Namaku Siti Nirmala, aku adalah seorang istri dari mas Indra yang usianya beda lima tahun lebih tua dariku. sudah 6 bulan ini aku di tinggal merantau suamiku ke pulau seberang dan akhirnya hari yang kutunggu tiba, hari dimana suamiku akan pulang ke rumah.
Aku sangat bahagia saat beliau mengabari bahwa dia sudah sampai di pelabuhan dan siap untuk menyeberang ke kota kami. itu artinya 3-4 hari lagi beliau sampai di rumah.
karena terlalu bahagianya, malam ini aku tidak bisa memejamkan mata. aku bermain gadget di dalam kamar.
drrrtt... drrrtt...
tiba tiba ada nomor asing menelpon, kulihat jam sudah menunjukkan pukul 23.35. karena ku kira telpon darurat ku geser tombol hijau.
"Hallo, Assalamualaikum".
"____". Tak ada jawaban apapun
"Hallo, dengan siapa ya?". masih tidak ada jawaban.
"sayang". aku terkejut. siapa ini beraninya manggil begitu, tapi suaranya seperti mas Indra tapi serak dan berat
"mas Indra?"
"____". terus diam dan tak ada lagi sahutan
Dengan masih wajah bingung dan penasaran, ku akhiri panggilan. setelahnya aku terlelap sampai subuh datang.
sore hari ini seperti biasa sepulang bekerja aku beres beres rumah dan memasak makan malam untuk diriku sendiri.
tok.. tok.. tok..
hingga tiba tiba pintu rumah diketuk, siapa sore menjelang magrib begini bertamu, gak biasanya ada yang datang.
ceklek.... kriieeeett...
"Astagfirullahal'adzim". aku terperanjat siapa di hadapanku
"mas?". tanyaku masih terkejut
beliau tersenyum hangat padaku. ada bahagia tapi heran kenapa cepat sekali sampai rumahnya? tidak seperti biasanya yang memberi kabar dahulu, menanyakan pengen makanan apa dari kota, mau ini apa mau itu.
ku lihat tangannya gak ada bawa bungkusan apa apa selain tas ransel di pundaknya, tapi aku diam saja karena suami pulang pasti capek. ku Salami tangannya lalu sambil beranjak masuk ku tawari mandi air hangat karena tangannya dingin sekali.
"mas, mandi dulu ya, ku siapkan air hangat atau mau makan dulu?" tanyaku sambil menggelayuti lengannya
" gak perlu, mas mandi air dingin aja, kamu siapkan masakanmu setelah sholat kita makan malam ya". " katanya sambil tersenyum dan membelai wajahku
"iya mas" aku menurut saja
tiba tiba beliau menangkup pipiku, menatapku dalam dan membawaku kedalam pelukannya
"maafin mas ya, gak bisa nepatin janji mas, gak bisa buat kamu bahagia, gak bisa nemenin kamu terus, tapi satu yang harus kamu tau, mas sangat bahagia bisa menikah dengan mu".
"iya mas gak apa apa, aku juga bahagia kok bisa mengenal dan menikah dengan mas" kataku sambil melepas pelukannya dan memberikan senyum terbaikku untuknya.
"ya udah mas mandi dulu ya"
"iya mas".
saat mas Indra selesai mandi, aku hampir menyelesaikan masakanku. setelahnya aku masuk ke kamar mandi bersih bersih dan bersiap untuk sholat, saat berganti pakaian terlintas ada yang aneh menurutku tapi apa?. tak ku hiraukan apa itu, aku segera menyusul mas Indra untuk ibadah
setelahnya kami makan malam dengan masakan sederhanaku, karena mas Indra memberi kejutan datang lebih cepat dari perkiraan. jadi kami makan seperti aku makan sehari hari tak ada yang spesial.
