Gerimis pagi itu belum bersedia dibubuhi tanda titik. Aku masih sibuk dengan seremonial pagi yang mengasyikkan. Diawali bangun jam setengah empat untuk menyeterika baju seragam suami dan anak yang hendak dipakai. Menyiapkan dan mencuci beras untuk diperam di rice cooker lalu menggoreng lauk.
Belum juga kelar semua sudah terdengar azan subuh menggema. Aku duduk sejenak tanpa aktivitas, diam menunduk menikmati merdunya suara Pak Adnan sembari menghirup bau tubuhku yang sudah membikin mual. Setelah suara azan berhenti kuambil segelas air hangat lalu meminumnya. Lumayan membuat tubuh segar tetapi keringat makin deras keluar.
Dua menit suara azan berlalu belum ada tanda-tanda para penghuni kamar kembali hidup setelah semalam mati sementara. Padahal sebelum iqomat mereka harus sudah di sana. Dengan setengah berlari kedua tangan menyincingkan sedikit daster kebesaran menuju kamarku.
"Mas, sudah azan cepat bangunkan anak-anak!"
"Iya," jawab suamiku. Ia menyingkirkan selimut dan meninggalkan bantal.
Aku kembali ke dapur kebanggaan melanjutkan mengupas bawang merah, bawang putih, memilih cabai, memotong lengkuas, mengambil tiga lembar daun salam dari dalam kulkas lalu mencuci jadi satu mangkok plastik. Kemudian meniriskan semua bahan untuk diiris-iris.
Riuh tanganku seriuh si ulung dan adiknya berebut ke kamar mandi.
Si sulung keluar adiknya masuk, si ayah duduk di kursi dekat meja tempat kumeracik segalanya. Si adik selesai.
"Ayah, ayo cepat!"
"Iya." Bergegas suamiku masuk kamar mandi sementara Si sulung dan adiknya membuka kunci pintu depan dan menunggu ayahnya di luar.
Sementara suami dan anak-anak di masjid, aku melanjutkan olah-olah setelah salat Subuh tidak berjamaah. Menyajikan hasil ketrampilan ke meja makan.
Keramaian di setiap pagi sungguh membuatku sebagai seorang ibu bahagia tak terkira. Lelah seketika lenyap tak tersisa. Harga tertinggi dalam seorang wanita adalah melahirkan, mengasuh, dan mendampingi anak-anak hingga kelak dewasa. Rasa tak ingin berpisah terkadang membuatku cemas.
Perih netra karena terkena air bawang merah adalah obat tetes yang menjernihkan saat memandang anak tersenyum.
Mengumpulkan baju-baju kotor dan dimasukkan ke mesin cuci. Sementara mesin mencuci sendiri, aku memberesi gerabah bekas makan mereka yang bagiku itu adalah olahraga yang memperkuat badanku. Menambah kebanggaan diri bahwa aku adalah perempuan yang sangat berguna.
Setelah semua kelar giliranku membersihkan diri. Jam delapan tibalah waktuku untuk santai sambil novi atau pun duduk-duduk santai layaknya orang yang berbahagia walau tanpa karir di luar rumah.
"Bu Kinkin, mau beli sayur, ga?" Panggil Yu Saudah melengking dari halaman rumahnya yang berhadapan dengan rumahku dibatasi jalan kecil tak beraspal.
Buru-buru aku keluar. "Iya, Yu, beli," jawabku lalu kembali ke dalam untuk mematikan TV mengambil dompet dan keluar lagi.
Kuhampiri Yu Saudah yang masih menunggu di depan rumahnya. Seperti biasa kami belanja ke abang keliling yang mangkal di ujung gang di tepi jalan agak raya. Kami berjalan beriringan sambil ngobrol ngetan ngulon. Hingga sampai tujuan sudah banyak ibu-ibu mengerumuni gerobak sayur.
Aku baru saja menyentuh tumpukan kangkung di atas gerobak tiba-tiba kami dikagetkan oleh suara seperti tabrakan. Dengan spontan kami menoleh ke arah sumber suara. Ternyata benar, sebuah sepeda dan seorang wanita tergeletak dan sepeda motor juga tergeletak. Kami berlari mendekati TKP meninggalkan abang sayur dan gerobaknya.
"Siapa wanita itu, ya?" tanya Yu Saudah
"Bukan orang sini," jawabku.
