0.Sebuah Pengantar
Aku pikir akan baik-baik saja. Semua akan hilang dan berlalu seiring berjalan waktu. Namun, esoknya ketika aku membuka mata, sakit itu masih juga terasa. Rasa sesak yang menyiksa itu, masih, masih, dan masih terus datang hingga hari-hari berikutnya.
Rasa tersiksa yang tak dapat di lampiaskan, rasa sakit yang mengerikan, aku belajar dari itu. Tentang bagaimana hati mampu mengambil alih kendali diri seseorang. Itu adalah hal menakutkan yang nyaris membuat gila.
Di detik-detik menyiksa itu, aku mulai berfikir, "ah, seandainya aku mengabaikan rasa penasaranku dan tidak jatuh dalam perangkap perasaan itu, mungkin hari ini dan seterusnya aku akan baik-baik saja."
Dan, ya, aku menyesal. Menyesali semua yang terjadi, baik dimasa lalu, hari ini maupun yang akan datang. Aku terus menyesali setiap hari yang tersisa dalam hidupku. Hingga sampai di tahap dimana akhirnya aku berfikir....
..... inilah akhirnya.
🥀🥀🥀
Selamat pagi, siang, malam, untuk kalian para pembaca dimanapun berada.
Ini adalah sepotong kisah singkat yang mendadak terlintas di benak saya.
Kisah ini tidak saya buat rumit. Semuanya tersaji dengan sederhana. Karena bagi saya sebuah perasaan adalah tentang kesederhanaan. Karena hanya hal-hal kecil yang terkadang mampu meninggalkan jejak yang begitu besar dan mendalam.
Jika kalian suka, tinggalkan jejak dan beri dukungan.
Terimakasih untuk yang telah membaca. Dan mohon maaf atas segala kesalahan dalam penulisan dan tata bahasa.
Selamat menyelami dunia cinta dan patah hati.
Tertanda
Devi Oktaviani
(5 Mei 2022; 21:05 WIB)
****
1.Sebuah Awal
|Miria pov|
Hari ini, setelah tujuh belas tahun hidupku, pertama kalinya aku terpaku pada wajah seseorang. Sepasang mata yang hitam sempurna, rahang yang tegas, hidung yang mancung, serta bibir tipis yang melengkapi ketampanannya. Tuhan... Aku jatuh cinta.
Selama hidupku, aku jarang menaruh perhatian pada sekitar. Bagiku semua terasa hampa. Tak ada yang menarik lantaran aku mendapat hidup yang terlalu sempurna.
Aku lahir di keluarga ningrat yang disegani. Memiliki orangtua dan saudara yang memperlakukan ku layaknya tuan putri. Semakin beranjak dewasa, semakin banyak yang aku terima. Ditambah kecerdasan di atas rata-rata serta bakat yang mengagumkan. Di takdirku seolah terpahat kesempurnaan. Membuat semua jadi terasa mudah dan membosankan.
Dan kini, aku merasa bagai kertas kosong putih yang bersih tanpa noda. Lalu perlahan di kertas itu muncul guratan-guratan warna warni yang membuatnya tampak menarik. Aku merasakan ketertarikan besar yang telah lama tak muncul.
"Aku tampan tidak?"
Kalimat pertama yang keluar darinya benar-benar tak terduga. Lebih tak terduga lagi karena dia mengajakku bicara. Apa aku terlalu terang-terangan menatapnya sampai ia menoleh padaku dan bertanya begitu? Padahal sedari tadi aku lihat dia masih fokus menatap ke depan pada lampu lalu lintas yang menyala merah.
Jika kalian penasaran, posisi kami saat ini berada di tengah jalan. Di sebuah perempatan jalan. Di tengah lampu merah yang menghentikan perjalanan. Aku yang dalam perjalanan pulang dari sekolah. Dan dia yang berhenti di sebelah mobil yang mengangkut ku dengan motornya. Dia yang tidak mengenakan helm membuat aku bisa leluasa menatap wajahnya. Dan di detik ketika ia tanpa sengaja menoleh, saat itu aku jatuh cinta. Pada mata sekelam malamnya yang tampak tenang dan teduh.
"Kenapa diam? Aku jelek ya?"
Astaga. Dia serius mengajak ku bicara di kodisi ini? Aku ingin menyahut tapi mobil yang aku tumpangi lebih dulu bergerak maju. Aku menoleh ke belakang melihat dia yang tertinggal. Aku terus mengamatinya meski ia sudah semakin jauh karena memilih arah berlawanan denganku. Sampai punggungnya menghilang di antara padatnya jalan raya, baru aku mengalihkan pandang ke depan.
"Yang tadi itu teman nona, ya?"
Tanya sopir ku. Dia tampak melirikku melalui spion depan. Belum selesai aku memikirkan jawaban ia berkata lagi.
"Nona sampai melihatinya seperti itu, mungkinkah dia kenalan dekat nona?"
Dekat? Kenal saja tidak. Aku menyandarkan punggungku ke sandaran kursi dan melihat jalan yang kami lalui.
"Bukan. Dia hanya orang aneh yang tidak sengaja menarik perhatian."
🥀🥀🥀
(5 Mei 2022; 21:52 WIB)
*****
2.Sebuah Kebetulan
Aku memang berkata bahwa yang kemarin adalah sebuah ketidaksengajaan. Namun, bisakah hal semacam itu terjadi berulang kali? Bolehkah aku berkhayal tentang takdir ketika kami kembali dipertemukan hari ini?
