukang selfie, melakukan life instagram. Gila untuk hari ini, aku hanya bisa membuat story saja. Tsurabe sebagai pengawas dan penjaga pintu tiba-tiba berisyarat kalau guru sudah datang. Langsung kita membereskan dan mematikan DJ nya. Satu kelas cosplay diam semua. Bu Hakito sudah datang dan membawa anak yang tadi di perpustakaan.
"Taigaa, coba lihat itu kan anak yang tadi."
"Eh,iya. Mungkin ini yang ku maksud."
"Ooohhh, aku paham. Kayaknya dia tak seperti bu Yoshiida, dia sedikit kaku."
"Mmhhhh, iya-ya. Kelihatan banget kalau dia juara matematika."
Beliau langsung menyuruhnya perkenalan. Dia agak gugup. Anehnya menjadi-jadi, selalu memainkan tangan dan membetulkan kacamata. Dia berbicara sambil tersenyum, lesung pipinya terlihat dalam. Dia mulai berkharisma. Tapi tetap saja aneh. Hahaaa.
"Moshi-moshii mina, perkenalkan nama saya Uzumaki Takeda. Panggil saja aku Takeda atau Take. Terserah kalian itu, saya pindahan dari Kyotoo. Saya harap, kalian mau berteman dengan saya. Arigatouu." Ucap dia agak gugup.
"Ohhh, terserah kalian, bagaimana kalau kita panggil Shitake saja." Ucap Kobayashi dari arah belakang. Dia adalah raja Bully di kelas.
"Setuju." Teriak satu kelas, kecuali aku. Aku merasa kasihan saja.
"Eh,Yumee kenapa kau diam saja, kau suka yaa padanya." Teriak Kobayashi padaku.
"Eh, berisik, apa-apaan kamu. Dasar bodoh, mana mungkin aku suka."
"Huuuuu." Ucap seluruh kelas.
Sial, hari ini aku dibully habis-habisan. Beliau, menyuruhnya duduk tepat di belakangku. Ah, kenapa harus dibelakangku? pusing jadinya. Pelajaran berlangsung dengan lancar. Aku senang, 5 menit lagi istirahat. Bu Mirai, guru killer biologi tak jadi masuk. Jam kosong adalah surga bagiku. Betapa bahagia diriku hari ini. Anak satu kelas menyebutnya "Si Muka Katak." Pelopornya adalah Maeda, raja bully kedua di kelas. Dia tak pernah santai saat menerangkan. Selalu membentak murid yang tidak bisa. Aku bersyukur, aku tak pernah dibentak olehnya.
Biasa, aku dan Taigaa menuju perpustakaan kembali. Baru saja duduk, si anak baru ke perpustakaan juga. Taigaa mengajakku pindah ke taman. Di taman kita bertemu geng "Lebah". Terdiri dari Suika, Izumi, Reiko, Dan Kuma. Kita memang akrab dari dulu dengan mereka. Mereka jago menari dan jago bergosip. Mereka terkenal karena cantik dan mudah bergaul. Diantara mereka aku paling dekat dengan Kuma. Kuma memiliki sikap yang hampir sama sepertiku. Sama-sama cuek dan bodoh amat. Tapi cantik dia, titik.
"Eh, denger-denger anak baru itu di kelas kalian yaa."
"Iya nihh, ngeselin banget. Dia dipanggil Shitake." Ucap Taigaa.
"Iyaa, parah ngeselin, dia duduk dibelakangku lagi."
"Asiiiik, sepertinya ada yang mau tunangan nihhh." Ucap Reiko sambil menyenggolku.
"Hsssshhh, kalian ini. Jangan begitu lahh."
"Iya-iya." Ucap Reiko.
Huhhh. Geng lebah membullyku. Nikmatnya bergosip, namun tidak nikmat dosanya. Dalam bergosip aku hanya iya-enggak-nyehh saja. Kuma pun juga begitu. Dia terlalu fokus dengan gamenya. Sampai dia teriak kencang karena sudah sampai level 121. Baru kali ini kita lihat dia teriak. Biasanya dia gak basa-basi. Heboh sudah lihat hal ajaib tadi. Mataku kembali jernih, setelah melihat taman yang baru direnovasi 6 bulan lalu. Aku senang dengan anggrek yang berwarna kuning keemasan. Banyak pohon-pohon sakura yang tumbuh. Membuat kita jadi semangat ber-selfie ria. Semenjak taman Glow-Up, aku jadi sering foto, dan membuat video disana. Jadi betah berlama-lama. Ditambah jaringan wi-fi yang super kuat dan anti lemot. Kecuali sekolah belum bayar. Inilah definisi kenyamanan yang hakiki. Saat hari sabtu, taman dibuat pacaran oleh anak-anak. Hari sabtu adalah hari Kewirausahaan bagi sekolah. Banyak bazar yang berdiri di hari sabtu itu. Setiap kelas wajib ada perwakilan untuk berjualan. Siapa lagi kalau bukan aku dengan takoyaki ibuku dan Kagawa dengan boba ice tea miliknya yang jadi perwakilan kelas. Aku bertambah bangga dengan ibuku. Karena daganganku selalu laku di sekolah. Aku punya penghasilan sendiri. Buat Kagawa, semangat, soalnya daganganmu selalu tersisa. Sedih deh, hahaahaahh.