"maaf ya mas lauknya cuma ini doang, padahal niatnya besok aku belanja buat masakin kamu yang spesial". kataku dengan raut wajah menyesal
"iya gak apa apa, jangan sedih gitu dong, ini enak banget kok beneran, mas udah rindu banget sama masakan kamu, disana gak ada yang begini. kita lanjut makan lagi ya" katanya lalu makan dengan lahap.
"iya mas, makasih". kataku dan lanjut makan. tapi saat mas Indra sudah selesai makan dan minum teh manis panas buatanku.
"maaasss". aku terkejut, Karena teh panas itu baru sekitar 10 menit yang lalu aku tuang dari air mendidih untuk buat teh manis untuknya.
"mas gak apa apa?" tanyaku cemas memperhatikan mulut dan lidahnya.
"tidak apa apa, memang kenapa?"
" itu tehnya kan masih panas perlahan minumnya mas, nanti mas terluka".
"tidak, sudah hangat tehnya". jawabnya tenang
"syukurlah" kataku sambil menyentuh gelas teh ku sendiri. 'panas' batinku
setelahnya kami duduk seraya menonton televisi, sambil mas Indra memelukku erat
"mas setelah ini mas udah tidak merantau lagikan?" tanyaku setelah sekian lama. ku perhatikan wajahnya pucat dan tangan yang memelukku pun dingin.
" mas sakit?" tanyaku. tapi belum di jawab juga pertanyaanku, beliau hanya menatapku intens
"mas pergi dulu ya, mas usahain pulang cepat nanti" katanya dengan tatapan sendu
"mas mau kemana? beli obat?. tanyaku tak di jawab, ku ikuti sampai pintu depan
Saat sudah keluar beliau hendak menutup pintu tapi kutahan, dia tatap aku lagi dengan intens "jangan lupa kunci selalu pintunya". katanya dengan senyum setelahnya beliau pergi dan aku mengikuti perintahnya mengunci pintu. tanpa berfikir macam macam
aku menunggu mas Indra pulang dengan cemas, entah kenapa perasaan ku gelisah tak tenang, sekarang sudah pukul 23.15. ku telepon nomornya tidak aktif, kurebahkan tubuhku di tempat tidur menunggunya pulang
drrrtt..drrrtt...
vibrasi gadget ku membuatku kembali bangkit. ku lihat ternyata nomor asing kubiarkan saja hingga mati
ternyata menelpon lagi langsung saja ku geser gambar telepon hijau
"halo assalamu'alaikum" kataku
"wa'alaikumsalam, selamat malam dengan ibu Siti Nirmala?". tanya diseberang telepon
"benar sa..saya sendiri, ada apa ya? ini dengan siapa? mengapa menelpon saya malam malam?". tanyaku cemas sambil berdiri mondar mandir di dalam kamar
"begini buk, kapal xyz yang berangkat dari pelabuhan A menuju pelabuhan B kemarin hilang kontak, dan setelah di telusuri ternyata dinyatakan tenggelam, kami dari pihak.....bla...bla..bla..".jelasnya.
kaki ku lemas tak sanggup lagi berdiri, itu kapal yang sama yang di naiki mas Indra?. tak ku dengarkan lagi orang ini bicara apa, tubuh ku lemas, badan ku terhuyung ke tembok, badanku merosot ke lantai. air mataku mengalir dengan derasnya, aku menangis tanpa suara. bukan karena kutahan tapi dadaku sesak sekali tak sanggup mengeluarkan suara
kupukul lemah dadaku, kapal mas Indra tenggelam? hiks..hiks.. jadi takkan sampai rumah dengan sehat?
deg
lalu yang pamit pergi beberapa jam yang lalu siapa? entah memang tertidur atau pingsan aku tersadar dengan beberapa orang ada di sekitarku tempat tidurku. mereka menjelaskan padaku dan aku hanya bisa menangis terisak kembali.
Tamat
materi bisa di cari, tapi waktu tak bisa di putar kembali. nikmatin waktumu dengan orang tersayang mu selagi mereka bisa kau sentuh, bahagiakan orang di sekitarmu selagi masih diberi waktu