Rasa hangat berbaur dengan lembutnya hembusan angin sore melingkupi seluruh tubuh. Dikursi taman tak jauh dari jalan raya, tampaklah sesosok gadis berparas cantik yang tengah menikmati indahnya senja di pertengahan kota.
Namun berbeda dari raut wajahnya yang menggambarkan kemarahan dan kekecewaan yang amat mendalam. Ya! Gadis berparas cantik ini sedang dalam keadaan yang mengenaskan, semua yang ia punya selalu menjadi rebutan orang yang tak lain dan tak bukan adalah adik tirinya sendiri. Berkali kali ia menghela nafasnya, setiap kali orang yang melihatnya merasa iba akan gadis berparas cantik ini. 'Hahh' helaan nafas pun terdengar kembali.
"Ck. Itu si serigala berbulu domba kayaknya minta ditonjok deh" ujar sang gadis kesal.
Setelah puas mengeluarkan uneg-unegnya, si gadis dengan nama Athena Deventer itu pun beranjak dari taman tersebut menuju salah satu flat yang dimilikinya untuk mengistirahatkan otaknya sejenak sebelum ia mengadakan acara balas dendam kepada adik tirinya.
Sesampainya diflat-nya, Athena langsung menuju kekamar mandinya guna membersihkan diri.
“SEMANGAT AKU PASTI BISA, BISA APA? BISA EDAN” Teriak Athena dari kamar mandi, dilanjutkan dengan nyanyian yang, yeah u know that.
“Eh eh by the way, kan ada tuh mitos larangan nyanyi dikamar mandi biar ga diikuti penunggunya, nah kalo bawa ponsel ke toilet terus nyalain lagu dari artis terkenal gitu. Yang diikuti siapa ya? ponselnya or artis yang lagi nyanyi diponselnya?” monolog Athena.
“Bodo amat deh, yang ikan diair terus tapi masih bau aja belum kelar”
Sesudah ritual mandinya, Athena segera memasak makanan guna menghilangkan rasa lapar. Setelah dirasa sudah kenyang dan selesai mencerna makanan-nya, ia lanjutkan dengan bermain ponselnya sampai-sampai ia tertidur.
ATHENA POV.
drrttt... drrttt... drrttt
Bunyi getar ponsel membangunkan ku dari tidur nyenyak yang sangat sangat aku dambakan. Aku lihat layar ponselku menyala terang padahal aku tidak suka melihat layar ponsel yang terlalu terang dan otomatiskan aku juga tidak men'setting layar sangat terang bukan?, aku juga melihat bahwa yang meneleponku bukan siapa siapa alias 'nomor tidak dikenal'.
Sebenarnya aku sedikit takut karena ini masih tengah malam, tapi ku coba beranikan diri untuk mengangkat telepon dari nomor tidak dikenal ini dengan harapan yang menelepon adalah calon jodohku, ahihihihi.
Aku mengambil nafas dalam dalam agar diriku menjadi sedikit lebih tenang, dan aku menjawab panggilan tersebut
“Halo, dengan Althea disini”. Aku sengaja memakai nama samaran yang biasanya aku siapkan untuk teman-teman onlineku.
“...”
Aku sedikit merinding sebab pihak lain yang meneleponku tak kunjung menjawab dan hanya terdengar suara nafas beraturan. Aku beranikan diri berbicara dan bertanya.
“Halo, dengan siapa disana? ada yang bisa saya bantu?”
“...”
Tak terdengar lagi, hanya suara nafas beraturan tadi saja. Sial! membuat kesal saja, karena kepalang kesal kumatikan saja teleponnya.
TAPI
Sebelum aku memencet tombol akhiri panggilan, sebuah suara ceria datang dari pihak penelepon yang membuatku terkejut setengah mati.
“Halo kak Athena, apa kau ingin balas dendam?” Suara yang sangat imut tapi tidak dengan kalimatnya.
“A-apakah kita kenal?” tanyaku terbata-bata. Serius, aku takut. Kenapa juga dia tau nama asliku???
“Hehehe itu tidak penting, apakah kau ingin membalaskan dendam mu kepada adikmu itu? Oh ralat adik tiri hihi” Aku terdiam sejenak. TUNGGU, KENAPA DIA TAU KALAU AKU INGIN BALAS DENDAM DENGAN ADIK TIRIKU ITU??!!
“Siapa kamu??!” Tanyaku sedikit berteriak
“Jika kau ingin tau, kau bisa menemuiku setelah kau mau membalaskan dendammu bersamaku, tapi bisakah aku yang bergerak dahulu untuk membalaskan dendam itu?” Aku tak mengerti, suara ini seperti laki laki tapi nadanya imut sekali.