"Ding-dong-ding-dong. Waktu istirahat sudah selesai, para siswa diharapkan kembali ke kelas masing-masing."
Yah, istirahat selesai. Tapi jamkos lebih menyenangkan daripada istirahat dan liburan semester. Aku mengakui semua itu. Kembali sang Dj memutar musiknya. Ketua kelas memperingatkannya agar tidak terlalu keras. Kepala sekolah seperti biasa akan keliling. Kita jogetnya pelan- pelan. Terkesan ngakak saja. Si Takeda sedang membaca komik doraemonnya. Aneh, dia tertawa sendiri dengan lirih. Aku yang didepannya menjadi risih. Jijik saja melihat style dan tingkahnya. Dengar-dengar dia ber IQ tinggi, 200 keatas, hampir menyamai Einstein. Keren juga menurutku. Pantas saja dia berbeda. Aku menonton streaming pemeran Harry Potter dengan Taiga dan Yuki. Dari dulu aku suka Harry Potter, karena dia manis. Aku juga mengikuti semua episode nya. Tak ada yang membosankan dari film ini. Pemainnya tampan dan cantik-cantik.
"Ohooookkkk." Si Takeda batuk dengan kencang tepat dibelakangku.
"Heee!!!! Kalau batuk itu ditutup, bukan malah dikerasin. Plisss, jangan menyebar virus." Aku membentaknya.
"Ss.....Sumimasen, aku tak sengaja. Maafkan aku." Sambil sedikit membungkuk.
"Iya, deh. Aku maafkan, jangan diulang lagi."
" Arigatoo- arigatooo."
"Asiiiik, ada yang mau berumah tangga nih...." Kata Kobayashii.
"DIAAAAM." Aku lebih marah lagi.
Satu kelas menyorakiku lagi. Aku capek dengan keadaan. Coba aku wali kelas, aku bisa mengusirnya, dan menggantinya dengan Genkii, anak basket yang paling terkenal dan tampan. Baru satu hari di kelas dia sudah membuat ulah. Wajar jika anak kelas membullynya. Ada saja hal yang dilakukan. Anak kelasku memang tak ada akhlak. Siapa saja pasti dihujat.
"Ding-dong-ding-dong. Seluruh pelajaran telah selesai sampai jumpa dengan semangat esok hari."
Akhirnya pulang juga. Berharap besok dia gak ngeselin lagi. Dia pintar yang seperti tolol. Aku tahu dia terpelajar dan berattitude baik. Kalau tidak tolol pasti dia perfect. Dia bakal jadi idola di sekolah.
"Ibuu, aku pulang."
"iya nak. Kamu ada tugas tidak hari ini."
"Tidak bu, pasti jaga toko kan."
"Iya nak, ibu akan kerumah bibi."
"Baik bu, serahkan semua ini padaku."
"Terimakasih nak."
Ini kesempatan emas bagiku. Aku bisa mengambil keuntungan lebih banyak. Aku lekas mengganti bajuku, dan membuat adonan takoyaki baru. Untung guritanya sudah dipotong ibu, aku tak perlu ribet lagi . Aku memanggan masing-masing cetakan besar 20 buah. Biar cepat saja. Aku mendapat pesanan Pak Mitsuba 60 bungkus. Anaknya berulangtahun hari ini. Senangnya bukan main. Lumayan untuk menambah tabunganku. Aku membungkus dengan cepat dan teliti. Aku ingin cepat selesai agar bisa menghitung dan memeluk uang. Ya, aku memang suka uang.
"Berapa, harganya anak muda."
"Satu porsi 8 yen. Jadi totalnya 480 yen pak."
"Aihhh, biasanya ibumu menjual 5 yen."
"Ehmmmmm.....karena pakai gurita berkualitas dari selat Bungo."
"Oh, jadi gitu. Baiklah, ini tip nya."
"Terimakasih banyak pak. Oh, iya selamat ulang tahun yaa buat anak bapak, semoga panjang umur."
"Wah, terimakasih nak, doa baik kembali untukmu."
"Sama-sama pak."
Huhhhhh, hampir saja ketahuan. Aku memilah uang besar, kecil, dan receh. Sisanya adalah keuntunganku. Aku memasukkan ke dalam celenganku yang berbentuk kotak. Uang ini ku kumpulkan untuk rekreasi akhir tahun. Kebetulan sekali liburan akhir tahun saat musim panas. Aku ingin ke pantai dan mengambil foto.
"Permisi...aku mau beli 2 porsi takoyaki."
Aku sepertinya kenal sama suaranya. Macam suara,....ehh tidak mungkin. Aku memberanikan diri ke toko. Rupanya benar, Shitake ingin membeli takoyaki.
"Ngapain kamu!!!"
"Emmmmm, aku kesini hanya ingin membeli takoyaki. Aku lapar."
"Entah kau lapar atau tidak, itu bukan urusanku. Ya sudah totalnya 20 yen."
"ini uangnya, terimakasih."
Aku tak membalasnya. Harganya kunaikkan, biar dia tak mampir disini lagi. Semakin kesal saja melihatnya. Tak apalah, lumayan. Dagangannya habis bersih, aku sudah menutup toko. Aku kembali ke kamar. Aku menonton drama di laptop. Masih episode 50. Masih ada 120 episode lagi yang harus ku tonton. Banyak adegan romance. Baperku semakin berapi-api. Memang drama ini agak lebay. Kalau aku nonton dengan Taigaa, jadi rusuh.