Aku memandang dengan gemetar diantara kerumunan orang-orang yang tanpa kusadari menjadi cepat banyak. Darah. Iya darah. Aku punya rasa takut yang berlebihan jika melihat darah. Merah membara di sekitar lengan wanita itu. Tubuhnya tak bergerak. Tangan kanannya menggenggam bunga mawar merah bertangkai panjang yang seluruhnya belepotan darah hingga hampir sewarna dengan bunganya. Masih tergenggam erat. Dadaku makin berdesir dahsyat.
Aku mengenal wanita itu di masa lalu. Otak bekerja lebih keras untuk lebih jelas mengingat. Tenggelam dalam kebingungan dan kecemasan hingga tak kuasa ikut menolong. Ibu-ibu tergopoh-gopoh mengangkat tubuh wanita itu ke dalam mobil warga untuk dibawa ke puskesmas, sementara sepeda motor dan pengendaranya entah aku tak sempat memperhatikannya.
"Hanya pingsan," kata Yu Saudah setelah mobil berangkat.
"Oh, syukurlah, semoga tidak apa-apa," jawabku sementara netraku terpaku ke bunga mawar yang tergeletak berlumuran darah.
Aku mendekati dan mengambil bunga itu dengan tekad yang sangat terpaksa. Tanganku gemetar hebat seperti tangan Kakek Meja ketika memegang gelas akan minum, buyuten. Bayangan bunga yang kupegang terlukis agak jauh di sebelah barat genangan darah karena matahari masih pagi hingga teriknya belum begitu terasa menerpa lengan yang makin gemetar lalu bunga jatuh tak kuasa kutahan.
Pikiranku secara sadar tersedot ke Puskesmas, lalu berlari pulang mengambil motor untuk segera menyusul ke sana. Setelah keluar gang kumasuk kecepatan tujuh puluh kilometer per jam. Serasa dipanggil dan tak peduli risiko keselamatanku. Sesampainya di puskesmas perempuan itu sudah ditangani dan sudah siuman. Aku lega lalu kaget mendengar dia memanggilku pelan.
"Kinkin. Kinkin. Kinkin!"
Aku mendekat masih diam sambil mengamati wajahnya.
"Kinkin!" panggilnya. Lalu ia membuka matanya.
"Iya, Bu, saya Kinkin."
Aku heran kok tahu namaku. Aku sibuk menduga-duga barangkali ia sedang rindu anaknya yang kebetulan bernama Kinkin atau cucunya yang ia ingin tinggal di rumahnya namun dibawa paksa oleh anaknya, jika ia memang bukan perempuan yang pernah kukenal.
Dia menatap lekat-lekat lalu mengangkat tangannya hendak menyodorkan ke arahku, aku menyambutnya. Kami bersalaman terasa ada sesuatu yang mengikat tangan kami, erat sekali. Iya, aku mengenalnya dan sekarang ingatanku sempurna.
Betulkah kamu Kinkin?"
"Iya, betul, Bu."
"Kinkin, kau suka membaca?" tanyanya.
"Suka, Bu," jawabku dusta.
"Ini, ibu beri buku, bacalah. Ini karya ibu, semoga kau suka," katanya terbata sambil mengambil sesuatu dari tas cangklongnya.
"Iya, Bu, terima kasih," jawabku. Kuterima sebuah buku tulis biasa yang bersampul coklat muda dan plastik yang sudah kusut.
"Tolong diketik dan terbitkan!" lanjutnya.
"Iya, Bu, Insya Allah. Bukankah ibu yang dulu menjual buku cerita di depan sekolah waktu saya SD?" tanyaku.
"Ya."
"Ibu sering memberi saya manisan yang terbuat dari gula merah dan kelapa?"
"Ya."
"Ibu juga suka membacakan cerita kancil mencuri uang terus dibelikan timun? Ketika saya kelas enam ibu tak pernah lagi kelihatan?" tanyaku sambil terus menyelidiki wajah pucatnya.
"Iya betul," jawabnya sambil tersenyum dan menatapku.
"Setelah itu ibu kemana?"
"Anakmu berapa, Kinkin?" katanya tak menjawab pertanyaanku.
"Dua, Bu, laki-laki semua," jawabku.
"Pasti lucu-lucu, ya," katanya.
"Boleh saya hubungi keluarga ibu?" tanyaku.
"Keluarga saya Pak Cokro dan Bu Hamidah," jawabnya.
Aku bergidik heran, sambil membatin Pak Cokro dan Bu Hamidah itu orang tuaku.
"Rumahnya di mana, Bu?" tanyaku tambah penasaran.