Aku dalam perjalanan menuju laboratorium Kimia karena ada praktikum hari ini. Aku sendirian menelusuri koridor yang sepi. Sementara teman-teman sekelas ku sudah pergi lebih dulu sedari tadi. Aku memang menunda pergi kesana. Malas sekali jika pergi bersama orang-orang berisik di kelas ku.
Di koridor lantai 3, dekat gudang tepat sebelum sampai di anak tangga. Aku bertemu dengannya. Dia entah bagaimana caranya keluar dari gudang dengan santainya. Sejenak ia terlihat kaget karena ada aku di luar.
Dalam keterpakuan ku, berbagai pertanyaan mulai muncul. Tentang siapa dia? Apakah dia pun bersekolah disini? Kelas berapa? Namanya siapa?
Belum habis rasa penasaran ku ia menarik ku dengan tiba-tiba masuk ke dalam gudang. Dengan cekatan lelaki itu menutup pintu dan menguncinya dari dalam.
Aku melotot melihat kunci di tangannya. Dari mana ia mendapatkan kunci itu?!
"Kenapa melihatku seperti itu? Aku merasa dihakimi dalam diam."
Selorohnya. Bahkan tawanya ikut mengalun pelan. Ah, aku terpesona untuk kesekian kali pada manusia ini. Matanya yang menyipit saat tertawa, serta sudut bibirnya yang melengkung dengan sederhana. Aku merasa konyol karena menyukai caranya tertawa.
"Nama mu Miria?"
Oh, dia tau namaku?
"Aku Wilar."
Dia mengulurkan tangan mengajak berjabat tangan. Aku masih diam di tempat. Mencerna situasi saat ini. Aku mencoba menganalisa situasi ini. Memikirkan berbagai kemungkinan. Namun kebenaran seolah memburam. Aku tak bisa menemukan hipotesa yang memungkinkan.
Melihat jabat tangannya tak bersambut dia lalu menarik kembali tangannya dan memasukkan ke dalam saku. Senyumnya pun tampak masih belum luntur.
"Kita bertemu kemarin. Kamu tidak ingat?"
"Darimana kamu tau namaku?"
Akhirnya suara ku keluar juga. Namun anehnya, dia malah tertawa karena pertanyaan ku. Memangnya apa yang lucu?
"Kamu tidak sadar ya kalau kamu itu sangat populer? Mudah sekali mengenali anak emas pasangan pengusaha besar yang cantik seperti kamu."
Dia sedikit maju dan menunduk ketika mengucapkan itu. Netranya yang sekelam malam seolah membius ku untuk jatuh begitu dalam. Dan dari sanalah semua dimulai. Dari sebuah kebetulan yang mengantarkan ku pada lubang neraka yang mengerikan.
"Hei, pernah ciuman?"
🥀🥀🥀
(5 Mei 2022; 22;07 WIB)
****
3.Sebuah Kelemahan
Ini gila! Kakiku terasa lemas. Nyaris aku terjatuh seandainya dia tak menahan pinggang ku dengan lengan kekarnya. Dia melilitku dangan erat. Sementara bibirnya masih sibuk menyecap, bergerak lincah membuat manuver-manuver yang nyaris membatku gila.
Entah berapa lama. Aku tak sanggup menghitung waktu saat kepala ku dibuat pening oleh sesapannya yang terasa asing namun memabukkan. Dia baru menjauhkan wajahnya. Melepaskan bibirnya yang tertaut pada bibirku. Deru nafasnya yang hangat dan beraroma mint menerpa wajahku. Dia tampak sedikit terengah. Berbeda dengan aku yang begitu rakus menghirup oksigen.
Lengannya terlepas dari pinggang ku hingga aku meluruh begitu saja. Jatuh terduduk di lantai tepat di hadapannya. Sial? Kenapa aku selemah ini?!
"Mau coba tidak?"
Aku menoleh padanya yang telah duduk menyandar ke dinding. Ia mengeluarkan rokok beserta korek dari saku celana seragamnya. Apa dia baru saja menawari ku untuk merokok?
"Apa?" tanyaku memastikan.
Bukannya menjawab dia malah mengulurkan tangannya. Dan aku merutuki diriku yang bodoh karena menyambut uluran itu. Dengan entengnya dia menarikku. Entah bagaimana caranya, tapi ketika tersadar aku sudah terduduk di atas pangkuannya.
"Berpacaran. Denganku."
Suaranya begitu lirih. Tapi terdengar jelas karena ia berbisik tepat di depan bibirku. Lalu tak lama bibir kami kembali beradu. Mata sayunya menatap ku selagi bibirnya bergerak perlahan. Aku bagai tersihir, terdiam kaku tanpa bisa berbuat apa-apa. Membiarkan dia mulai memejamkan mata dan mengobrak-abrik mulutku sesuka hatinya.
Tangannya yang mengusap punggung ku dan menekan tengkukku. Bahunya yang bidang dan kokoh. Tubuhnya yang terasa hangat. Aromanya yang maskulin. Aku rasa aku benar-benar gila karena mengagumi segala hal tentangnya. Termasuk tentang bagaimana bibirnya bergerak memberikan sengatan-sengatan aneh yang membuat jantung ku berdebar.
Apa setiap orang yang jatuh cinta selalu begini? Menjadi bodoh dan tak tau harus berbuat apa. Terpaku hanya padanya. Berdebar dengan perut yang seakan dipenuhi ribuan kupu-kupu. Ah, aku serasa ingin terbang.