"Yumeeee.Yumeeee.....permisi."
Tak salah lagi itu Taigaa. Panjang umur buatmu. Barusan aku membatinnya. Datang juga ternyata.
"Masuk aja."
"Iya."
Tak tahu diri banget. Dia langsung melompat ke kasurku. Memang harga dirinya seperti keset. Semakin lama berteman, maka semakin tak tahu diri. Semakin kasar bahasanya. Semakin hilang rasa malunya. Toples disebelah kasurku dibukanya tanpa meminta ijin. Sudah liar jiwanya. Benar, semakin rusuh saja suasananya. Dia menciumi layar laptopku karena pemerannya begitu tampan. Aku pun menjambak rambutnya. Tau rasa kamu hari ini.
"Eh, aku mau cerita."
"Cerita aja."
"Jadi......si ngeselin itu datang buat beli takoyaki."
"Terus-teruss."
"Harganya ku naikin."
"Ihhhhh, jahat banget kamu. Jangan terlalu benci, nanti bisa jatuh cinta looo."
"Hhhhh, apaan sihhh....."
"Dia rumahnya deket rumahku. Rumah kita berhadapan."
"Wahhh, jodoh tuh jangan-jangan."
"Hidihhhh, gak mau."
"Makanya, jangan ngejek dulu."
"Iya-iya, maaf. Oh iya, aku pulang dulu yaaa, udah mulai malam nih..."
"Oke, hati-hati. Semoga bahagia dengan jodohmu."
"Hahahahh, BODOH."
Lihat saja pasti besok dia yang dibully. Aku akan menyebarkan ke semua orang. Masa aku terus yang jadi sasaran. Sesekali biar dia yang dibully. Jadi tahu, gimana rasanya di posisiku. Hahahaaahhh.
"Ibu pulang."
"Silahkan masuk bu."
"Wah, hebat sekali, anak ibu bisa berjualan sampai habis."
"Hehehehhh, terimakasih banyak bu."
"Iya nak, tapi mengapa kamu menjual 10 yen???"
"Hmmmm......maaf bu, aku hanya ingin menabung."
"Hhhh, kan kamu selalu ibu beri imbalan setiap kali menjaga toko."
" Iya deh bu, aku salah."
Huhhhhh, pasti si jamur lagi yang memberi tahu ibu. Akan kubalas semua perbuatanmu. Dia berulangkali membuatku kesal. Dia harus menerima akibatnya. Semenjak ada dia aku selalu sial. Hal aneh banyak menghampiriku. Aku segera tidur agar besok bisa bangun pagi. Ku matikanlah lampu kamarku.
#Di Sekolah
Oh, kacaunya pikiranku hari ini. Aku menjadi tidak bersemangat sekolah. Aku tak seperti biasanya. Aku dimarahai ibuku. Aku diomeli ibuku. Aku ditertawakan ayahku. Taiga sudah keterlaluan. Ini salahku, tidak berangkat pagi. Dia menceritakan semuanya, saat si jamur kerumahku dan membeli takoyaki. Berita ini sudah sampai ke kelas sebelah. Harga diriku mulai lenyap. Satu sekolah mempermalukanku. Aku dibully satu kelas gara-gara kemarin. Aku marah hari ini. Aku tak menyangka seperti ini sikap Taigaa padaku. Aku juga benci dengan si jamur yang diam saja tak mau klarifikasi. Aku ingin membakar mereka semua. Seperti neraka hari ini. Penuh dengan cekikik iblis. Aku memutuskan pulang kerumah. Aku sudah capek di sekolah. Aku tak peduli hari ini ada ulangan atau tidak. Aku keluar kelas membawa tasku sambil menangis. Ternyata dibully rasanya sesakit ini. Hanya orang kuat saja yang bisa menahannya. Aku merasa seperti lintingan daun, yang terbakar lambat laun hangus. Aku sampai di gerbang sekolah, beberapa anak kelas menghadangku.
"Yumee, mau kemana kamu. Setelah ini kuis." Ucap Tsurabe.
"Yumee, anak-anak hanya bercanda denganmu." Ucap Kento si ketua kelas.
"Aku tidak merasa ini bercanda. Bercanda tidak akan membuat orang bersedih. SETAN dengan kalian!!!! Teriakku kepada mereka.
Aku berhasil keluar dari sekolah yang mendadak berubah jadi neraka. Aku cepat-cepat lari kerumah. Aku kaget, tiba-tiba ada suara petir muncul keras sekali. Apa mereka satu kelas akan kena karma. Karena baru saja aku menyumpahi mereka. Aku pernah berkata pada diriku bahwa siapapun yang membuatku dan keluargaku sakit hati. Maka dia tak akan bahagia. Ah, cukup. Kalaupun mereka kena karma, tak ada ruginya di aku.
Mukaku basah dengan air mata. Aku sudah sampai rumah dan masuk ke kamar untuk menenangkan diri. Aku tidak bisa berhenti menangis. Aku kesal dengan mereka semua. Aku tidak tahu siapa yang membawa sial, yang jelas antara Taigaa, si Jamur, dan diriku sendiri. Kadang mulut Taigaa juga tidak bisa dipercaya. Ini akibatnya jika salah memilih teman. Ini membuatku menjadi anak yang pemilih.