“Baik, aku mau. Tapi aku ingin tau apa tujuanmu membalaskan dendam bersamaku sedangkan kita tidak saling mengenal?” Tanyaku pada dia.
“Karena kita mempunyai dendam yang sama” Mendadak suara imut menghilang digantikan dengan suara datar juga dingin. Sekujur tubuhku merinding, lalu terdengar panggilan yang terputus.
“Dia mematikannya” Tak berselang lama, aku menghela nafas lega. Kemudian aku melanjutkan acara tidurku yang sempat terganggu oleh makhluk tak dikenal itu.
Mataku mengerjap pelan, dinginnya hembusan angin dan suara gerimis hujan bersatu padu. Ku lihat dijendela, mendung dan sekilas kilat tampak menyambar.
“Sial, aku membenci ini. Hujan dipagi hari membuatku menjadi perempuan pemalas” Aku mengerucut kan bibirku mencebik kesal.
ting... tong...
Apakah tamu datang dipagi hari? sungguh sial sekali pagi ini. Aku membuka pintu flatku, dan hanya menemukan sebuah kotak misterius yang tidak terlalu besar dengan sticky notes bertuliskan 'Open me please'.
Tak banyak berfikir aku membawa kotak misterius tersebut kedalam kamar flatku. Aku yang pada dasarnya penasaran dan segera membuka kotak tersebut dan aku hanya menemukan flashdisk.
Segera setelah melihat flashdisk tersebut, aku pun menancapkan flashdisk pada ponsel yang sekarang sudah kupegang.
“Apanih? Apanih? File dari siapa ya?”
Aku melihat ada dua file tanpa nama. Langsung saja ku tekan file yang paling atas. Dari situ aku shock berat, aku melihat sebuah foto yang diambil dari cctv yang menampilkan adik tiriku yang dirantai layaknya hewan peliharaan dengan tubuh yang telanjang didepan lelaki tua gendut, tampak sedang menggoda. Segera aku kembali dari halaman file satu, Masih terngiang dibenakku wajah dan badan telanjang adikku yang terpampang jelas.
Sambil mencoba mengalihkan pikiranku, aku membuka file kedua dengan hati-hati. Tapi yang aku temukan hanyalah sebuah alamat misterius, dengan tambahan catatan 'Mau bertemu bukan?'.
“Wow, dia mengerikan dan aneh” monologku tak percaya.
Segera aku bersiap-siap berangkat menuju alamat yang orang misterius itu cantumkan dalam file sekalian membawa flashdisk tadi.
Karena hujan mulai turun dengan deras, aku terpaksa memesan taksi dan merelakan uang yang tidak ada seperempatnya dari uangku sebenarnya. Tapikan gak relaa.
“Alamatnya non?” Tanya pak supir taksi.
“Dialamat ini pak” Aku memberi tau supir taksi dengan menunjukan alamat yang tadi diberikan.
Mobil sudah berjalan, hujan semakin deras dan kilat terkadang menyambar. Tak lama kamipun sampai, lalu aku pun membayar uang taksi kepada pak supir dan berterima kasih.
Aku langsung berlari masuk kedalam gerbang besar yang mungkin telah dibukakan untukku karena orang misterius itu tau aku akan 'berkunjung' menemuinya.
“Sial, jadi basah bajuku. Tadi kenapa juga lupa ga bawa payung” Aku mencebik kesal, aku baru menyadari bahwa rumahnya sedikit lebih besar dari rumah utama milik orang tuaku.
“Permisi, nona?” Aku terkejut sampai hampir terpeleset diteras rumah tersebut.
“D-dengan siapa yaa, Pak?” Tanyaku kepada seorang lelaki tua berjenggot putih rapi dan kacamata bundar miliknya yang bertengger diatas hidungnya.
“Nona bisa memanggil saya paman butler nona” Aku hanya menganggukkan kepalaku dan membulatkan mulutku.
“Apakah benar ini adalah alamat tersebut paman?” Tanyaku sembari memberitahukan alamat yang diberikan orang misterius kepadanya. Aku melihat paman butler mengangguk sembari menjawab “Betul nona, silahkan ikuti saya dahulu nona”
“Baik paman”
Aku mengikuti dia, diperjalanan aku melewati lorong dengan lumayan banyak lukisan wanita cantik dan keluarga yang bahagia. Sesampainya diruangan yang aku yakini ini ruang tamu, aku dimintai tolong untuk duduk dan disuguhi berbagai macam cemilan juga teh hangat.