"Jalan Raya Sendangan," jawabnya.
"Astaghfirullah itu orangtua saya, Bu," jawabku menggigil, akhirnya aku bicara secara spontan.
"Iya, betul," jawabnya lemas. "Ibu siapa, ada hubungan apa dengan bapak dan ibu saya?"
Perempuan itu pingsan. Aku menggigil makin parah.
"Ibu." Kuguncang-guncangkan
tubuhnya. "Mba." Aku berlari ke arah pintu memanggil perawat, panik dahsyat.
Dua perawat datang terburu sepertinya terkejut dengan panggilanku.
"Ibu keluarganya?" tanya salah satu perawat bernama Sasya yang kuketahui di papan nama dada.
"I iya. Maaf ya, Mbak, saya mau panggil suami saya sebentar."
Aku berlari tanpa menghiraukan mereka ke tempat parkiran dan menghidupkan motor lalu menjalankan secepatnya. Tepat pukul 11.00 sampai di rumah.
"Kinkin, dari mana kamu?" tanya bapak dari samping rumah.
"Bapak, kapan datang? Kok tidak memberi kabar dulu mau ke mari," Aku bertanya balik tanpa menjawab pertanyaan Beliau.
"Kinkin!" Ibu muncul di belakang bapak.
"Ibu," kami berpelukan rindu. "sudah lama, Bu?"
"Ada tiga puluh menit," jawab beliau sambil melepas pelukan.
"Saya habis belanja, ayo, ke dalam!"
Baru kali ini aku merasa canggung bertemu bapak dan ibu. Aku deg-degan sekali. Alhamdulillah bisa kusembunyikan. Tapi penyebabnya perempuan di Puskesmas.
"Belum sampai ke sini Bu Hasanah, Kin?" tanya ibu sambil menaruh barang bawaan di meja makan.
"Siapa Bu Hasanah, Bu?"
Saat kami duduk di ruang tamu,
"Kinkin, bapak dan ibu minta maaf karena ada sesuatu yang kami sembunyikan. Kinkin sebenarnya bukan anak ibu, tetapi anak Bu Hasanah," kata ibu
Jantungku berdegup hebat mendengar kata ibu. Aku tak percaya. Bapak dan ibu begitu tulus mengurusku hingga aku berumah tangga.
"Pasti dia," tiba-tiba mulutku mengucap dengan sendirinyà.
"Dia, siapa, Kin?" tanya ibu heran.
"Perempuan yang tertabrak tadi. Dia mengaku keluarga bapak dan ibu. Ayo kita ke Puskesmas," jelasku.
"Tertabrak?" tanya bapak dan ibu bersamaan.
Tanpa menjawab aku berlari ke luar dan menuju motor. Biarlah pintu tak dikunci. Bapak dan ibu menyusul keluar.
"Naik mobil saja," kata bapak.
Tanpa menunggu lama aku dan ibu masuk mobil. Ibu duduk di sampingku. Beliau merangkulku. Aku diam tak ada yang bisa kuucapkan. Yang kuinginkan hanya satu, perempuan itu selamat. Tak ada menyalahkan bapak dan ibu yang sudah membesarkan. Mungkin rahasia itu demi kebaikanku dan ibu kandungku.
"Bisa sedikit cepat, Pak?" pintaku setelah agak jauh meninggalkan mulut gang yang tak jauh dari tempat kejadian. Aku sempat meliriknya tadi, bunga mawar itu masih di sana. Akan kuambil nanti jika ada waktu.
Setibanya di Puskesmas aku segera ke ruang perawatan perempuan itu.
"Maafkan kami, Bu. Kami sudah berusaha semaksimal mungkin tapi Allah berkehendak lain. Kemungkinan ada luka di kepala," kata salah satu perawat pria.
"Maksudnya?" tanyaku gemetar.
"Baru saja kami akan memberitahu keluarga untuk dirujuk, tetapi tak ada keluarganya," ucap salah satu perawat ya9ng tak kupedulikan yang semenit kemudian baru kurasakan sangat menusuk hatiku nyeri sekali tak bisa kujelaskan dengan kalimat paling sedih sekalipun.
'Tak ada keluarga' kalimat paling menyakitkan yang pernah kudengar. Dan itu ibu kandungku. Perempuan sesakti mana yang dapat menanggung beban batin seperti diriku. Ibu yang setiap katanya ibarat kalimat sakti yang sangat berpengaruh terhadap nasib anaknya, setiap katanya adalah doa mustajab yang tanpa penghalang langsung didengar Allah, dan aku telah gagal mendampingi akhir hidupnya, telah gagal menjalankan setiap perintahnya. Ibu, maafkan aku.