"Nak, buka pintunya."
"Enggak bu!!!"
"Apa kau masih marah sama ibu?"
"Iya, aku marah pada siapapun."
"Ada apa, nak? ayo buka pintunya. Kau tadi belum.sarapan, apa ibu harus menyuapimu???"
Aku keluar kamar dengan mata bengkak. Ibuku kaget melihatku seperti ini. Ibu menenangkanku. Menyuruhku menceritakan semua masalahku. Bagaimana mau cerita satu-satu, sedangkan masalahku amat banyak. Aku menceritakan awal pertama si jamur menjadi anak baru dikelasku, hingga aku dipermalukan satu sekolah habis-habisan. Ibu mengambilkanku minum. Aku lega setelah minum. Ibu juga memiliki masalah. Ibu berkata bahwa selama ini ibunya Taigaa memiliki hutang cukup banyak pada ibuku. Kejadian itu sudah lama, sekitar 10 tahunan. Sampai sekarang, dia belum membayarnya. Taigaa bukan anak yang baik. Dia diam-diam suka memesan barang mahal yang belum dimiliki orang-orang. Aku mengerti sekarang mengapa dulu ibu tidal begitu memanjakanku. Ibu juga pernah mendengar Taigaa pernah membicarakanku saat kumpul dengan temannya. Aku kecewa dengannya. Selama ini, ibu tidak salah menasehatiku agar berhati-hati memilih teman.
"Bu, aku ingin bicara."
"Iya, nak. Bicara saja, jangan terus menangis."
"Besok aku tidak ingin masuk sekolah. Pokonya tidak ingin."
"Kenapa nak, kamu kan pintar, kenapa tak mau sekolah,biasanya kamu selalu semangat."
"Kejadian hari ini membuatku trauma. Aku hanya ingin tenang, bu."
"Baiklah nak, besok ibu akan membawamu ke psikolok dekat supermarket. Sekarang kamu tidur saja, badanmu sudah lemas."
"Baik bu."
Jam 8 pagi ibu membangunkanku. Ibu terkejut kembali dengan suhu tubuhku yang tinggi. Ibu bilang aku juga mengigau semalaman. Ibu panik melihatku seperti ini. Ibu membawaku ke rumah sakit umum. Tak hanya panas, aku juga tidak enak untuk makan, kepalaku pusing dan mual. Aku tak paham mengapa suhu tubuhku bisa tinggi. Dokter bilang aku terlalu stress. Masalahku terlalu banyak. Katanya aku harus rawat inap selama satu minggu.Saat stress, orang memang gampang sakit. Hal ini karena sistem imun menurun. Berat badanku menurun, bertambah kurus dari badan yang kurus. Hampir seperti tengkorang.
Payah, aku membuat diriku jatuh sakit. Tindakanku yang emosi terlalu berlebihan. Kemarahanku menyebabkan sakit kepala yang hebat. Kata ibu, sabar adalah setengah jalan kesembuhan. Satu minggu ini pikiranku harus tenang. Aku tidak suka bau rumah sakit. Ibu membawakanku pengharum ruangan cokelat kenari agar mirip aroma di kamarku. Aku bisa sedikit bernafas lebar, baunya benar-benar mirip dikamarku. Walau dipadu dengan aroma obat sedikit.
Ada sisi bahagianya juga. Jaringan internet supercepat dari yang dirumah. Ibu lebih perhatian padaku. Setiap hari, ibu selalu memasakanku sup yang telah ditaburi campuran obat. Aku tidak bisa minum obat langsung, harus melalui media. Ibu mengingatkanku agar tidak kepikiran kejadian kemarin. Orang dibully, belum tentu mentalnya kuat. Semua ada hikmahnya. Aku selalu menyalahkan si Jamur, menganggapnya pembawa sial. Aku sudah membentaknya berkali-kali, mentalnya tetap kuat dan selalu berbuat baik. Dia juga pernah mengerjakan PR matematikaku. Aku merasa bersalah. Aku dihantui kesalahanku. Aku merasa sebagai buronan. Aku ingin meminta maaf padanya, tapi tak tahu bagaimana caranya.
"Yumeko, ada yang ingin menemuimu." Salah satu perawat memanggilku.
"Iya, suruh dia masuk saja."
Kaget, tapi sudah kuduga. Aku terharu dan menangis. Anak yang selama ini kucaci datang dengan tulusnya menanyakan keadaanku. Hari ini, Uzumaki Takeda datang dengan penampilan yang berbeda. Dia tak lagi berkacamata. Dia yang terkenal selalu memakai kemeja dengan rapi, tepat didepanku memakai kaos hitam. Apa jangan-jangan aku mulai ada perasaan padanya. Tak mungin dia menyukaiku yang kasar. Dia anak yang terpelajar. Dia membawakanku beberapa makanan. Aku menjadi sungkan. Aku merasa tidak punya harga diri
lagi.
"Kau...." Aku terkejut. Tak sadar aku mengeluarkan air mata.
"Iya, aku hanya ingin meminta maaf padamu. Sebab aku membuatmu dipermalukan orang-orang. Aku juga akan menjagamu sampai sembuh. Tolong jangan khawatir hari ini."