Aku terlalu fokus memakan cemilan dan meminum teh hangat sampai sampai tak menyadari ada orang yang sedang melihatku diarea tangga ruang tamu yang menggabungkan lantai satu dengan lantai dua.
“Apakah enak kak?” Aku reflek tersedak ketika mendengar suara tersebut, langsung menyambar teh yang ada didepanku.
“*Uhuk *uhuk K-kau bukankah yang ada ditelepon tengah malam itu?” Tanyaku heran. Aku sempat terkagum-kagum melihat wujudnya yang tampan, tapi dari yang aku lihat dia lebih muda dariku.
“Hehe kau pintar sekali kak” aku mengangguk, masih merasa kaget.
“Oh?” Aku menatapnya bingung, ia berjalan mendekat kearahku dengan senyum lucu dan eyes smile nya. Aku tau aku sedang merona melihat dia selucu itu.
“Apakah kau akan menggodaku dengan baju menerawangmu itu kak?” Aku terkejut, wajahku langsung tambah merona. Sungguh aku malu, ingin menggali lubang sajalah.
“A-apa maksudmu? t-tentu saja t-tidak, i-ini saya tadi kehujanan lupa tidak pakai jas hujan haha” Aku tertawa garing, malu aku dibuatnya.
“Bukankah kau memakai taksi?” APA-APAAN, DIA KOK BISA TAU? SEMAKIN MALU SAJA MENDENGARNYA. Aku memalingkan wajah kearah lain, sementara aku berkata,
“Diamlah! k-kau mau apa hah? c-cepat beritahukan saya mengenai file i-itu” Sungguh aku kesal dan malu secara bersamaan.
“Lucu sekali kakak, kau sedang marah tapi sambil terbata” Aku melihat dia terkekeh singkat lalu duduk dikursi depanku yang diberi batas oleh meja kaca
“Jadi kak, kakak bisa beri ini kepada istri orang yang berada didalam file itu” Ujarnya sembari memberikan hardisk dan menaruhnya pada meja kaca.
“Apa yang ada didalamnya?” Tanyaku.
“Bukankah sudah jelas? ini adalah bukti kejahatan sekaligus bukti orang ini menduakan istrinya” Aku ber-o-ria saja
Setelah berbincang-bincang dengannya aku menjadi tau kalau lelaki itu bernama Gabriel Walt, ia adalah lelaki yatim piatu yang tinggal bersama dengan pelayan pemimpin yang biasa dipanggil paman Jack atau paman butler, dan aku juga tahu kalau ternyata adik tiriku seorang jalang yang pernah menyinggung perasaannya.
Sekarang aku sudah sampai diflatku dengan diantarkan oleh supir pribadi Gabriel. Aku masih bertanya-tanya, apa isi file tersebut.
Aku mencari hardisk ditas kecilku lalu memulai aksiku untuk mengidentifikasi orang yang ada difile itu.
Tak seperti sebelumnya, file ini terlihat rapi dengan nama nama aneh. aku memencet salah satu file, terlihat sebuah foto dan video cctv sebuah hotel 'cinta' yang menampilkan dua pasang orang yang setelah kuteliti, itu adalah adik tiriku sedang menggandeng seorang lelaki berperawakan besar juga sepertinya kolega papanya.
“Sial, bukankah ini kolega papa yang sudah beristri dan beranak empat itu?” Aku menyipitkan mataku, sambil melihat file file lain seperti bukti penyelundupan barang ilegal, narkoba dan obat obatan, perselingkuhan, penculikan, dan lain lain. Lumayan terkejut dengan fakta itu, lalu aku menyalin semua file kedalam file milikku sendiri.
drrttt... drrttt...
Suara dan getar ponselku mengalihkan fokusku pada file-file tersebut, aku melihat bahwa yang meneleponku adalah ibu sambungku yang bernama Luna. Sebenarnya papa sudah menikah 3 kali, yang pertama adalah ibu kandungku yang sudah meninggal karena kecelakaan
Papaku yang mengira aku kesepian, menikah lagi dengan seorang perempuan beranak satu yaitu ibu dari adik tirinya supaya aku memiliki teman bicara. Namun pada suatu hari papaku mengetahui bahwa ibu tiriku adalah jalang dan suka 'bermain' dengan lelaki kaya, hingga pada akhirnya ibu tiriku dibawa kekantor polisi oleh istri asli karena masalah perselingkuhan suaminya dengan ibu tiriku ketahuan, dan kelanjutannya aku tak tau.