"Ibu, jangan tinggalkan Kinkin!" Akhirnya tangisku pecah, tangis rindu yang baru kurasa.
Aku memeluk tubuh ibu kandungku yang sudah tak bernyawa. Dadaku sesak tak terkira, juga tak bisa dideskripsikan dengan bahasa. Ibu yang dulu sering kujumpa, tetapi aku tak mengetahui banyak cinta yang terabaikan. Ibu yang semestinya kucium tangannya mohon restunya setiap ada kegiatan.
Ibu, mengapa baru kita bertemu untuk kutahu kau ibuku di saat kau tak mampu mengucapkan ekspresi sayangmu, di saat lenganmu tak bisa merengkuhku, di saat aku tak mungkin menyajikan teh hangat untukmu, di saat yang semua menyakitkan, di saat cucu-cucumu belum sempat bermanja di pangkuanmu? Akan tetapi aku tahu bahwa sejak dulu kau sudah tahu aku anakmu. Mengapa kau menutupinya?
"Kinkin, sudah ikhlaskan," kata bapak sambil mengelus pundakku.
"Iya, Pak." Aku berdiri lalu menghambur ke pelukan bapak, lalu ke pelukan ibu.Pelukan yang terasa berkurang kehangatanya.
Kupungut buku tulis yang tadi tergeletak di ranjang dekat jenazah ibu.
"Bu, titip masukan ke tas ibu," pintaku ke ibu yang bukan ibuku.
"Ya," jawab ibu menatapku mungkin penuh penyesalan. Tangan beliau gemetar.
"Mas, cepat pulang dan jemput anak-anak," pintaku pada suami di telepon.
"Ada apa, Dik?" tanya suamiku kaget.
"Nanti saya jelaskan di rumah." jawabku.
Para pelayat saling bertatap mata, memelukku penuh tanda tanya. Di mushola disiarkan 'bunda bu Kinkin' tetapi ibuku duduk di sampingku dengan segar bugar.
Selesai proses pengurusan jenazah lalu menghantar ke perkuburan aku ke jalan tempat kejadian perkara untuk mengambil mawar merah yang keadaannya layu bahkan hampir mengering terpanggang matahari seharian. Pukul 17.00 persis kuambil bunga itu, bunga kecintaanku sepanjang masa.
Jam sembilan malam kubuka laptop di kamar anak untuk mengetik isi buku tulis pemberian ibu, yang masih tertulis tangan dengan huruf sambung miring indah sekali. Seperti pelajaran menulis halus waktu SD. Di halaman pertama tertulis blurb
'Putri kecil semata wayangku sangat menyukai bunga mawar merah. Pernah tangannya berdarah tertusuk durinya dia malah tertawa. Setelah usia tiga tahun kutitipkan ia pada sebuah keluarga yang kepala keluarganya adalah ayahnya dan nyonyanya adalah maduku. Nyonya itu merebut suamiku ketika putriku masih bayi berusia setahun. Aku pergi merantau ke jakarta. Aku pergi dari mereka menikah lagi tapi tak mempunyai anak, suamiku meninggal dan aku sendirian. Setelah delapan tahun kucoba mendekati anakku dengan caraku sendiri. Setelah itu aku pergi lagi menjauh karena khawatir anakku tahu. Aku hanya ingin melihat senyum dan bahagianya. Suatu saat jika ia sudah berumah tangga akan kukunjungi keluarga kecilnya, akan kuberikan mawar yang dulu melukai tangannya. Kenangan masa kecilnya sungguh tak bisa kulupakan kan kubawa sampai mati. Love you Kinkin'
Berkecamuk jiwaku. Membenci ibu yang telah menyakiti ibuku. Dua perempuan yang menantang perasaanku, membuat jiwaku oleng dahsyat. Yang satu harus kusayangi dan sudah tak ada sementara yang satu haruskah ku benci? Kulanjutkan mengetik dengan air mata yang tumpah ruah membasahi keyboard laptop. Suamiku diam sejuta bahasa menunggui anak-anak tidur. Beliau hanya memandangku mungkin sedang berkecamuk juga.
Sesekali aku memandang anak-anakku yang sudah tertidur pulas seharian tak terurus. Betapa ibuku dulu pasti sangat menginginkan seperti ini, dekat denganku.