Seorang gadis bernama Senja sedang memandangi suasana kota diatas balkon kamarnya. Dia cantik, matanya sipit dan rambutnya yang panjang sedikit keriting itu menambah kesan menarik.
Senja memiliki kisah cinta masa lalu sama seperti apa yang dirasakan gadis lain, cinta dimana ia sangat mencintai seorang cowok yang juga sangat mencintainya. Namanya Kala, teman satu sekolah dan satu komplek dengan Senja. Sudah lama mereka membangun hubungan kasih itu berdua. Mereka saling mencintai tanpa memandang kekurangan mereka masingmasing.
Hingga pada suatu hari Senja memutuskan hubungannya karena ia akan ikut keluarganya pindah ke kota Bandung di mana ayahnya bekerja. Walau sebenarnya Kala tidak rela dengan itu tapi ia berusaha bisa tersenyum di detik dimana Senja kesayangannya pergi ke Bandung. Rasa sakit itu Kala tahan, ia berharap perasaan Senja tidak akan berkurang sampai mereka kelak bisa bertemu lagi.
Kurang lebih dua tahun setelah kejadian itu, Senja kembali ke kota lamanya untuk menjenguk neneknya. Senja masih bertemu dengan Kala, ia sudah tumbuh menjadi pemuda yang tampan. Akan tetapi, Senja sudah menghapus perasaannya yang dulu kepada Kala.
Senja mendekati Kala yang sedang beristirahat di pinggir jalan. Sepertinya Kala habis berolahraga.
"Hai Kala, masih ingat aku tidak?." Sapa Senja kepada Kala.
Kala tersenyum, menurut Kala Senja sudah berubah. Ia semakin cantik, walaupun dulu ia juga cantik tapi sekarang Senja juga dewasa.
"Tentu aku masih mengingat mu, kamu cinta pertama ku mana mungkin aku melupakan mu. Bagaimana kabarmu Senja?." Tanya Kala.
Senja terpaku mendengar ucapan Kala. Ia berfikir apa Kala masih berharap untuk bersamanya lagi.
"Aku baik Kala." Jawab Senja.
"Kala, sepertinya ibu memanggil ku aku pergi dulu ya Kala. Sampai jumpa Kala." Senja meninggalkan Kala.
Kala hanya diam. Jantungnya masih berdetak cepat, sama ketika dulu ia berpacaran dengan Senja. Rasa cintanya pada Senja tidak kurang sedikit pun walau sudah dua tahun.
Malam hari Senja mengajak Kala untuk mengantarkan ke taman kota. Mereka berjalan berdua pergi ke taman. Taman yang memiliki banyak kenangan bersama Kala. Di taman itu Senja dan Kala bisa melihat taburan bintang yang indah.
Kala bicara dengan Senja bahwa ia masih mencintai Senja. Bahkan Kala jujur kepada Senja jika selama ini ia berusaha menjaga pola makan dan rajin berolahraga agar tubuhnya bisa sesuai postur yang Senja dulu inginkan. Tapi berbeda dengan Senja, dia tidak mempunyai perasaan lagi terhadap Kala. Dia tak ingin menyakiti perasaannya Kala lagi, ia takut Kala akan kecewa terhadap Senja. Senja pun mengajak Kala untuk pulang dengan alasan bahwa malam semakin sunyi.
Pagi harinya Senja bersiap untuk pulang ke kota Bandung. Sebenarnya masa libur Senja masih lama. Tapi Senja memilih untuk pulang dan melanjutkan masa liburannya di kota Bandung.
Senja melihat Kala dari kejauhan, wajahnya menapak kan bahwa ia tak rela jika Senja pergi. Senja semakin tak enak dengan hal itu, ia pun segera melajukan mobilnya cepat agar tak melihat kesedihan Kala.
Kala melihat mobil Senja yang semakin jauh dari jalan desanya.
Kala menangis saat itu juga, memegangi denyut jantungnya yang sangat nyeri.
Kala kecewa dengan sikap Senja, begitu cepatnya Senja menghapus cintanya.
Akhirnya Kala tak sadarkan diri dan jatuh di jalan itu. Warga disana yang melihat segera menolong Kala dan membawanya ke rumah sakit terdekat.