Dan yang ketiga adalah ibu sambungku, Papaku yang sedang dilanda masalah anak perusahaannya dan juga masalah istri kedua yang selingkuh darinya membuat dirinya merasa seperti tidak berguna. Hingga pada suatu hari papa bertemu kembali setelah ibu sambungku selesai dengan studynya diluar negri, sosok ibu sambungku yang aslinya adalah teman kecil papa selalu men-support dirinya, membantunya jika ia sedang ada masalah, dan lain lain. Akhirnya karena mereka saling nyaman, mereka melanjutkan kejenjang yang lebih serius, yaitu pernikahan.
Kembali pada cerita, Aku menjawab teleponnya, “Halo ma”
“Hello sweetie, gimana kabarnya? kenapa gak pulang kerumah hm?” aku menggaruk kepalaku yang tidak gatal.
“Baik ma, mama sendiri gimana?. Kalo masalah pulang kerumah itu nanti aku pikir pikir dulu lah ma” Jawabku
“Mama juga baik. Sweetie, dalam dua hari kedepan akan ada perayaan ulangtahun pernikahan ny. Johansson dan tn. Johansson yang ke-15 tahun, bisakah kau menemaniku? jika aku mengajak adik tirimu, aku takut dia membuat masalah yang tidak tidak” Aku memikirkan tawaran ibuku, tunggu! bukankah ini menjadi sebuah kesempatan untuk 'memberi kejutan' kepada ny. Johansson?. Lantas aku mengiyakan tawaran ibuku.
—
Dua hari berlalu, hingga pada akhirnya harinya tiba. Aku saat ini tengah berbincang dengan adik dari ny. Johansson, yang bernama Yuna, sedangkan ibuku berbincang dengan nyonya lainnya. Yuna dikenal aktif dikalangan penggosip ria dan pas nya lagi, ia bisa kumanfaatkan bukan?
“Oh apakah ini anak tuan Damian? Cantik sekali” Aunty Yuna memandang kagum pada diriku yang saat ini memakai dress biru muda pressbody yang cocok dengan auraku yang muda.
“Hello aunty” Aku tersenyum ramah.
“Maaf permisi aunty, letak kamar mandi ada dimana ya? bisakah kau mengantarkan ku kedepan toilet? maaf mengganggu mu aunty’’ Ini kesempatanku.
“Oh? Baiklah ikuti aku manis, hahaha” Aku mengikutinya, hingga hampir sampai kedepan toilet. Aku sengaja memasukan hardisk yang diberi Gabriel kepadaku kedalam tas milik aunty Yuna yang terbuka sedikit tanpa menimbulkan kecurigaan.
Selesainya aku buang air kecil, aku lalu mengajak aunty Yuna untuk kembali kedalam acara. Beberapa jam kemudian akhirnya acara telah selesai dan aku diajak ibuku pulang kerumah utama yang langsung aku iya kan.
AUTHOR POV.
Minggu pagi yang cerah, dari balik tirai nampaknya matahari tak malu malu untuk memancarkan sinarnya memberikan kehangatan dipagi yang dingin. Seorang gadis cantik berpiyama panda itu terbangun dari tidur singkatnya. Gadis itu berjalan ke arah jendela, dibukalah tirai berwarna putih elegan itu menampilkan matahari dengan sinar terang nan hangatnya. Terlihat disana, langit biru tanpa adanya awan mendung yang menghalangi. Dilihatnya daun daun dari pohon sedang menari seakan ada musik yang mengiringi. Terdengar kicauan burung yang hinggap diranting pohon seakan mereka sedang bernyanyi dengan suara yang merdu dan nyaring didengar. Sungguh memukau.
Gadis itu berjalan menuju ke lemari yang bersebelahan dengan meja yang biasanya digunakan untuk merias diri. Ia mengambil pakaian santai berwarna kuning dan bercorak warna hijau toska, lalu ia berjalan ke arah suatu ruangan yang lebih dikenal dengan kamar mandi. Ia melepaskan piyama yang singgah ditubuhnya. Selesai sudah ritual pagi harinya yaitu mandi.
Gadis yang tadi berpiyama panda sekarang sudah berganti menjadi gadis berpakaian santai, ia berjalan menuju ke meja rias. Rambutnya ia cepol, dia memoles bedak sangat tipis lalu memakai lipbalm supaya bibir tipis nan cantiknya terlihat lembab dan tidak kering. Ia tidak menyukai riasan yang tebal apalagi sampai warna riasannya mencolok, terlalu aneh menurutnya.