Ketika dia berhenti. Aku merasa menginginkan lebih. Aku tak ingin menjauh dan tetap ingin berada dalam dekapan hangatnya.
Kulihat dia terkekeh pelan. Entah karena apa. Mungkin dia menertawakan aku yang pastinya terlihat kacau saat ini. Bahkan dari hawa panas yang terasa menjalari pipi ku aku yakin wajahku tengah bersemu saat ini.
"Aku yang pertama, ya?"
Dia menyapukan ibu jarinya pada bibir bawah ku yang basah. Sementara aku semakin menundukkan wajahku karena malu.
Apa yang dia bilang memang benar. Dia memang yang pertama bagiku. Lelaki pertama yang memelukku. Laki-laki pertama yang mencium ku. Laki-laki pertama yang membuat ku tak berkutik. Laki-laki pertama yang aku cintai. Dan aku tidak pernah tau bahwa selanjutnya ia juga akan menjadi orang pertama yang aku benci setengah mati.
Bagiku dia yang pertama dan terakhir. Yang membuatku tak lagi mau memiliki rasa semacam cinta dalam hidup ini.
🥀🥀🥀
(5 Mei 2022; 22:43 WIB)
****
4.Sebuah Ketidak Beranian
"Mau makan?"
Aku baru mengangkat panggilan telepon itu dan sudah disuguhkan pertanyaan yang lebih terkesan seperti ajakan.
"Tadi ku pesankan makanan. Mungkin sebentar lagi sampai."
Mendengarnya aku buru-buru berlari keluar kamar menuju gerbang. Wilar berkata ia memesankan makanan untukku. Kalau tidak aku terima langsung bisa-bisa makanan itu tak akan pernah sampai padaku. Karena Mama selalu melarang ku makan sembarangan apalagi makanan cepat saji yang dipesan antar.
Tepat ketika aku sampai di dekat pos satpam, kurir yang Wilar sebutkan datang. Aku menerima pesanan itu dan mengiming-imingi satpam dengan sedikit uang agar tak mengadu ke Mama ku.
Dengan langkah cepat dan hati-hati aku kembali ke kamar dan mengunci pintu dari dalam.
"Sudah datang makanannya? Kamu suka? Atau mau yang lain?"
Ah, aku baru sadar kalau sedari tadi kami masih terhubung dalam panggilan telepon.
"Tidak perlu. Aku makan ini saja. Terima kasih."
Seketika tawa Wilar terdengar mengalun merdu di telingaku. Dari sini, aku membayangkan sosoknya yang sedang tertawa. Lengkungan bibirnya. Binar matanya. Semua itu sudah aku hafal diluar kepala. Semua tentangnya dengan mudah melekat di ingatanku meski kami baru bersama seminggu ini.
Ya, memang sejak kejadian di gudang waktu itu aku menerima tawaran Wilar untuk berpacaran dengannya. Gila? Katakanlah aku memang begitu. Lagipula aku menyukainya. Perasaan itu tak dapat dikendalikan dan aku juga tak bisa membuatnya jadi kebohongan.
"Seharian ini kamu melakukan apa saja?"
"Huh?"
Aku melamun.
"Aku rindu kamu."
Ah, gawat. Wajahku panas. Hanya kata-kata seperti itu saja sudah membuatku berdebar. Tak ingin menjawab, aku hanya berdehem. Sambil mengeluarkan makanan yang ia pesankan. Sementara sebelah tanganku masih memegang ponsel yang kutempelkan ke telinga.
"Gawat. Rinduku bertepuk sebelah tangan."
"Kamu sedang apa?"
Aku sengaja mengalihkan topik. Dia terdengar bergumam panjang. Sepertinya sedang berpikir.
"Aku sedang memanjat pagar."
"Hah?"
Suara grasak-grusuk terdengar di seberang sana. Perasaanku jadi tidak enak. Dan benar saja. Kekhawatiran ku terjadi ketika pintu balkon kamarku diketuk.
Aku biarkan ponselku begitu saja dan berlari membuka pintu balkon. Aku melotot melihat Wilar yang menyengir lebar begitu aku muncul. Dia melambai kecil padaku dengan ponsel yang masih ditempelkan ke telinga.
"Apa yang kamu lakukan?!" tanyaku memekik tertahan.
"Menemui pacarku," dia menjawab innocent.
Buru-buru aku menariknya ke dalam dan menutup pintu rapat-rapat. Beruntung kamarku kedap suara jadi aku tak perlu khawatir ada yang mendengar kami bicara.
"Kamu tau yang kamu lakukan sekarang? Kamu bisa mendapat masalah kalau sampai ketahuan!"
Aku memarahinya. Tapi respon yang ia berikan justru membuat aku mau tak mau melunak. Dia menelengkan kepalanya lalu tersenyum dengan curang.
"Tapi aku tidak ketahuan?"
Lalu dia memberikan kecupan kilat di bibirku. Setelahnya ia menjilat bibirnya sendiri seolah baru saja mencicipi sesuatu yang sangat enak.
"Aku kesal karena libur sekolah harus dua hari dalam seminggu. Aku jadi sulit bertemu kamu kalau libur."
Wilar memang seperti itu. Berbuat sesukanya. Melakukan apa yang mau ia lakukan. Mengutarakan apa yang ingin ia utarakan. Mudah baginya untuk mengutarakan apa yang ia rasakan. Berbeda dengan ku yang kesulitan mengekspresikan sebuah perasaan. Hingga aku hanya membiarkan semuanya terpendam begitu dalam.