"Aku mohon maaf, Takeda. Tolong maafkan aku. Apakah kamu mau memaafkanku???? Pukul aku .....pukul aku...." Aku meminta maaf padanya. Aku berjanji tak akan mengulangi perbuatanku.
"Sudah lupakan itu, aku menjagamu agar ibumu bisa mengurus toko. Aku tahu, ayahmu akan pulang 1 bulan sekali. Aku sudah bilang pada ibumu untuk menjagamu. Kamu tak salah."
"Terimakasih. Bagaimana dengan sekolah???"
"Tenang, semua beres. Kamu bisa mengikuti ujian susulan."
"Syukurlah."
Peristiwa apa ini? aku tak mengerti. Taigaa yang katanya sahabatku tidak menjengukku. Banyak penipu di dunia ini yang menyamar menjadi sahabat. Dia tampak berbeda. Aku melihat sisi Takeda yang lain. Dia menjagaku dengan baik. Aku melihat sifat ibu didalamya. Dia memasak bubur untukku. Aku mengajaknya menonton drama. Dia semakin dewasa saja. Dia tidak se tolol yang kupikirkan. Dia mengerti semua perasaanku.
"My babe my treasure I swear my forever
My babe my treasure I love you forever
My babe my treasure I really don’t wanna leave xiang he ni zai yiqi
Oh, gonna Forever be with you I’m here waiting for you........"
Oh,tidak. Dia mulai menyanyikan lagu. Aku tidak bermimpi. Suaranya merdu. Aku mengenalnya sebagai anak pendiam. Seluruh kamarku berubah suasana. Aku merasa seperi akan dilamar. Aku memandanginya dengan kagum. Aku saksi pertamanya melihat dia bernyanyi seindah ini. Lesung pipinya terlihat jelas. Bertambah manis saja. Jantungku berdebar-debar. Aku salah tingkah, meremas selimutku.
"Mengapa kau memandangku, apa suaraku jelek. Maafkan aku, aku hanya kurang kerjaan saja." Jawabnya dengan lugu.
"Emmhhh,tidak.....tidak kok, lanjutkan aja."
"Yakin???." Dia mengangkat alisnya sambil tersenyum. Fenomena apakah ini. Tolong, jangan membuatku terpesona. Aku sudah semakin salah tingkah saja. Ngeselin sih, tapi lucu juga.
"Ya...yaudah, lanjut saja, daripada tak ada kerjaan."
"Iya...iya. Mau kubuatkan teh madu."
"Mmmm....boleh boleh...."
Suaranya mengaduk sendok seperti ayahku, perhatiannya seperti ibuku, senyumnya seperti kakekku saat dibangku kuliah. Aku dibuat kagum olehnya. Rambut yang biasanya rapi, menjadi berantakan karena melepas helm. Jujur, itu lebih bagus daripada berambut klimis.
"Ini....pelan-pelan minumnya."
"Iya, terimakasih. Apa kau sudah makan? kalau belum, makan saja rotiku. Aku tidak terlalu suka."
"Oke, aku makan nanti."
Apa???dia menggunakan kata oke. Keren suaranya saat bilang oke. Ada bassnya sedikit. Tak se cempreng di kelas. Mungkin kala itu dia terlalu gugup.
Beberapa jam kemudian, ibuku datang. Ibu membawakanku jaket rajutku. Takeda memberi ojigi pada ibuku. Terlihat berwibawa, dengan suaranya yang bass dan rambutnya yang berjatuhan. Dia memanggil ibuku dengan sebutan bibi. Dia begitu sayang dengan ibuku. Ibuku mengatakan pada kami kalau besok anak-anak kelas akan datang menjengukku.
#Keesokan Harinya...
Tubuhku tidak terlalu sakit saat digerakkan. Kemarin rasanya sakit dibuat bangun. Kepalaku sudah tidak pusing lagi. Kakiku sudah tidak kaku lagi. Aku sehat bugar. Aku memegang dahiku tidak panas lagi. Kemarin dokter bilang harus seminggu perawatan. Ini baru 2 hari badanku sudah sehat. Infus masih menempel di badanku. Aku lepas semuanya. Aku mencoba untuk melompat-lompat tubuhku terasa ringan. Keajaiban datang begitu saja. Apa jangan-jangan dia yang membuatku sehat? atau karena aku minum obat?. Intinya aku sudah pulih. Aku mengaca di kamar mandi tak terlihat pucat sama sekali.
Seorang perawat masuk kamarku, mereka akan memastikan keadaanku. Mereka terkejut. Dua hari yang lalu tubuhku masih lemah, sakit saat duduk, suhu tubuhku tinggi. Mereka mengecekku dengan termometer dan stetoskop menunjukkan hasilnya normal alias sehat. Tak percaya dengan hasilnya, aku dibawa ke laboratorium untuk medical check up. Setelah beberapa jam menunggu hasil dan ternyata normal juga. Aku melihat banyak wajah keheranan diantara para perawat. Mereka kembali mengantarku di kamar.
"Permisi, teruntuk Yumeko ada yang ingin menemuimu."
"Baik perawat."