Selesai kegiatan itu, terdengar suara langkah seseorang sedang berjalan ke arah kamar seorang gadis itu. 'Tok tok tok' suara pintu diketuk dengan nyaring terdengar sampai telinga seorang gadis yang berada di depan cermin rias, yaa dia adalah Athena
"Masuk saja, pintunya tidakku kunci" Ucap Athena yang sedang duduk di kursi rias nya. Lalu masuklah seseorang berseragam pelayan yang sedang menunduk kan kepalanya tanda menghormati tuannya
"Nona muda, anda dipanggil ke ruangan makan untuk sarapan bersama" Kata seorang pelayan itu.
Athena pun menjawab, "Baiklah tunggu sebentar ya"
Dan pelayan itu pun menganggukan kepala nya sebagai jawaban. Athena dan seorang pelayan di belakangnya berjalan ke arah tangga untuk turun ke ruang makan. Sesampainya disana ia ternyata sudah ditunggu oleh orang tuanya, seorang lelaki tua, dan Gabriel. ya lelaki tampan dan imut itu juga disini.
“Gabriel?” Tanya Athena memastikan.
“Oh? Halo kakak” Jawab Gabriel sembari tersenyum lucu.
“Apakah kalian saling kenal?” Tanya Papa pada Athena.
“Ya kami memang sudah saling kenal”
“Hohoho bukankah menjadi gampang sekarang?” Suara seorang lelaki tua terdengar, yang Athena yakini sebagai kakek Gabriel karna sekilas Athena pernah melihat sebuah foto keluarga yang terlihat bahagia kala Athena mengunjungi rumah Gabriel
Athena duduk disebelah kanan Gabriel sedangkan Papa dan mamanya duduk tepat depannya, juga kakek Gabriel yang duduk ditempat kepala.
"Selamat pagi Athena, bagaimana tidurmu?" Tanya papanya sembari menunggu roti yang sedang diolesi selai coklat oleh ibunya.
"Tidak ada yang menarik pa" Ujarnya menjawab pertanyaan sang papa. Ia mengambil roti selai coklat itu dari tangan ibunya lalu ia memakannya, ia juga melihat ibunya memberikan roti dengan selai cokelat pada Gabriel dan kakeknya.
Selesai sarapan bersama, kami melanjutkan mengobrol santai diruang keluarga. Athena mendengar mereka membicarakan tentang perjodohan.
“Ekhm, Jadi kami ingin menjodohkan kalian berdua bukan untuk masalah politik ataupun bisnis, namun kami ingin kalian menjadi satu. satu Tuhan, satu iman, satu baptisan. Kami bertiga mengharapkan itu, tapi kami tak akan memaksa jika kalian tidak ingin terikat perjodohan ini” Ujar Kakek Gabriel yang membuat Athena lumayan terkejut dengan penuturannya.
“Gabriel akan menerima perjodohan ini dengan hati tulus dan sangat tidak terpaksa” Terima Gabriel yang membuat ketiga orang tua itu menjadi senang.
“Dan kau Athena?” Athena bukan terlihat bimbang, tetapi karena Athena masih ingin melajang dan bebas.
Tapi sepertinya semua tau itu karena Gabriel menjawab keluh Athena dalam batinnya, “Kakak tak perlu khawatir, aku tak akan mengurungmu dalam rumah ku esok”
“Baiklah, Athena menerima perjodohan ini dengan hati tulus dan tanpa keterpaksaan” Final Athena.
ATHENA POV.
Beberapa jam kemudian, kami mendengar berita bahwa adik tiriku digrebek dan ditangkap didalam sebuah flat mewah dengan lelaki hidung belang, dan adikku sepertinya akan ditahan seumur hidup dipenjara.
Aku melihat papaku yang nampak biasa saja mendengar berita itu seakan tak ada urusannya dengan dia. Lalu aku melirik Gabriel yang ternyata juga melihatku dengan senyum lucu khasnya. Aku memalingkan wajahku yang rasanya seperti kepiting rebus.
Beberapa bulan setelah aku bertunangan dengan Gabriel, kami akhirnya memantapkan hati untuk menjalin hubungan kejenjang yang lebih serius dan membuat acara resepsi yang sederhana dan hanya diikuti oleh sahabat dan teman dekat kami saja
Dan cerita ini diakhiri dengan Athena yang melahirkan buah hati kembar bernama Emillia Walt dan Emillio Deventer.
【END】