Dan kemudian aku tau bahwa ketidak beranian ku menjadi petaka yang menyakitinya. Dan juga menjadi hal yang paling aku sesali sepanjang hidup ini.
(5 Mei 2022; 23:50 WIB)
****
5.Sebuah Rasa Penasaran
Pernahkah kalian mengalami yang namanya jatuh cinta? Itu adalah sebuah perasaan yang membuatmu senang dan gelisah disaat bersamaan. Rasanya jantung mu terus berdebar tidak normal. Perutmu juga akan terasa mulas karena rasa asing yang baru itu. Itu adalah sebuah rasa mendebarkan yang sulit digambarkan.
Sulit untukku mendeskripsikan apa itu yang disebut cinta. Tapi bila ditanya apa yang ku sukai darinya, maka aku punya beribu kata untuk menjabarkan tentangnya.
Surai lebatnya yang hitam legam. Netranya yang sekelam malam. Senyumnya yang menawan. Dan masih banyak lagi yang aku sukai darinya. Tapi entah apa dia menyukai aku sebanyak aku menyukainya. Hal itu adalah bagian pahit dari jatuh cinta. Dimana selalu ada kecemasan dan keraguan bahwa perasaan kita akan berbalas atau tidak. Bahkan walau sama-sama menjalin hubungan tidak menjamin keduanya memiliki perasaan yang seimbang.
"Wil, kenapa harus aku?"
Aku bertanya padanya. Saat ini kami sedang menikmati waktu istirahat di atap sekolah. Lebih tepatnya Wilar sibuk menghisap nikotin di rokoknya dan aku yang duduk diam seperti orang bodoh di sampingnya. Ditemani semilir angin dan bernuansa langit berawan, kami terpekur dalam diam. Bahkan lantai yang terasa sedikit hangat tak membuat kami segara bangkit dan pergi dari sana.
"Wil...."
Aku memanggilnya setelah keterdiaman cukup lama. Sedang dia tampak masih sibuk menghirup dan menghembuskan asap rokoknya. Kemudian ia mengapit rokok yang tinggal setengah itu di sela jarinya. Ia angsurkan benda itu ke depan mulutku.
"Mau coba?"
Aku benci bangian ini. Bagaian dimana aku tak pernah bisa mengelak darinya. Maka dengan bodohnya aku mengapit rokok itu di sela bibir. Kuhirup asap rokok tersebut seperti yang Wilar lakukan. Tapi bukannya kenikmatan seperti yang Wilar rasakan, aku justru merasa sesak. Aku terbatuk, memukul dada yang terasa sesak. Tidak enak! Rasanya sama sekali tidak enak.
"Kenapa kamu mau mencobanya?"
Aku menatap Wilar masih dengan sedikit terbatuk. Dia sudah memelintir rokok tadi ke atas lantai hingga padam. Ia mendekat. Satu tanganya bertumpu di lantai menopang tubuh. Sementara satu lagi ia gunakan menyelipkan anak rambutku ke belakang telinga.
"Bukankah kamu penasaran dengan rasanya?"
Ia bicara lagi. Melontarkan pertanyaan yang tidak ingin aku jawab. Karena kurasa ia sudah tau jawabannya sendiri. Aku hanya fokus pada sepasang matanya yang kusukai. Sementara mata itu kini terlihat sibuk memandang pada surai-surai ku yang diusapnya.
"Kita memiliki alasan yang sama."
Dia mendekatkan wajahnya. Mempertemukan kening kami. Kucoba menyelami pandangannya yang tampak begitu dalam. Namun aku justru tersesat dan tak menemukan jalan kembali. Aku terjebak, terkurung dalam pesona seindah malam pria itu.
"Baik aku, maupun kamu. Bukankah kita memulai semua ini karena rasa penasaran yang kita punya untuk satu sama lain?"
Aku terpaku. Dia malah terkekeh lirih. Dari kilatan matanya yang sendu aku mendapati perasaan sesak yang kentara. Lantas ketika bibirnya mulai bergerak membuat manuver-manuver yang menyengat seluruh tubuhku, aku memilih memejamkan mata. Mengabaikan dia yang menatap padaku sepanjang ciuman yang dalam itu.
Aku penasaran. Bila hari itu ku hentikan dia dan jelaskan semuanya. Katakan semua yang kurasa. Tentang aku yang telah jatuh secara sempurna dalam jeratnya. Tentang aku yang akhirnya menemukan sebuah cinta. Tentang rasa yang melebihi rasa penasaran. Kira-kira bagaimana reaksinya?
Kira-kira dapatkah aku mengobati luka diantara kami bila saat itu aku lebih berani? Mungkinkah kami bisa tetap bersama seandainya aku berterus terang dan mengungkapkan segala apa yang terpendam? Akankah ia tetap berada di sisiku bila kukatakan betapa berharganya dia—cinta pertamaku—bagiku?
Aku yang dilanda rasa penasaran tak mendapat jawaban dan hanya bisa meringkuk dalam penyesalan mendalam.
🥀🥀🥀
(6 Mei 2022; 15:22 WIB)
****
6.Sebuah Kecemburuan
Aku sudah sering mendengar tentang hubungan yang tak pernah lepas dari permasalahan. Aku sudah bersiap untuk kemungkinan yang akan menghambat kami. Aku sudah mewanti-wanti diri sendiri.