***
Senja kembali memasuki sekolahan nya, masa liburannya sudah habis dan ini waktunya ia bersekolah seperti teman lainnya. Sejak kepindahan nya di Bandung, Senja menyukai teman sekelas namanya Niko. Ia adalah cowok pemain basket yang tenar di sekolahan. Nico memang jarang berinteraksi dengan Senja. Tapi Senja yakin kalau Niko punya perasaan sama sepertinya. Senja selalu merasa bahwa Niko selalu melihat nya dalam diam. Senja tak mau berharap lebih dengan Nico jika memang dia bukan jodohnya ia bisa apa.
Hingga akhirnya Nico memberikan sebuah kalung berbentuk love. Dalam love itu tertulis nama Senja, berkilau indah karena kalung itu dilapisi emas. Senja menerima itu, setiap hari Senja selalu memakai nya.
Beberapa bulan berlalu hubungan Nico dan senja semakin dekat. Senja suka menghabiskan waktunya bersama Nico. Tapi anehnya Nico selalu meminta duit terhadap Senja. Dengan alasan untuk keperluan ibunya yang sedang sakit di rumah sakit Singapura. Senja percaya akan hal itu ia terus memberikan uang untuk Nico. Niat baik Senja ternyata hanya dimanfaatkan oleh Nico.
Diam-diam Nico juga mempunyai seorang pacar namanya Florin. Mereka sudah lama berpacaran kurang lebih selama dengan Senja, Nico sudah berpacaran dengan Florin.
Senja kecewa dengan tindakan yang Nico lakukan. Ia pun segera mengakhiri hubungannya, hatinya kecewa. Senja pun menjadi teringat dengan Kala yang berada sendirian di kota lamanya. Ia selalu mencintai Senja dengan tulus meskipun jarak menjauhkan mereka berdua. Bahkan dua tahun berlalu Kala masih tetap setia bersama Senja.
Setelah itu Senja dan Nico menjadi jauh. Mereka di kelas tidak saling sapa maupun berkomunikasi. Senja juga cuek dengan keberadaan Nico disana, niatnya bersekolah hanya untuk mencari ilmu. Malam saat Senja sedang tertidur nyenyak, Senja bermimpi bertemu dengan Kala. Tapi kondisi Kala memprihatinkan kala terbaring lemah di rumah sakit. Banyak alat yang menempel di tubuhnya, Kala sakit parah. Senja terbangun dari tidurnya hatinya khawatir dengan kondisi Kala. Malam itu ia tak bisa tidur dan terus memikirkan tentang mimpinya.
Saat Senja bangun, ia mendapat kabar buruk dari Mamanya bahwa Kala telah tiada tentu itu membuat Senja sangat kaget, Senja menyesal sudah meninggalkan Kala dan menyiakan cinta tulus Kala.
Bersama keluarga kecil Senja pergi mengantarkan jenazah Kala ke peristirahatan terakhirnya. Senja terus menangis selama perjalanan, Senja merasa bersalah karena tak bisa mencintai Kala hingga Kala meninggalkan dunia untuk selamanya.
Hati senja sakit melihat kain putih yang sedang diazani oleh ustad di kota itu. Setelah semuanya selesai, semua orang pergi meninggalkan tempat pemakaman. Tapi tidak dengan Senja ia sedang menangis sambil memeluk tanah kubur Kala.
"Kala maaafin Senja udah ninggalin Kala, Senja nggak tau kalau Kala sedang berjuang melawan Kanker otak hiks. Senja salah sama Kala waktu Kala ungkapin perasaan itu lagi. Senja nyesel Kala...... Senja mohon Kala bangun hikss Senja butuh Kala."
Senja terus menangis dan tak ingin meninggalkan tempat itu. Ia tak mau membiarkan Kala sendirian di tengah pemakaman. Keluarga Senja terus membujuk agar Senja mau pulang ikut bersama mereka. Akhirnya Senja ikut pulang bersama keluarga nya.
"Aku pulang ya Kala..... Besok kalau Senja libur bakalan kesini jengukin Kala. Kala jaga kesehatan disini ya sampai bertemu di alam mimpi Kala, muachh." Senja mencium kayu yang bertulisan Kala.
Berat rasanya ia harus meninggalkan Kala sendirian untuk yang ketiga kalinya. Senja ingin disini terus bersama Kala, ia merasa sangat bersalah ketika Kala benar-benar meninggalkan nya selamanya.