Beberapa dari perwakilan kelas datang. Kento, sebagai ketua kelas mewakili untuk meminta maaf padaku. Haru biru memenuhi suasana kamarku. Mereka memberitahukan hal yang tak kuduga. Taigaa, teman sebangkuku baru saja dikeluarkan dari sekolah. Katanya dia telah korupsi uang untuk jaket OSIS, tak hanya itu, dia juga banyak menipu wali murid terkait event Hokaido Street, semacam pameran tahunan. Aku memang kecewa dengannya, tapi dia pernah menolongku saat kepalaku terkena bola basket. Kento juga bilang kalau Shirou, teman sebelahnya Shitake juga baru pindah sekolah kemarin. Murid di kelas kami semakin berkurang jumlahnya. Begitu bermasalahnya kelas kami.
Eh, sebentar-sebentar. Berarti otomatis aku duduk dengan?. Iya, Shitake. Ah, apakah ini mimpi?. Kurasa bukan, Aku menampar wajahku dua kali . Terasa sakit. Ini nyata, bukan mimpi. Aku memandangnya dengan lama. Membayangkan apa yang terjadi jika aku duduk disampingnya. Mungkin ini kisah indahku mulai terukir. Dari yang awalnya membenci, lama-kelamaan akan tumbuh perasaan. Peribahasa selalu tepat, kita dilarang terlalu benci, nanti lama-lama akan mencintai. Aku kembali memperhatikannya. Astaga, dia menyisir rambutnya, terlihat bukan Shitake yang culun. Dia tidak menyebalkan. Dia mulai memakai hoodie coklatnya. Dia mengaca lewat hp, betapa manisnya saat memakainya. Apa jangan-jangan aku mulai tertarik padanya. Kemarin dia memberikan pemandangan indah, pertama, dia meminta maaf padaku. Kedua, dia bernyanyi untuk menghibur diri, ketiga, dia tidur dilantai memeluk bantalku yang dikirim ibu, dan banyak lagi pemandangan luarbiasa lainnya. Aku tidak sabar masuk sekolah untuk menjalani hidup baru. Eh, maksudnya suasana baru.
Mereka berpamitan padaku . Di kamar hanya ada aku dan Shitake. Beberapa saat, datanglah 2 orang perawat yang sama. Mereka tersenyum bahagia, sambil membawa semacam surat yang aku tidak tahu itu dari siapa.
"Saudari yume, selamat ya! besok anda diperbolehkan pulang dan bisa menjalani aktivitas seperti biasanya."
"Apa? benarkah itu? bukannya aku harus dirawat seminggu? mengapa cuma 3 hari saja???."
"Iya, berdasarkan hasil dan keputusan dokter, anda boleh pulang. Oh, iya tadi ada salah satu temanmu yang mengirim surat padamu."
"Baik, terimakasih."
Aku langsung menyahut suratnya. Aku membacanya dengan baik-baik. Setiap isinya kuamati.
Rabu, 16 oktober 2020
Teruntuk, Yumeko, temanku yang begitu baik. Izinkan aku menyampaikan padamu. Aku sangat bangga punya teman sepertimu. Kamu ingatkan? dikala jam kosong kita selalu melakukan hal-hal gila. Aku ingat ketika kamu dan Kento mencuri kunci jawaban di ruang guru. Tindakanmu sangat pemberani. Kamu adalah orang yang cuek, dingin, manis, dan jujur. Kamu juga bisa menjaga persahabatan. Maaf beribu maaf, selama ini aku hanya menjadi teman palsumu. Aku tidak bisa menjadi sahabat yang baik. Karena aku, kamu menjadi masuk rumah sakit. Aku sampai lupa kalau kamu punya Anxiety berat. Sampaikan kepada ibumu, jika ibuku punya hutang banyak kepada ibumu. Tenang, ibuku sudah membayarnya. Maaf kembali, aku tidak bisa menjengukmu, aku harus pergi. Aku lebih baik kehilangan rumahku, daripada harus menjadi orang bermuka dua. Aku telah mengkhianatimu. Biarkan aku menerima karmanya. Urusan kamu mau memaafkanku atau tidak, itu terserahmu. Yang penting, aku sudah meminta maaf padamu. Terimakasih, sudah membaca surat ini
Temanmu, Taigaa
Aku membacanya berulang-ulang. Aku sampai meneteskan air mata. Aku ingin menemuinya. Nasi telah menjadi bubur. Dia sudah pergi. Aku tak akan melupakan kebaikannya. Aku sudah coba menghubunginya. Berkali-kali, tidak ada respon darinya. Aku tidak tahu, dia pergi kemana. Dia nanti akan tinggal dimana? dia makan apa? aku memikirkannya. Aku berharap dia baik-baik saja.
"Sudah jangan menangis lagi, kamu kan sudah sehat, kamu harus semangat untuk sekolah besok."
"Iya-iya."
"Apa yang kamu baca? bolehkah aku melihatnya?."
"Emmmm.....ini surat dari Taigaa."
"Oh, jadi ini yang membuatmu menangis? sudahlah, kan temanmu banyak, bukan hanya Taigaa saja."
"Iya..."
"Mulai besok kalau kamu punya masalah, ceritakan saja kepadaku."
Aku tak bisa berkata-kata lagi. Perhatiannya yang penuh tercurah padaku. Besok adalah waktu yang kutunggu. Apa yang terjadi esok hari aku jalani saja. Aku belajar memaafkan kesalahanku dan semua orang. Secara tak langsung, dia mengajariku bagaimana bermental kuat, juga bersikap dewasa. Sikapnya selama ini menunjukkan wibawanya yang besar. Kudengar, dia akan mewakili ajang olimpiade internasional. Pantas saja dia membawa buku matematika. Pokoknya, dia terbaik.