Namun, kenapa? Kenapa pertahan ku tak sekokoh yang direncanakan? Kenapa aku merasa akan roboh hanya dengan satu serangan?
Aku tidak tau ini. Apa yang terjadi padaku? Aku yang terbiasa menganalisa semua dengan rinci dan cermat. Kini mengambil kesimpulan dengan tergesa.
Hanya karena melihat Wilar berjalan bersama seorang wanita, aku merasa bergejolak. Ada keinginan kuat dalam diriku untuk berdiri di tengah-tengah mereka. Lalu dengan angkuh aku akan berkata bahwa pria itu milikku.
Pemikiran yang kekanakan. Sungguh. Aku malu dengan diriku sendiri. Apakah ini juga termasuk dalam resiko jatuh cinta? Cemburu? Beginikah rasanya? Tidak nyaman dan gelisah. Perasaan ini membuatku merasa kehilangan diriku sendiri. Apakah benar cinta telah mengubahku jadi makhluk yang sama sekali berbeda?
Semakin ku perhatikan semakin aku merasa ingin menghampiri mereka. Terlebih ketika wanita itu bergelayut manja pada Wilar. Aku benar-benar tidak tahan.
Maka dengan begitu saja aku berdiri. Tak memperdulikan pria yang sedari tadi duduk di hadapanku. Aku pergi dari restoran itu sesegera mungkin tanpa menyentuh sedikitpun makananku. Dalam kondisi seperti ini, aku sama sekali tak berselera makan.
"Miria!"
Ah, aku melupakan pria itu. Namanya Arexis. Pria yang diperkenalkan padaku sebagai tunanganku. Konyol! Sampai mati pun aku tak akan mengakui pertunangan itu.
"Kenapa? Kamu tidak suka disini, ya? Maaf. Kalau begitu mau kemana?"
Pulang. Aku ingin pulang.
"Atau kamu ingin ke suatu tempat? Akan ku antar."
Aku menatap Arexis jengah, "Rex, bisa tidak kita batalkan pertunangan ini?"
Ku lihat ada sentakan yang tampak di binar matanya. Agaknya dia terkejut dengan apa yang aku katakan. Bagaimana lagi, aku tidak tertarik sama sekali dengannya.
"Mungkin kamu masih merasa tidak nyaman. Pelan-pelan saja."
Dia tersenyum tulus. Meski aku tau pasti ia hancur dalam hatinya. Dia jelas-jelas tertarik padaku. Terlihat dari matanya yang penuh cinta tiap kali menatapku. Dan aku dengan kejamnya menolak dia secara terang-terangan. Aku jadi sedikit merasa bersalah padanya.
Setelahnya aku meminta dia untuk mengantarku pulang. Agaknya pria itu ahli bersandiwara. Ia mampu mengarang cerita di depan orangtua ku. Hingga membuat kami tampak seperti sepasang kekasih yang tengah dimabuk asmara.
Arexis seharian ini bersamaku. Berada di dekatku. Berbicara padaku. Namun sepenuhnya kepala ku terisi oleh bayang-bayang Wilar.
Bukan salahku kan, kalau aku tak bisa mencintainya seperti dia mencintaiku?
🥀🥀🥀
(6 Mei 2022; 20:20 WIB)
****
7.Sebuah Rasa yang Menyiksa
Aku pernah menonton suatu animasi. Dimana disana tokohnya berhasil mengembangkan aplikasi pembaca pikiran. Dan disaat ini, aku ingin sekali memilki aplikasi semacam itu. Aku ingin sekali tau apa yang tengah Wilar pikirkan sembari menghisap asap rokoknya dalam-dalam.
Agaknya apa yang ia pikirkan dengan tatapan menerawang jauh ke depan? Apa yang tengah terlintas di benaknya kala terdiam dengan syahdu semacam itu?
"Miria."
Aku tidak yakin apakah dia memanggilku atau tidak. Meski lisannya menyebut namaku, namun matanya mengawang entah kemana. Wilar sama sekali tidak menatapku. Padahal aku setiap detik tak pernah melewatkan momen untuk memandang setiap inchi wajahnya.
Gawat. Pikiranku semakin meliar. Aku tak bisa mengendalikan diri. Dan dalam sekejap gelisah itu menyergap ku dalam kegelapan tanpa ujung.
Sekarang bukan hanya perasaan berdebar yang kurasakan tiap kali bersamanya. Di tengah detakan jantung ku yang mengumandangkan cinta, mengikut juga kecemasan tak terkira.
Pertanyaan-pertanyaan seperti: Apakah ada aku di hatinya seperti dia yang memenuhi hatiku dengan sempurna? Apakah hubungan kami hanyalah kisah sesaat yang perlahan akan menghilang baginya? Apakah kisah ini akan segera berakhir seiring berjalannya waktu, ketika dia mulai bosan dan mencari pelampiasan baru? Apakah aku pernah benar-benar menempati suatu posisi dalam hidupnya? Apakah dia... selamanya hanya akan menganggap hubungan kami sebatas rasa penasaran belaka?
Pernahkah dia merindukan ku seperti aku yang merindu setengah mati akan dirinya setiap malamnya?
Semakin ku pikirkan, semua semakin menyakitkan. Ketika kepala ku menyuarakan begitu banyak tanya dan tak satu pun mendapat jawaban. Lantas, apa yang harus kulakukan untuk menuntaskan segala resah dan gelisah yang menyiksa ini?