***
Semenjak kepergian Kala, Senja selalu menangis di setiap malamnya. Ia mengingat kenangan yang ia lalu i bersama Kala. Dan disetiap Senja sedih ia selalu merasakan ada yang memeluknya. Ia selalu tenang dengan pelukan itu hangat dan penuh kasih.
Tapi tubuh Senja merasakan sakit yang amat saat berada di pelukan itu. Ia seperti terpisahkan oleh dua alam yang berbeda.
Orang tua Senja membawa Senja ke salah satu rumah sakit yang menyediakan psikiater yang terkenal baik. Senja disana diobati agar rasa sakit yang ia rasakan itu berkurang. Akan tetapi itu hanya sia-sia sakit yang diderita Senja semakin parah. Senja tak dapat berdiri dengan sendirinya.
Senja selalu merasa jika setiap aktivitas nya selalu diawasi seseorang. Tapi Senja selalu mengawasi seseorang itu ketika Senja tidur. Ia bisa merasakan tangan orang itu selalu mengelus pucuk rambutnya dengan kasih sayang. Memijat kaki dan tangan Senja dengan lembut. Tapi ketika Senja membuka matanya ia tak menemukan sosok itu. Hanya kesunyian saja yang bisa ia rasakan di sekeliling nya.
Senja dibawa ke sebuah dukun terkenal di suatu desa. Dan dukun itu mengatakan bahwa Senja diikuti oleh sosok gaib yang berbeda alam. Dan dukun itu sedikit memberikan gambaran kepada Senja tentang sosok itu. Senja terdiam ia mengingat tentang kebaikan Kala diwaktu masih hidup. Senja merasa bahwa orang yang selalu ada di dekatnya itu bukan setan yang berbahaya melainkan arwah Kala.
Orang tua Senja menyuruh dukun itu agar sosok itu diusir pergi dari rumah mereka. Akan tetapi kondisi Senja bukan semakin membaik tapi malah memburuk. Mereka pun hanya diam dengan hal itu membiarkan sosok itu dapat berinteraksi dengan Senja secara langsung.
"Asal tidak mengganggu Senja, dia ada disini gak papa mah, pah." Ucap Senja tersenyum menyakinkan kepada orang tuanya.
***
Di saat Senja dirawat dirumahnya, datanglah teman dari ayahnya dari luar negeri, yaitu Aska wajahnya sangat mirip sekali dengan Kala yang sudah tiada.
Lelaki itu mendekat lalu menyentuh kening Senja. Senja terdiam melihatnya disitulah ia merasa bahwa yang sedang berhadapan dengannya itu adalah Kala. Ia pun memeluk erat tubuh Aska, Senja menangis terisak di sampai membasahi baju Aska.
"Kala?! Kamu pasti Kala." Ucap Senja dengan air mata yang menetes.
"Aku Askala." Kata lelaki itu.
Senja menggelengkan kepalanya ia tak percaya dengan situasi ini.
"Kamu Kala bukan Askala, kamu sudah meninggal dan sekarang kamu hidup lagi." Senja tersenyum ke arah Aska ia benar-benar bersyukur kepada Tuhan.
"Aku tidak kenal siapa itu Kala." Ketus Aska lalu menyuapi Senja bubur yang ada di meja.
Aska menyuapi Senja dengan tenang, hingga bubur itu habis. Aska membenahi selimut Senja lalu berucap.
"Tidurlah jangan banyak berhayal. Aku akan selalu ada di sampingmu." Kata Aska menggenggam jari-jari tangan Senja.
Sejak hari itu, Aska pindah ke rumah Senja dan membantu merawat Senja hingga sembuh total. Dan sejak itu juga kondisi Senja semakin membaik. Senja juga bingung, entah apa yang menyebabkannya, tapi pada akhirnya Aska meminta ayahnya untuk pindah ke Bandung. Senja senang dengan kabar itu ia terus memeluk tubuh Aska setiap hari. Senja bisa merasakan bahwa Kala yang dulu telah ber Reinkarnasi menjadi Askala yang sekarang ada disampingnya.
Ia juga mengerti sekarang bahwa kehidupan kembali itu nyata dan benar-benar ada di bumi.
Aku beruntung...
Kamu yang pergi datang kembali...
Walau namamu bukan lagi Kala...
Kamu tetap sama...
Kala yang selalu mencintai ku...
Dulu...
Sekarang...
Dan selamanya...
Love you Askala...