"Apa kamu tidak tidur?."
"Emmm, habis ini saja. Aku belum mau."
"Apa perlu kubuatkan teh?."
"Tidak usah, nanti merepotkan."
"Baiklah kalau begitu, aku tidak melarangmu. Lagian besok kita masuk siang."
"Eh, iya ya."
Dia membuka jendela rumah sakit yang lebar. Aku heran apa yang dilakukan. Apa yang mau dia buat? apa dia mau mengukur luas jendela, atau dia akan menghitung jarak untuk tugasnya. Aku sih terserah, asal tidak aneh-aneh.
"Nah, aku sudah buka jendelanya. Coba kamu lihat bulan purnamanya, besar sekali."
"Iya, aku pikir kamu mau ngapain, ternyata kamu mau menunjukkan purnama kepadaku."
"Iya, kata ibumu, kamu suka bulan purnama. Kamu juga biasa menggambarnya kan?."
"Iya, tapi kali ini tidak, karena aku tidak membawa peralatannya."
"Hmmm. Aku ada ide."
Dia berpikir agak lama. Ini momen langka, ada bulan sebesar itu. Indah sekali.
"Coba kamu turun dari ranjangmu, ikuti saja aku?."
"Kemana?."
"Sudahlah, ini jangan sampai terlewatkan."
Aku memenuhi arahannya. Dia membawaku ke arah jendela.Aku disuruhnya menatap bulan. Dia memotretku dengan kamera otomatisnya. Tak menunggu lama, gambarnya langsung keluar.
"Bagaimana?."
"Wahh, ini bagus."
"Ini yang kumaksud. Kamu selalu mengeluh bila hasil fotomu jelek, maka aku usahakan agar kamu bisa memiliki foto yang bagus."
"Wah, hebat kamu. Bisa jadi fotografer juga."
Bagaimana jadinya kalau dia jadi fotografer pribadiku. Pasti aku sudah jadi model. Ini malam indahku di rumah sakit. Jepretan fotoku tadi, ku tempelkan di buku harianku. Ini sudah terlalu malam. Aku sudah mulai mengantuk. Dia sudah tidur duluan.
#Keesokan harinya.
Alarmku berdering menujukkan pukul 6 pagi. Aku mandi, kemudian mengganti bajuku. Dia sudah pulang jam 4 pagi dikala aku masih tidur. Hari ini, ibu menjemputku dengan menumpang taxi. Ibu segera tiba pukul setengah 7. Ibu sudah membawakanku sarapan, juga sari kunyit putih untuk staminaku.
Ibu sampai di kamarku. Aku keluar rumah sakit setelah membayar biaya perawatan. Aku melihat ibu mengeluarkan banyak uang. Aku menyadari kalau kesehatan itu mahal. Aku meminta maaf pada ibu. Aku sudah membentaknya.
Ketika dirumah, ibu menyiapkan seragamku.Aku mengulang materiku. Jam pelajaran ke 3 aku ada ulangan susulan seni budaya. Aku belajar serius agar aku bisa menjawabnya. Aku membuka buku sambil mengingat hal-hal lucu kemarin. Aku tidak bisa fokus belajar.
Ku ambil laptop di meja belajar. Aku memeriksa kondisi e-mailku, ada 2 pesan masuk. Satu dari Kento, satunya lagi aku belum membuka. Kento mengirimkanku kunci jawaban. Kata guru, soal siswa yang ujian susulan sama persis dan tidak diacak. Aku penasaran dengan email yang belum kubuka.
Kotak masuk: 1
"Selamat ya, sudah sembuh. Maaf aku belum sempat berpamitan denganmu, kamu masih tidur hahaha....Welcome! Hari ini kamu akan duduk di sebelahku, aku berjanji tidak akan membuatmu kesal lagi. Kalau misal aku membuat kesal, marahi saja aku."
Pengirim: UzmTake109@gmail.com
Ya ampun, hadiah apa lagi ini. Dia membuatku tak sabar untuk sekolah. Polos sekali dia mengirim pesan padaku. Aku sudah memaafkannya. Kalaupun dia menyebalkan lagi, mungkin aku hanya mengacak-acak rambutnya. Dia tak memakai foto profil di emailnya. Ku pikir akan ada orang yang ingin menerorku.
" I wonder how I wonder how........."
Alarm hp ku bunyi. Sudah pukul 10.45. Lama juga aku berkhayalnya. Aku menyiapkan tas dan memakai seragam. Aku menyisir rambutku. Aku pamit ibuku untuk berangkat ke sekolah. Aku berlari kencang, tak sabar melihat suasana kelas yang agak awur-awuran.
#Di Sekolah
Suasana agak ramai. Aku membaca pengumuman bahwa kelas di rolling. Kelasku terletak di lantai 2 sebelah aula. Aku menuju kesana. Menaikinya terasa capek. Ku buka pintu kelasku. Masih sepi, hanya anak-anak piket saja yang mengepel kelas. Dia belum datang. Aku mengira dia sudah di kelas duluan. Aku duduk di bangkuku, mengenang kehebohanku bersama Taigaa.