"Miria...."
Entah kapan, tapi dia telah begitu dekat di depan wajahku. Nafasnya yang hangat, aroma samponya yang segar menguar, lalu sisa-sisa bau rokok yang anehnya membuat debaran jantung ku menggila.
Telapak tangannya yang hangat membingkai wajahku dengan sentuhan halus. Usapan pelan yang terus terun menelusuri rahang hingga ke leher. Jemarinya bergerak pelan disela sesapannya yang memabukkan. Lumatan yang membagi sisa-sisa rasa rokok lewat saliva yang saling menyatu.
Tanganku bergerak setelah sekian lama diam kaku dalam rengkuhannya. Memberikan usapan lembut pada rambutnya yang mulai memanjang melewati kerah. Membelai rahangnya yang kokoh. Hingga sampai di dadanya. Tepat di depan jantungnya berdetak konstan.
Aku terdiam. Meninggalkan dia mendominasi suasana seorang diri. Pikiranku kosong. Perasaan ku menghampa. Ketika ku rasakan kehampaan yang sama pada irama nadinya.
Ada denyutan sakit tak terkira dan sesak yang begitu menyiksa menghimpitku.
Kucintai dia dengan seluruh hidupku. Namun ternyata hidup yang kumiliki tak cukup untuk membuat dia menyimpan perasaan yang sama.
Wilar tak mencintaiku. Sekalipun tak pernah ia rasakan perasaan yang nyaris membuat gila itu.
Walau aku telah mengetahui ini sedari awal namun tetap saja aku merasakan rasa sakit yang sama. Bahkan setiap harinya selalu lebih sakit dari hari-hari sebelumnya. Seakan luka itu terus meradang dari hari ke hari. Hingga tinggal menunggu waktu saja sampai dia membusuk.
Dan kalian tau hal terburuk dari semua itu? Aku jadi terbiasa dengan semuanya. Terbiasa dengan rasa sakit hingga kebal dan mati rasa.
🥀🥀🥀
(17 Mei 2022; 19:29 WIB)
***
8.Sebuah Pertanyaan
Pernahkah kalian merasa ingin lari sejauh mungkin hingga tak ada seorang pun yang akan menemukan keberadaan mu? Entah kemana, tapi kalian merasa benar-benar harus pergi. Meski mungkin kalian akan tersandung dan terjatuh karena terlalu kencang berlari. Meski mungkin kalian akan tersesat di tempat yang sama sekali tidak kalian ketahui. Meski mengetahuinya kalian tetap berusaha berlari sejauh mungkin. Sangat jauh. Begitu jauh. Lebih jauh.
"Kenapa?"
Aku tersentak begitu Wilar bertanya. Dari suaranya, dari raut wajahnya, aku tau ia begitu tenang seperti biasanya. Namun, tetap saja aku merasa cemas. Hingga ponsel di tangan ku remat kuat hingga rasanya aku mampu menghancurkan benda itu. Namun yang terjadi justru tanganku terasa sakit. Dan ponsel itu tetap utuh seperti semula dengan layar menyala menampilkan potret mesra sepasang kekasih disana.
Tangan Wilar menjangkau ponsel ditangan ku. Ia tekan tombol daya hingga layarnya sempurna menghitam. Dan dari pantulan di layar yang kelam itu aku bisa melihat bayangan wajahku sendiri. Dan aku terlihat begitu menyedihkan.
"Kamu cemburu?"
Nada bicara Wilar masih seperti biasa. Tidak berubah sama sekali. Namun yang tidak aku mengerti, kenapa ia begitu tenang dengan semua ini? Seolah semuanya sama sekali tak berarti baginya. Sementara aku mati-matian untuk tidak berteriak padanya.
Kedua tangan Wilar bertumpu di pinggiran wastafel, mengurung tubuhku hingga tak memiliki kesempatan untuk kabur.
"Kenapa?"
Sekarang tanya itu datang dariku. Dengan wajah tertunduk, aku bertanya pelan. Namun pertanyaan itu tak bisa aku lanjutkan. Semua tertahan di kerongkongan dan kembali tertelan.
Sementara Wilar semakin mendekat. Merapatkan tubuhnya, membuat aku terhimpit antara dia dan wastafel. Meski tanganku menahan dadanya, mendorongnya untuk menjauh. Dia sama sekali tidak berhenti dan semakin menyudutkanku. Dan aku tau ini akan bermuara dimana.
"Miria...."
Wajahnya begitu dekat. Nafasnya begitu hangat. Terasa jelas. Begitu pun dengan aroma rokok ditubuhnya yang pekat. Namun dalam hati aku mampu mengukur seberapa jauh jarak diantara kami. Bahkan ketika dia menunduk dan mendapatkan apa yang dia cari, ketika dia memagut bibirku, seperti hari-hari sebelumnya. Aku merasa Wilar begitu jauh. Sangat jauh hingga mustahil bagiku untuk meraihnya.
Aku bagai makhluk kerdil yang mendamba akan indahnya rembulan. Berusaha merangkak menuju tempat tertinggi untuk meraih keindahan itu. Namun ketika aku merasa dia sudah dekat, itu hanyalah sebuah ilusi belaka. Sejauh apapun aku berusaha, mencari tempat dimana aku pikir aku bisa meraihnya, tetap saja aku tak mampu.
"Wil...."
Wilar menggeram atas penolakan yang aku lakukan. Aku mendorongnya menjauh, dan dia benar-benar membuat jarak. Menatapku dengan tenang seperti biasanya. Meski aku tau betapa kesalnya dia ketika aku menghentikannya.
