Hari kedua di waktu libur dan aku masih belum meluluhkan hati papa dengan mama. Mereka masih enggan melakukan liburan yang aku maksud. Bahkan tadi mama kesal terhadapku yang terus memohon.
"Wajibkah? Jika setiap liburan harus jalan-jalan mengunjungi suatu tempat. Ini jugakan liburan di rumah, istarahat dan terbebas dari tugas atau pekerjaan lain." Seperti itu yang mama ucapkan, selebihnya masuk kuping kanan dan keluar kuping kiri.
Meskipun yang dikatakan mama ada benarnya, tetapi sesekali juga butuh suasana yang berbeda. Masa itu-itu saja; kamar, kamar mandi, dapur, ruang tv, dan teras belakang. Setiap hari seperti itu, sangat monoton bukan?
Akibat insiden tadi pagi, akhirnya aku menerima hukuman. Di perintah membeli bahan-bahan dapur. Dengan mengenakan celana panjang warna denim berbahan katun dan kaos putih yang dibalut jaket merah maroon. Styles untuk berbelanja.
"Jangan sampe ada yang kelupaan, kurang, atau kelebihan. Ingat itu, kembaliannya boleh kamu ambil." Pesan mama yang awalnya ingin kuprotes, tetapi urung setelah mendengar kalimat ke dua.
**
"Ini totalnya jadi empat puluh sembilan ribu, dek, " ucap seseibu setengah baya sembari memberikan kembalian bernilai seribu rupiah.
Aku hanya tersenyum menerima uang tersebut dan melenggang pergi dari sana. "Pantas saja, nyatanya cuman seribu doang." Menatap nanar ke arah logam yang akhirnya kumasukan ke saku jaket.
Menuju pulang, aku cukup kesusahan karena barang yang kubawa lumayan banyak, apalagi ada telur yang mudah pecah sehingga harus ekstra hati-hati. Begitupun setiap langkah aku malah menggerutu. Misi ke dua gagal dan ini harus berbelanja. Hari libur yang malah bikin tersiksa. Sedikit mendrama tidak apalah.
Saat beberapa langkah akan berbelok memasuki gang, aku menangkap siluet laki-laki yang duduk di pos ronda. Tempat yang akan aku lewati.
"Rin!" Dia memanggil sembari berdiri karena aku melihat saat menoleh ke arahnya.
"Iya, ada apa?" tanyaku sembari melepaskan barang dan kumanfaatkan untuk meregangkan otot-otot.
Sosok laki-laki merogoh ke saku jaketnya dan mengeluarkan satu buah coklat denga pita merah jambu yang melilitnya. "Pulangnya lewat rumah Anggita, 'kan? Ini sekalian nitip, ya?"
Aku hanya mengangguk-angguk dan mengambil makanan manis itu, tanpa memikirkan hal apapun. Setelah menerima dan memasukan ke saku jaket, cepat-cepat pergi meninggalkan dia. Siapa lagi kalau bukan Radin yang semalam tiba-tiba mengirim pesan.
Untunglah, rumah Anggita dan rumahku tidak saling berjauhan. Pertama-tama menyimpan belanjaan diteras rumah lalu menuju rumah yang dituju. "Permisi, Anggita!"
Dua kali aku berteriak, tetapi tidak ada respon. Suasananya pun sepi, sampai aku teringat sesuatu dan menepuk jidatku cukup kuat. "Dodol! Gita, kan, lagi ke semarang ke rumah neneknya. Kok bisa lupa, sih?"
Ya, Gita sudah ke Semarang sejak selesai pembagian rapot kemarin dan aku malah bisa lupa. Lantas bagaimana dengan nasib coklat ini yang bikin tergoda saja.
Akhirnya aku mengirim pesan ke Radin
Rinda :
Din, maaf aku lupa kalau Gita itu ke Semarang.
Entar aku balikin, ya, cokelatnya.
Tak butuh waktu lama Radin pun membalas.
Radin :
Eh!
Yaudah buat lo aja, deh
Hah?
Ini cuman perasaanku yang kegeeran kalau Radin sengaja, padahal dirinya kalau tidak salah tau akan hal itu. Akun jadi terheran karenanya. Kini aku mulai berpikirian macam-macam.
*****
"Halo!"
"Ya, halo, dengan siapa di sana?"
Akhirnya setelah ke tiga kali si penelpon dengan nomor togel, alias yang tak aku kenali terus menghubungi. Aku memberanikan diri mengangkat dan diseberang sana terdengar suara laki-laki.
"Ini Rinda, kan?"
"Iya, ini siapa?"
Aku kembali melontarkan pertanyaan yang sama.
"Loh! Gak kenal rupanya. Parah banget, sih."
Suara terdengar seperti kecewa, tetapi aku benar-benar tak mengetahui dia siapa.
"Jadi gini, ada hal penting yang mau diomongin. Sebelum liburan ini usai dan gak sampe jadi hal ini di bicarain."
Aku tidak berkata lagi, hanya menyimak sang penelpon ini.
"Rin, lo mungkin gak nyangka, tapi gue suka sama lo."
eh!
Siapa ini, kok, tiba-tiba nembak? Haduh, aku langsing berpikir siapa penelpon ini. Tiba-tiba di siang bolong menelpon dan langsung menembak. Jantung sebenarnya mulai berdetak tak beraturan, lantaran pertama kalinya ada yang menyatakan suka padaku.
"Tapi, kamu ini siapa? Aku gak kenal, loh."
"Ya, beneran gak kenal. Bener-bener parah, tapi coklat yang kemarin suka, kan?"
"Coklat?"
Tiba-tiba aku mendadak lupa dan ....
"Radin?"
Oh! yang bener saja, kalau penelpon tanpa nama itu cowok yang selama ini aku kagumi. Bagaimana bisa? Seketika aku ingin menjerita saja.
"Haha! Iya, ini Radin. Cemen, ya, beraninya di telpon. Mana pake nomor baru lagian."
Ampun, lagipula aku memang belum pernah telponan degan Radin. Sekedar menyapa saja masih malu-malu, serta aku tak bisa mengenali dari suara di telpon.
"Jadi gimana? Mau gak kita pacaran?"
Mungkin jika tidak rumah dan di tengah hutan, aku akan berteriak sekencang-kencangnya. Kini jantungku benar-benar tak karuan.
"Mmm ...."
"Apa?"
"Mmm ... iya mau."
Tut!
Sambungan langsung kuputuskan, dan menjerit dengan menenggelamkan muka di bantal sembari menepuk-nepuk kasur tak percaya. Apa ini? Mimpikah? Aku seprti orang gila yang kini mulai senyum-senyum.
Tiba-tiba, ada pesan masuk saat kutatap layar HP.
Radin:
Beneran, kan? yanga tadi, gak salah denger?
Sorry, ya, pake nomor gak dikenal
soalnya gak berani terus pake nomor ini
Hal yang sama sekali gak terduga. Tiba-tiba dapat nomor tak dikenal ternyata panggilan cinta. Setelah aku membalas iya, akupun kembali menjerit senang dengan menenggelamkan wajah ke bantal. Sungguh, hari libur yang benar-benar berbeda.
Selesai ....
*****
Hai! Aku Dini dan ini pertama kalinya buat cerpen di sini. Semoga kalian suka sama ceritanya.