"Ohh, Taigaa, bangku ini sudah menjadi milik orang lain. Kamu berada dimana sekarang??". Gumamku dalam hati.
Lambat laun siswa mulai datang. Aku belum melihatnya. Aku khawatir kalau dia tidak datang. Aku sibukkan diriku membaca novel. Mengapa aku belum tenang juga. Aku tak pernah segelisah ini menunggu orang. Aku meletakkan kepalaku di meja. Aku bingung. Anak-anak lain teman sebangkunya sudah datang sedangkan aku belum datang. Aku terlihat kurang kerjaan. Semakin bimbang saja diriku.
Kepalaku masih terletak dimeja. Aku merasakan ada yang mengetuk pundakku.
"Apa kamu masih sakit kepala."
"enggak."
Kok, suaranya mirip dengan seseorang. Aku mengangkat kepalaku. Yang ditunggu telah datang. Hilang sudah khawatirku. Aku tersenyum menatapnya. Dia tidak klimis lagi. Aku suka dengan gayanya. Dia tidak memakai kacamata lagi. Dia telah berubah, namun tidak untuk polosnya.
Guru sudah tiba dikelas. Beliau hanya memberikan tugas mengirim surat untuk sahabat sesuai kaidah bahasa. Kita boleh menggunakan nama inisial. Nantinya surat itu diberikan pada yang dituju. Ini kesempatanku menulis surat pada Fura, anak paling ribut di kelas. Aku menulis kritik saran padanya. Sepertinya tak hanya aku saja yang menulis untuknya. Hampir satu kelas jengkel. Bagaimana tidak, dia pernah membuat satu kelas dihukum hormat bendera.
"Untuk anak-anak, waktu sudah habis. Setelah ini akan saya panggil satu-satu."
Saat namaku dipanggil, lagi-lagi aku mendapat surat misterius. Inisial satu titik dua koma.
"Selamat pagi, aku senang kamu bisa sekolah lagi. Kelihatannya cuekmu berkurang. Kamu suka menggambar dan baca novel kan?. Aku sebenarnya ingin bicara padamu, namun aku tidak mau menulisnya disini. Nanti saja di taman, aku akan bicara padamu."
oleh: .,,
"Kalian sudah mengamati kan? Siapa yang berani membacanya di depan, nanti akan dapat nilai tambah."
"Saya bu." Jawab Kento.
"Teruntuk Kento, ketua kelas yang sangat bertanggung jawab. Aku tidak menyesal memilihmu. Namun tolong, jangan sering tidur dikelas. Karena aku diam-diam memotretmu."
Oleh: Ryouka
Semua anak tertawa bertepuk tangan. Seperti biasa, Shitake hanya tersenyum kecil. Bisa jadi ini tidak lucu baginya.
"Saatnya istirahat pertama....."
Waktunya istirahat. Aku menuju ke taman setelah melihat isi surat tadi. Di taman tidak ada siapapun. Aku memeriksa seluruh taman tetap tidak ada siapa siapa. Apa jangan-jangan ini jebakan. Aku takut, Anxiety kumat lagi.
"Yumeee...."
Suara itu tepat dibelakangku. Aku terkejut. Dia berada dihadapanku. Tidak ada siapapun ditaman, hanya kita berdua. Aku menatapnya dengan dalam. Jantungku berdegup kencang. Antara rasa takut dan bahagia.
"Eh, Yumee, jangan melamun. Aku hanya ingin bicara saja."
"Bicara saja."
"Kamu gadis yang cuek dan berpendirian kuat."
"Iya, terus..."
"Kamu sering membantu ibumu kan?."
"Iya, memangnya kenapa."
"Katakan saja."
Semilir angin datang mendadak. Menambah ketegangan hari ini. Dia berkeringat. Wajahnya memerah, bibirnya pucat. Dia bertambah gugup.
"Apa aku boleh mengatakan ini?."
"Iyaaa, cepat."
"Aku menjagamu 3 hari dirumah sakit. Aku membuatkanmu teh."
"Apa kamu mau minta bayaran? Tak apa , nanti aku akan bilang ibuku." Aku mencoba menebaknya.
"Bukan itu, aku sulit mengatakannya."
"Ucapkan saja."
"Aku hanya......"
"Iya........"
"Aku hanya menyukaimu. Iya, aku hanya menyukaimu, sudah itu saja."
Dia berlari. Aku mengejarnya. Aku ingin mengatakan hal yang sama. Aku menarik bajunya dan menahannya.
"Kenapa kalau aku menyukaimu???." Ucapnya, dengan mata berkaca-kaca.
"Tidak apa-apa, menyukai adalah hal yang wajar, tapi masalahnya..."
"Apa kau marah???."
"Aku tidak, marah. Masalahnya hanya aku juga menyukaimu. Aku senang saat kamu merawatku di rumah sakit, kamu seperti ibuku."
Dia memasangkanku kalung, sebagai tanda teman baiknya. Kita duduk berdua di bawah bohon. Tak lama lagi, daun-daun berguguran memeriahkan fenomena ini. Biar taman ini menjadi saksi kalau dia pemberani, bukan penakut.
Kuotes:
"Bukan dari penampilannya, melainkan tanggung jawabnya." -Yumeko
*Jangan Lupa komentarnya🙂