Aku masih berusaha bernafas dengan normal setelah sisa-sisa cumbuan liarnya. Belum aku pulih sepenuhnya dan tangannya beranjak ke pinggang ku. Mengangkat ku hingga duduk di wastafel dengan mudah. Seolah aku tidak berbobot sama sekali baginya.
"Jadi... apa itu?"
Kali ini aku menatap wajahnya. Pandangan matanya yang kentara sekali mendesak aku untuk segera bicara. Dia yang semakin mendekat dan semakin dekat. Seolah sesuatu sedang memburunya. Dan dia bisa kehabisan waktu bila aku terlalu lama menunda.
"Apa itu... yang kamu coba katakan, Miria?"
Bersamaan dengan dia bicara, kening kami saling beradu, menempel satu sama lain. Matanya terpaku pada mataku sepenuhnya. Dari jarak sedekat ini, aku bahkan tak berkesempatan untuk memalingkan pandang barang sekejab saja.
"Siapa? Perempuan yang menciummu di foto.... Siapa dia?"
🥀🥀🥀
(7 Juni 2022; 19;57WIB)
***
9.Sebuah Jawaban
"Apa itu... yang kamu coba katakan, Miria?"
"Siapa? Perempuan yang menciummu di foto.... Siapa dia?"
Wilar diam. Dan aku selalu gagal menebak apa yang ia pikirkan ketika dia diam seperti itu. Agaknya apa yang tengah berkecamuk di pikirannya hingga kernyitan halus itu muncul di keningnya? Apa yang sedang berputar dalam benaknya hingga matanya terpejam beberapa lama seperti itu?
Ketika aku diliputi pertanyaan, Wilar membuka matanya. Dengan kening kami yang masih saling melekat. Dia menatap ku. Dengan netra sekelam malam itu. Dan juga riak tenang yang selalu ia tampilkan. Lalu apa artinya kernyitan di dahinya tadi? Apa artinya pejaman mata yang tampak frustasi tadi? Jika dia tetap terlihat setenang ini, apa artinya semua itu?
"Dia... orang yang ditunangkan denganku."
Dan aku membeku secara sempurna setelah jawaban itu rampung ia ucapkan.
Cukup lama. Aku rasa aku begitu lama terdiam. Berusaha membantah mati-matian fakta yang Wilar ucapkan. Namun diujung kecamuk hanya kutemui kata-katanya sebagai sebuah kebenaran.
Lantas, dengan hati yang remuk redam. Ku dorong ia untuk menjauh dengan pelan. Tanpa melihatnya sama sekali, aku mendorongnya menjauh. Namun dia sama sekali tak berniat beranjak. Hanya menjauhkan wajahnya dengan pijakan masih di tempat semula.
"Kenapa?" Dia bertanya.
Aku enggan menatapnya. Yang ku tatap hanya jemarinya yang mencengkram pinggiran wastafel dengan erat. Aku bisa merasakannya. Wilar sedang kesal. Ia kesal karena aku tidak memperhatikannya.
Entah sejak kapan, tapi aku mengetahui satu hal itu darinya. Bahwa dia paling benci ketika aku memalingkan wajah darinya. Dia menjadi kesal dan kehilangan ketenangannya ketika aku enggan menatap wajahnya. Seperti sekarang.
"Apa sudah waktunya untuk kita akhiri, Wil?"
"Apa yang harus diakhiri?" Dia menyahut cepat. Sekilas nadanya memang terdengar tenang seperti biasa. Tapi aku yang telah bersamanya tiga tahun belakangan ini, bisa merasakan sedikit kemarahan yang tersirat disana.
Dia marah? Kenapa? Untuk apa?
"Tentang kita... semuanya," aku menjawab dengan gumaman pelan.
"Kamu tidak bisa mengakhiri sesuatu ketika kamu tak pernah memulainya, Miria."
Deg!
Tak pernah memulai....?
Selama tiga tahun aku memujanya seperti orang bodoh. Dan sama sekali tidak ada apapun yang dimulai antara kami? Tiga tahun aku hidup seperti orang gila karena mencintainya. Dan sama sekali tak ada yang berubah baginya?
Jadi ia anggap apa tiga tahun yang telah kami lalui bersama?
'Tak pernah memulai....'
Aahh... bodoh. Tiga tahun bersama apanya? Itu hanyalah tiga tahun sia-sia yang aku jalani seorang diri.
"Kalau begitu... karena tidak ada yang dimulai, bagaimana jika kamu lepaskan saja aku?"
Akhirnya aku menatap matanya. Mata yang masih terlihat tenang dan tidak terusik sama sekali. Mata yang akhirnya tidak hanya aku cintai tapi juga aku benci.
"Dengan begitu, aku bisa segera membuat sebuah permulaan agar bisa secepatnya sampai di akhir permainan."
Dan dia benar-benar melepaskan ku. Sepenuhnya... aku benar-benar lepas darinya. Lepas dari tiga tahun yang sia-sia.
🥀🥀🥀
(7 Juni 2022; 20:44WIB)
****
10.Sebuah Akhir untuk Miria
Tiga tahun yang sia-sia. Aku menebusnya dengan lima tahun yang hampa. Sudah lima tahun berlalu sejak aku memutuskan lepas dari Wilar. Sejak aku melangkah pergi meninggalkan dia yang hanya bungkam tanpa melakukan apa-apa. Dan sejak saat itu, aku telah sepenuhnya mati rasa.
Dan tau apa yang ku dapatkan setelah melalui lima tahun yang kosong ini? Hanya segumpal rasa sakit yang membeku, melekat dalam tiap-tiap sel ku.
Hari ini, dengan membawa seikat bunga, aku melangkah perlahan. Melewati barisan orang-orang yang membelah memberi jalan. Seolah menuntun ku untuk sampai pada pria di depan sana. Padanya yang menantikan ku dengan binar memuja.
Ah, lihatlah dia. Matanya penuh dengan cinta yang kentara. Semua seakan tertulis jelas di wajahnya. Bahwa dia sanggup memberikan apapun bila aku meraih uluran tangannya.
Dan ketika aku telah sempurna berdiri di sisinya. Merangkul lengannya. Berjalan dengannya. Ketika aku berhadapan dengan sosoknya. Ketika dia menyematkan cincin permata yang berkilauan di jari manis ku. Bahkan ketika tepuk tangan riuh menyambut ciuman ringan yang ia berikan. Aku masih tidak merasakan apa-apa.
Seolah seluruh hatiku kebas. Bahkan aku sempurna mati rasa ketika terus-menerus memaksa senyum yang tak bermakna.
Sorakan bahagia, irama suka cita. Senyum dan doa-doa. Semuanya seperti lelucon asing yang membuat semua luka-luka ku tertawa dengan gila. Hingga aku diamuk rasa sakit tak terkira karenanya.
"Miria...."
Suaranya begitu dekat. Mengikut detakan jantungnya yang berirama kuat. Ia meraih tanganku. Meletakkan di dadanya. Seolah memberitahukan debaran menggila yang ia rasakan akibat bahagia yang tak terkira.
"Hidupku adalah milikmu. Seluruh cintaku adalah untukmu. Baik dulu, sekarang, maupun di masa mendatang. Semuanya selalu sama. Aku hanya menyimpan satu nama, dan itu adalah kamu Miria."
Biasan cahaya mentari di pagi menjelang siang ini tampak begitu indah membungkus siluetnya. Semuanya seakan mempertegas dalamnya makna kata yang ia ucap. Alam seolah memberikan pembenaran akan pengakuan itu.
Tidak ada yang bisa ku katakan untuk membalasnya. Yang bisa kulakukan dengan baik saat ini hanyalah meniru senyumnya. Mencoba terlihat seolah aku orang paling bahagia di dunia karena dicintai lelaki sebaik dia.
"Mari kita bahagia bersama, Miria."
Senyumnya semakin terlihat mengganggu di mataku. Senyum tulus dengan tatapan yang memuja. Dia lelaki yang dipenuhi cinta. Dan kabar buruknya cinta itu sudah bagai racun bagiku. Jadi ajakannya untuk berbahagia, tak ubahnya bagai undangan ke neraka.
Seumur hidup aku akan menerima cinta dari pria ini. Menerima dan terus menerima. Hingga akhirnya aku akan terkubur dalam rasa sakit lainnya. Karena balasan yang tak kunjung tiba. Selamanya aku hanya akan menerima dan terkurung dalam kegelapan karena tidak mampu memberinya hal yang sama.
Aku memiliki tiga tahun sia-sia yang membuat ku mati rasa. Dan lalu pria ini, dariku dia mendapatkan lima tahun sia-sia yang membuat ia tertipu oleh kebahagiaan yang fana. Dan fakta menyakitkannya, sampai akhir pun ia tak akan pernah sadar akan kebohongan itu.
Arexis yang malang. Sayang sekali cinta yang ia miliki harus tertelan percuma dalam kegelapan yang aku ciptakan. Dia dengan bodohnya telah terjebak dalam hitam yang pekat tanpa pernah menyadari hal itu.
Aku sudah memperingatkan dia jauh-jauh hari. Agar menyerah terhadapku. Namun dia dengan naif berfikir bahwa cinta yang ia miliki akan mampu mengubah segalanya. Dia begitu banyak membuang-buang waktu. Dan akhir yang ia dapatkan hanyalah sebuah kebohongan.
Dan hari ini. Ketika kami sempurna terikat dalam ikatan sakral pernikahan. Gerbang neraka dibuka perlahan. Setelah ini dan seumur hidup aku akan berkecimpung dalam kebohongan. Di tengah hati yang sempurna mati rasa. Aku sepenuhnya bermain di dalam neraka.
Sampai akhirnya pun, hanya satu nama yang ku bawa siang dan malam. Yang selalu ku bawa menari-nari di atas kobaran api neraka yang mematikan. Yang senantiasa ku genggam dalam kegelapan.
Dia yang merenggut semua rasa ku untuknya. Dia yang menjadi cintaku. Juga menjadi sedihku. Pun juga menjadi sesalku. Dan yang paling dasyat dari semuanya dia adalah kebencian terbesar yang aku pendam begitu dalam.
Wilar.... Satu-satunya yang akan aku kutuk sepanjang hidup ini. Meski di tengah ketidakberdayaan, cintaku masih melebihi segala-galanya.
Dan begitulah akhir dari kisah ini. Akhir dari tiga tahun yang sia-sia. Akhir dari lima tahun yang hampa. Akhir dari seluruh hidupku yang tenggelam dalam neraka. Akhir dari semuanya.
🥀🥀🥀🥀🥀
(11 Juni 2022; 0:50WIB)
****